06 February 2014

Banjir, Sekadar Obrolan

MUSIM penghujan tahun ini diperkirakan akan segera berakhir, setidaknya intensitas hujan ke depannya akan semakin menurun, tidak lagi membikin kita ketar-ketir. Mungkin masih akan kita dengar atau baca warta seputar sisa-sisa banjir, tapi sesudah itu pelan tapi pasti musim akan bergeser.

Pergeseran musim itu (menuju kemarau) sekaligus menandai juga bergesernya topik berita dan obrolan kita sehari-harinya. Saya menduga, seperti tahun-tahun lalu, tidak lama lagi kita akan mulai "sibuk" ngobrolin soal asap yang "diekspor" ke beberapa negeri tetangga lantaran kebakaran hutan di negeri tercinta ini. Tapi mungkin "diskusi" soal asap tahun ini akan tak begitu seru, sebab khusus tahun ini dua peristiwa besar sudah menunggu: Pemilu dan Piala Dunia.

Dengan adanya dua hajatan besar itu (yang satu malah skalanya "dunia") dijamin urusan banjir akan begitu saja dilupakan. Khusus mengenai urusan banjir di Ibu Kota akan lebih tak jelas lagi ceritanya. Sebab kita belum lagi tahu apakah gubernur yang sekarang masih akan bertahan sebagai orang nomir 1 di Jakarta, atau ia sebagaimana ramai dispekulasikan akhirnya ikutan nyapres dan, katakanlah, "menang" akhirnya.

Sebagai orang kecil saya mesti semakin siap kecewa dan sanggup untuk "bersedih tanpa kata-kata" (pinjam larik puisi lama Goenawan Mohamad) bahwa banyak masalah di negeri ini diperlakukan hanya sejauh bahan obrolan belaka. Atau lebih celaka lagi, sekadar menjadi alat "pencitraan".

Pertanyaan susulannya adalah, kesukaan "ngobrol" ini bukti bahwa kita sekadar tak serius menangani masalahnya, ataukah ia semacam cara yang kita gunakan untuk menyembunyikan ketidakbecusan kita?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...