23 January 2009

Organda Tantang Pemerintah

HARI-HARI ini sedang terjadi semacam “perang kecil” antara Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) versus Pemerintah, dalam hal ini Menteri Perhubungan. Tentu saja itu dalam kaitan dengan urusan ongkos transportasi angkutan dalam kota (yang luar kota sepertinya sudah bisa didamaikan). Pemicu awalnya adalah turunnya harga bensin beberapa waktu yang lalu menjadi kembali ke harga 4.500 per liter.

Kosumen (diwakili YLKI) dan didukung Pemerintah (Menteri Keuangan & Perhubungan) menuntut supaya pihak Organda bersikap adil dengan menurunkan juga tarif angkutan kota dengan jumlah yang signifikan. Jumlah yang dituntut adalah sebesar 500 rupiah. Ini adalah jumlah yang diyakini akan memberi stimulus bagi kemampuan belanja khalayak. Namun Organda rupanya berat mengabulkan tuntutan itu. Untuk berkelit lalu mereka menunculkan formula turun 200 maksimum 300 rupiah.

Mereka paham sekali apabila formula ajaib ini disetujui, dalam prakteknya nanti penurunan itu akan sulit diterapkan. Formula itu akan memudahkan para sopir dan kondektur berdalih “tidak ada uang kecil untuk kembalian", sehingga akhirnya penumpang akan dipaksa “mengalah” dan ujung-ujungnya menjadi terbiasa tetap membayar dengan kondisi tarif yang saat ini berlaku.

Banyak alasan diajukan pihak Organda. Misalnya mereka selalu menyebut mahalnya harga onderdil (yang tidak ikut turun) sebagai alasan utama keberatan mereka. Menurut mereka harga bensin juga hanya menyumbang “kecil” saja dalam hitung-hitungan cost. Jadi, dalam logika orang-orang “pandai” di Organda, turunnya harga bensin sampai 1.500 rupiah (25%) belum lama ini rupanya “tidak berarti banyak”.

Perseteruan itu kini memasuki babak baru setelah DPRD ternyata juga setuju pada tuntutan turun 500 rupiah. Kalau Fauzi Bowo selalu pimpinan kota (DKI) juga mengamini putusan DPRD (dan Foke sudah memberi sinyal ke arah itu) praktis Organda akan menjadi sendirian dan terpojok—dan secara logika hukum ketatanegraan mustinya mereka buru-buru “bertobat” dan mengaku kalah.

Tapi alih-alih mengaku keok, Organda justru berbalik mengancam akan memobilisasi pemogokan angkutan kota apabila penurunan tarif dengan jumlah 500 rupiah itu disetujui gubernur (Koran Tempo, 23 Januari 2009). Ini aneh, padahal para sopir angkotnya saja sudah bersedia menurunkan ongkos, dan bahkan mereka bilang penurunan itu masih menutup uang setoran, seperti dilansir Detik.com di sini.

Bagi saya sangat menarik menanti hasil akhir dari “perang kecil” ini. Jika berhadapan dengan “semut nakal” macam Organda saja sampai kalah gertak, bagaimana kita lalu musti menilai kewibawaan pemerintah ini?

16 January 2009

Dua Tukul, Dua Peruntungan

TUKUL yang pertama tentu saja Wiji Thukul--penyair yang raib tak tentu rimbanya sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Tak ada yang tahu nasib apa yang sebetulnya menimpanya. Santer diwartakan bahwa ia “dilenyapkan” oleh penguasa dari rejim yang lampau. Tapi kapan persisnya, bagaimana ia “dihabisi”, dan di mana jasadnya dibenamkan—andai benar semiris itu lakonnya--tak ada yang paham. Ada spekulasi ia sebetulnya masih hidup dan sengaja menyembunyikan diri, tapi kabar ini pun tak sulit dikonfirmasi.

Tukul yang satunya masih sehat afiat dan banyak ketawa. Ia memang pernah juga “raib” belum lama ini, tapi hanya sebulan saja, gara-gara kebablasan menyuruh orang makan kodok mentah. Tukul Arwana, yaitu Tukul yang kedua ini, selalu tampil necis dengan jas dan dasi plus komputer jinjing—simbol-simbol yang dianggap mewakili citra “hidup mapan” dan “terpelajar”. Aksesoris penting lain yang selalu “ditentengnya” adalah beberapa orang perempuan cantik.

Dunia Tukul yang pertama adalah dunia yang “muram, sunyi dan keras”. Sedemikian sunyi dan kerasnya hingga untuk menyiasatinya hanya tersedia satu cara, “hanya ada satu kata”, kata Tukul yang pertama, yaitu : “lawan!” Tapi perlawanan itu pun kita tahu sia-sia.

Sebaliknya hidup dalam dunia Tukul Arwana terlihat nyaman, aman, dan siapa tahu juga mudah. Sebuah dunia yang dipenuhi seloroh dan gelak tawa. Di dunia Tukul yang kedua berpikir kelewat serius seakan tabu. Daripada stres berkerut jidat, mari kita tertawa ria melupakan karut-marut kehidupan. Tak ada yang musti “dilabrak!”, tak ada yang kudu diperangi dengan tanda seru. Semua bisa didamaikan, hidup bisa diselorohka, bukan?.

Dan kalau masih ada yang nekat juga “melawan”, maka Tukul yang kedua akan buru-buru mengingatkan supaya kita “kembali ke laptop”, artinya kembali kepada hidup yang “aman” dan “nyaman”, yang ramai oleh seloroh itu.

Jadi begitulah, dua Tukul itu telah menjalani pilihan nasibnya dan menerima ganjaran yang jadi jatah masing-masing pula. Pilihan yang satu berujung pada ending yang muram dan tragis, sedang pilihan satunya lagi bergulir menjadi hidup yang nyaman dan aman. Tapi sungguhkah lakon mereka (khususnya untuk Tukul yang kedua) sudah “tamat” sepenuhnya, tentu hanya waktu yang berhak menjawabnya.

01 January 2009

Petuah Tahun Baru, Mungkin

SEORANG lelaki pada suatu hari menemukan sebutir telur burung rajawali dan dia meletakkan telur itu bersama dengan telur-telur ayam di sarang seekor induk ayam peliharaan yang sedang mengeram. Telur itu menetas bersama telur ayam yang lain, dan anak burung itu tumbuh bersama anak anak ayam diasuh oleh induk ayam itu.

Selama hidupnya burung rajawali itu bertingkah laku sama seperti ayam, dan mengangap dirinya ayam peliharaan. Dia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Dia berkotek dan berkokok. Dia akan mengepakkan sayapnya dan terbang beberapa meter di udara.

Tahun berlalu dan burung rajawali itu menjadi tua. Suatu hari dia melihat seekor burung yang sangat gagah terbang di angkasa yang tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan jarang sekali menggerakkan sayapnya itu.

Rajawali tua itu terpesona memandang ke atas “Siapakah itu?”, tanyanya.

“Itu adalah burung rajawali, raja dari segala burung,” kata ayam yang ada di dekatnya. “ Dia penghuni langit, dan kita penghuni bumi, kita adalah ayam.” Demikianlah rajawali itu hidup terus dan mati sebagai seekor ayam, karena begitulah anggapannya tentang dirinya.

(Dipetik dari buku “Awareness” Antony de Mello, Gramedia Pustaka Utama, 2003).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...