<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666</id><updated>2012-01-13T16:24:04.179+07:00</updated><category term='Probowo Subianto'/><category term='Bung Karno'/><category term='Sepakbola'/><category term='Twitter'/><category term='Parlemen'/><category term='Feng Shui'/><category term='Korupsi'/><category term='Pornografi'/><category term='Manajemen Krisis'/><category term='Iman'/><category term='Lembaga Survey Indonesia'/><category term='Jessy Gusman'/><category term='Century'/><category term='Organda'/><category term='Agama'/><category term='Mafia Bola'/><category term='Film'/><category term='Silat'/><category term='Aktivis'/><category term='Tawuran'/><category term='Leway Djam Malam'/><category term='Dewi Persik'/><category term='Pilkada'/><category term='Cina'/><category term='Steve Jobs'/><category term='Wiji Thukul'/><category term='Perkawinan'/><category term='Selebriti'/><category term='Motivator'/><category term='Manny Pacman Paquiao'/><category term='Saksi Yehovah'/><category term='Non Kategori'/><category term='Kenaikan BBM'/><category term='SBY'/><category term='Pansus Century'/><category term='Gito Rollies'/><category term='MUI'/><category term='Demokrasi'/><category term='Christianto Wibisono'/><category term='Presiden'/><category term='Terorisme'/><category term='Orde Baru'/><category term='Musik'/><category term='Facebook'/><category term='Marsilam Simanjuntak'/><category term='Islam'/><category term='Koes Bersaudara'/><category term='Pemilu'/><category term='Partai Keadilan Sejahtera'/><category term='Tinju'/><category term='Tahyul'/><category term='Jakarta'/><category term='Pilpres'/><category term='Suharto'/><category term='Ryan Psikopat'/><category term='David Carradine'/><category term='Soe Hok Gie'/><category term='Amrozi'/><category term='Doa'/><category term='Pablo Neruda'/><category term='FPI'/><category term='Google'/><category term='Sutiyoso'/><category term='Chris John'/><category term='Angkutan Kota'/><category term='Usmar Ismail'/><category term='Sinetron'/><category term='Blogging'/><category term='Busway'/><category term='Pribumi'/><category term='Tragedi Mei 1998'/><category term='Parpol'/><category term='Mario Teguh'/><category term='Megawati'/><category term='SEO'/><category term='Yuriorkis Gamboa'/><category term='Kitab Suci'/><category term='Cerita Silat'/><category term='Katolik'/><category term='Transjakarta'/><category term='Pengalihan Isu'/><category term='Roy Marten'/><category term='Wislawa Symborska'/><category term='Syumanjaya'/><category term='Minoritas'/><category term='Tukul Arwana'/><category term='Melayu'/><category term='Sakit'/><category term='Guus Hiddink'/><category term='Sri Mulyani'/><category term='Ulil Abshar Abdalla'/><category term='Peristiwa 27 Juli'/><title type='text'>[RUANG SAMPING] ooknugroho</title><subtitle type='html'>Dunia tak menunggu siapapun, tak ada waktu untuk itu.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>151</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8916812730099237552</id><published>2011-09-26T17:05:00.001+07:00</published><updated>2011-10-07T13:38:27.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angkutan Kota'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'>Indonesia dalam Sebuah Angkot</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sO7ZIyUS-mE/ToBONcoQaoI/AAAAAAAAA5o/zISaItzmAlE/s1600/angkot1.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="205" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-sO7ZIyUS-mE/ToBONcoQaoI/AAAAAAAAA5o/zISaItzmAlE/s400/angkot1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Angkot adalah kendaraan umum “andalan” warga kota kebanyakan karena ongkosnya yang murah meriah, dan karena rute trayeknya yang bisa nyelusup menyuruk jauh ke pelosok perumahan dan kampung. Sekarang ini tarif angkot untuk jarak dekat (atau dalam kompleks perumahan) setahu saya dua ribu perak, sedang untuk jarak lebih jauh dari itu bervariasi, dari 2.500 sampai 4.000. Dengan ongkos segitu penumpangnya umumnya sudah pada maklum akan mendapat mutu “servis” yang serupa apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat duduk belakang biasanya diisi 10 penumpang, dan berlaku rumus “nasional” : 6 dan 4. Artinya, untuk bangku yang lebih panjang, yang menghadap ke pintu, musti diisi enam pantat, sedang bangku satunya, yang lebih pendek, disiapkan untuk 4 penumpang. Kalau ada penumpang yang membawa anak, sopirnya akan segera bertanya curiga, “Itu anaknya bayar nggak? Kalau nggak bayar tolong dipangku ya.” Sering pula ada bangku kecil tambahan di dekat pintu. Bangku depan di sebelah sopir biasa diisi 2 penumpang,. Maka dalam kondisi “normal” sebuah angkot bisa mengangkut 13 penumpang sekali jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, tidak selalu angkot bisa penuh termuat seperti itu. Maka ada banyak sopir yang memilih ngetem berlama-lama, menunggu “mobilnya” penuh dulu, sembari membiarkan penumpang yang sudah telanjur naik menggerutu. Saya perhatikan, biasanya para sopir yang “hobi” ngetem itu ternyata gemar juga ngebut. Agaknya untuk mereka ini berlaku aturan “ngetem selama mungkin, ngebut sekencang bisa”. Banyak yang bilang itulah ciri utama para sopir-sopir tembak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para “sopir tembak” itulah yang sering bikin suasana tambah tak nyaman dalam angkot. Biasanya mereka para preman yang lagi nganggur. Namanya juga preman, kelakuannya pastilah rada-rada “gokil”. Kadang ada yang membawa kendaraan dalam keadaan setengah teler, ada yang mulutnya tiap sebentar mengeluarkan bunyi-bunyian jorok, ada yang sukanya nyetel musik atau radio dengan volume gede. Maka kalau kemudian ada kabar mereka melakukan pula tindak kriminal, seperti main rampok-perkosa-bunuh penumpangnya sendiri—saya pribadi tidak kelewat kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot—dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, penumpang serta awaknya-- memang berada dalam zona kritis. Awak angkot hampir pasti adalah individu dari kelompok “bawah” yang hidup tergencet situasi kehidupan ekonomi yang sulit, yang boleh dikata terus-menerus berada dalam situasi “genting”. Kondisi keras di jalan raya (polisi yang gemar main tilang, kemacetan yang tak masuk akal, cuaca panas tropis), semakin menjebak mereka menjadi tambah dekat pada pilihan-pilihan untuk berlaku kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak hendak membuat telaah sosiologi yang rumit. Saya bukan ahlinya. Ini hanya hasil amatan sepintas lalu dari seorang warga kota biasa yang kebetulan terpaksa mengandalkan juga angkot dalam urusan sehari-harinya. Saya hanya hendak bilang bahwa suasana di lapis bawah masyarakat kita, suasana Indonesia lapis bawah—yang antara lain terepresentasi dengan utuh dalam sebuah angkot—sedemikian genting dan kritisnya, sehingga peluang terjadinya laku kriminal sangat sangat terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya termasuk yang menganggap aneh pendapat yang mengatakan ada hubungan antara rok (yang) mini dengan maraknya kasus perkosaan dalam angkot. Perkosaan-perampokan-pembunuhan dalam angkot kaitannya pastilah dengan kondisi kemiskinan dan pengangguran yang mengoyak-ngoyak masyarakat kita. Adapun rok mini, menurut saya, adalah sekadar “asesoris tambahan” yang sedikit banyak kehadirannya justru bisa ikut membantu membuat “adem” suasana dalam angkot. Mohon maaf, kalau banyak yang tak setuju dengan pendapat yang terakhir ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8916812730099237552?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8916812730099237552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8916812730099237552&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8916812730099237552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8916812730099237552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2011/09/indonesia-dalam-sebuah-angkot.html' title='Indonesia dalam Sebuah Angkot'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-sO7ZIyUS-mE/ToBONcoQaoI/AAAAAAAAA5o/zISaItzmAlE/s72-c/angkot1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1722114497039759274</id><published>2011-04-07T08:47:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:11:14.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steve Jobs'/><title type='text'>"Jika Besok Anda Mati", Nasehat Steve Jobs</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NpcgGzFNrvk/TZ0YSKLQbQI/AAAAAAAAA34/Gozr0A4JZps/s1600/steve%2Bjobs1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NpcgGzFNrvk/TZ0YSKLQbQI/AAAAAAAAA34/Gozr0A4JZps/s400/steve%2Bjobs1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592653012512304386" /&gt;&lt;/a&gt;Jika anda tahu hari ini adalah hari terakhir hidup anda, artinya anda juga tahu bahwa besok anda dipastikan mati, apa yang akan anda lakukan hari ini? Steve Jobs, pendiri Apple Computer, punya jawaban menarik untuk pertanyaan itu. Bila ini adalah hari terakhir saya, tanya si jenius itu pada diri sendiri, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini? Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mendengar petuah bijak bahwa pendorong terbesar sukses seseorang ternyata bukanlah soal-soal teknis semacam “skill” atau “modal” (uang), atau bahkan “koneksi”, melainkan “rasa kepepet” orang itu. Masuk akal, seorang yang terpojok dalam situasi ekstrem yang tidak memberikannya pilihan lain kecuali “bertarung sampai tetes darah terakhir” sering malah keluar sebagai pemenang dengan hasil terbaik yang di luar segala hitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika situasinya “aman-aman saja”, tentu saja kita akan gampang tergoda untuk tidak bertarung habis-habisan. Jalan keluarnya adalah dengan menciptakan sebuah “situasi kepepet artifisial”. Steve Jobs punya trik sendiri yang memaksanya selalu berada dalam situasi “kepepet artifisial” itu, yaitu dengan (selalu) memikirkan kematian. Ujarnya, “Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda tahu anda bakal segera mati maka anda akan tahu juga bahwa segala soal remeh-temeh—seperti perasaan takut gagal atau malu, yang biasanya menjadi perangkap terbesar kebanyakan orang untuk berhasil—menjadi tidak relevan lagi. Jika anda sebentar lagi mati, maka yang tertinggal  hanyalah soal-soal yang esensial. Yang terisisa kini hanyalah suara hati anda sendiri. Dan pertanyaannya tinggal, masihkah anda akan mengabaikannya, suara hati anda itu, pada hari terakhir hidup anda ini? Bagi Steve Jobs jawabannya pasti, “Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak ada seorang pun yang ingin mati, kecuali ia sedikit tidak waras. Bahkan orang yang kepingin masuk surga pun—sekali lagi, kecuali ia sedikit tak waras—tidak mau buru-buru mati dulu. Masalahnya, kata Steve Jobs, kematian adalah kepastian yang  terus mendekat. Kabar baiknya, kesadaran akan hal itu membantu mengingatkan bahwa waktu kita di planet kecil ini sungguh sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kita terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup ini Jangan menari mengikuti genderang yang ditabuh orang lain. Atau dalam kata-kata Steve Jobs sendiri. “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda—yang lainnya hanya nomor dua, atau malah nomor tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sepakat dengan semua uraian itu, mulai esok pagi, seperti Steve Jobs, baiklah kita melihat ke cermin dan bertanya pada diri sendiri. “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Sebagai kado untuk ulang tahunku).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1722114497039759274?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1722114497039759274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1722114497039759274&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1722114497039759274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1722114497039759274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2011/04/jika-besok-anda-mati-nasehat-steve-jobs.html' title='&quot;Jika Besok Anda Mati&quot;, Nasehat Steve Jobs'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NpcgGzFNrvk/TZ0YSKLQbQI/AAAAAAAAA34/Gozr0A4JZps/s72-c/steve%2Bjobs1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4254514084672460206</id><published>2011-04-05T14:44:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:11:39.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steve Jobs'/><title type='text'>"Harta Karun di Balik Reruntuhan", Pelajaran dari Steve Jobs</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-DccOeh5GWsU/TZrJILCc7cI/AAAAAAAAA3o/kChZlCRpLd8/s1600/steve%2Bjobs2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 195px; height: 258px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-DccOeh5GWsU/TZrJILCc7cI/AAAAAAAAA3o/kChZlCRpLd8/s400/steve%2Bjobs2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592003029573103042" /&gt;&lt;/a&gt;Selalu ada “harta karun di balik reruntuhan”, selalu ada hikmah di balik setiap nasib buruk, begitu orang-orang bijak kerap menasehati. Masalahnya adalah tidak setiap orang beruntung sanggup menemukan “bongkahan emas” di balik reruntuhan itu, tidak setiap kita cukup dibekali ketabahan untuk mau bersabar menggali untuk akhirnya menemukan harta karun di sebalik nasib buruk kita. Seakan hanya orang-orang dengan talenta khusus saja yang berkesempatan mengalami karunia tersembunyi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve Jobs, pendiri Apple Computer, mungkin contoh orang dengan talenta khusus itu. Di masa mudanya ia keliru mengambil mata kuliah yang ternyata kemudian tak diminatinya samasekali, padahal ia telah menguras habis seluruh tabungan orang tuanya—yang hanya pegawai rendahan—untuk bisa kuliah di jurusan yang diyakininya “tak membawa manfaat apa pun “ itu. Ia lalu memutuskan drop out begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengenang saat itu sebagai “saat-saat paling menakutkan dalam hidupnya”. Bacalah kembali cuplikan komentarnya berikut ini: “Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belakangan ia menganggap pilihan tindakannya untuk DO itu adalah benar, sebenar-benarnya. Setelah berhenti kuliah ia jadi punya kesempatan menghadiri perkuliahan yang disukainya. Salah satu kelas yang diikutinya dengan bersgairah adalah kelas kaligrafi. Di sana ia dengan takzim belajar mengotak-atik jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling menarik untuk disimak adalah bahwa Steve Jobs, saat itu, sebetulnyai tidak melihat samasekali manfaat pelajaran kaligrafi bagi kehidupannya. Ia, ketika itu,  hanya sekadar menurutkan hasrat dan dorongan dari dalam dirinya belaka. Tapi 10 tahun kemudian, ketia ia dan timnya mendesain komputer Macintosh yang pertama, pelajaran kaligrafi yang dulu ditekuninya itu memperlihatkan kegunaannya secara nyata: “Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik,” kata Stve Jobs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seandainya ia dulu tak keliru memilih mata kuliah, seandainya ia lalu tak memutuskan DO—artinya memilih mengecewakan banyak orang, utamanya kedua orang tuanya—tentu ia tak akan berkesempatan kuliah kaligrafi yang di kemudian hari memberi sumbangan penting pada perkembangan Personal Computer pada masa-masa selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve Jobs akhirnya menemukan “harta karun” di balik reruntuhan nasib masa mudanya. Saya tergoda untuk menyimpulkan bahwa ia sanggup untuk sampai di sana karena ia telah memilih untuk melanjutkan sisa hidupnya—yang ketika itu tampak tak berpengharapan--dengan semacam semangat murni, atau dengan kata lain, dengan passion. Mudah-mudanan kesimpulan ini tidak terlalu ngawur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4254514084672460206?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4254514084672460206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4254514084672460206&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4254514084672460206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4254514084672460206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2011/04/harta-karun-di-balik-reruntuhan.html' title='&quot;Harta Karun di Balik Reruntuhan&quot;, Pelajaran dari Steve Jobs'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-DccOeh5GWsU/TZrJILCc7cI/AAAAAAAAA3o/kChZlCRpLd8/s72-c/steve%2Bjobs2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4567660291500920215</id><published>2011-03-16T09:13:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:12:59.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>Rumah Nomor 51</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-dsnKrKiYcIo/TYAc_-HuLII/AAAAAAAAA24/M-CotGK05yg/s1600/rumah%2Bidaman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dsnKrKiYcIo/TYAc_-HuLII/AAAAAAAAA24/M-CotGK05yg/s320/rumah%2Bidaman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584495423272135810" /&gt;&lt;/a&gt;Sampai usia menjelang 51 (sebentar lagi), saya masih menempati sebuah rumah tinggal sederhana di sebuah gang buntu di Jakarta. Meski buntu, kondisi gangnya bersih dan tertata baik. Luas tanah kami hanya 44 M2, bangunan rumah terdiri dari dua lantai. Ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, dan sebuah ruang yang bolehlah mungkin disebut “ruang keluarga”. Sementara ruang tamu, ruang makan dan dapur menempel menjadi satu, artinya tanpa penyekat, sehingga begitu kita masuk lewat pintu utama (yang merupakan satu-satunya pintu keluar masuk) “seluruh” rumah kami sudah bisa langsung terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kami memang tak besar, tapi bagi saya cukup nyaman ditempati. Agak sempit ya, tapi kami mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan itu, dan sejauh ini semuanya berjalan baik.Anak-anak bersama suster tidur di kamar bawah. Mereka menggelar kasur di lantai, dan tidur saling bersisian dibatasi sebuah guling. Suster kami menggelar kasur lain di sebelahnya. Istri saya lebih sering gabung dengan mereka, menggelar kasur satu lagi di sisi yang masih tersisa. Jika orang luar melihat memang situasinya mirip dalam kamp pengungsian, tapi dengan pendingin yang masih berfungsi baik, segala kesumpekan itu tak terasa lagi. Mereka bisa tidur nyenyak, setahu saya, setiap malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menempati kamar atas, yang lebih luas, tapi tak ada pendingin (sebetulnya ada, tapi tidak dipasang lantaran listriknya tak kuat), sehingga udaranya jadi jauh lebih “hangat” dibanding kamar tidur di bawah. Untuk mengatasinya cukup kami pasang kipas angin manual. Kalau masih kurang “adem” kadang saya tidur di lantai. Tak apa. Saya melakukannya biasa saja, tak ada konflik apa pun. Tidur di lantai pun enak, masih bisa mimpi. Hanya saya perhatikan, kalau saya tidur mengambil posisi dekat pintu, suka diganggu mimpi tidak enak. Mungkin karena saya sudah mengganggu “akses” keluar masuk para hantu ke dalam kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar atas juga ada televisi warna 17 inch bikinan Cina, DVD player buatan Jepang (yang remotenya sekarang macet, dan untuk DVD tertentu tidak bisa keluar suara). Rak buku juga ada dekat kamar, dan kalau mau internetan saya lakukan pula di kamar atas, “nongkrong” di ranjang setelah sebelumnya saya alasi semacam meja kecil. Jadi bagi saya kamar atas memang jauh lebih pas untuk saya tempati. Lebih cocok untuk seorang “penulis besar” (ehm) seperti saya. Dan memang banyak juga “karya besar” saya yang ditulis di kamar atas ini. Kamar ini, tak pelak lagi, adalah semacam “bengkel” kerja saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya lebih memilih tidur di bawah karena kecuali kamar atas lebih “hangat” udaranya, juga karena saya biasa tidur larut malam. Artinya, saya akan tetap menyalakan lampu kamar sebelum saya memutuskan tidur, sehingga tentu saja ia merasa tak nyaman. Ia, seperti kebanyakan orang, lebih suka tidur dalam kamar yang digelapkan lampunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga kiri kami adalah pasangan keluarga muda Cina Bangka. Suaminya, biasa dipanggil A Yung, umur 30-an, punya usaha bengkel motor dan ia ini memiliki tampang dan potongan badan mirip sekali Luis Suares, itu pesepakbola sohor asal Uruguay yang waktu Piala Dunia kemarin bikin geger karena menepis bola di bawah gawang ketika Uruguay ketemu Ghana. Anak saya yang nomor dua, entah mengapa kagum luar biasa pada tindakan “heroik” Luis Suares ini. Ia menganggap aksi Suares itu luar biasa hebat dan kreatif. Percuma saja saya ngotot “memarahi”nya seraya menjelaskan bahwa tindakan “barbar” pemain Uruguay itu menyalahi aturan sepakbola normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga belakang kami terdiri dari beberapa keluarga Betawi asli yang masih saling berhubungan darah. Karena begitu dekatnya jarak rumah kami, kami bisa dengan leluasa menguping segala omongan mereka. Tentu sebaliknya juga, mereka suka asyik menguping segala “keributan” di rumah kami. Sedang tetangga depan kami adalah seorang haji kaya yang memiliki sejumlah rumah kontrakan di sebelah rumahnya. Katanya dulu ia pegawai kantor kecamatan urusan tanah. Maksud saya, kalau betul ia pernah bekerja di bagian yang berurusan dengan “tanah” wajar kalau kemudian dia jadi kaya. Dia juga orang Betawi asli. Orang di situ memanggilnya Haji Mathali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga sebelah kanan, belum lagi kami kenal. Mereka adalah pendatang baru, membeli rumah di sebelah kanan kami belum lama ini. Sebetulnya kami mengincar juga rumah itu sewaktu tempo hari ditawarkan, tapi apa daya uang tak ada. Maka terbanglah rumah itu ke pemilik baru yang bukan kami. Rumah yang tadinya “mau rubuh” itu sekarang sudah didandani. Lumayan keren, tapi entah mengapa pemiliknya belum juga menempatinya. Baru Ahad kemarin saya lihat ada sedikit “kesibukan” di rumah itu. Barangkali ini kali betul kami akan segera memiliki tetangga baru, sejumlah “orang asing” yang menempati rumah yang tadinya saya impikan akan menjadi “bagian” dari kehidupan kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4567660291500920215?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4567660291500920215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4567660291500920215&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4567660291500920215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4567660291500920215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2011/03/rumah-nomor-51.html' title='Rumah Nomor 51'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-dsnKrKiYcIo/TYAc_-HuLII/AAAAAAAAA24/M-CotGK05yg/s72-c/rumah%2Bidaman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-662618978262855590</id><published>2010-12-08T15:34:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:13:53.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tinju'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chris John'/><title type='text'>Chris John, Tak Akan Lama Lagi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TP9DPA5z0HI/AAAAAAAAA2E/Zako0eCoUrg/s1600/Chrisjohn2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TP9DPA5z0HI/AAAAAAAAA2E/Zako0eCoUrg/s320/Chrisjohn2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5548227191163310194" /&gt;&lt;/a&gt;Sepertinya karir juara dunia tinju Chris John sudah tak akan lama lagi. Menonton laga paling akhirnya melawan jago Argentina (yang jauh dari istimewa) Fernando David Saucedo pekan yang lalu kita hanya bisa geleng kepala. Sebelum laga berlangsung pelatih Chris John, Craig Christian, gembar-gembor bahwa Chris John kali ini bakal memperlihatkan tampilan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini Chris katanya akan mempertontonkan “penampilan terbaik”nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas ring kita memang melihat penampilan yang “berbeda” dari Chris John: sang juara tampil dengan gaya serabutan, emosional, serta miskin teknik, tidak seperti gayanya yang selama ini dikenal, disiplin, hati-hati dan penuh perhitungan—meskipun (sayangnya) ia tak punya “pukulan maut”. Apa yang dipertontonkannya kemarin dulu itu sangat tidak layak untuk seorang juara dunia. Untunglah (sekali lagi kita musti bilang ia memang beruntung) lawannya lebih tidak istimewa lagi. Saya bahkan ingin mengatakan bahwa Fernando David Sausedo adalah lawan “terbodoh” yang pernah dihadapi Chris John selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bak kata pepatah usang “lolos dari mulut singa lantas kecebur ke mulut buaya”, Chris John kali ini agaknya bakal sulit bernasib “mujur” lagi. Pasalnya promotor kondang Bob Arum sudah bikin rencana akan mempertemukannya melawan juara dunia kelas bulu versi IBF, &lt;a href="http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/yuriorkis-gamboa-mimpi-buruk-buat-chris.html"&gt;Yuriorkis Gamboa&lt;/a&gt;, petinju sangar asal Kuba berjulukan “badai dari Guantanamao”. Pertarungan mereka diplot paling telat akan berlangsung April tahun depan (Koran Tempo, 8 Desember 2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang dari pertarungan ini bakal dihadapkan pada Juan Manuel Lopes asal Puerto Riko, juara dunia kelas yang sama versi WBO. Mempertemukan Gamboa dan Manuel Lopes adalah mimpi lama Bob Arum. Mungkin ia sempat “agak melupakannya” karena belakangan ini repot mengurusi anak emasnya, Manny “Pacman” Pacquiao. Sesudah “impian terbesarnya” mempertemukan sang Pacman melawan Mayweather Jr tampaknya kandas, barulah ia melirik kembali Gamboa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malanglah Chris John, karena ia bagai pelanduk terjepit di antara dua gajah. Di atas kertas sulit kita membayangkan Chris John ini kali akan kembali “lolos”. Gamboa adalah artis ring dengan kemampuan dan performa luar biasa yang sepertinya sedang dalam perjalanan menjadi “legenda baru” di dunia tinju. Sementara Chris John dengan segala kelemahannya adalah juara dunia yang telah melewati masa emasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  Chris John oleh Arum hanya dipakai sebagai alat untuk lebih melariskan dagangan besarnya, yaitu duel idaman Gamboa versus Lopes. Tapi, marilah kita sama berharap bahwa sesuatu akan terjadi, sesuatu yang sangat di luar perhitungan kalkulasi akal waras siapa pun, karena, bagaimanapun ini tinju bung, di mana kepalan, kita tahu, tak bermata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-662618978262855590?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/662618978262855590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=662618978262855590&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/662618978262855590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/662618978262855590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/12/chris-john-tak-akan-lama-lagi.html' title='Chris John, Tak Akan Lama Lagi?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TP9DPA5z0HI/AAAAAAAAA2E/Zako0eCoUrg/s72-c/Chrisjohn2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4966908912150384902</id><published>2010-11-15T10:33:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:14:45.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manny Pacman Paquiao'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tinju'/><title type='text'>"Superman" itu Bernama Manny Pacquiao</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TOCrh-UfBrI/AAAAAAAAA10/n7ajyPhKy5Y/s1600/pacquiao1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 228px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TOCrh-UfBrI/AAAAAAAAA10/n7ajyPhKy5Y/s320/pacquiao1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539616141818660530" /&gt;&lt;/a&gt; Meski dengan persiapan yang tidak maksimal—karena perhatian dan waktunya tersedot oleh kesibukan di panggung politik—Manny Pacman Pacquiao membuktikan bahwa ia memang bukan sembarang juara. Di Cowboys Stadium, Arlington Texas, kemarin ia sukses mempecundangi lawannya, jawara tinju asal Meksiko dengan nama tidak sembarangan pula, Antonio Margarito. Dengan delapan gelar yang sudah dimenanginya itu, kini bahkan sebutan “superman” pun rasanya  tidak kelewat berlebihan untuk disandangkan pada namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, karena keharusan menambah berat badan, tenaga jotosan Pacquiao masih belum  memadai untuk bisa menjatuhkan Margarito yang bertubuh jauh lebih tinggi itu. Tapi kecepatan pukulan petinju kebanggaan Filipina itu tidaklah berkurang. Dengan leluasa ia “menyiksa” lawannya, menghajarnya bolak-balik hingga wajah Margarito kehilangan bentuk aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacquiao membuktikan bahwa tubuh pendek Asia samasekali tidak menjadi halangan untuk membuat prestasi luar biasa di ring tinju. Selain kecepatan tangannya, footworknya juga bagus. Beberapa kali Maragarito berhasil mengurungnya, dan sepertinya bakal berhasil “menelan” lawannya, tapi setiap kali juga dengan cerdik sang Pacman lolos dari kurungan berbahaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai laga sensasional kemarin, orang kembali membincangkan kemungkinan mempertemukan Pacquiao dengan Flyod Mayweather Jr, pemegang juara di  5 gelar berbeda, yang belum pernah kalah. Apakah mungkin “super laga” mereka bakal terlaksana? Faktanya sejauh ini Mayweather terus menghindar dari Manny. Bob Arum sampai meledaknya “pengecut”, tapi Mayweather sepertinya “pura-pura” tak mendengar ejekan itu. (Aih, mungkin betul ia “jeri” pada si Filipino, dan lebih suka memilih menggebuki istrinya sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manny Pacquiao sendiri sebetulnya punya pilihan bijak lain.Dengan  prestasi monumentalnya saat ini, ia memang tak perlu lagi membuktikan apa pun. Inilah waktu terbaiknya untuk mundur secara terhormat dari ring tinju. Jika pilihan ini yang diambilnya maka namanya bakal kekal melegenda. Tapi banyak orang agaknya masih terus penasaran dan mengharapkan terjadinya super laga melawan Floyd Mayweather itu. Pun pacquiao sendiri sepertinya juga masih memendam hasrat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, Manny memang sebaiknya mundur, kecuali ia bisa mendapatkan Mayweather.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4966908912150384902?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4966908912150384902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4966908912150384902&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4966908912150384902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4966908912150384902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/11/superman-itu-bernama-manny-pacquiao.html' title='&quot;Superman&quot; itu Bernama Manny Pacquiao'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TOCrh-UfBrI/AAAAAAAAA10/n7ajyPhKy5Y/s72-c/pacquiao1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6378543470275221836</id><published>2010-11-12T15:17:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:15:52.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Facebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Twitter'/><title type='text'>Maaf, Blog Tak Akan Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TNz4cex0FwI/AAAAAAAAA1s/7Z4zDLrRp98/s1600/facebook1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 206px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TNz4cex0FwI/AAAAAAAAA1s/7Z4zDLrRp98/s320/facebook1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538574809940891394" /&gt;&lt;/a&gt; Blog tak akan mati, setidaknya tidak akan secepat ini. Situs jejaring sosial, sebutlah &lt;a href="http://facebook.com"&gt;Facebook&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://twitter.com"&gt;Twitter&lt;/a&gt;, boleh saja semakin banyak mengumpulkan peminat dan penggilanya, tapi blog tak akan gampang-gampang ditaklukkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Facebook bisa begitu digemari? Karena ia menawari penggunanya kemudahan. Kemudahan mengaksesnya, tapi terutama adalah kemudahan mengumpulkan jaringan teman yang lalu pada akhirnya membentuk komunitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan dan proses yang super instan ini tidak tersedia pada blog. Ketika seseorang membuat blog ia memerlukan jauh lebih banyak kerja keras (dan waktu) sebelum bisa membentuk jaringan komunitasnya. Masalahnya, tidak semua blog (atau blogger) cukup punya stamina untuk sampai ke sana  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang blogger dituntut untuk bisa disiplin mengisi blognya, dengan artikel fresh dan dalam jumlah memadai (dua atau tiga artikel seminggu, paling tidak), atau ia akan ditinggalkan pembacanya. Tapi menulis 2 atau 3 artikel baru dalam sepekan jelaslah pekerjaan yang jauh lebih berkeringat (dan “berdarah”) ketimbang hanya melemparkan celutukan ngasal seperti kita terbiasa melakukannya di Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini kita belum lagi menyenggol masalah seputar “bagaimana memanfaatkan jasa gratis mesin pencari” (SEO), karena sebuah blog—sebagus apa pun isinya, setenar apa pun penulisnya—tidak bisa serta merta ngetop, dan dikenali. Kita perlu tahu juga cara dan trik bagaimana “mengakali” mesin pencari, supaya blog kita tidak perlu kelewat lama ada dalam posisi “anonim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, sebuah blog memerlukan jauh lebih banyak daya sebelum bisa eksis di jagat maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook dan Twitter hadir pada waktu yang pas, yakni ketika orang mulai merasakan kejenuhan karena kehadiran blog yang begitu bejibun. Tawaran instan yang dijajakannya serta merta menarik hati mereka yang merasa tak begitu nyaman dengan pilihan sunyi dan melelahkan yang disyaratkan kepada seorang blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya juga kehadiran situs jejaring sosial ini. Kemunculannya telah menciptakan seleksi alamiah besar-besaran di ranah blog: para blogger yang hanya ngeblog dengan setengah hati, dengan segera berguguran, dan beralih ke Facebook atau Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang pada akhirnya tetap setia ngeblog adalah mereka yang memang mencintai blog, atau pekerjaan menulis itu sendiri. Mereka tak begitu hirau meskipun tak ada teman yang heboh bermomentar. Mereka akan tetap menulis dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;passion&lt;/span&gt;, ada atau tidak ada orang yang menyoraki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka blog memang tidak akan mati. Tapi ia kini hanya menjadi milik “segelintir” mereka yang “lebih serius”. Sedang mereka yang hanya kepingin sekedar “numpang pipis” atau “buang ingus” akan dengan sendirinya berkerumun di sekitar situs jejaring sosial yang riuh rendah itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6378543470275221836?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6378543470275221836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6378543470275221836&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6378543470275221836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6378543470275221836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/11/maaf-blog-tak-akan-mati.html' title='Maaf, Blog Tak Akan Mati'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/TNz4cex0FwI/AAAAAAAAA1s/7Z4zDLrRp98/s72-c/facebook1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-589744899838203462</id><published>2010-01-28T15:27:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:18:18.285+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SBY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Century'/><title type='text'>Kado 100 Hari : Pemerintah Kadang Suka Bikin yang "Aneh"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S2FObjWJZzI/AAAAAAAAA0k/YqzAso5kvf4/s1600-h/mobil+mewah+pejabat.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 252px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S2FObjWJZzI/AAAAAAAAA0k/YqzAso5kvf4/s320/mobil+mewah+pejabat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431708860837095218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah memang musti diawasi dan dikritik, dan kadang-kadang dengan cara yang harus keras. Contohnya dalam pengadaan mobil dinas pejabat seharga 1,2 milyar belum lama ini, yang dari sudut pandang apa pun tak bisa dibela. Kebijakan—yang tak bijak itu--sungguh sangat sekali menyakiti sanubari rakyat—di mana saya menjadi bagian di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan petinggi puncak di Malaysia dan Inggiris sekalipun tak memakai mobil dinas sehebat itu. PM Inggris dikabarkan menggunakan mobil dinas yang harganya tak sampai separoh mobil dinas pejabat di sini. Mobil dinas PM malaysia lebih murah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon dicatat juga bahwa harga sebuah mobil dinas itu setara dengan dana APBN untuk pembangunan 3 buah sekolah. Ini memang konyol dan absurd. Jadi memang pemerintah kadang-kadang suka tergoda bikin yang “aneh-aneh” juga, seraya melukai hati rakyat yang sudah susah payah antre memilihnya waktu Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa kebijakan “absurd” seperti itu belumlah cukup menjadi alasan menyuruh pemerintah bubar. Termasuk kasus Century yang secara kasat mata saja terlihat telah diplintir sedemikian dahsyat demi mengenyangkan naluri kanibalistik sejumlah elit politik di sini. Kasus itu sendiri kini telah mencapai tahapan genting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sama menunggu apa yang bakal dibuat SBY? Beranikah dia mengambil pilihan sulit dan tidak populer dengan lebih mengutamakan aspek moral, ketimbang mencari jalan pintas yang aman dengan mengorbankan nama-nama yang sebetulnya hanya dijadikan korban dalam perseteruan antara, untuk meminjam istilah Wimar Witoelar, para “makelar politik” di Senayan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-589744899838203462?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/589744899838203462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=589744899838203462&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/589744899838203462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/589744899838203462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/kado-100-hari-pemerintah-kadang-suka.html' title='Kado 100 Hari : Pemerintah Kadang Suka Bikin yang &quot;Aneh&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S2FObjWJZzI/AAAAAAAAA0k/YqzAso5kvf4/s72-c/mobil+mewah+pejabat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6794695830277448064</id><published>2010-01-27T14:07:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T15:20:02.186+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Parlemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pansus Century'/><title type='text'>Pansus Bisa Saja Bohong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S1_msfCAHPI/AAAAAAAAA0U/9jUJywD-dug/s1600-h/pansus-century1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S1_msfCAHPI/AAAAAAAAA0U/9jUJywD-dug/s320/pansus-century1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431313327550635250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjadi semakin jelas bahwa Pansus Century memang bekerja dengan tendensi dan muatan politis yang sangat kental, dan dalam rangka mencapai target-target politisnya segala cara pun ditempuh. Sudah sejak dari awal kita sebetulnya bisa menebak itu, dan hari-hari ini, menjelang masa tugas Pansus selesai, kita tidak perlu lagi main tebak-tebakan soal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu trik busuk yang digunakan untuk memuluskan target-target politis itu adalah dalam urusan pemanggilan para saksi ahli. Kita terusik bertanya misalnya, kenapa “saksi ahli” yang jelas-jelas punya hubungan dengan parpol non-koalisi tetap saja dimintai keterangannya. Sudah barang tentu sulit kita mendapat jawaban netral dan obyektif dari mereka. Tapi marilah kita maklum, memang bukan jawaban obyektiflah yang dicari. Yang dibutuhkan adalah penjelasan yang sesuai “frame” yang sudah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga sangat aneh adalah bahwa mereka pun, hingga tulisan ini dibuat, tidak memanggil saksi ahli dari institusi perbankan, kalangan yang mustinya paling paham manfaat dan mudaratnya kebijakan bailout Century itu. Tapi lagi-lagi kita pun menjadi mahfum adanya. Mengapa saksi ahli dari kalangan perbankan tidak dipanggil adalah karena penjelasan dari kalangan perbankan itu dikuatirkan akan “mementahkan sementah-mentahnya” segala kesimpulan prematur yang sudah disiapkan Pansus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah apa kata Sigit Purnomo, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional, misalnya. Kondisi krisis pada 2008 memang mencemaskan kalangan perbankan. Indeks saham anjlok 50% &amp; rupiah terdepresiasi 30%. Itu merupakan terendah sejak krisis 1998. Maka para bankir, kata Sigit, sepakat menyatakan bahwa tindakan bailout Century adalah tepat untuk menyelamatkan situasi perbankan saat itu (Koran Tempo, 27 Januari 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Pansus akhirnya tetap ngotot mengeluarkan kesimpulan dengan mengabaikan samasekali argumen-argumen “obyektif” dan netral” seperti di atas, bukankah bisa dianggap mereka sudah terang-terangan membohongi rakyat? Tapi kebohongan demi kebohongan yang terus diulang-ulang akhirnya akan terasa menjadi “benar”, bukan? Dan itulah agaknya bencana besar yang sedang menunggu bangsa ini, jika proses pembohongan itu tak ada lagi yang bisa menyetopnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6794695830277448064?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6794695830277448064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6794695830277448064&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6794695830277448064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6794695830277448064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/pansus-bisa-saja-bohong.html' title='Pansus Bisa Saja Bohong'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S1_msfCAHPI/AAAAAAAAA0U/9jUJywD-dug/s72-c/pansus-century1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7735685974646095745</id><published>2010-01-26T13:21:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:21:04.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yuriorkis Gamboa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tinju'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chris John'/><title type='text'>Yuriorkis Gamboa, "Mimpi Buruk" Buat Chris John</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S16KMSRUb5I/AAAAAAAAA0M/GNgu6nhvPnk/s1600-h/Yuriorkis-Gamboa1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S16KMSRUb5I/AAAAAAAAA0M/GNgu6nhvPnk/s320/Yuriorkis-Gamboa1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430930144322940818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yuriorkis Gamboa, juara dunia tinju kelas bulu WBA asal Kuba, adalah calon bintang yang sedang dalam proses menuju puncak. Mungkin betul prosesnya mencapai puncak itu masih akan cukup lama, tapi sekiranya ia bisa tampil konsisten seperti ketika Ahad kemarin menggasak jago Tanzania, Roger Mtagwa, hanya dalam dua ronde kurang (rekornya sejauh ini cukup gemilang, 15 menang KO dari 17 laga), maka di atas kertas akan sulit menahannya terus melaju ke puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Arum, promotor yang menaunginya memang sudah merancang jalur khusus untuknya menggapai puncak. Ia berniat mempertemukan alumnus Olimpiade 2004 itu dengan jawara kelas bulu dari WBO, Juan Manuel Lopez. Tapi sebagai pebisnis andal yang kini menguasai jagat tinju profesional, Arum tentu tak mau buru-buru menjual partai laga mereka dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai pada mega-laga itu perlu dicarikan dulu sejumlah “korban” yang dipandang akan dapat semakin mengangkat nilai jual parai besar itu. Spesifikasi calon korban yang dikehendaki Arum tentu saja bahwa ia harus cukup punya nama besar, tapi diyakini tak bakal menjadi penghalang bagi rencana terciptanya partai akbar tersebut. Gampangnya, lawan dari Gamboa nanti boleh saja “petinju hebat” tapi jangan “lebih hebat” dari Gamboa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan hajatan besar inilah kabarnya Bob Arum juga sudah melirik kemungkinan mempertemukan Gamboa dengan Chris John, juara dunia tinju kelas bulu “super champions” WBA asal Indonesia. Bagaimana peluang Chris John jika sampai ketemu Yuriorkis Gamboa? Belum apa-apa pengamat tinju M Nigara sudah pesimis. Ia malah berharap agar Chris jangan sampai ketemu “Si Angin Puyuh Guantanamo” (julukan Gamboa) dari Kuba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat bagaimana perkasa dan ganasnya Gamboa menyudahi Mtagwa kemarin Ahad, dan melihat bagaimana penampilan Chris John selama ini, pesimisme itu bukan tanpa alasan. Yuriorkis Gamboa rasanya memang akan menjadi “mimpi buruk” bagi juara dunia tinju yang kita punya itu. Sayangnya di olah raga rinju kita tak mungkin berlindung di balik pameo klasik seperti “bola itu bundar”. Keunggulan petinju Kuba itu dibanding Chris John terlihat sangat menyolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertemukan Chris John dengan Yuriorkis Gamboa mungkin seperti mengadu PSSI melawan tim sepakbola nasional Brazil atau Inggris. Maka seperti M Nigara, saya juga berharap Chris John mudah-mudahan tidak sempai ketemu Gamboa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7735685974646095745?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7735685974646095745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7735685974646095745&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7735685974646095745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7735685974646095745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/yuriorkis-gamboa-mimpi-buruk-buat-chris.html' title='Yuriorkis Gamboa, &quot;Mimpi Buruk&quot; Buat Chris John'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S16KMSRUb5I/AAAAAAAAA0M/GNgu6nhvPnk/s72-c/Yuriorkis-Gamboa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5551318453326968234</id><published>2010-01-20T16:04:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:21:42.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Parlemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Marsilam Simanjuntak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pansus Century'/><title type='text'>Ketemu Marsilam, Pansus Menubruk Tembok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S1bJ1Ya1DHI/AAAAAAAAA0E/aeKF-Txp4P8/s1600-h/marsilam+sianjuntak2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 275px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S1bJ1Ya1DHI/AAAAAAAAA0E/aeKF-Txp4P8/s320/marsilam+sianjuntak2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428748319766940786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat menikmati "pertunjukan" Marsilam Simanjuntak di depan sidang Pansus Century beberapa malam yang lalu. Sesudah dibikin muak berminggu-minggu menonton aksi barbar sejumlah politisi Senayan, malam itu saya merasa cukup mendapat "pencerahan" melihat bagaimana Marsilam membuat mati kutu "gerombolan penyamun" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya barangkali Pansus berharap mendapat “tangkapan besar” dengan menghadirkan Marsilam. Mereka tampaknya bernafsu sekali membongkar “teka-teki” keberadaan Marsilam pada rapat-rapat KSSK. Di luar dugaan, Marsilam dengan lihai menghindar dari segala “jerat” pertanyaan yang dilemparkan padanya. Ia tak mempan dipelintir, ia juga tak jadi kelimpungan ketika ada anggota Pansus yang mencoba membentak-bentaknya; mungkin dengan niat membikinnya ketakutan—seperti yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad melalui Twitter menyebut penampilan Marsilam malam itu sebagai “The Great Marsilam Show” Kata Goenawan selanjutnya, kuliah umum Marsilam malam itu kepada anggota Pansus adalah “Jika anda tidak begitu pintar, setidaknya berpikirlah jernih”. Sedang menanggapi komentar Bambang Soesatyo yang menyebut jawaban-jawaban Marsilam “membingungkan”, Goenawan menukas “Saya juga yakin jawaban itu bisa membingungkan keledai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Marsilam. Ke depan, saya berharap para saksi lain yang dipanggil akan berani tampil nyantai dan bernyali seperti beliau pula.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5551318453326968234?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5551318453326968234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5551318453326968234&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5551318453326968234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5551318453326968234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/ketemu-marsilam-pansus-menubruk-tembok.html' title='Ketemu Marsilam, Pansus Menubruk Tembok'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S1bJ1Ya1DHI/AAAAAAAAA0E/aeKF-Txp4P8/s72-c/marsilam+sianjuntak2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1706889388089808202</id><published>2010-01-14T16:26:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:22:18.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christianto Wibisono'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Parlemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pansus Century'/><title type='text'>Kasus Century Di Mata Christianto Wibisono</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S07jpFzSL7I/AAAAAAAAAzs/T7Awnhd1XXs/s1600-h/christianto+wibisono.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S07jpFzSL7I/AAAAAAAAAzs/T7Awnhd1XXs/s320/christianto+wibisono.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426524896099446706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Christianto Wibisono dalam “debat” dengan Kwik Kian Gie di Metro TV semalam antara lain berkata bahwa energi kita sudah terkuras terlalu banyak untuk mengurusi sengketa Bank Century yang bertele-tele. Kita, katanya pula, jadi membuang-buang banyak waktu dan momentum untuk maju. Ia mencontohkan dalam konperensi G 20 tempo hari Meksiko berhasil memanfaatkan fasilitas pinjaman dari IMF, yang kata Wibisono, sekarang sudah “banyak berubah dan tidak seperti dulu lagi”. Sedang kita, karena kelewat takut dituduh “neolib” lebih suka menyibukkan diri dengan segala macam omong kosong seperti kasus Century yang ternyata hanya memaksa.kita berjalan di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang awam saya pun (dan yang seperti saya ini mungkin sekarang juga banyak) mulai menjadi jenuh dan lelah dengan segala pemberitaan seputar Pansus Angket Century. Seperti Wibisono saya pun setuju bahwa di balik segala retorika gagah atas nama rakyat dan kebenaran yang digembar-gemborkan pihak pro Angket, sebetulnya goal dari semua ini adalah usaha untuk (kalau bisa) mendongkel pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok oposisi terus berhalusinasi bisa menjatuhkan penguasa, sedang pihak yang sebetulnya menjadi mitra koalisi penguasa pun pun rupanya melihat ada berkah tersembunyi yang bisa mereka dapat dari hajatan Angket ini. Itu sebabnya mereka jadi kelihatan begitu bersemangat dan kompak. Ironisnya, kata Christianto Wibisono lagi, pihak yang dikiritik tampaknya terlalu “lugu” untuk mengantisipasi manuver-manuver itu. Mereka terlihat tak tak bisa mengimbangi tarian perang yang dimainkan pihak lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu publik semakin tergiring kepada pemahaman berat sebelah seperti yang selama ini secara sistematis disebarkan. Alhasil kita sungguh tidak tahu akan berujung di mana segala keriuhan yang melelahkan ini. Pansus terus sibuk mengumpulkan orang-orang yang mereka harapkan bisa mengisi dengan pas “frame” yang telah mereka siapkan lebih dulu. Mereka akan senang sekali kalau bisa memojokkan saksi sampai tergagap-gugup (malahan menangis), sebaliknya akan buru-buru menyatakan “tidak puas” apabila yang dipanggil bisa dengan percaya diri menangkis dan menggagalkan semua teori mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekali lagi, mungkin benar kita sudah membuang-buang energi terlalu banyak untuk sebuah pepesan kosong bernama Bank Century.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1706889388089808202?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1706889388089808202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1706889388089808202&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1706889388089808202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1706889388089808202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/kasus-century-di-mata-christianto.html' title='Kasus Century Di Mata Christianto Wibisono'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S07jpFzSL7I/AAAAAAAAAzs/T7Awnhd1XXs/s72-c/christianto+wibisono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7077289376453887316</id><published>2010-01-14T10:54:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:23:04.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Parlemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sri Mulyani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pansus Century'/><title type='text'>Ada "Perang Lain" Di Balik Century</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S06WjrdHQsI/AAAAAAAAAzk/rxoxev8scV8/s1600-h/sri+mulyani2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 166px; height: 178px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S06WjrdHQsI/AAAAAAAAAzk/rxoxev8scV8/s320/sri+mulyani2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426440140732449474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani, “singa betina” yang biasa tampil perkasa dari forum ke forum, agaknya merasa “keder” juga tatkala harus menghadapi “gerombolan penyamun” di gedung parlemen kemarin. Ia merasa perlu membawa “pasukan” komplit (para pegawai Depkeu eselon 1) yang kemudian pada duduk memenuhi balkon. Ada juga Anggito Abimanyu, “murid kepala”nya, dan suaminya tersayang, Tonny Sumartono. Bukan hanya itu, ia pun mempersenjatai diri dengan seuntai tasbih yang terus dimainkannya selama sidang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Sri Mulyani menurut saya tepat. Kehadiran “pasukan” yang dibawanya itu sedikit banyak akan bisa menetralisir pengaruh energi buruk yang berada di sekitarnya. Saya cukup percaya bahwa lawan-lawan Sri juga menggunakan segala macam cara untuk merebut kemenangan. Misalnya, dengan mengerahkan dan meniupkan aroma atau aura negatif kepadanya, dengan tujuan mungkin membuatnya gugup, marah, sehingga tidak bisa mengendalikan diri, dan akhirnya masuk ke dalam jerat. (Miranda Gultom menurut saya kena dikerjai dengan cara ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin kelihatannya Sri Mulyani bisa lolos dari segala jerat itu. Saya mendengar kabar ada acara doa bersama yang dilakukannya sebelum berangkat ke “medan laga”. Ini juga bagus dan tepat. Akan lebih baik lagi apabila setelah sidang kemarin (sampai kasus ini selesai) kegiatan doa ini terus dilanjutkan. Saya teringat pada sebuah cerita dalam Perjanjian Lama. Diceritakan di sana, ketika orang-orang Israel berperang sengit di medan pertempuran, Musa dibantu Harun dan seorang lainnya, terus berdoa di atas gunung memohonkan penyertaan Tuhan agar bala pasukan Israel menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa setiap kali Musa kelelahan dan berhenti berdoa, keadaan pasukan Israel ikut keteteran, tapi begitu Musa kembali berdoa, situasi pertempuran juga berubah pula. Maka saya berharap ada “musa-musa” yang terus tekun berdoa memohonkan penyertaan Tuhan agar pihak-pihak yang tidak berdosa (sampai saat ini saya masih percaya Sri Mulyani dan Boediono tidak bersalah) dalam urusan Century ini terlindung dari segala cengkraman dan jerat gerombolan jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Masalahnya juga, sekarang ini sepertinya urusan “benar” dan “tidak benar” makin menjadi “kurang relevan” dalam kasus Century. Usaha-usaha sistenatis yang selama ini dilakukan untuk menciptakan citra jelek pada keduanya (Sri Mulyani dan Boediono) lumayan berhasil. Mayoritas publik (yang malas mikir) menelan mentah-mentah segala kampanye jahat itu. Makanya saya menyebut “tepat” apa yang dilakukan Sri Mulyani dalam sidang kemarin. Sudah saatnya kita mengundang campur tangan Dia dalam urusan ini. Masalah ini kelewat penting untuk diserahkan hanya kepada politikus). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7077289376453887316?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7077289376453887316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7077289376453887316&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7077289376453887316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7077289376453887316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/ada-perang-lain-di-balik-century.html' title='Ada &quot;Perang Lain&quot; Di Balik Century'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S06WjrdHQsI/AAAAAAAAAzk/rxoxev8scV8/s72-c/sri+mulyani2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5721469238464324674</id><published>2010-01-13T16:06:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:23:35.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Parlemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sri Mulyani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pansus Century'/><title type='text'>Sri Mulyani, atau "Perawan" di "Sarang Penyamun"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S02NYQqBmRI/AAAAAAAAAzU/YCCH6hYQR3g/s1600-h/sri+mulyani1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S02NYQqBmRI/AAAAAAAAAzU/YCCH6hYQR3g/s320/sri+mulyani1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426148573978925330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani adalah tokoh yang sepertinya tidak bisa menghindar dari kontroversi. Pada awal masa pemerintahan SBY di tahun 2004, ketika namanya mulai santer disebut-sebut sebagai calon kuat menteri ekonomi, sebagian orang meributkankannya. Mereka antara lain melempar gosip murah, menyebut Sri sebagai “kepanjangan tangan IMF”. Tuduhan-tuduhan itu kempis dengan sendirinya ketika ia bisa membuktikan  kepiawaiannya  selaku Menkeu (maupun Menko)  Sejumlah media dan lembaga prestisius kemudian seperti kompak berlomba menobatkannya sebagai contoh pejabat menteri yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hawa panas dari krisis global 2008, yang meruap juga ke sini, menyeretnya kembali ke dalam kancah kontroversi. Kali ini malah auranya jauh lebih membara. Sementara para pelaku bisnis di lapangan memuji manuver gemilangnya (bersama Boediono) menangkal krisis hingga negeri ini luput dari krisis ekonomi jilid 2, sejumlah politikus malah melihat manuvernya itu sebagai celah untuk melakukan penjegalan-penjegalan politis Lihatlah apa yang sudah diperbuat mereka, belum juga menjadi jelas benar-salah duduk perkaranya, sebuah gerakan besar dan sistematis untuk menghakiminya secara barbar sudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kiprah Sri Mulyani di tengah “badai kebencian” yang sengaja diciptakan para elit, saya teringat pada sebuah judul roman lama, “Anak Perawan di Sarang Penyamun”. Apa boleh buat, Sri yang memang masih “perawan” dalam urusan politik, telah terpaksa meladeni permainan yang disiapkan para “penyamun”, yang dengan air liur menetes-netes kini mencoba “menggerayinginya” :  kalau bisa kepengin mengerkahnya saja bulat-bulat. Kata sebuah situs berita di sini, Sri sampai membekali diri dengan seuntai tasbih tatkala hari ini datang ke gedung parlemen menemui “para penyamun” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bakal menang, “sang perawan” ataukah “gerombolan penyamun” itu? Ketika tulisan ini dibuat peperangan masih berlangsung dengan sengit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5721469238464324674?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5721469238464324674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5721469238464324674&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5721469238464324674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5721469238464324674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2010/01/sri-mulyani-atau-perawan-di-sarang.html' title='Sri Mulyani, atau &quot;Perawan&quot; di &quot;Sarang Penyamun&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/S02NYQqBmRI/AAAAAAAAAzU/YCCH6hYQR3g/s72-c/sri+mulyani1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-197902106268984102</id><published>2009-12-02T11:09:00.006+07:00</published><updated>2011-09-22T15:24:17.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tinju'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chris John'/><title type='text'>Chris John : Juara yang Sudah Mentok?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SxYNhPS89jI/AAAAAAAAAzM/OgLEscNl3Xk/s1600-h/Chrisjohn2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 285px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SxYNhPS89jI/AAAAAAAAAzM/OgLEscNl3Xk/s320/Chrisjohn2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410526867025098290" /&gt;&lt;/a&gt;Chris John adalah juara dunia tinju yang kemampuannya di atas ring terlalu biasa, dan karenanya terasa meragukan. Ia memang berhasil mempertahankan gelar juaranya sebanyak 12 kali. Tetapi kita bisa melihat sendiri betapa 12 kali kemenangannya itu dilaluinya dengan sangat susah payah. Ada beberapa pertandingan yang malah terasa meragukan hasilnya. Kita mungkin jadi  tergoda bersepkulasi bahwa Chris selama ini bernasib mujur belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujur, karena ia tidak sempat ketemu lawan yang betul-betul sangar, kecuali Marquez dari Meksiko. Dalam pertandingan itu memang Chris—yang bertanding di kandang sendiri—dinyatakan menang “split decision” oleh juri, tetapi mata penonton yang awas dan jujur melihat bahwa sebetulnya kala itu Marquezlah pemenangnya. Kalau saja Marquez bisa memaksa “sang naga” knock down, mungkin ceritanya bakal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai juara kita melihat Chris John memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Misalnya, ini yang paling sering dikeluhkan, ia tak punya pukulan pamungkas atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;killing punch&lt;/span&gt;. Jotosan-jotosannya bahkan sering terlihat “mengambang”. Kecuali itu ia pun ternyata “lamban”. Pada tarung terakhirnya melawan Rocky Juares tempo hari kelihatan bagaimana dengan mudah gerak-gerik Chris John dimentahkan gara-gara gaya bertinjunya yang “lamban” dan “lemah lembut” itu. Untungnya Juares bukan petinju istimewa, sehingga untuk kesekian kalinya Chris John kembali lolos dari lubang jarum. Di ronde ke-12 sebetulnya ia sudah nyaris jatuh, tapi bunyi bel menyelamatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Chris ternyata juga tak memiliki stamina yang jempol. Lihatlah bagaimana dengan cepat ia terlihat kepayahan begitu permainan memasuki ronde-ronde pertengahan ke atas. Maka dengan modalnya yang demikian minim, saya menghitung gelar juara yang disandangnya bakal mudah direbut jika saja ia bisa diketemukan dengan lawan yang, katakanlah sekelas Marques lagi—dan pertandingannya dilakukan di luar kandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali kalau ia—dan teamnya—bisa memanfaatkan waktunya untuk segera berbenah menambal kelemahan-kelemahannya. Tapi bisakah? Jujur saja saya pribadi agak ragu. Saya bahkan menduga Chris John sudah “mentok” dan sulit ditingkatkan lagi prestasinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-197902106268984102?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/197902106268984102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=197902106268984102&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/197902106268984102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/197902106268984102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/12/chris-john-juara-yang-sudah-mentok.html' title='Chris John : Juara yang Sudah Mentok?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SxYNhPS89jI/AAAAAAAAAzM/OgLEscNl3Xk/s72-c/Chrisjohn2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2699898351321295090</id><published>2009-07-08T18:09:00.006+07:00</published><updated>2011-09-22T15:24:59.281+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SBY'/><title type='text'>Quick Count  Pilpres 2009 : Rakyat Memilih "Lanjutkan!"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SlR-tSXn0uI/AAAAAAAAAyA/oJWG_3OSI9Y/s1600-h/pilpres1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SlR-tSXn0uI/AAAAAAAAAyA/oJWG_3OSI9Y/s320/pilpres1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356045173340492514" /&gt;&lt;/a&gt;Hasil Quick Count atau Hitung Cepat yang dilakukan beberapa lembaga survey pada Pemilu Pemilihan Presiden (Pilpres)  8 Juli 2009 hari ini mengabarkan hasil yang boleh dibilang sama : Pasangan Capres SBY-Boediono unggul secara menyolok di atas perolehan suara dua pesaingnya, Mega-Pro dan JK-Win.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan SBY-Boediono maraih dukungan suara sedikit di atas 60 persen (kecuali hasil dari Puskaptis). Pasangan Mega-Pro harus puas dengan perolehan suara yang berkisar di antara 25 dan 30 persen. Sedang pasangan JK-Win yang pada saat-saat akhir diprediksi akan meraupn hasil bagus ternyata justru terpuruk di posisi juru kunci, dengan hasil suara yang bahkan tidak sampai 15 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun komposisi hasil Hitung Cepat ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan banyak hasil polling yang dilakukan sebelum Pilpres, bagi banyak orang hasil ini rupanya tetap terasa mengejutkan. Di dua propinsi (DKI Jakarta) dan Aceh, angkanya malah sangat fenomenal. Di Jakarta SBY-Boediono mendapat suara di atas 70 persen, sedang di Aceh, lebih spektakuler lagi angkanya : 90 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Apa yang bisa dibaca dari indikasi yang tergambar pada hasil Hitung Cepat ini? Sosiolog Imam B Prasojo mengatakan bahwa rakyat Indonesia sudah sangat lelah dengan segala gonjang-ganjing dan eksperimen politik. Mereka ingin hidup yang stabil, dan tenang. Dan untuk kali ini mereka memercayakan harapan dan keinginan itu pada pasangan SBY-Boediono. Mereka ingin agar semua “dilanjutkan” saja.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ternyata tidak tertarik pada tawaran-tawaran spektakuler yang disodorkan pasangan Mega-Pro (pertumbuhan ekonomi dua digit, umpamanya), atau model pemerintahan (dan pemimpin) yang hanya “asal cepat dan baik”. Mereka ingin yang aman dan pasti. Mereka ingin yang realistis dan tidak banyak spekulasinya. Sekali lagi, mereka sudah sangat lelah, dan ingin kehidupan yang stabil dan “nyambung”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hasil ini juga bisa dianggap bukti bahwa pemilih kita kini sudah “lebih rasional” dalam menentukan pilihan?  Apa pun argumentasinya, rakyat sudah memilih, dan kalau kita masih percaya dan bersetuju bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan sendiri”, maka marilah kita belajar menghormati pilihan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2699898351321295090?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2699898351321295090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2699898351321295090&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2699898351321295090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2699898351321295090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/07/quick-caount-pilpres-2009-rakyat.html' title='Quick Count  Pilpres 2009 : Rakyat Memilih &quot;Lanjutkan!&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SlR-tSXn0uI/AAAAAAAAAyA/oJWG_3OSI9Y/s72-c/pilpres1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2186757433675607522</id><published>2009-07-02T15:18:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:25:57.628+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><title type='text'>Pilpres Satu Putaran : Bisa Rusuh Seperti Iran?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkxtiKYH5eI/AAAAAAAAAx4/y2o6UWVRJCY/s1600-h/rusuh+iran1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 252px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkxtiKYH5eI/AAAAAAAAAx4/y2o6UWVRJCY/s320/rusuh+iran1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353774490705192418" /&gt;&lt;/a&gt;Pernyataan Prabowo Subianto soal kekhawatirannya terjadi “hura-hura” seperti di Iran jika pilpres dilakukan tidak fair dan dipaksakan satu putaran menuai kritik tim kampanye SBY-Boediono. Ketua PNBKI Eros Djarot menilai pernyataan Prabowo itu emosional dan jauh dari sikap negarawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini pernyataan yang sangat emosional. Sikap kenegarawanan dalam hal ini diperlukan. Harap dicatat gerakan yang tidak didukung rakyat tidak akan jalan. Faktanya sekarang mayoritas rakyat menghendaki pilpres satu putaraan, mau apa lagi," kata Eros kepada detikcom, Kamis (2/7/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Eros, pilihan masayarakat untuk mendorong pilpres satu putaran didasarkan pada pertimbangan rasional mulai dari soal efisiensi sampai hasil survei yang tidak berimbang. Karena itu kalau ada pihak-pihak yang tidak terima dengan hasil survei dan kampanye satu putaran, para pihak itu diminta membuat survei dan kampanye lainnya yang kontra. Bukan melakukan intimidasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapapun yang melakukan intimidasi tidak akan didengar oleh rakyat. Rakyat semakin rasional. Iran dan Indonesia dua negara yang berbeda. Sosial kultural dan setting politiknya juga berbeda," paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Survei sudah mendukung, polling ecek-ecek SMS juga mendukung. Lantas apalagi. Ini semua pijakannya rasional. Kalau tidak puas, lakukan polling. Jangan lagi ini ditarik seperti pada peristiwa Mei lalu," paparnya&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eros meminta semua elit politik mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dibanding kepentingan pribadi dan golongan. Selain itu sikap dewasa dan negarawan harus senantiasa dijunjung guna memberikan contoh yang baik kepada rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada perlu dikhawatirkan. Kalau ada provokasi, itu sikap kekanak-kanakan yang ancam-ancam kalau satu putaran, harus diakhiri. Kalau harus 2 putaran ya 2. Kalau lihat debat capres, sangat tinggi njomplangnya," tandasnya..(Dikutip dari : detikcom 2 Juli 2009).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2186757433675607522?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2186757433675607522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2186757433675607522&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2186757433675607522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2186757433675607522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/07/pilpres-satu-putaran-bisa-rusuh-seperti.html' title='Pilpres Satu Putaran : Bisa Rusuh Seperti Iran?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkxtiKYH5eI/AAAAAAAAAx4/y2o6UWVRJCY/s72-c/rusuh+iran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5953925612787887305</id><published>2009-06-25T23:33:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:26:54.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SBY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cina'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minoritas'/><title type='text'>Capres "Idaman" Warga Minoritas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkOne9Zl1CI/AAAAAAAAAxw/JQPEp4v-5Ko/s1600-h/etnis+tionghoa1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkOne9Zl1CI/AAAAAAAAAxw/JQPEp4v-5Ko/s320/etnis+tionghoa1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351304932566094882" /&gt;&lt;/a&gt;Menjadi kelompok minoritas di manapun tidaklah nyaman. Etnis Cina di Indonesia, tahu betul apa artinya menjadi warga minoritas. Begitupun umat non muslim di republik ini paham sungguh apa artinya menjadi bagian “marginal” dari sebuah kelompok masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, jika kita periksa halaman kitab undang-undang, maka semua hak dasar politik mereka umumnya sudah tercantum di sana. Artinya, secara konstitusional hak mereka sebetulnya dijamin oleh negara, tetapi kalau sudah masuk ke ranah publik, barulah akan kita temukan kejanggalan dan perbedaan perlakuan terhadap mereka. Dan itulah arti sebenar-benarnya dari menjadi “minoritas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek-praktek diskriminatif itu niscaya masih akan berlangsung lama (berkacalah pada pengalaman Amerika Serikat), tetapi mungkin situasinya bisa sedikit diminimalkan dengan kehadiran seorang pemimpin yang berani mengambil sikap tidak berat sebelah kepada segenap warganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang mendapatkan pemimpin yang seperti itu bukannya tak ada. Ajang Pemilu pasca Orde Baru memberi kesempatan bagi kelompok minoritas untuk memilih sendiri calon pemimpin yang nantinya diharapkan berani bertindak “netral” kepada setiap warga negara. Maka bagi kelompok ini, seorang calon pemimpin tidak cukup hanya “pandai” dan “berkharisma” doang. Di atas semuanya, sang calon pemimpin kudu bisa menjamin kenyamanan plus keamanan hidup mereka kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya kemudian, dari antara tiga pasang calon presiden (dan wakilnya) yang kini berlaga dalam Pilpres 2009 ini, adakah kira-kira calon yang “cocok” dengan kriteria seperti dikehendaki kelompok “minoritas” itu?  Mestinya ada. Dan warga minoritas—dengan bekal pengalaman mereka “hidup tertindas” bertahun-tahun—sekarang mustinya memiliki insting plus untuk sanggup “membaca” isi jeroan ketiga pasang calon presiden dan wakilnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya mereka tidak akan gampang-gampang lagi dikibuli, atau ditakut-takuti, untuk beralih pilihan begitu saja pada calon lain yang disodor-sodorkan kepada mereka. Mereka mestinya juga paham siapa dari ketiga pasang calon pemimpin itu yang hanya sekadar “berjualan”, dan mana yang sungguh berkomitmen pada nasib warga minoritas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5953925612787887305?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5953925612787887305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5953925612787887305&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5953925612787887305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5953925612787887305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/06/warga-minoritas-cari-capres-seperti-apa.html' title='Capres &quot;Idaman&quot; Warga Minoritas'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkOne9Zl1CI/AAAAAAAAAxw/JQPEp4v-5Ko/s72-c/etnis+tionghoa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1947921803694777430</id><published>2009-06-24T16:29:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:27:51.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Survey Indonesia'/><title type='text'>Betulkah LSI Bagian dari "Konspirasi"?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkHy7gfxjdI/AAAAAAAAAxo/27tyGu6wU8Y/s1600-h/lembaga+survey+indonesia2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 245px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkHy7gfxjdI/AAAAAAAAAxo/27tyGu6wU8Y/s320/lembaga+survey+indonesia2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350824936442269138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berita Terkait – Sumber Kompas.Com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani tampaknya tersinggung dengan tuduhan anggota Timkamnas Mega-Prabowo, Maruarar Sirait, yang mencurigai lembaga survei menjadi bagian dari desain besar melegitimasi pemilu satu putaran. Saiful dan Ara sempat saling bersitegang dan berdiri dengan tatapan tajam satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saiful dengan tegas mengatakan, hasil survei tak bisa disalahkan. Apalagi, menuduh lembaga survei menjadi bagian dari konspirasi tersebut. "Tim sukses itu seharusnya membicarakan apa yang akan dilakukan dengan hasil survei. Tidak perlu mencari kambing hitam, mengatakan lembaga survei memobilisasi pemilih. Jangan terlalu keras bahwa survei ini bagian dari desain," kata mantan Direktur LSI ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar tanggapan ini, Maruarar—yang biasa disapa Ara, langsung menyahut, "Anda tanpa sadar dijadikan bagian dari kecurangan. Dalam film itu ada sutradara, aktor," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu hanya spekulasi kalau menuduh survei bagian dari konspirasi kecurangan pemilu. Bahaya sekali kalau banyak orang seperti Ara di negeri ini," timpalnya.&lt;br /&gt;Ketegangan antarkeduanya ditengahi oleh moderator, Burhanuddin Muhtadi, yang juga peneliti senior LSI. Saiful juga menegaskan, hasil survei hanya merupakan potret opini publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ara tetap berkeyakinan ada desain seperti yang disangkakannya. "Suatu saat pasti terungkap," kata politisi PDI Perjuangan ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semacam Komentar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan adanya “konspirasi” pada Pemilu 2009 makin santer terdengar hari-hari ini. Megawati misalnya, beberapa kali dengan terang-terangan di depan umum mengeluarkan statemen yang menuduh adanya rekayasa sistematis pada Pemilu ini kali ini untuk memenangkan kelompok tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat diundang dalam acara Kick Andy di Metro TV, ia dengan santai dan yakinnya mengatakan bahwa hasil Pemilu Legislatif kemarin (yang memenangkan Partai Demokrat dan mempecundangi sejumlah parpol besar, termasuk PDIP di dalamnya), sebagai “bukti tak terbantah dari adanya rekayasa kecurangan itu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, hasil Pemilu Legislatif 9 April 2009 itu nyatanya memang “sesuai” dengan “ramalan” yang dikeluarkan Lembaga Survey Indonesia hanya beberapa hari saja sebelum saat pencontrengan. Tapi apakah ini sungguh “fakta” yang lantas bisa diajukan sebagai bukti adanya kecurangan? Mestinya tidak semudah itu. Bagaimana kalau "kesesuaian" itu kelak terbukti semata-mata terjadi karena sahihnya metodologi yang diterapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hedak bilang, Megawati sebagai seorang pimpinan organisasi politik besar (dengan jumlah massa pengikut yang juga besar) tidakkah sebaiknya lebih bisa menahan diri dalam mengeluarkan pernyataan politiknya--sebelum segala sesuatunya bisa terang benderang dibuktikan. Sebab implikasinya bisa sangat tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya pun jadi bertanya-tanya, jika nanti dalam Pilpres ternyata Megawati kalah lagi, bisakah ia menerima kenyataan itu. Atau seperti tokoh oposisi di Iran yang kalah tanding kemarin, malah berbalik menebar hasutan yang menyebabkan terbitnya kerusuhan besar. Saya berharap ketakutan ini hanya halusinasi saya belaka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1947921803694777430?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1947921803694777430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1947921803694777430&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1947921803694777430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1947921803694777430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/06/betulkah-lsi-bagian-dari-konspirasi.html' title='Betulkah LSI Bagian dari &quot;Konspirasi&quot;?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkHy7gfxjdI/AAAAAAAAAxo/27tyGu6wU8Y/s72-c/lembaga+survey+indonesia2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1884343871153124695</id><published>2009-06-23T15:07:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:28:54.088+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Pilpres Satu Putaran : Mengapa Ribut?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkCNm2yDANI/AAAAAAAAAxg/7P94zIEiqz0/s1600-h/pilpres+satu+putaran1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 287px; height: 238px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkCNm2yDANI/AAAAAAAAAxg/7P94zIEiqz0/s320/pilpres+satu+putaran1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350432055996121298" /&gt;&lt;/a&gt;Apakah keliru kalau Pilpres bisa selesai dalam satu putaran saja? Jawab : tentu saja tidak ada yang salah. Apa yang disuarakan dalam iklan “Pilpres Satu Putaran” sudah benar belaka : pengiritan duit sebanyak trilyunan adalah salah satu alasan pembenarnya. Jadi mengapa ada yang merasa perlu meributkannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika konsisten dengan slogan “pro rakyat” mengapa harus menolak “satu putaran”? Apakah dikira “wong cilik” tidak bisa bosen bolak-balik mencontreng? Begitu pun jika benar “lebih cepat lebih baik” adalah slogan yang dijadikan modal kampanye, mengapa pula musti meradang dengan tawaran iklan “satu putaran”? Mengapa jadi tidak konsisten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kita sebetulnya sudah paham sepahamnya mengapa ada penolakan itu. Kelompok yang rame berteriak menghujat iklan “satu putaran” sejak awalnya memang tidak teramat yakin bisa meraup hasil baik dalam Pilpres ini. Mereka sudah berhitung cermat bahwa sangat mungkin mereka bahkan bisa langsung rontok di putaran pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menaruh harapan besar akan bisa memukul balik di putaran kedua lewat jalan “keroyokan” alias koalisi. Karena itulah segala macam skenario dan wacana yang mengarah pada “pemilu satu putaran” membuat mereka kebakaran jenggot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dalam penolakannya mereka mencoba terlihat ‘‘reasonable”. Misalnya dengan berulangkali menyebut-nyebut keberadaan sang lembaga survey pembuat iklan yang dianggap “tidak netral” karena faktanya memang mereka didanai salah satu capres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi omong-omong, betulkah iklan “satu putaran” itu menyesatkan dan membohi khalayak? Jawabannya berupa pertanyaan balik :  betul begitu gampangkah rakyat kini dibodohi? Saya kira kita sepakat, pemilih sekarang sudah lebih cerdas (dan bebas) untuk memutuskan sendiri memilih yang mana—dengan atau tanpa arahan iklan “satu putaran” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mungkin yang paling benar, kalau tak sreg dengan iklan “satu putaran”, ya buatlah juga iklan tandingan yang isinya, umpamanya,  Pilpres yang “ideal” seharusnya dua putaran, supaya lebih banyak duit yang beredar, lebih banyak pihak yang dibikin senang, supaya rakyat lebih matang lagi memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Dan supaya kalau ternyata “keok” juga, tidak usah lagi ribut seperti kemarin, menuduh dan menyalah-nyalahkan pihak lain bermain curang).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1884343871153124695?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1884343871153124695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1884343871153124695&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1884343871153124695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1884343871153124695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/06/pilpres-satu-putaran-mengapa-ribut.html' title='Pilpres Satu Putaran : Mengapa Ribut?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SkCNm2yDANI/AAAAAAAAAxg/7P94zIEiqz0/s72-c/pilpres+satu+putaran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5814156637403488957</id><published>2009-06-18T22:37:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:29:36.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Debat Capres : Mungkinkah Menarik?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sjpfl65Xd6I/AAAAAAAAAxY/w0u3j9hCjs0/s1600-h/debat+capres1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sjpfl65Xd6I/AAAAAAAAAxY/w0u3j9hCjs0/s320/debat+capres1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348692612525553570" /&gt;&lt;/a&gt;Dari tiga pasang capres yang kini sedang berlaga, JK adalah calon presiden yang bisa tampil paling “santai” dan luwes. Sementara SBY selalu tampil percaya diri, hanya saja kelihatan agak “ngeden”. Sedang Mbak M adalah yang paling “culun” dari tiga pasangan itu, meskipun belakangan ia sudah bisa tampil lebih mendingan dibanding sebelum-sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mengenai cawapresnya, Mas Bowo adalah calon yang paling bisa tampil menggigit (tidakkah seharusnya ia betukar posisi dengan Mbak M?). Wiranto cenderung datar dan menjemukan. Sementara Boediono sejauh ini terlihat sebagai sosok yang paling terlihat “lugu”.Maklumlah, beliau memang masih pendatang baru di panggung politik, yang sarat dengan sandiwara dan kepura-puraan itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jadinya kalau mereka diadu dalam sebuah forum debat terbuka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terjadi sebuah perdebatan terbuka antara para capres itu, Mbak M mungkin yang akan paling “menderita” nantinya. Sebaliknya akan sangat menarik melihat bagaimana SBY “beradu mulut” dengan JK. Bukankah selama ini mereka sejatinya memang saling berseteru? Mereka saling klaim “paling jago” dan “paling berjasa”, maka dari pada hanya berbalas sindir dari kejauhan, bukankah lebih elok apabila mereka dipertemukan saja di atas sebuah panggung terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan para cawapres? Saya kira akan terjadi “pertarungan hidup mati” antara Mas Bowo melawan Boediono. Yang disebut pertama, dengan semangat tarung seorang prajurit para komando tulen, akan berusaha “menguliti” si “anak sekolahan” Boediono. Ya, tentu saja mereka akan bertarung antara lain di seputar keberadaan mahluk ajaib yang disebut  “neolib” dan “ekonomi kerakyatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa saya tak teramat yakin “si anak sekolah” akan bisa menjinakkan kebringasan Mas Bowo, yang pasti sudah bersiap dengan segepok “bukti kebohongan” dari apa yang disebutnya “rejim neolib”. Bukan karena kurang dalam ilmunya, hanya saja saya meragukan kepintarannya beradu kata. (Saya beranda-andai, mungkin seorang Sri Mulyani akan lebih cocok “meladeni” Mas Bowo). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana posisi Wiranto dalam debat ini? Wiranto rasanya cukup tahu diri bahwa ia tak ungkulan melawan dua pesaingnya, maka ia akan mencoba mencari posisi aman. Ia akan cenderung “duduk manis” sementara Mas Bowo dan Boediono “berdarah-darah”, dan  baru akan  berusaha “masuk menggebuk” apabila terbuka peluang. Ya, ia bakal memainkan strategi “hit and run”, atau “petak umpet”—sebagaimana memang begitu ia selama ini kita kenal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkinkah sebuah debat terbuka seperti dibayangkan di atas bakal terjadi? Saya tak yakin. Sebab kita, atau lebih tepat, para calon pemimpin itu belum mempunyai cukup kearifan (dan keberanian) untuk mengakui kekalahan dan kemenangan pihak lain seandainya mereka kalah dalam debat itu. Kekalahan capres (atau cawapres) tertentu sangat bisa jadi akan dipahami sebagai sebuah “penistaan” yang harus “dilunasi”. Repot. Kemampuan berdemokrasi kita memang baru sampai di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demi kemaslahatan orang ramai, debat terbuka seperti dibayangkan di atas, pastilah belum bakal terjadi pada pemilu kali ini. KPU dan pihak lain yang berotoritas akan mengawal “debat” itu menjadi hanya sebuah “silahturami” yang resmi dan sekaligus hambar. Sekali lagi ini demi kemaslahatan orang banyak. Harap maklum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Artikel ini saya rampungkan tadi siang. Malam ini saya nonton acara “debat capres” di layar kaca, dan saya kira yang terjadi tadi memang bukan sebuah perdebatan).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5814156637403488957?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5814156637403488957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5814156637403488957&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5814156637403488957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5814156637403488957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/06/debat-capres-mungkinkah-menarik.html' title='Debat Capres : Mungkinkah Menarik?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sjpfl65Xd6I/AAAAAAAAAxY/w0u3j9hCjs0/s72-c/debat+capres1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7281947872793831987</id><published>2009-06-17T10:57:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:30:10.001+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Probowo Subianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Menghitung Peluang Mas Bowo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SjiPJqqdzlI/AAAAAAAAAxQ/7fLiwrBVtuU/s1600-h/prabowo1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SjiPJqqdzlI/AAAAAAAAAxQ/7fLiwrBVtuU/s320/prabowo1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348181953736461906" /&gt;&lt;/a&gt;Jika pertanyaan seputar “peluang Mas Bowo dalam Pilpres” ini diajukan setengah tahun yang lalu, kita akan dengan gampang menjawabnya. Peluangnya bahkan mungkin terhitung yang paling “kecil” dibanding calon-calon presiden lainnya ketika itu. Tapi hanya dalam hitungan bulan saja, Mas Bowo membuat situasinya jadi berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Bowo membuktikan bahwa ia cukup pintar “berjualan”. Iklan-iklan politiknya sejauh ini dianggap yang paling “menjual”. Dibandingkan dengan iklan pesaingnya, iklan-iklan Mas Bowo memang beda :  tampak “cerdas” dan “menggoda”. Selain jualan citra lewat iklan, ia pun sukses menggalang konsolidasi ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, misalnya kita tahu, sudah lama berkiprah di organisasi-organisasi “grass root” seperti himpunan tani, nelayan, pedagang tradisional dan sejenisnya. Artinya Mas Bowo punya jaringan luas (dan mungkin solid) juga ke lapis bawah. Singkat kata, ia telah berhasil meyakinkan lawan-lawannya bahwa ia calon yang kudu diperhitungkan serius. Dan hasil kerja kerasnya memang langsung teruji dalam Pemilu legislatif yang lalu : barang jualannya nerobos masuk “Top 10 Sales”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja ia mesti mengoreksi ambisinya (sementara ?) menjadi hanya “orang kedua” saja, sebab hasil kongko politiknya dengan Mbak M mentoknya ya di situ. Mbak M sendiri tadinya  sudah dianggap calon “pasti kalah” (begitulah hasil jajak pendapat sejauh ini), tapi “perkawinan politik”nya dengan Mas Bowo (yang “smart” dan ide-idenya “menggugah” itu), menjadikan situasinya berubah. Mas Bowo berhasil mendongkrak nilai jual Mbak M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada hal yang dianggap bisa menjegal laju keduanya, maka itu adalah urusan lama yang selama ini menjerat Mas Bowo--itulah urusan pelanggaran HAM, termasuk di dalamnya juga desas-desus yang menyangkutkannya dengan Tragedi Mei 1998, yang sampai kini masih penuh asap dan kalibut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanyakan hal ini kepada seorang kawan. Kata kawan saya, soal masa lalu Mas Bowo (yang konon “kelam” ) itu hanya diketahui terbatas oleh masyarakat perkotaan, mungkin malah hanya oleh sebagian penduduk Jakarta saja.. Mayoritas pemilih lain sepertinya tak tahu, atau kalau pun tahu kayaknya tak begitu ambil pusing dengan masalah ini. Jangan lupa juga, kata sang kawan, orang Indonesia punya bakat hebat dalam urusan melupakan (dan memaafkan) dosa-dosa masa lampau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu hal yang harus juga dimasukkan sebagai variabel jika kita mau menghitung lebih cermat peluang Mas Bowo. Jika bagi sebagian pemilih performa Mas Bowo dianggap sangat “menjanjikan”, maka bagi pemilih yang lain mungkin saja gaya “kampanye galak” yang ditampilkannya membuat mereka “ngeri” untuk memilihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pemilih “konservatif” ini akan cenderung merapatkan barisan dan malahan mendekat kepada calon lain yang penampilannya lebih “ramah”. (Apalagi Mbak M, pasangannya, dan ini variabel penting lain yang tidak bisa dilewatkan, bukankah dulu sudah pernah “dicoba”, tanya mereka, tapi hasilnya tidak bagus?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seberapa besarkah sebetulnya peluang Mas Bowo (dan Mbak M)? Silakan anda kalkulasi sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7281947872793831987?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7281947872793831987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7281947872793831987&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7281947872793831987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7281947872793831987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/06/menghitung-peluang-mas-bowo-mbak-m.html' title='Menghitung Peluang Mas Bowo'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SjiPJqqdzlI/AAAAAAAAAxQ/7fLiwrBVtuU/s72-c/prabowo1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7315843363789232504</id><published>2009-06-15T15:04:00.006+07:00</published><updated>2011-09-22T15:30:57.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Silat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='David Carradine'/><title type='text'>David Carradine, Pendekar yang "Filosof"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SjYBIHGZF0I/AAAAAAAAAxA/7e4TZyBfYEs/s1600-h/carradine1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SjYBIHGZF0I/AAAAAAAAAxA/7e4TZyBfYEs/s320/carradine1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347462846405482306" /&gt;&lt;/a&gt; Aktor David Carradine, yang ditemukan meninggal di sebuah kamar hotel di Bangkok Thailand dua pekan lalu, adalah sosok yang secara tidak langsung ikut berperan dalam suksesnya aktor kungfu legendaris Bruce Lee. Konon kabarnya mendiang Bruce Lee sangat mendambakan peran tokoh Kwai Chang Caine dalam film serial TV Kung Fu, yang dirilis di awal 1970-an. Tapi sebagaimana kita tahu peranan itu jatuh ke tangan David .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itulah kabarnya yang memicu dan mendorong Bruce Lee untuk akhirnya hengkang dan mengadu nasib di  Hongkong. Di sana ia berkolaborasi dengan Raymond Chow, juragan studio film Golden Harvest. Dari kolaborasi itulah kemudian lahir film The Big Bos yang dalam sekejab pan mata saja berhasil menggoyang jagat perfilman laga Asia. Cerita selanjutnya, kita tahu, adalah sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Kung Fu, David Carradine telah datang pada saya lewat sebuah film cowboy TV, Shane. Itulah film cowboy yang menurut saya rada ganjil. Berbeda dengan tokoh cowboy pada umumnya, yang lebih mendahulukan aksi-aksi cepat dan lugas, sosok cowboy Shane yang dihantarkan David Carradine tampil dengan gaya yang kelihatan  “lemes”, banyak merenungnya, dan setempo terlihat juga ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata gaya “klamar-klemer” itu kelak menjadi “merk dagang” yang terus dijaganya. Dalam Kung Fu, tokoh Kwai Chang Caine juga tidak hadir sebagai sosok pendekar yang berangasan dan gemar main kepruk lawan pada kesempatan pertama. Sebaliknya ia adalah figur yang, seperti Shane, lebih sering berpikir filosofis, ketimbang mendahulukan pertimbangan dan aksi fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa tidak, David Carradine adalah sebuah ikon film (laga) yang penting. Ia punya “style” sendiri yang tak tersamai bintang lain--meskipun belum bisa disejajarkan dengan ikon-ikon besar Hollywood seperti Marlon Brando, Jack Nicholson, Al Pacino. Juga namanya masih kalah bersinar kalau dibanding dengan “pecundang”nya, mendiang Bruce Lee yang dikalahkannya dalam seleksi film Kung Fu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kedua “seteru” itu sama telah tiada. Aneh tapi nyata, seperti Bruce Lee dulu, kini kematian David Carradine pun mewariskan teka-teki kepada penggemar-penggemarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7315843363789232504?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7315843363789232504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7315843363789232504&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7315843363789232504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7315843363789232504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/06/david-carradine-pendekar-yang-filosof.html' title='David Carradine, Pendekar yang &quot;Filosof&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SjYBIHGZF0I/AAAAAAAAAxA/7e4TZyBfYEs/s72-c/carradine1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6280317399138715854</id><published>2009-05-06T00:24:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:31:26.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steve Jobs'/><title type='text'>Pidato Steve Jobs (tiga-selesai)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SgB27qruYnI/AAAAAAAAAwo/JipP1doYueg/s1600-h/SteveJobsIconMosaic.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332392726248710770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 254px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SgB27qruYnI/AAAAAAAAAwo/JipP1doYueg/s320/SteveJobsIconMosaic.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Cerita Ketiga : Stay Hungry, Stay Foolish.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Stay Hungry. Stay Foolish&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6280317399138715854?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6280317399138715854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6280317399138715854&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6280317399138715854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6280317399138715854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/05/pidato-steve-jobs-tiga-selesai.html' title='Pidato Steve Jobs (tiga-selesai)'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SgB27qruYnI/AAAAAAAAAwo/JipP1doYueg/s72-c/SteveJobsIconMosaic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7264035312413555505</id><published>2009-05-04T21:14:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:31:46.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steve Jobs'/><title type='text'>Pidato Steve Jobs (dua)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sf75SqcoFEI/AAAAAAAAAwg/j54vt6xSgE8/s1600-h/steve+jobs+2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331973107880563778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 280px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sf75SqcoFEI/AAAAAAAAAwg/j54vt6xSgE8/s320/steve+jobs+2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Cerita Kedua : Cinta dan Kehilangan&lt;/strong&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya. Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bersambung&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7264035312413555505?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7264035312413555505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7264035312413555505&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7264035312413555505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7264035312413555505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/05/pidato-steve-jobs-dua.html' title='Pidato Steve Jobs (dua)'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sf75SqcoFEI/AAAAAAAAAwg/j54vt6xSgE8/s72-c/steve+jobs+2.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1172946240412666471</id><published>2009-05-04T00:50:00.007+07:00</published><updated>2011-09-22T15:32:05.917+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steve Jobs'/><title type='text'>Pidato Steve Jobs (satu)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sf3bIPeWRkI/AAAAAAAAAwQ/X4Iko4EBe_w/s1600-h/steve+jobs1.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331658468515792450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 298px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sf3bIPeWRkI/AAAAAAAAAwQ/X4Iko4EBe_w/s320/steve+jobs1.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Pidato Steve Jobs ini diucapkan pada acara wisuda Standord University, 12 Juni 2005. Meski sudah “lama” berlalu, pidato ini ternyata masih sering dibaca dan didengarkan orang. Di Youtube videonya bahkan sudah diakses hampir 2 juta kali. Bagi saya pidato Steve Jobs ini memang inspiratif. Karena lumayan panjang, saya memenggalnya dalam tiga kali pemuatan. Semoga bermanfaat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cerita Pertama&lt;/strong&gt;: &lt;strong&gt;Menghubungkan Titik-titik&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Bersambung)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1172946240412666471?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1172946240412666471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1172946240412666471&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1172946240412666471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1172946240412666471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/05/pidato-steve-jobs-satu.html' title='Pidato Steve Jobs (satu)'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Sf3bIPeWRkI/AAAAAAAAAwQ/X4Iko4EBe_w/s72-c/steve+jobs1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3063481094197289631</id><published>2009-02-10T14:38:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:32:39.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Google'/><title type='text'>"Kejahatan" Google</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SZEvyOSEEOI/AAAAAAAAAwA/Dnbz8fQTmeM/s1600-h/seo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301070776265609442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 282px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SZEvyOSEEOI/AAAAAAAAAwA/Dnbz8fQTmeM/s320/seo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;MUNGKIN tidak adil apabila ini hanya ditimpakan pada &lt;strong&gt;&lt;a href="http://google.com/"&gt;Google&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; sendirian. Kalau mau fair ini adalah “dosa” dan “kejahatan” semua search engine. Tapi karena fakta di lapangan saat ini membuktikan bahwa 60 persen perselancar di dunia maya memang “berkerumun” di Google, cukup layak kiranya untuk memberi judul artikel ini dengan membawa nama search engine besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Google dalam kerjanya sebagai mesin pencari menerapkan aturan mainnya sendiri. Seperti apa persisnya aturan itu hanya pihak Google yang paham. Mereka menyeleksi dengan ketat kapan sebuah situs, misalnya, sudah boleh nongol (atau belum) tatkala seseorang mengetikkan kata kunci tertentu di kotak carinya. Sebuah situs yang masih bayi, seberapa pun keren (dan penting isiya), tidak akan gampang-gampang mejeng di Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs-situs itu harus melewati dulu “masa pembinaan”. Tapi model “pembinaan”nya seperti apa, dan berapa lama “pembinaan” itu berlangsung—sekali lagi—hanya Google sendiri yang tahu. Bukan tidak mungkin, sebuah situs dinyatakan “tidak lulus” dalam masa pembinaan itu. Dan atas dasar alasan apa Google “membunuh” sebuah situs juga hanya mereka sendiri yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susahnya menembus gerbang seleksi Google itu kemudian memunculkan peluang bisnis baru. Sejumlah orang yang mengklaim “mengerti” apa yang diinginkan sang mesin pencari, telah mengembang-biakkan dagangan laris yang disebut Search Engine Optimazation atawa sering disingkat SEO. Namanya juga dagangan, tentu saja untuk bisa memetik ilmu SEO itu ada bayarannya, dan sering tidak murah juga. Sedang yang dijajakan gratis di internet (atau buku-buku) asal tahu saja cuma “kulit-kulit”nya doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempraktekkan jurus-jurus SEO yang canggih sebuah situs diyakini akan lebih cepat muncul di jagat maya. Kenyataan ini sekali lagi membuktikan bahwa memang “money (not content) is the king”. Sebaliknya situs-situs yang tidak patuh pada aturan SEO yang benar, meskipun sebetulnya membawa muatan pesan penting dan bernilai, harus sabar menanti berbulan-bulan, sebelum akhirnya hadir di jagat maya—itu pun kalau hoki dinyatakan “lulus”. (Situs gratis ini, umpamanya, telah dibuat dengan tidak mematuhi aturan SEO yang benar—maka page ranknya susah sekali naik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya lagi, pada saat situs itu sudah boleh tampil, mungkin urgensi muatannya sudah ketinggalan zaman dan menjadi tidak penting lagi. Begitulah, karena uang semua yang “tak patuh” pada aturan SEO harus mengalah. Dan itulah yang saya maksudkan ketika saya menyebut “kejahatan” dan “dosa” Google. Ada andil Google pada terbentuknya iklim kompetisi yang tidak fair itu—disengaja atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3063481094197289631?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3063481094197289631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3063481094197289631&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3063481094197289631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3063481094197289631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/02/kejahatan-google.html' title='&quot;Kejahatan&quot; Google'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SZEvyOSEEOI/AAAAAAAAAwA/Dnbz8fQTmeM/s72-c/seo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6937617654285917253</id><published>2009-01-23T15:21:00.006+07:00</published><updated>2011-09-22T15:34:16.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angkutan Kota'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Organda'/><title type='text'>Organda Tantang Pemerintah</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SXl-7BeK-SI/AAAAAAAAAvI/dXE_Qs806UY/s1600-h/metromini.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294402389423094050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 310px; CURSOR: hand; HEIGHT: 233px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SXl-7BeK-SI/AAAAAAAAAvI/dXE_Qs806UY/s320/metromini.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;HARI-HARI ini sedang terjadi semacam “perang kecil” antara Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) versus Pemerintah, dalam hal ini Menteri Perhubungan. Tentu saja itu dalam kaitan dengan urusan ongkos transportasi angkutan dalam kota (yang luar kota sepertinya sudah bisa didamaikan). Pemicu awalnya adalah turunnya harga bensin beberapa waktu yang lalu menjadi kembali ke harga 4.500 per liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosumen (diwakili YLKI) dan didukung Pemerintah (Menteri Keuangan &amp;amp; Perhubungan) menuntut supaya pihak Organda bersikap adil dengan menurunkan juga tarif angkutan kota dengan jumlah yang signifikan. Jumlah yang dituntut adalah sebesar 500 rupiah. Ini adalah jumlah yang diyakini akan memberi stimulus bagi kemampuan belanja khalayak. Namun Organda rupanya berat mengabulkan tuntutan itu. Untuk berkelit lalu mereka menunculkan formula turun 200 maksimum 300 rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka paham sekali apabila formula ajaib ini disetujui, dalam prakteknya nanti penurunan itu akan sulit diterapkan. Formula itu akan memudahkan para sopir dan kondektur berdalih “tidak ada uang kecil untuk kembalian", sehingga akhirnya penumpang akan dipaksa “mengalah” dan ujung-ujungnya menjadi terbiasa tetap membayar dengan kondisi tarif yang saat ini berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak alasan diajukan pihak Organda. Misalnya mereka selalu menyebut mahalnya harga onderdil (yang tidak ikut turun) sebagai alasan utama keberatan mereka. Menurut mereka harga bensin juga hanya menyumbang “kecil” saja dalam hitung-hitungan cost. Jadi, dalam logika orang-orang “pandai” di Organda, turunnya harga bensin sampai 1.500 rupiah (25%) belum lama ini rupanya “tidak berarti banyak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan itu kini memasuki babak baru setelah DPRD ternyata juga setuju pada tuntutan turun 500 rupiah. Kalau Fauzi Bowo selalu pimpinan kota (DKI) juga mengamini putusan DPRD (dan Foke sudah memberi sinyal ke arah itu) praktis Organda akan menjadi sendirian dan terpojok—dan secara logika hukum ketatanegraan mustinya mereka buru-buru “bertobat” dan mengaku kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alih-alih mengaku keok, Organda justru berbalik mengancam akan memobilisasi pemogokan angkutan kota apabila penurunan tarif dengan jumlah 500 rupiah itu disetujui gubernur (Koran Tempo, 23 Januari 2009). Ini aneh, padahal para sopir angkotnya saja sudah bersedia menurunkan ongkos, dan bahkan mereka bilang penurunan itu masih menutup uang setoran, seperti dilansir &lt;strong&gt;Detik.com&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2009/01/23/141848/1073406/10/sopir-angkot-siap-turunkan-tarif"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sangat menarik menanti hasil akhir dari “perang kecil” ini. Jika berhadapan dengan “semut nakal” macam Organda saja sampai kalah gertak, bagaimana kita lalu musti menilai kewibawaan pemerintah ini?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6937617654285917253?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6937617654285917253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6937617654285917253&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6937617654285917253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6937617654285917253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/01/organda-tantang-pemerintah.html' title='Organda Tantang Pemerintah'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SXl-7BeK-SI/AAAAAAAAAvI/dXE_Qs806UY/s72-c/metromini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-353187839299077263</id><published>2009-01-16T09:22:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:39:18.359+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selebriti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wiji Thukul'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukul Arwana'/><title type='text'>Dua Tukul, Dua Peruntungan</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SW_2bbZAf-I/AAAAAAAAAu4/rbJ2PFemUgs/s1600-h/tukul+arwana.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291719038253170658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 221px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SW_2bbZAf-I/AAAAAAAAAu4/rbJ2PFemUgs/s320/tukul+arwana.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;TUKUL yang pertama tentu saja Wiji Thukul--penyair yang raib tak tentu rimbanya sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Tak ada yang tahu nasib apa yang sebetulnya menimpanya. Santer diwartakan bahwa ia “dilenyapkan” oleh penguasa dari rejim yang lampau. Tapi kapan persisnya, bagaimana ia “dihabisi”, dan di mana jasadnya dibenamkan—andai benar semiris itu lakonnya--tak ada yang paham. Ada spekulasi ia sebetulnya masih hidup dan sengaja menyembunyikan diri, tapi kabar ini pun tak sulit dikonfirmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukul yang satunya masih sehat afiat dan banyak ketawa. Ia memang pernah juga “raib” belum lama ini, tapi hanya sebulan saja, gara-gara kebablasan menyuruh orang makan kodok mentah. Tukul Arwana, yaitu Tukul yang kedua ini, selalu tampil necis dengan jas dan dasi plus komputer jinjing—simbol-simbol yang dianggap mewakili citra “hidup mapan” dan “terpelajar”. Aksesoris penting lain yang selalu “ditentengnya” adalah beberapa orang perempuan cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Tukul yang pertama adalah dunia yang “muram, sunyi dan keras”. Sedemikian sunyi dan kerasnya hingga untuk menyiasatinya hanya tersedia satu cara, “hanya ada satu kata”, kata Tukul yang pertama, yaitu : “lawan!” Tapi perlawanan itu pun kita tahu sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya hidup dalam dunia Tukul Arwana terlihat nyaman, aman, dan siapa tahu juga mudah. Sebuah dunia yang dipenuhi seloroh dan gelak tawa. Di dunia Tukul yang kedua berpikir kelewat serius seakan tabu. Daripada stres berkerut jidat, mari kita tertawa ria melupakan karut-marut kehidupan. Tak ada yang musti “dilabrak!”, tak ada yang kudu diperangi dengan tanda seru. Semua bisa didamaikan, hidup bisa diselorohka, bukan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau masih ada yang nekat juga “melawan”, maka Tukul yang kedua akan buru-buru mengingatkan supaya kita “kembali ke laptop”, artinya kembali kepada hidup yang “aman” dan “nyaman”, yang ramai oleh seloroh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah, dua Tukul itu telah menjalani pilihan nasibnya dan menerima ganjaran yang jadi jatah masing-masing pula. Pilihan yang satu berujung pada ending yang muram dan tragis, sedang pilihan satunya lagi bergulir menjadi hidup yang nyaman dan aman. Tapi sungguhkah lakon mereka (khususnya untuk Tukul yang kedua) sudah “tamat” sepenuhnya, tentu hanya waktu yang berhak menjawabnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-353187839299077263?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/353187839299077263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=353187839299077263&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/353187839299077263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/353187839299077263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/01/dua-tukul-dua-peruntungan.html' title='Dua Tukul, Dua Peruntungan'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SW_2bbZAf-I/AAAAAAAAAu4/rbJ2PFemUgs/s72-c/tukul+arwana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2733446015188257115</id><published>2009-01-01T21:50:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T15:35:55.393+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>Petuah Tahun Baru, Mungkin</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SVzZZxF7HMI/AAAAAAAAAuI/oAH8nnaFNtw/s1600-h/elang2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286339099324259522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 246px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SVzZZxF7HMI/AAAAAAAAAuI/oAH8nnaFNtw/s320/elang2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;SEORANG lelaki pada suatu hari menemukan sebutir telur burung rajawali dan dia meletakkan telur itu bersama dengan telur-telur ayam di sarang seekor induk ayam peliharaan yang sedang mengeram. Telur itu menetas bersama telur ayam yang lain, dan anak burung itu tumbuh bersama anak anak ayam diasuh oleh induk ayam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hidupnya burung rajawali itu bertingkah laku sama seperti ayam, dan mengangap dirinya ayam peliharaan. Dia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Dia berkotek dan berkokok. Dia akan mengepakkan sayapnya dan terbang beberapa meter di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berlalu dan burung rajawali itu menjadi tua. Suatu hari dia melihat seekor burung yang sangat gagah terbang di angkasa yang tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan jarang sekali menggerakkan sayapnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajawali tua itu terpesona memandang ke atas “Siapakah itu?”, tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu adalah burung rajawali, raja dari segala burung,” kata ayam yang ada di dekatnya. “ Dia penghuni langit, dan kita penghuni bumi, kita adalah ayam.” Demikianlah rajawali itu hidup terus dan mati sebagai seekor ayam, karena begitulah anggapannya tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipetik dari buku “Awareness” Antony de Mello, Gramedia Pustaka Utama, 2003).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2733446015188257115?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2733446015188257115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2733446015188257115&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2733446015188257115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2733446015188257115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2009/01/petuah-tahun-baru-mungkin.html' title='Petuah Tahun Baru, Mungkin'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SVzZZxF7HMI/AAAAAAAAAuI/oAH8nnaFNtw/s72-c/elang2.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8136238681665567971</id><published>2008-12-16T14:35:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:37:13.444+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Partai Keadilan Sejahtera'/><title type='text'>Wajah Asli PKS?</title><content type='html'>PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu parpol berbasis konstituen Islam yang sejauh ini berhasil tampil “bersih” dan “moderat” terpeleset dalam serangkaian blunder, yang bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada perolehan suara mereka pada Pemilu 2009 kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blunder pertama terjadi sewaktu PKS mencantumkan nama mantan penguasa Orde Baru, Suharto, dalam sebuah “iklan politik” mereka belum lama ini. Dalam iklan itu, Suharto—yang oleh banyak kalangan masih dicap “nista”--disejajarkan dengan sejumlah tokoh pahlawan nasional yang nilai ketokohannya sudah dianggap “paten”. Iklan itu langsung menuai sinisme publik. PKS dianggap tengah mencoba “membaiki” kubu Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seperti sengaja melawan arus, tak lama sesudah manuver iklan itu, PKS malah bikin eksperimen lain lagi. Kali ini putri sulung Suharto, Tutut, yang digeret-geret, dihadiahi gelar “perempuan yang menginspirasi”. Protes pun bermunculan kembali, dan kali ini PKS cukup tanggap agaknya. Nama putri Suharto itu pun batal disertakan dalam hajatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heboh paling akhir dilakukan oleh Hidayat Nurwahid, mantan ketua PKS yang sekarang menduduki kursi pertama di MPR. Politikus kalem yang gemar tampil bersahaja itu meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar mengeluarkan fatwa “haram” bagi pemilih yang memutuskan “golput” pada Pemilu yang akan datang. Tentu banyak pihak heran dengan manuver ganjil (dan bodoh) dari tokoh PKS ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Keadilan Sejahtera selama ini terkesan “percaya diri” dan “tidak grasa-grusu” dalam perilaku politiknya. Dan dengan gaya “slow but sure” itu sejauh ini mereka terus menunjukkan grafik prestasi yang bagus. Tapi serangkian blunder yang mereka buat mendadak menghapus kesan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebohan yang mereka timbulkan seolah “bukti” kecil (tapi penting) bahwa mereka ternyata tidak se-”low profile” dan se-“sabar” (pun tidak se-“demokratis”) seperti.selama ini disangka. Jadi, sungguh inikah wajah asli Partai Keadilan Sejahtera?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8136238681665567971?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8136238681665567971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8136238681665567971&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8136238681665567971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8136238681665567971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/12/wajah-asli-pks.html' title='Wajah Asli PKS?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4520328994835495184</id><published>2008-12-09T14:05:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:38:28.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selebriti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jessy Gusman'/><title type='text'>Jessy Gusman Kepingin Naik Bus Kota</title><content type='html'>SUATU ketika di tahun 1980-an, Jessy Gusman—yang kala itu masih seorang artis remaja papan atas nan cantik molek—mengatakan kepada seorang wartawan bahwa ia masih menyimpan sebuah keinginan terpendam yang sampai saat itu belum sempat dikecapnya. Anda tahu apa “keinginan terpendam” yang dimaksudnya? Ini : berjejalan naik bus kota di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan dan “hidup susah” memang bisa saja terlihat eksotis dan “indah” jika kita berkesempatan mengamatinya dari jarak yang cukup jauh dan aman. Artinya jika kita berada dalam posisi hanya sebagai “penonton”--atau paling jauh sekadar “saksi”—dan bukan pelaku, atau lebih tepat “korban”, dari lelakon hidup prihatin itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan pengalaman berjejalan dalam bus kota. Apa nikmatnya coba naik bus kota berdesakkan begitu : gerah, panas, bau, lengket? Setiap hari saya pulang pergi ke kantor dengan bus kota, dan saya tahu betul betapa tak nyamannya kondisi angkutan umum yang satu ini. Bukan hanya tak nyaman, pun tiada aman. Saya pernah dua kali digebukin copet—gara-gara mau meniru Bruce Lee hehehe--sampai hampir terlempar dari pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika si cantik Jessy Gusman dulu pernah berangan-angan kepengin merasakan pengalaman “berdesakkan dalam bus kota”, itu tentu harus dipahami sebagai keinginan seorang kaya dan mapan yang lagi sekadar haus pengalaman yang sedikit beda. Katakanlah itu semacam ovoturisme kecil-kecilan, yang tentu saja aman dan tak beresiko sama sekali. Karena sang artis masih berada dalam zona amannya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4520328994835495184?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4520328994835495184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4520328994835495184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4520328994835495184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4520328994835495184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/12/jessy-gusman-kepingin-naik-bus-kota.html' title='Jessy Gusman Kepingin Naik Bus Kota'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7461309058881174054</id><published>2008-12-02T22:47:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T15:40:39.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wislawa Symborska'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Krisis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pablo Neruda'/><title type='text'>Tambah "Rapat"nya, Makin Krisisnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/STVY66nzF8I/AAAAAAAAAuA/oDNh5CQ6zbw/s1600-h/kartun-rapat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275220307726243778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 241px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/STVY66nzF8I/AAAAAAAAAuA/oDNh5CQ6zbw/s320/kartun-rapat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  RUANG rapat di kantor kami biasanya fully booked. Di ruang yang senantiasa berhawa sejuk itu biasa berkumpul “orang-orang pandai” : sebagian berdasi, kadang berjas sopan resmi.Biasanya mereka datang ke ruang itu dengan membawa berkas-berkas yang sepertinya telah dipersiapkan dengan “rumit &amp;amp; profesional”. Sebagian pada menenteng laptop. Sebagian dari mereka rupanya gemar bersuara keras—dalam arti bicara dengan nyaring. Kadang mereka terlihat saling berteriak, atau ketawa berkakakan seru sekali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang pakar manajemen—Pablo Neruda atau Wislawa Symborska kalau tak keliru?—sebuah orgnanisasi yang baik akan berjalan hampir otomatis, karena ditunjang sistem yang rapi. Organisasi yang baik tidak tergantung pada kehadiran person-person tertentu—untuk level “top” ya, sebab merekalah “play maker” dan dalam situasi tertentu menjadi “imspirator” tim— tapi secara umum sistemlah yang menuntun semuanya mencapai tujuan. Tak diperlukan lagi rapat, kecuali mungkin rapat-rapat evaluasi rutin, sebab semua orang sudah pada tahu harus bikin apa dan bagaimana caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam organisasi yang benar, rapat adalah pertanda adanya “krisis”. Ada yang sedang tidak beres (seperti hari-hari ini), karena itu sejumlah orang lantas dipanggil, diminta berkumpul di ruang rapat, untuk bersama-sama duduk guna merumuskan kembali “apa” sasaran organisasi dan “bagaimana” mencapai sasaran kerja organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu silakan anda mulai mengira-ngira, apakah yang sedang terjadi dengan kantor anda, jika misalnya ruang rapat di sana selalu “penuh dipesan”? Jika kita setuju bahwa rapat adalah pertanda adanya “krisis”, apakah itu berarti kantor anda sedang begitu dilanda krisis, karena ada sejumlah orang sepanjang hari berkumpul di ruang rapat? Atau jika seringnya rapat adalah pertanda implisit “tidak beresnya sistem”, seberapa kacaukah sistem di kantor anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, mengapa saya menulis seperti ini, berlagak jadi pakar manajemen segala? Sebetulnya saya hanya sedang tertarik mengamati kelakuan orang-orang yang diundang ke ruang rapat. Bagi saya sendiri kata “rapat” memang mengandung konotasi yang tak nyaman. Rapat biasanya memang terkait dengan situasi yang tidak normal, yang darurat, bahkan sering gawat. Saya tak pernah tertarik diundang rapat—rapat kantor dan rapat lainnya. Kalau masih bisa saya mendingan “lari” saja, atau kirim wakil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat mungkin mirip juga sebuah pementasan : setiap person yang digiring ke dalam ruang rapat mempunyai tanggung jawab untuk menjaga supaya “pementasan rapat” berjalan sukses. Minimal ia bertanggung-jawab menjaga performanya sendiri supaya tidak kedodoran di depan yang lain—utamanya di depan atasan yang biasanya hadir juga. Bagi sejumlah orang, rapat memang ajang tempat dia “show” pamer “kepintaran” dengan cara “membantai” atau menggoblok-goblokkan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu sebabnya perut saya suka mendadak mulas jika diundang rapat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7461309058881174054?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7461309058881174054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7461309058881174054&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7461309058881174054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7461309058881174054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/12/tambah-rapatnya-makin-krisisnya.html' title='Tambah &quot;Rapat&quot;nya, Makin Krisisnya'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/STVY66nzF8I/AAAAAAAAAuA/oDNh5CQ6zbw/s72-c/kartun-rapat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-604331427680339183</id><published>2008-11-27T21:59:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T15:41:43.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Usmar Ismail'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syumanjaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leway Djam Malam'/><title type='text'>Film "Lewat Djam Malam", Sebuah Mahakarya</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SS62VpHSQ7I/AAAAAAAAAto/l0cTABSHOus/s1600-h/lewat-jam-malam.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273352696627348402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 199px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SS62VpHSQ7I/AAAAAAAAAto/l0cTABSHOus/s320/lewat-jam-malam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  SAYA tak pernah tertarik menonton film Indonesia, sejak film-film seperti “Lewat Djam Malam” dan “Krisis” tidak pernah dibuat orang lagi, begitu suatu kali Goenawan Mohamad menulis. Ketika membacanya saya tertegun : film macam apakah “Lewat Djam Malam” dan “Krisis” yang begitu dipujikan Goenawan itu? Rasa penasaran semakin bertambah setelah saya membaca juga ulasan seorang kritikus film asal Jepang. Sang kritikus menyebut film itu sebagai salah satu film terbaik dunia (!) yang pernah ditontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua film itu meluncur dari tangan dingin sineas besar kita, Usmar Ismail (alm). Saya merasa beruntung pernah menonton keduanya lewat sajian layar TVRI entah berapa tahun yang lalu—rasanya masa itu sudah lama sekali. Saya kurang begitu ingat film “Krisis”, tapi “Lewat Djam Malam” bagi saya sungguh sebuah film hebat. Film itu berkisah tentang kekecewaan “para pejuang” revolusi ketika mereka kembali ke dalam kehidupan “damai” di kota. Tokoh utamanya diceritakan “gagal” berdaptasi dengan situasi kehidupan yang “normal” dan terlibat dalam sejumlah konflik, bahkan juga dengan bekas teman-temannya sesama “pejuang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa sewaktu film itu dibuat adalah masa-masa yang belum lagi jauh dari kalibut debu dan mesiu 1945. Situasi masih serba seadanya dan darurat. Tapi justru di tengah kondisi yang serba pas-pasan itu Usmar berhasil menelurkan sebuah “maha karya”—pujian yang tidaklah mengada-ada dan berlebihan—sebagaimana diutarakan oleh kritikus film asal Jepang itu. Konflik dalam film itu tertuang dengan jernih dan kuat. Sungguh sebuah karya yang menggetarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah menontonnya saya pun terpaksa bersetuju dengan Goenawan Mohamad. Memang saya masih menyempatkan diri menonton sejumlah film nasional lain, dan ada sejumlah film yang cukup menarik, tapi pengalaman artistik yang menggetarkan—seperti ketika menyaksikan “Lewat Djam Malam”—belum pernah lagi saya alami. Sineas-sineas yang dianggap “besar” dan ”penting” pasca Usmar Ismail (dari Teguh Karya sampai yang paling mutakhir generasi Riri Riza) menurut saya belum bisa membuat film sebagus itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang “agak mendekati” kebesaran Usmar Ismail adalah Syumanjaya. Salah satu filmnya, “Yang Muda Yang Bercinta”, bagi saya sangat menarik. Tapi Syumanjaya (seperti Usmar Ismail) juga sudah lama tiada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-604331427680339183?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/604331427680339183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=604331427680339183&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/604331427680339183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/604331427680339183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/film-lewat-djam-malam-sebuah-mahakarya.html' title='Film &quot;Lewat Djam Malam&quot;, Sebuah Mahakarya'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SS62VpHSQ7I/AAAAAAAAAto/l0cTABSHOus/s72-c/lewat-jam-malam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3521741365710048545</id><published>2008-11-24T13:44:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:46:21.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koes Bersaudara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bung Karno'/><title type='text'>"Sandiwara Politik" Koes Bersaudara</title><content type='html'>GRUP musik—dulu kita sempat terbiasa dengan istilah “band”—Koes Bersaudara (yang kemudian menjelma Koes Plus dan sekarang Koes Plus Pembaharuan—kayak nama koran hehe) pernah juga menorehkan kisah di halaman sejarah politik negeri ini. Itulah lelakon sudah lama berselang kala mereka dijebloskan ke penjara rejim Orde Lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno (BK), sang pemimpin masa itu, menganggap mereka sebagai bagian dari “musuh” yang musti diganyang. Dari penggal kisah itulah kemudian lahir sebutan “musik ngak ngik ngok”—penamaan yang diberikan sang pemimpin untuk melecehkan model musik “barat” dan gaya “elvis-elvisan” yang “tidak sejalan dengan semangat revolusi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa nyana peritiwa kelam puluhan tahun yang lalu itu—yang sedikit atau banyak telah berjasa juga mendudukkan band legendaris itu selaku “hero”—ternyata hanya sebuah rekayasa politik alias sandiwara alias bohong-bohongan belaka? Adalah Yok Koeswoyo, salah satu personil kelompok musik itu sendiri, yang membeberkannya dalam tayangan acara Kick Andy pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya saat itu ibu pertiwi kan lagi cekcok berat dengan Malaysia. Tetangga serumpun itu dipandang BK sebagai antek kapitalis Amerika di Asia. BK selaku pemimpin merasa perlu menciptakan semacam kehebohan di panggung politik guna mensupport gerakan “ Amerika kita seterika” dan “Inggris kita linggis” yang sedang beliau propagandakan. Maka didekatilah Koes Bersaudara untuk dibujuk agar mau “berkurban demi negara” dengan memainkan sandiwara sedih masuk bui itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya BK, yang boleh tahu urusan ini hanya Yok, personil band yang lainnya tidak. Maka kejadianlah sewaktu mendekam di sel Nomo sering memarahi Yok sebab sang adik ini tidak pernah menunjukkan rasa prihatin layaknya orang masuk penjara. Ia kelihatan tenang-tenang saja dan malah kadang masih suka cengengesan bergurau, yang tentu saja tambah membikin Nomo dan yang lainnya sewot.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3521741365710048545?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3521741365710048545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3521741365710048545&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3521741365710048545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3521741365710048545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/sandiwara-politik-koes-bersaudara.html' title='&quot;Sandiwara Politik&quot; Koes Bersaudara'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2363827179330120084</id><published>2008-11-19T15:58:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:47:36.585+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Suci'/><title type='text'>Adam yang "Sexi", Pertanyaan Anak Saya</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SSQIPaVX5fI/AAAAAAAAAtY/K653SWL_w8U/s1600-h/adam&amp;amp;hawa5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270346524790351346" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 198px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SSQIPaVX5fI/AAAAAAAAAtY/K653SWL_w8U/s320/adam%26hawa5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  “Adam itu seksi ya, nggak pake baju lagi”, celutuk anak saya belum lama ini. Dengan kalem saya mencoba membantahnya. “Adam pasti pake baju, kalau nggak pake nanti masuk angin dong”. Tapi dia tak mau kalah, diangsurkannya buku pelajaran agama dari sekolahnya. “Lihat aja ini gambarnya, nggak pake baju kan”, katanya. Saya juga tidak menyerah begitu saja. “Adam pasti pake baju, yang di gambar itu baru mandi barangkali”. Tapi dia tertawa mendengar jawaban itu. “Baru mandi? Mandinya di kali ya, jorok dong …” Saya tak mencoba lagi membantah atau memperpanjang obrolan kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti anak saya yang kelas 3 SD itu, ada banyak sekali orang yang sungguh percaya bahwa kisah Adam dan Hawa di Firdaus adalah sebuah kejadian nyata. Para fundamentalis dan barisan panjang pengikutnya terlalu takut (atau malas) untuk membaca dan mencari yang “tersirat” di belakang yang tersurat. Mereka membaca kitab suci bak memelototi kitab sejarah, dan meyakininya mentah-mentah sebagaimana tertulis di sana. Setiap huruf dan noktah dalam buku itu haram untuk dipersoalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi studi kitab suci modern mengajar dan berhasil membuktikan bahwa teks-teks yang dipandang suci itu sebetulnya juga sebuah produk sejarah yang tak bisa dilepaskan dari konteks budaya-tempat-waktu teks itu “diturunkan”. Karena sifatnya yang sedikit banyak “kontekstual” itu, bisa dan wajar jika ada teks yang tak lagi terasa “nyambung” dengan situasi hari ini. Maka supaya teks itu tidak menjadi mubazir perlu ada keberanian (dan kerelaan) untuk membacanya dalam semangat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah Adam dan Hawa. Tafsir resmi gereja katolik mengajar bahwa kisah dua sejoli itu beserta sejumlah cerita ikutannya harus dipahami seperti kita membaca mitos. Di dalam mitos bukan kebenaran faktual atau historis yang dipentingkan, melainkan pesan moralnya. Seperti kalau kita membaca dongeng “Kancil dan Buaya”, yang penting di sana bukan soal “apakah betul kancil bisa ngobrol dengan buaya”, tetapi pesan bahwa “kekuatan” (buaya) bisa diatasi oleh “kecerdikan” (kancil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar Alkitab katolik sampai pada kesimpulan bahwa sejarah keberadaan manusia hanya bisa terlacak sampai pada zaman Abraham (Ibrahim). Segala hal yang terjadi pada masa pra Abraham sesungguhnya gelap adanya. Dan asal muasal penciptaan dengan demikian tetap tinggal sebagai misteri, yang hanya diketahui ‘apa-bagaimana’nya oleh Sang Khalik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Adam dan Hawa sebetulnya modifikasi dari sebuah dongeng (amat) tua Babilonia. Dongeng itu dicangkokkan oleh para guru Yahudi/Israel purba untuk “menyambung” mata rantai sejarah keselamatan manusia yang terputus jejaknya sampai periode Abraham. Dengan ditambahkannya kisah firdaus mata rantai yang terputus itu sekarang menjadi “lengkap” : semesta memiliki titik awal, dan titik awal itu Allah adanya. Itulah pesan kunci yang mau disampaikan kisah Firdaus—lain-lainnya hanya pelengkap, bumbu, mungkin juga sekadar ornamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban seperti itulah yang mustinya saya sodorkan kepada anak saya, tetapi tentu itu tidak mungkin dilakukan. Bayangkan, ia masih 8 tahun, baru kelas 3 SD, dan seperti jutaan orang lainnya, ia pasti belum siap dan lebih suka tinggal terlelap dalam “kebutaan” teologis yang melenakan, seraya belajar merasa “aman” dan “cukup” dengan kualitas iman yang seperti itu. Mungkin untuk sepanjang hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2363827179330120084?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2363827179330120084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2363827179330120084&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2363827179330120084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2363827179330120084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/adam-yang-sexi-pertanyaan-anak-saya.html' title='Adam yang &quot;Sexi&quot;, Pertanyaan Anak Saya'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SSQIPaVX5fI/AAAAAAAAAtY/K653SWL_w8U/s72-c/adam%26hawa5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5218344852329925844</id><published>2008-11-14T09:17:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:48:24.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katolik'/><title type='text'>Berdoa 9 X 9 X 9 Kali</title><content type='html'>SEBERAPA tekunkah anda berdoa? Jika anda misalnya menginginkan sesuatu yang begitu berharga—sebutlah keinginan mendapat anak, atau rumah tinggal yang layak huni—selain dengan usaha-usaha “duniawi”, seberapa rajinkah anda juga datang padaNya untuk memohon dikabulkannya permintaan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tradisi gereja katolik terdapat ritual doa yang disebut Doa Novena. Ini adalah cara berdoa yang unik : kita mendaraskan permohonan kita selama 9 hari berturut-turut, di tempat yang sama dan pada waktu yang sama. Banyak kesaksian yang mengisahkan betapa untuk memenuhi janji “bertemu” selama 9 kali itu ternyata tidak mudah. Biasanya, begitulah cerita yang sering saya dengar, ada saja halangan ini dan itu yang merintangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berdoa Novena dalam hitungan normal dan standar saja (9 kali) begitu sulit, terbayangkah oleh anda bahwa ada yang pernah melakoni doa ini dalam hitungan “tidak nornal”, yaitu : 9 X 9, alias 81 kali pertemuan! Ini pernah dilakukan oleh seorang pengajar dalam kelas Alkitab yang saya ikuti. Ia menceritakan pengalamannya itu beberapa pekan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu sudah contoh yang paling heboh? Ternyata belum. Sebab pernah ada seorang ibu yang berdoa Novena sebanyak 9 X 9 X 9 kali alias 729 kali pertemuan. Atau jika dikonversi ke dalam satuan waktu hari, ia telah dengan setia berdoa mendaraskan permohonannya pada jam yang sama dan di tempat yang sama pula selama waktu (persis) 2 tahun kurang 1 hari! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya ibu ini telah menikah selama 5 tahun dan belum juga dikaruniai anak. Lalu setelah segala usaha “duniawi”nya untuk mendapatkan anak mentok, ia pun berpaling pada doa Novena ini, dan ia tidak hanya mengikuti kebiasaan yang umum, yaitu berdoa sebanyak 9 kali (atau 81 kali), tetapi 729 kali. Tuhan maha mendengar! Sang ibu akhirnya berkesempatan juga menggendong anaknya. Saking senangnya anak itu dinamainya Novena. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ibu ini sangat menggugah saya :.seperti itulah seharusnya saya berdoa—yaitu dengan setia dan “tak jemu-jemu”. Tentu seraya selalu mengingat bahwa seberapa hebat pun usaha doa saya, dikabulkan atau tidaknya doa itu akhirnya menjadi hak prerogatif ‘Beliau’ di atas sana, yang tidak berhak saya gugat. Dan inilah hal lain yang juga “sulit” dalam urusan berdoa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5218344852329925844?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5218344852329925844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5218344852329925844&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5218344852329925844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5218344852329925844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/berdoa-9-x-9-x-9-kali.html' title='Berdoa 9 X 9 X 9 Kali'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4615458482092859938</id><published>2008-11-10T10:28:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:49:01.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amrozi'/><title type='text'>Amrozi Mati, Terorisme Tidak ...</title><content type='html'>SESUDAH lama terkatung-katung, akhirnya trio bomber Bom Bali I Amrozi cs jadi juga dieksekusi mati pada Ahad dinihari pukul 00.15 WIB, di sebuah lokasi tersembunyi di hutan Nusakambangan. Ketiganya dikabarkan ditembak dengan mata tidak ditutup sesuai permintaan mereka sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Imam Samudra, menulis surat wasiat yang isinya antara lain menyatakan bahwa sebutan “teroris” yang mereka sandang “jauh lebih terhormat” ketimbang sebutan “ulama” jika ulama itu hanya diam terhadap apa yang disebutnya “penindasan kaum kafir”. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri mengeluarkan pernyataan bahwa kematian ketiga teroris itu bukanlah “syahid”, karena cara “perjuangan” mereka dinilai salah kaprah, dan malah menganiaya Islam (Koran Tempo, 10 November 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan MUI itu tidak menyurutkan semangat ribuan orang untuk berdatangan ke pemakaman trio bomber tersebut. Bagi para pelayat ini Amrozi cs, tak bisa tidak, adalah pahlawan dan martir, seperti antara lain ditandaskan oleh tokoh Islam garis keras, Abubakar Ba’asyir. Memanglah sebutan “pahlawan” dan “pengkhianat” hanya soal persepsi belaka. Itu hanya menjelaskan di posisi mana kita berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti kematian ketiga bomber Bom Bali I itu tidak lantas berarti ancaman teror berakhir. Masih ada “Noordin M(emang) Top” yang sampai hari ini masih bebas gentayangan, selain kelompok “pejuang anti kafir” lainnya. Kematian Amrozi cs diyakini  malah semakin menyalakan semangat “jihad” mereka .Dan ancaman mereka sungguh nyata, meskipun keberadaan mereka sendiri seolah tak pernah nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memburu dan menangkap “para pejuang anti kafir” ini hidup atau mati jauh lebih mendesak ketimbang meributkan urusan gelar yang pantas disandangkan pada trio bomber yang kini mungkin sedang santai menikmati kenyamanan hidup di sorga, di antara para malaikat dan bidadari yang dengan telaten mengeloni mereka …&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4615458482092859938?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4615458482092859938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4615458482092859938&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4615458482092859938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4615458482092859938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/amrozi-mati-terorisme-tidak.html' title='Amrozi Mati, Terorisme Tidak ...'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5388936123599924132</id><published>2008-11-03T21:28:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:49:46.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amrozi'/><title type='text'>Belas Kasihan Untuk Amrozi?</title><content type='html'>HARI-HARI ini, menjelang waktu eksekusi terpidana mati Amrozi cs, sejumlah media televisi ganti-berganti men&lt;em&gt;shoot&lt;/em&gt; (dan men-”&lt;em&gt;zoom&lt;/em&gt;”) para “pahlawan” Islam itu. Lantas, mungkin dengan maksud untuk lebih menumbuhkan kesan dramatis, ditampilkan juga sejumlah anggota keluarga mereka. Tidak ketinggalan diperlihatkan juga komunitas “asli” mereka : desa sederhana dengan orang-orang yang tampaknya juga sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton tayangan-tayangan itu sejumlah orang mungkin jadi merasa kasihan dan iba hati pada nasib Amrozi dan dua konconya. Mereka sekonyong sadar bahwa bagaimanapun para teroris itu juga “manusia biasa”. Mereka punya asal-muasal, para sanak, dan orang tua yang diam-diam meratapi nasib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan “simpati” dadakan itu sah dan wajar saja. Meskipun itu belum cukup membuktikan bahwa kita masih manuusia, mengingat hewan pun sampai batas tertentu bisa menampilkan kualitas serupa itu dengan baiknya. Tapi mudah-mudahan orang-orang yang menaruh belas kasihan kepada Amrozi cs juga tidak pernah lupa bahwa para korban teror mereka pun hakikatnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya mereka pun bukan segunduk mayat hangus yang anonim belaka. Mereka semua, juga punya keluarga dan asal-muasal dari mana mereka pernah tumbuh dan datang. Punya seorang ibu, yang tak pernah bisa paham mengapa gerangan anak mereka musti mati atas cara yang demikian mengerikan dan atas nama sebuah alasan yang juga begitu abssurd?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5388936123599924132?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5388936123599924132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5388936123599924132&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5388936123599924132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5388936123599924132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/belas-kasihan-untuk-amrozi.html' title='Belas Kasihan Untuk Amrozi?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3402737270410855563</id><published>2008-11-02T00:31:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T15:50:27.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>Untuk Sebuah Kenangan</title><content type='html'>BULAN Oktober 28 tahun yang lalu adalah bulan yang gerah dan berkeringat—mirip sekali dengan pekan-pekan terakhir Oktober tahun ini. Saya kerap terkenang malam-malam sewaktu sendirian berjaga, mencoba “membunuhi” bala tentara nyamuk yang tiada putus-putusnya menyerang, sementara ayah saya terbaring di ranjang, di kamarnya yang, sebetulnya kalau saya kenang sekarang, nyaman juga keadaannya, meskipun agak sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali suara batuknya terdengar, dan setiap kali mendengar ia batuk, saya pun merasa “lega”. Ketika itu kondisinya sudah semakin memburuk (kanker menggerogotinya tanpa ampun), maka kadang kalau dari kamarnya tidak terdengar suara apa-apa, saya malah suka was-was, sebab jangan-jangan “yang terburuk sudah terjadi”. Maka diam-diam saya suka berharap ia terbatuk, sebab batuk itu menjadi tanda bahwa ia masih bertahan, masih ada di kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya saya tak pernah percaya bahwa “yang terburuk” itu akan terjadi padanya. Ibu saya pernah bercerita bahwa ayah sudah dua kali “nyaris meninggal”, tapi toh senantiasa selamat. Maka saya pun percaya bahwa ia akan kembali selamat kala itu. Tapi barangkali juga keyakinan saya lahir karena di rumah kami sejauh itu memang belum pernah terjadi “hal yang terburuk” itu. Juga mungkin sebab pemahaman saya yang teramat miskin mengenai ganas dan buasnya kanker. Begitulah, ketidakpahaman rupanya malah bisa menjadi sumber kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun sewaktu kemudian saya bermimpi “aneh” (sebuah mobil jenazah berhenti di depan rumah kami, dan beberapa orang terlihat mengusung peti mati ke dalam rumah), perasaan saya tetap biasa saja. Baru sewaktu “yang terburuk” itu kemudian sungguh terjadi, saya tersentak. Mendadak maut menjadi sesuatu yang nyata bagi saya, setelah sebelumnya (rupanya) ia sekadar sebuah kabar (dari jauh) yang seolah ada tapi tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali almanak mendekati penghujung Oktober, kenangan akan hari-hari itu terasa menguat kembali. Meskipun ia semakin mirip sejilid buku tua yang kertasnya sudah menguning, huruf-hurufnya mulai meluntur, dan isinya boleh jadi semakin tak relevan, tapi setiap kali pula saya ingin kembali “membaca” buku itu, atau paling tidak sekadar menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekadar keinginan bernostalgia belaka, saya merasa memiliki semacam kewajiban untuk menjaga agar “buku tua” itu tetap terawat baik. Mungkin karena kepergian ayah membuat saya seperti disorongkan ke dalam situasi yang sebetulnya belum siap saya arungi. Kejadian itu adalah salah satu momentum penting dalam hidup  saya. Sebab sesudah itu setiap hal menjadi tak sama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap tahun, pada penghujung Oktober dan awal November (ayah saya berpulang 2 November 1980), saya raih kembali buku itu, hati-hati dan dengan rasa haru (yang anehnya tak menjadi makin pudar) saya bolak-balik lagi halaman-halamannya yang sudah menguning itu. Mungkin seraya membersihkannya dari debu waktu yang mau mencoba menguruknya dalam semak belukar ingatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3402737270410855563?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3402737270410855563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3402737270410855563&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3402737270410855563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3402737270410855563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/11/untuk-sebuah-kenangan.html' title='Untuk Sebuah Kenangan'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8228883898341028964</id><published>2008-10-30T08:56:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:50:59.418+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saksi Yehovah'/><title type='text'>Agama yang Menindas : Saksi Yehovah sebagai Contoh</title><content type='html'>RANI (bukan nama sebenarnya), penganut fanatik “Saksi Yehovah”-- sebuah sekte  yang oleh arus utama Kristen dipandang “sesat”-- menjalin hubungan.dengan Gabriel (juga nama samaran), seorang katolik yang lumayan ngotot. Sesudah pacaran beberapa waktu, mereka pun sepakat untuk menikah. Tapi soalnya menjadi tidak mudah karena adanya perbedaan keyakinan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani menuntut harga mati supaya pernikahan dilakukan menurut cara “Saksi”. Jika itu dijalankan maka bagi Gabriel (yang katolik) “ongkos” yang musti dibayarnya lumayan absurd. Ia memang tidak diminta untuk masuk atau pindah ke “Saksi Yehovah”, tapi ia wajib mengikuti pelajaran agama “Saksi Yehovah” selama sisa hidupnya. Absurd bukan? Tidak diminta meninggalkan iman katoliknya, tapi diharuskan seumur hidup menelan isi perut “Saksi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya urusan akan menjadi gampang kalau pernikahan dilakukan saja menurut aturan katolik. Sebab dalam urusan perkawinan, gereja katolik memberi toleransi yang sangat longgar apabila terjadi kasus kawin campur, atau beda keyakinan seperti antara Rani dan Gabriel ini. Pihak yang non-katolik tidak diharuskan sama sekali pindah ke katolik. Juga tidak ada keharusan mengikuti kursus pelajaran agama katolik segala macam, umpamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya hal yang diminta dari pihak “non-katolik” adalah merelakan anak yang kelak lahir dari perkawinan itu untuk dibaptis secara katolik, yang dalam prakteknya bisa saja diatur fleksibel waktunya. Lagi pula, jika di belakang hari sang anak (sesudah dewasa) ternyata “tidak krasan” di katolik dan pengin  pindah agama, pintu selalu terbuka baginya. Tidak ada satu pasal pun dari hukum gereja katolik yang melarang umatnya “menyebrang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau jalur katolik ini yang dipilih, maka Rani terancam “dipecat” dan bahkan “dikucilkan” dari komunitas “Saksi Yehovah”nya. Ia akan dicap “murtad”, dan kita tahu apa artinya dianggap murtad. Rani pun ngeper, tambahan lagi ia sangat menguatirkan keluarganya yang pasti akan tertimpa “aib” apabila itu terjadi. Maka perkawinan mereka pun terancam batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita melihat sebuah ironi. Agama yang konon diturunkan ke dunia untuk membahagiakan umat manusia, dalam prakteknya—karena sempitnya wawasan pikir (dan kesombongan) para pemimpinnya serta umatnya sendiri--malah berbalik menjadi “sumber bencana” yang menghalangi kebahagiaan pemeluknya, seperti terbukti dari kasus Rani dan Gabriel di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8228883898341028964?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8228883898341028964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8228883898341028964&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8228883898341028964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8228883898341028964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/10/agama-yang-menindas-saksi-yehovah.html' title='Agama yang Menindas : Saksi Yehovah sebagai Contoh'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5712742928528729073</id><published>2008-10-27T15:59:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:54:38.609+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Hemat Pangkal Sesal?</title><content type='html'>SAYA mendengar cerita ini di kelas Alkitab pekan lalu, yang disampaikan sebagai ilustrasi dari bab “Orang Kaya yang Bodoh” dalam Injil Lukas. Dikisahkan ada sepasang suami istri, yang belum lama menikah. Dasar tokcer, hanya dalam tempo sebulan, sang istri sudah hamil. Tapi kemudian ada masalah : sang istri ternyata mengidap kanker payudara. Karena alasan yang kurang jelas ia tak segera menceritakan masalah ini pada suaminya. Mungkin ia berpikir, masih akan ada cukup waktu mengobati kankernya, kelak, sehabis urusan si bayi selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang jabang bayi kemudian lahir dengan selamat, sementara ibunya masih tetap merahasiakan penyakitnya. Malahan ia merayu sang suami untuk jalan-jalan ke Bali. Suaminya, dengan alasan “sayang ‘membuang-buang’ duit untuk keluyuran semacam itu”, menolak rayuan itu. Beberapa bulan berlalu, kanker yang menggerogoti sang istri mulai menunjukkan taringnya, terus mengganas, sampai akhirnya, singkat kisah, si istri pun meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesedihan karena kepergian istrinya, ada satu hal yang sangat disesalkan sang suami : soal tamasya ke Bali yang batal itu. Kepada teman-teman dekatnya ia selalu bilang bahwa hal yang paling disesalinya seumur hidupnya adalah karena ia sudah menolak ajakan tamasya ke Bali itu. Seandainya ketika itu ia tidak menolak, katanya, seandainya ia setuju saja pergi ke Bali, “paling tidak sekarang saya (masih) memiliki kenangan pernah bersama istri saya ke Bali”. Tapi penyesalan selalu datang belakangan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan teologis yang mau disampaikan cerita itu adalah bahwa kita sebaiknya belajar menghargai rahmat yang diberikan kepada kita, dan tidak bersikap defensif kaku. Kalau memang ada kesempatan tamasya, artinya waktunya memungkinkan, dan duitnya juga ada—meski mungkin betul rada ‘mahal’—ya ambil saja, seraya sebagai orang beriman kita senantiasa percaya, bahwa rejeki dan rahmat dari “beliau” tidak akan berhenti sampai di sini saja. Nanti pulang dari Bali, rahmat yang lain sudah menanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat istri saya ketika kisah ini dituturkan. Sudah beberapa kali ia bilang kepingin sekali ikut tour ke Jerusalem. Berbeda dengan saya, yang hanya pegawai gurem, kondisi keuangan dia lebih mendingan. Dari bonus tahunan yang didapatnya, jika mau sedikit nekat ia bisa saja melampiaskan mimpinya itu. Tapi saya selalu bilang padanya, “sayang membuang-buang duit hanya untuk sekadar keluyuran”, karena “masih banyak keperluan lain (biaya sekolah anak, misalnya) yang lebih urgen”. Menurut saya dia sungguh “egois” kalau tetap memaksakan diri pergi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah lebih baik kalau uang itu disimpan saja—sebagai dana talangan--apalagi kondisi semakin hari semakin tak pasti. Siapa tahu sewaktu-waktu kita mungkin saja perlu dana besar untuk mengkaver keadaan yang  sangat darurat, begitu kata saya selalu, penuh keyakinan. Tapi ketika pekan lalu saya mendengar kisah suami istri yang batal ke Bali itu, saya jadi berpikir dan bertanya-tanya. Sudah betulkah sikap saya terhadap keinginan istri saya itu? Betulkah dia “egois”, atau sayakah yang sebetulnya “egois”?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5712742928528729073?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5712742928528729073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5712742928528729073&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5712742928528729073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5712742928528729073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/10/hemat-pangkal-sesal.html' title='Hemat Pangkal Sesal?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4022473679264505266</id><published>2008-10-23T15:28:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:55:41.925+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Presiden'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ryan Psikopat'/><title type='text'>Ryan Mau Jadi Presiden</title><content type='html'>Ryan mau jadi presiden. Dia tak malu-malu lagi sekarang. Setiap hari wajahnya nongol di televisi. Menebar senyum dan janji. Memamerkan taringnya. Dia bilang, dia membawa amanat bumi dan langit. Dia bilang merasa terpanggil melihat barisan orang susah bertambah panjang saja di republik yang ganjil ini. Dia berjanji bakal membereskan semua itu. Sepertinya dia teramat yakin dengan performanya. Dia muncul setiap hari di ruang tamu kita..Mengemis perhatian. Tak bosan mengulang-ulang janji sorganya. Mungkin ada juga yang kesengsem. Ibu-ibu yang suka nonton sinetron sepertinya bakal suka dengan tampang klimisnya. Dan rambut licinnya. Mungkin sudah banyak yang lupa Ryan dulu pernah membakar sebuah negeri seperti membakar sampah. Dan menembaki demonstran bagaikan bocah memencet semut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4022473679264505266?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4022473679264505266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4022473679264505266&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4022473679264505266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4022473679264505266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/10/ryan-mau-jadi-presiden.html' title='Ryan Mau Jadi Presiden'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5283636208714764540</id><published>2008-10-17T16:12:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T15:56:48.650+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sakit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tawuran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demokrasi'/><title type='text'>Tawuran dan  Bangsa yang "Sakit"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SPhZMP4HKaI/AAAAAAAAAfw/nLl1v-LG1v0/s1600-h/tawuran.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SPhZMP4HKaI/AAAAAAAAAfw/nLl1v-LG1v0/s320/tawuran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258050631910238626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; TAWURAN di Jakarta (dan juga di kota-kota besar Indonesia lainnya) ternyata bukan hanya monopoli siswa sekolah lanjutan, yang nota bene masih dalam fase usia “baru gede”. Tawuran juga terbukti kini “diminati” oleh para mahasiswa. Kecuali itu tawuran juga sering dilakukan kelompok preman, anggota organisasi massa tertentu, bahkan oleh warga masyarakat biasa yang sehari-harinya dikenal sebagai warga yang santun dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak lagi, tawuran agaknya telah menjadi fenomena yang bukan lagi lokal, tapi me-nasional Ajang yang dijadikan medan tawuran pun semakin meluas. Lihatlah, bahkan di forum-forum di mana sportivitas mestinya dipertontonkan dengan anggun, sebutlah di lapangan sepak bola kita, tawuran—antara sesama pemain, pemain lawan wasit, pendukung versus pendukung, dan sejumlah variasi lain--seperti sudah menjadi “menu tanbahan” yang wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang semua itu akibat dari belum becusnya kita berperilaku demokratis. Sejak Orde Baru terguling 10 tahun yang lalu, orang jadi lebih bebas menuangkan ekspresinya. Barangkali karena sudah puluhan tahun terkondisi hidup dalam sistem politik yang “membisukan”, yang tidak memungkinkan kita belajar bagaimana caranya ngomong dengan benar dan sopan, ekspresi kita lalu cenderung menjadi liar dan kampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mungkin malah mengartikan bahwa berperilaku demokratis itu identik dengan boleh berbuat apa saja kepada “pihak sana”. Perbedaan pendapat adalah barang najis yang tidak boleh ada dan bahkan musti ditumpas. Kebenaran menjadi monopoli “pihak kita”, sedang “mereka”, atau “pihak sana”, pasti salah, pasti sesat dan membahayakan, dan karenanya “halal hukumnya kalau mereka diganyang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga teori yang bilang bahwa tawuran adalah ekspresi dari luka kolektif yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Banyak orang begitu menaruh harapan akan adanya perbaikan situasi kehidupan yang signifikan sewaktu Orde Baru tergelimpang. Tapi mereka kemudian kecewa berat karena perbaikan yang mereka impikan itu bukan saja tidak muncul, malahan situasi dalam banyak segi menjadi lebih buruk dari sebelum Orde Baru tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka dan kekecewaan itu bisa dengan gamblang kita “tonton” setiap hari di halaman koran dan media massa lain dalam bentuk, atau berupa sinyal di mana angka kriminalitas dan kekerasan terus meningkat tajam. Ada dua pola umum yang terlihat. Pertama, mereka yang sudah merasa habis daya biasanya ramai-ramai memilih bunuh diri—bukankah angka bunuh diri dan jumlah pasien rumah sakit jiwa dikabarkan naik tajam belakangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mereka yang merasa masih punya daya, biasanya mencoba melampiaskan kekecewaan mereka dalam bentuk perilaku kekerasan, baik sendirian atau rame-rame. Demikianlah, tawuran menjadi salah satu “jalan keluar” yang dianggap wajar (oleh pelakunya) dari kondisi hidup serba sumpek dan buntu. Mereka menjadi cenderung ekstrim karena percaya bahwa cara-cara atau jalan keluar yang baik dan normal sudah tidak bisa dipakai lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5283636208714764540?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5283636208714764540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5283636208714764540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5283636208714764540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5283636208714764540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/10/tawuran-cermin-bangsa-yang-sakit.html' title='Tawuran dan  Bangsa yang &quot;Sakit&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SPhZMP4HKaI/AAAAAAAAAfw/nLl1v-LG1v0/s72-c/tawuran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-176745725129320205</id><published>2008-10-06T10:50:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T15:57:22.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aktivis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soe Hok Gie'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cina'/><title type='text'>Soe Hok Gie, Sebuah Model</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SOmNQ5f0nJI/AAAAAAAAAfo/hBcvxJwwW58/s1600-h/soe-hok-gie1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SOmNQ5f0nJI/AAAAAAAAAfo/hBcvxJwwW58/s320/soe-hok-gie1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253885761756109970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;SOE HOK GIE barangkali telah menjadi separuh mitos. Belum lama ini saya melihat kumpulan catatan hariannya (Catatan Seorang Demonstran) kembali dicetak ulang LP3ES—saya tak sempat mengecek ini sudah cetak ulang yang keberapa. Tapi dari sisi ini, nyatalah Soe selain telah menjadi “separuh mitos”, juga telah menjadi sebuah komoditi yang sepertinya lumayan laris—meskipun film “Gie” yang dibesut Riri Riza ternyata tidak berhasil di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soe Hok Gie barangkali memang “memenuhi syarat” untuk dimitoskan. Semasa hidupnya—yang singkat—ia dikenal sebagai—mulanya—aktivis mahasiswa 66 yang “berani”, lalu orang-orang di masa pasca Orde Lama mengenalnya juga sebagai sosok pemikir muda yang kritis dan kerap menebar kontroversi karena statemen-statemennya yang terus-terang dan sonder basa-basi. Almarhum Harsya W Bachtiar menggambarkannya sebagai sosok yang “mengerikan”, karena ia berjalan lurus dengan prinsip-prinsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya selain banyak pengagumnya, ia pun jadi “mengoleksi” banyak lawan dan musuh. Ironisnya, yang kemudian menjadi “musuh”nya termasuk juga mereka yang pada masa pra Orde Baru ikut “berjuang” turun ke jalan. Begitulah, sementara banyak konco-konco aktivisnya pada bergabung menjilat kaki penguasa, Soe tetap memilih berjalan sendirian di luar sistem dan kekuasaan, meneruskan sepak terjangnya yang, kata Harsya W Bachtiar, “mengerikan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematiannya yang mendadak dan tragis di sebuah ceruk Semeru, hampir 40 tahun yang lalu—usianya baru 27 saat itu—karena terhisap gas beracun, di luar dugaan malah meluruskan jalan untuk di kemudian hari mengubahnya menjadi “dongeng”. Bukankah ada orang yang menjadi terkenal karena mati pada saat yang tepat? Soe Hok Gie, barangkali, telah mati pada “saat yang tepat”. Maka kita kini jadi punya gambaran yang sepertinya akan jadi semakin kukuh (dan tunggal) : Soe adalah seorang intelektual yang keras kepala (dan kesepian) dan yang (sayangnya?) mati muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari ini, ketika banyak orang hampir tak tahu lagi kepada siapa mereka masih boleh percaya dan menggantungkan harapan, sosok Soe—yang “mengerikan” itu—seperti menawarkan oasis di tengah kegersangan. Tak bisa disangsikan lagi, banyak dari kita diam-diam rupanya menantikan seorang Soe yang lain. Seorang yang berani menolak berkompromi dengan segala muslihat dan kebusukan. Seorang yang terus berjalan lurus dengan prinsip-prinsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya jadi pun jadi ragu : sungguh masih adakah “model pahlawan” yang seperti itu, hari-hari ini?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-176745725129320205?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/176745725129320205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=176745725129320205&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/176745725129320205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/176745725129320205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/10/soe-hok-gie-sebuah-model.html' title='Soe Hok Gie, Sebuah Model'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SOmNQ5f0nJI/AAAAAAAAAfo/hBcvxJwwW58/s72-c/soe-hok-gie1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-766128563772089744</id><published>2008-09-23T10:14:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T15:57:47.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Entah Siapa Membaca Blog Ini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KADANG suka terbersit pertanyaan itu : siapa ya membaca tulisan-tulisan dalam blog ini? Keberadaan sebuah blog memang tidak bisa dilepaskan dari pembacanya. Blog sebagus apa pun menjadi mubazir kalau ternyata tidak ada pengunjungnya. Ada yang bilang keberadaan seorang blogger ada miripnya dengan seorang politikus. Maksudnya, keduanya memerlukan dukungan nyata: massa bagi sang politikus, dan pengunjung setia untuk sebuah blog. Tapi saya kira setiap profesi memang memerlukan adanya dukungan “orang lain”.Itulah agaknya bukti bahwa kita memang nggak bisa hidup sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politikus bukan apa-apa tanpa massa pendukung, dan seorang blogger pun tak berarti apa-apa tanpa pengunjung setia blognya. Banyak peran bisa dimainkan seorang blogger sebetulnya. Menjadi sekadar penghibur, atau sedikit lebih serius, menjadi seorang pembentuk opini. Tapi sekali lagi sukses tidaknya semua peran itu bergantung pada ada tidaknya dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya seorang blogger (atau sebuah blog) bisa menjadi sangat berbahaya, bagi pihak mana saja. Ia misalnya bisa memainkan peranan sebagai oposan kritis bagi penguasa, atau menjadi penyuara lantang terhadap segala fenomena destruktif dan jahat yang berlangsung di masyarakatnya. Di Malaysia dan di Cina setahu saya sudah ada blog yang dicekal karena dianggap “berbahaya”, dan bloggernya dibui. Di sini, hal seperti itu belum lagi terjadi. Mungkin karena media blog masih dianggap “bayi”, atau “anak kecil” yang belum bisa apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tak punya angan muluk dengan blog saya. Bagi saya blog adalah sarana untuk saya berlatih berdisiplin. Pada dasarnya saya memang suka menulis, maka blog adalah media yang sangat strategis dan cukup ideal buat saya “berlatih” merumuskan pikiran dan pendapat-pendapat saya. Bahwa kemudian ternyata tulisan-tulisan itu hanya dibaca oleh sedikit saja pengunjung, tak kelewat masalah bagi saya. Yah, namanya juga usaha …&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-766128563772089744?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/766128563772089744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=766128563772089744&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/766128563772089744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/766128563772089744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/09/entah-siapa-membaca-blog-ini.html' title='Entah Siapa Membaca Blog Ini'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4136840569574595957</id><published>2008-08-06T14:30:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:58:08.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ryan Psikopat'/><title type='text'>Kisah "Ryan", yang "Ngantor" di Toilet</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;IBU KOTA Jakarta, yang kata sebuah ungkapan usang “lebih kejam dari ibu tiri” menyimpan banyak cerita menarik dan kadang bahkan ajaib bin aneh. Salah satu cerita itu adalah perihal seorang lelaki, yang namanya sebut saja, Ryan. Pria bernama Ryan ini bukan gay, tapi “profesi”nya memang berhubungan dengan kelompok gay. Jam dinas Ryan tak tentu, fleksibel, tergantung suasana hati, dan yang juga menarik ia selalu “ngantor” di toilet-toilet mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryan, yang adalah “tulen lelaki” ini, punya tongkrongan macho, tinggi besar, dengan rambut yang kerap dipotong model cepak. Ia tak bisa dibilang ganteng memang, tapi lumayanlah. Nah, Ryan ini rajin nongkrong di mal mencari mangsanya yang adalah para gay. Ia punya “radar” yang canggih hingga segera bisa tahu kalau ketemu “lawan”. Kalau sudah begitu ia akan mulai beraksi, misalnya, dengan mengajak “lawan”nya itu bermain mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pancingannya berhasil, Ryan akan menggiring lawannya ke “kantor”nya yang di berada di toilet itu. Ia melanjutkan pancingannya lebih provokatif lagi, sehingga gay korbannya akan menjadi tambah berani mendekatinya. Misalnya, ia akan berpura-pura kencing, seraya membiarkan anunya terlihat oleh si korban, sehingga sang gay menjadi tambah blingsatan : mengintip “anu”nya Ryan, atau melakukan tindakan nekat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada momen “kritis” itulah Ryan sang tokoh kita mulai beraksi. Mendadak saja ia berubah galak kepada gay lawannya, menunduhnya telah berbuat cabul kepadanya, seraya mengancamnya akan melaporkannya kepada pihak berwajib. Dan ujung-ujungnya ia akan memeras korbannya. Lha, korbannya, yang sering ternyata berdompet tebal dan punya jabatan penting, mati kutunya. Dari pada urusan jadi heboh, dan orang pada tahu dia gay, mendingan mandah saja diperas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Ryan menjalankan “profesi”nya. Tapi tidak selalu ia bernasib mujur. Pernah ia mendapat korban yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan polisi. Habis ia dihajar berdarah-darah ketika itu. Kapok? Oh tidak, namanya juga “profesi”, ia terus setia melakoninya. Hanya untuk amannya, supaya tidak gampang dikenali, ia sering terpaksa berpindah-pindah “kantor”. Kabarnya paling akhir ini ia “ngantor” di sebuah mal di daerah Senen.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4136840569574595957?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4136840569574595957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4136840569574595957&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4136840569574595957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4136840569574595957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/08/kisah-ryan-yang-ngantor-di-toilet.html' title='Kisah &quot;Ryan&quot;, yang &quot;Ngantor&quot; di Toilet'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3332432077223731897</id><published>2008-07-29T16:24:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T15:58:31.578+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Amrozi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ryan Psikopat'/><title type='text'>Ryan dan Amrozi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;ANTARA Amrozi, teroris bom Bali, dan Ryan, waria tersangka pembunuhan berantai itu, ternyata ada kemiripan. Keduanya keluaran pesantren, keduanya dikenal sebagai seorang muslim yang tekun beribadah. Ryan malah pernah jadi guru mengaji. Diceritakan bahwa ia pun seorang penyayang tanaman dan ikan yang takzim. Kabarnya ia suka mengajak “ngobrol” ikan-ikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi persamaan paling penting tentu saja bahwa keduanya pembunuh, dan tidak merasa bersalah melakukan hal itu. Tapi kalau Ryan, sejauh ini tampak tampil cuek dan dingin, Amrozi malah sering kelihatan cengengesan. Mungkin dia bangga sudah berhasil membantai nyawa ratusan orang yang tidak tahu apa dosanya sampai harus bernasib apes begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada perbedaan di antara mereka, maka itu hanyalah soal persepsi belaka. Kalau Ryan mungkin membunuh karena desakan kebutuhan perut, adalah Amrozi membantai korbannya dengan alasan “luhur” dan “mulia”, yakni “memerangi” kemaksiatan. Bahwa ternyata banyak di antara korbannya “orang baik-baik”, biarlah nanti Amrozi sendiri yang membereskan soal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lain antara mereka adalah soal cap atau label yang dipasangkan pada keduanya. Kalau untuk “monster” sejenis Ryan kita tak ragu menyebutnya “jagal”, maka untuk Amrozi agaknya ada sedikit “kebingungan”. Bagi sebagian orang, khususnya orang Bali, Amrozi jelas penjahat besar, tapi tidak demikian untuk kelompok lainnya. Kita tahu, ada yang malah menganggap Amrozi itu “pahlawan”, “martir” yang layak dikenang dan ditangisi kalau nanti ia jadi juga dieksekusi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3332432077223731897?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3332432077223731897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3332432077223731897&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3332432077223731897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3332432077223731897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/07/ryan-dan-amrozi.html' title='Ryan dan Amrozi'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-713189275476507072</id><published>2008-07-25T12:21:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T15:59:38.460+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Megawati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa 27 Juli'/><title type='text'>"Peristiwa 27 Juli", Riwayatmu Kini</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SIlmsTlX3JI/AAAAAAAAAd0/zggwVSLcT1g/s1600-h/peristiwa27juli.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226821753897475218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SIlmsTlX3JI/AAAAAAAAAd0/zggwVSLcT1g/s320/peristiwa27juli.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; SABTU, 27 Juli 1996. Cuaca cerah saat itu. Tanpa firasat apa pun saya meluncur dari kediaman saya di Bekasi menuju Kwitang Senen. Tujuan saya adalah toko buku Gunung Agung. Sewaktu melewati pertigaan Salemba saya lihat jalanan menuju Diponegoro lengang. Rupanya memang sengaja ditutup. Ada seorang cewek bule mondar-mandir di dekat lampu merah itu. Mungkin seorang wartawati asing, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teruskan perjalanan ke Senen seperti rencana semula. Cukup lama saya berada di toko buku. Lepas tengah hari baru saya pulang, dan kembali melewati pertigaan Salemba. Masih seperti suasana paginya, tertutup dan lengang. Masih tak ada firasat apa-apa yang mengusik saya. Tapi saya tak langsung pulang, malah saya mampir dulu ke toko buku Gramedia di Matraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu asyik berkeliling di toko buku itu, entah mengapa saya terdorong untuk melangkah ke arah jendela toko di lantai dua. Jendela itu mengarah ke jalan Diponegoro. Saya berdiri di situ beberapa lama, seraya berpikir-pikir seperti apa ya suasana di depan kantor parpol itu. Mendadak saya melihat kepulan asap hitam dari arah jalan Diponegoro. Pada saat itu saya dengan naifnya masih berpikir bahwa itu asap kebakaran biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pengunjung toko lain rupanya melihat juga kepulan asap hitam itu, lantas jendela itu jadi penuh dirubung orang. Komentar dan celutukan bermunculan. Seorang cewek dengan bersemangat bertutur bahwa sudah sejak subuh kantor parpol dengan lambang kepala banteng itu diserbu, “banyak yang mati”, katanya berapi-api. Dan satpam toko itu bilang, “perang kok sama bangsa sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saat itu saya ngeh, bahwa sesuatu yang hebat sedang berlangsung. Saya langsung pulang, membeli koran sore yang ternyata sudah mengabarkan kejadian itu—tapi tentu hanya sebatas kulitnya. Kabar-kabar lebih seram saya terima lewat selebaran gelap internet. Diceritakan antara lain bagaimana tentara dengan beringas menguber-uber massa demonstran, dan menghajar bahkan mereka yang sudah berhasil sembunyi di toilet Taman Ismail Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini horor yang dikenal dengan sebutan “Peristiwa 27 Juli” sudah berlalu 12 tahun. Tidak pernah menjadi jelas apa yang sebetulnya terjadi saat itu. Megawati, yang ketika itu sempat dianggap sebagai “ikon” yang menyuarakan perlawanan ternyata juga tak pernah mengurusi masalah ini. Mungkin dia pun, seperti yang lainnya, merasa “jeri” kalau harus berurusan dengan kelompok militer.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-713189275476507072?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/713189275476507072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=713189275476507072&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/713189275476507072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/713189275476507072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/07/peristiwa-27-juli-riwayatmu-kini.html' title='&quot;Peristiwa 27 Juli&quot;, Riwayatmu Kini'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SIlmsTlX3JI/AAAAAAAAAd0/zggwVSLcT1g/s72-c/peristiwa27juli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8198107438919976762</id><published>2008-07-24T09:23:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T16:00:19.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Capres 2009 : Ada Jenderal, Ada Seniman ...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SIloQG7kSbI/AAAAAAAAAeE/qpkac7InhSs/s1600-h/ratna-sarumpaet.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226823468487821746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SIloQG7kSbI/AAAAAAAAAeE/qpkac7InhSs/s320/ratna-sarumpaet.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; SEBUAH fenomena menarik muncul di pelataran politik negeri ini. Kini orang tak malu-malu lagi mencalonkan diri sebagai “calon presiden”. Mereka pun datang dari latar yang juga agak beragam, meski mayoritas masih didominasi mantan pejabat, atau pensiunan jenderal. Ada yang sudah stok lama, sebagian pendatang baru : Wiranto, Prabowo, Sutiyoso. Dari yang sipil tersebutlah misalnya nama-nama semisal Fajroel Rachman (aktivis), Ratna Sarumpaet (seniman), Rizal Malarangeng (pengamat politik) dan “jago lama” Yusril Ihza Mahendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk disimak sebetulnya mengapa sekarang kok banyak bener orang yang pada “berani malu” mencalonkan diri jadi “calon presiden”—hal yang belum terbayangkan bahkan sampai Pemilu paling akhir (2004) kemarin, meski embrionya sudah muncul kala itu.Terus terang saya tak paham, apakah gejala ini pantas disambut dengan gembira, atau sebaliknya malah menambah alasan kita untuk skeptis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk adilnya kita kudu melihatnya dari dua sisi. Kabar gembira karena nama-nama baru itu bagaimanapun sudah berhasil memecahkan kebekuan dari anggapan yang selama ini bercokol di benak bahwa calon pemimpin kita dari waktu ke waktu hanya “beberapa orang tua” yang itu-itu saja. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar buruknya adalah membludaknya pelamar untuk jabatan R1 itu memberi kesan bahwa menjadi presiden adalah urusan “gampang”. Kita tahu belaka republik ini sedang dalam kondisi teramat sulit, maka timbul pertanyaan wajar apakah para pelamar itu sungguh punya tawaran solusi yang pantas dibela? Semestinya begitu, tapi pagi-pagi kita sudah bisa menakar kapasitas para pelamar yang ada. Kalau mau jujur kita pun hanya bisa geleng-geleng : yang begini kok mau jadi presiden …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi barangkali itulah indahnya (dan mahalnya) demokrasi. Panggung menjadi terbuka untuk dimasuki siapa saja. Para pelamar yang serius harus rela bersaing dulu dengan sejumlah badut dan petualang yang cuma iseng doang. Tak mengapa. Kelak pada saatnya, dewan jurilah, yakni publik—yang dari ke hari semogalah semakin jeli menilai—yang akan memastikan nasib mereka. Santai saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8198107438919976762?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8198107438919976762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8198107438919976762&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8198107438919976762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8198107438919976762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/07/capres-2009-dari-jenderal-sampai.html' title='Capres 2009 : Ada Jenderal, Ada Seniman ...'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SIloQG7kSbI/AAAAAAAAAeE/qpkac7InhSs/s72-c/ratna-sarumpaet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2819534893429184449</id><published>2008-07-09T10:35:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:01:03.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Parpol'/><title type='text'>18 Parpol Baru Siap Bodohi Rakyat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KPU (Komisi Pembusukan Umum) hari ini mengumumkan 18 parpol baru yang berhasil lolos verifikasi faktual untuk ikut bikin rame (dan rusak) Pemilu 2009. Inilah 18 parpol baru itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Partai Barisan Preman&lt;br /&gt;2. Partai Demokrasi Pembalakan&lt;br /&gt;3. Partai Gerakan Indonesia Mimpi&lt;br /&gt;4. Partai Hati Nurani Rampok&lt;br /&gt;5. Partai Indonesia Sengsara&lt;br /&gt;6. Partai Kaya Penjualan&lt;br /&gt;7. Partai Kasih Fulus Indonesia&lt;br /&gt;8. Partai Kebangkrutan Nasional&lt;br /&gt;9. Partai Matahari Terbenam&lt;br /&gt;10. Partai Nasional Banteng Sakit&lt;br /&gt;11. Partai Peduli Amat Rakyat&lt;br /&gt;12. Partai Pemuda Merana&lt;br /&gt;13. Partai Pengusaha Kaya Raya&lt;br /&gt;14. Partai Kaos Oblong&lt;br /&gt;15. Partai Asal Rame&lt;br /&gt;16. Partai Ini Itu Oke&lt;br /&gt;17. Partai Janji Sorga&lt;br /&gt;18. Partai Kolor Ijo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jumlah parpol yang akan terjun “membodohi” rakyat pada Pemilu 2009 menjadi 34 parpol. Parpol-parpol baru itu akan bersaing dengan parpol lama yang sedikit atau banyak sudah lebih berpengalaman dalam urusan kibul-mengibuli rakyat. Meskipun jumlah parpol bertambah banyak, jauh-jauh hari kita sudah bisa menduga parpol mana yang bakal memenangi Pemilu 2009. Itulah dia si semata wayang, “parpol” GOLPUT.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2819534893429184449?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2819534893429184449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2819534893429184449&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2819534893429184449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2819534893429184449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/07/18-parpol-baru-siap-bodohi-rakyat.html' title='18 Parpol Baru Siap Bodohi Rakyat'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8639083850400933424</id><published>2008-06-26T15:22:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T16:02:04.635+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mafia Bola'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sepakbola'/><title type='text'>"Mafia Bola", Betulkah Mereka Ada?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SGNScgZP8MI/AAAAAAAAAc0/NPrY8D8alnQ/s1600-h/Euro2008.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216103443110817986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SGNScgZP8MI/AAAAAAAAAc0/NPrY8D8alnQ/s320/Euro2008.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; SEORANG teman penggila bola punya teori yang bagi saya menarik seputar hasil pertandingan dalam &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.euro2008.uefa.com/"&gt;Euro 2008&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, dan dalam event-event bola akbar lainnya. Ia sangat percaya bahwa di belakang segala hiruk-pikuk pertandingan di lapangan ada tangan-tangan tak kelihatan yang ikut “mengatur” hasil pertandingan. Yang dia maksud bukan “Tuhan”, atau hal-hal supra-natural seperti itu. Lantas apa? Ada “mafia” di sana, kata sang teman, haqul yakin. Boleh jadi ini bukan “barang baru” lagi, tapi saya baru tertarik menyimaknya kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafia bola ini, kita sebut saja begitu, berkepentingan menjaga keselamatan (baca : kesuksesan) tim-tim favorit. Jadi boleh saja terjadi kejutan di sana-sini, tim “anak bawang” negara anu misalnya melibas tim mapan negara tertentu. Tapi kejutan demi kejutan harus sudah selesai begitu perhelatan memasuki babak final. Dalam partai final, kata teori teman saya ini, harus ada wakil dari tim yang memang dikenal “jago”nya bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lucu kalau partai final, yang adalah puncak kejuaraan, hanya mempertemukan dua tim “gurem” yang tidak punya merek. Dalam Euro 2004, misalnya, silakan Yunani menjadi juara, yang penting pada laga final itu lawannya tim mapan dan besar. Kita tahu lawan Yunani di final saat itu adalah Portugal, sebuah tim “branded” dengan reputasi selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepentingan bisnis (pemasukan uang dari iklan, penjualan tiket, jual beli hak siaran tv, dan lain-lain) menjadi motif utama hadirnya “mafia bola” ini, lagi kata sang teman. Jadi, katanya menyimpulkan, janganlah kita pernah bermimpi bahwa tim seperti Turki dan Rusia, bakal bertemu dalam partai final Euro 2008 Apa kata sponsor nanti? Itu sebuah “bencana” yang tak boleh terjadi. Maka salah satu kudu buru-buru “disetop”, kalau bisa malah dua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tulisan ini dibuat, Turki sudah dipastikan tergusur, “disetop” 2-3 oleh tim bermerek keren, yaitu Jerman. Jadi skenario harus ada tim sohor dalam laga final sudah tercapai. Sehingga tidak teramat penting lagi Rusia atau Spanyol yang bakal jadi seterunya? Jadi, sungguh betul adakah “mafia bola” dalam Euro 2008 kalau begitu? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8639083850400933424?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8639083850400933424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8639083850400933424&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8639083850400933424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8639083850400933424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/mafia-bola-betulkah-mereka-ada.html' title='&quot;Mafia Bola&quot;, Betulkah Mereka Ada?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SGNScgZP8MI/AAAAAAAAAc0/NPrY8D8alnQ/s72-c/Euro2008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2011552179247150320</id><published>2008-06-24T16:26:00.006+07:00</published><updated>2011-09-22T16:02:59.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guus Hiddink'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sepakbola'/><title type='text'>Misalkan Saya Guus Hiddink</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SGC-bOT1uQI/AAAAAAAAAcs/dKvXPpPC7o4/s1600-h/hiddink.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215377743402088706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SGC-bOT1uQI/AAAAAAAAAcs/dKvXPpPC7o4/s320/hiddink.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; MISALKAN saya Guus Hiddink, tentu saja saya akan sangat bangga karena “anak-anak kampung Rusia” asuhan saya sanggup membikin benjol-benjol tim elit Belanda, negara tercinta tempat di mana saya dilahirkan. Anda pasti tahu, saya dibayar cukup “murah” oleh majikan Rusia saya. Hanya 23 milyar setahun jika dikonversi ke rupiah. Itu artinya, sebulannya saya hanya mengantongi duit tidak sampai 2 milyar. Jelas itu sebuah jumlah yang kecil jika dibanding reputasi besar saya selama ini. Kecil, kalau diingat juga target besar yang dibebankan di pundak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya menerima tawaran untuk melatih di Rusia karena saya, Guus Hiddink, selalu menyukai tantangan. Saya kepingin membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa dalam sepak bola, apa yang di mata pengamat dan penonton adalah “nonsens” bisa saja diwujudkan. Sewaktu saya 6 tahun yang lalu sukses membawa tim “anak bawang” Korea Selatan ke semi final Piala Dunia, ada suara-suara tidak enak yang menyebut sukses itu bisa terjadi karena kesebelasan saya dibantu para wasit yang sudah dibayar. Saya diam-diam marah sekali ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya menerima tawaran melatih kesebelasan “anak bawang” lain, Australia. Obsesi saya selalu sama, kepingin membuktikan bahwa sepak bola bukanlah matematika. Anda sekalian melihat bahwa saya hampir saja kembali berhasil menggoyang dunia saat itu. Tapi permainan kotor Italia membuyarkan impian saya. Mereka menyingkirkan saya lewat penalti jahat yang dihadiahkan wasit di menit akhir pertandingan perdelapan final yang busuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya mengepalai serombongan “anak kampung Rusia” untuk kembali mencoba membuktikan kebenaran tesis abadi saya. Dan saya kira saya sudah boleh dianggap berhasil saat ini. Mencapai semi final Piala Eropa, dengan menghajar tim-tim hebat dan mapan Eropa, adalah pembuktian lebih lanjut dari kebenaran impian saya. Saya mohon maaf apabila saya begitu demonstratif meluapkan kegembiuraan saya sewaktu “anak-anak kampung” yang saya latih selama ini meruntuhkan salah satu mitos sepak bola Eropa, bahkan dunia, yakni Belanda, di mana saya pun selama ini ikut mengambil peran membangun mitos itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku saya waktu itu janganlah diartikan seolah saya sudah berlaku khianat kepada tanah air saya sendiri. Saya ulangi, saya tak suka sebutan “pengkhianat” yang dilemparkan kepada saya. Guus Hiddink selamanya orang Belanda, dan sangat mencintai Belanda. Tapi saya punya tanggung jawab profesional kepada mereka yang membayar saya, berapa pun jumlah bayarannya. Dan jangan lupa, di atas semua itu adalah obsesi abadi saya. Sepak bola, saya tandaskan sekali lagi, bukanlah matematika. Dan bukan juga agama. Jadi jangan sekali-kali membawa yang terakhir itu ke lapangan sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, laga semi final Turki lawan Jerman nanti, janganlah dianggap sebagai pertarungan antara kesebelasan muslim versus kesebelasan Kristen. Misalkan saya Guus Hiddink, saya akan bilang itu cara berpikir dungu, imbisil, dan menodai konsep "Fair Play" yang sangat saya junjung. Tapi karena saya hanya Guus Hiddink bohong-bohongan, saya akan bilang itu pikiran primitif yang mencoreng asas kebhinekaan yang selama ini sudah jadi komitmen bersama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2011552179247150320?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2011552179247150320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2011552179247150320&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2011552179247150320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2011552179247150320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/misalkan-saya-guus-hiddink.html' title='Misalkan Saya Guus Hiddink'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SGC-bOT1uQI/AAAAAAAAAcs/dKvXPpPC7o4/s72-c/hiddink.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-9037002558047419621</id><published>2008-06-18T10:47:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T16:03:39.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FPI'/><title type='text'>Tentang Janggut, Peci, Jubah, dll</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SFiGAmrs_sI/AAAAAAAAAcU/ptC-KZ9EwTQ/s1600-h/riziq.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213063913623322306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SFiGAmrs_sI/AAAAAAAAAcU/ptC-KZ9EwTQ/s320/riziq.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; ADA kejadian lucu sewaktu tempo hari polisi meluruk ke “kandang” FPI di Tanah Abang, Jakarta. Entah karena polisinya kelewat tegang, atau ada faktor lain, mereka sempat “salah mata” dan menangkap seorang yang ternyata bukan anggota FPI. Penyebab salah tangkap itu ternyata sederhana, yaitu karena yang bersangkutan—ia mengaku hanya tukang semir sepatu—berjanggut ala anggota FPI umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang belakangan ini, janggut—ditambah baju koko, peci putih, dan sorban—oleh sebagian kelompok seperti dijadikan “aksesori wajib” yang harus dikenakan kalau kepingin dianggap “sungguh muslim”. Mungkinkah ini hanya sebuah tren modis yang sifatnya temporer semata, memang masih harus ditunggu dan dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berbahaya adalah kalau kemudian keberadaan aksesoris itu dijadikan juga alat untuk mengukur tingkat kesalehan seseorang. Orang lalu terpaku pada apa yang kelihatan oleh mata lahiriah. Iman diukur dari apa yang dikenakan : jubah, peci, sorban, tasbih yang ditenteng kesana-kemari (mungkin juga jidat yang ‘kapalan’ karena seringnya bersujud?) bukan dari perilaku nyata sehari-hari yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mistikus katolik dari Spanyol, &lt;strong&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yohanes_Salib"&gt;Santo Yohanes Salib&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, dalam bukunya yang termashur, "Malam Kelam" pernah juga menyinggung soal kegandrungan pada aksesoris fisik ini. Menurut orang suci itu, aksesoris yang dikenakan itu memang bukti adanya iman pada orang yang mengenakannya, tapi mohon maaf, yang dimaksud oleh sang santo adalah iman yang masih pada tingkatan awal, atau permulaan. Jadi kalau diumpamakan murid sekolah, ia baru siswa TK atau SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya iman yang tulen, yang sudah paten teruji, tidak lagi merisaukan (atau direpotkan) tampilan yang hanya fisikal sifatnya. Sebab memang, yang penting akhirnya “isi”nya, bukan kemasannya. Awas, kemasan memang bisa menipu, tapi “isi”, tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-9037002558047419621?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/9037002558047419621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=9037002558047419621&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/9037002558047419621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/9037002558047419621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/tentang-janggut-peci-jubah-dll.html' title='Tentang Janggut, Peci, Jubah, dll'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SFiGAmrs_sI/AAAAAAAAAcU/ptC-KZ9EwTQ/s72-c/riziq.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1128128776187269522</id><published>2008-06-13T14:16:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:06:16.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tragedi Mei 1998'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Mimpi Dua Mantan Jenderal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;ENTAH apa sebetulnya yang bercokol dalam benak dua orang mantan jenderal itu. Di masa aktifnya dulu konon mereka berseteru sengit. Keduanya pun santer disebut-sebut punya kaitan dengan peristiwa dahsyat yang dikenal sebagai “kerusuhan Mei” itu, tapi seperti biasa terjadi di republik ini, hal-hal itu tinggal sebagai rumor—setidaknya hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mantan jenderal yang satu membikin partai politik. Ia mau bangkit lagi rupanya,  targetnya jelas, dan semua orang sudah pada tahu. Demi mencapai target itulah ia belakangan sering nongol di depan publik. Kadang bermain menjadi "sinterklas-sinterklasan" yang membagi-bagikan sembako, terkadang juga duit. Lain waktu ia kelihatan bertegang-tegang mengata-ngatai pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan jenderal yang satu lagi sejauh ini tak begitu jelas agenda politiknya. Yang kelihatan adalah bahwa belakangan dia suka setor muka di televisi, lalu dengan mimik serius dan prihatin ia berbicara gagah “atas nama para petani”. Adakah sang mantan jenderal juga punya target politik muluk seperti mantan jenderal sebelumnya? Atau ia sekadar tergoda untuk “meneruskan” perseteruan mereka di masa lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya keduanya, atau minimal salah satunya, tetap meneruskan rencana besarnya pada Pemilu 2009, maka itu akan menjadi manuver yang kelewat bodoh untuk dilakukan. Sebab tingkat keberhasilan peluang mereka sudah bisa dipastikan bahkan pada hari ini juga. Kecuali kalau mereka punya target lain. Misalnya saja, kehadiran mereka hanya dimaksudkan untuk “memecah” konsentrasi konstituen lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi target ini pun rasanya kelewat sulit untuk dicapai. Publik sudah pada tahu kok borok-borok mereka, jadi percuma sajalah mereka main sulap ini itu untuk mengibuli orang banyak. Sebagai mantan jenderal, mereka pun mestinya cukup pintar untuk memahami semua itu. Jadi apa gerangan yang “memaksa” mereka untuk terus nekat maju—jika benar begitu. Hanya mereka bedualah yang bisa menjawab.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1128128776187269522?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1128128776187269522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1128128776187269522&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1128128776187269522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1128128776187269522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/mimpi-dua-mantan-jenderal.html' title='Mimpi Dua Mantan Jenderal'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2652300899698782955</id><published>2008-06-06T14:32:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:06:53.338+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FPI'/><title type='text'>Insiden Monas : Sungguhan atau Sandiwara?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;JIKA diamati teliti ada ketidak-konsitenan dalam 3 tulisan saya terdahulu di halaman ini yang menyoal insiden Monas serta keberadaan FPI.Dua tulisan menyorot kemungkinan adanya rekayasa di belakang insiden Monas, tapi satu tulisan lain, yaitu “FPI ternyata Ayam Sayur” seolah terlepas dari soal “rekayasa” itu. Seakan-akan saya percaya sungguh FPI adalah trouble maker murni yang pantas dibereskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya renungkan kembali nyatalah keidak-konsistenan itu disebabkan karena saya pun agaknya masih meragukan adanya unsur “rekayasa” dalam insiden itu, sehingga ketika membaca warta sekitar “diserbunya” sarang FPI perasaan saya sedikit meluap tak terkontrol. Kemuakan saya yang terpendam lama kepada perilaku kelompok “preman.berjubah” yang gemar “menertibkan” ini dan itu tumpah semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah memikirkannya kembali dengan lebih rileks, saya kembali yakin bahwa insiden Monas sungguh sebuah rekayasa. Tentu yang termasuk dalam rekayasa itu bukanlah adegan saling gebuknya. Betul bahwa FPI menggebuki sejumlah orang dari Aliansi, tapi pertanyaannya mengapa gebuk-menggebuk itu bisa berlangsung dengan mulus dan lancar, di siang bolong yang terang benderang, dan notabene jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari Istana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa untuk sebuah perhelatan seakbar pada Ahad, 1 Juni 2008 itu, pengamanan dari pihak polisi begitu minim? Kabarnya hanya ada satu kompi polisi yang diterjunkan di lokasi sekitar Monas hari itu. Sedangkan di tempat insiden berlangsung hanya ada satu polisi berpakaian preman. Baru setelah sejumlaah orang babak-belur polisi berbondong-bondong datang. Mengapa begitu? Lha itulah ajaibnya insiden Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian selanjutnya dari sandiwara itu kita sudah pada tahu juga. Habib Rizieg Shihab petentengan datang ke Polda, bersama “pangab” LPI, Munarman, menggelar konprensi pers. Rizieg ngomong galak akan “melawan sampai titik darah penghabisan” kalau sampai FPI dibubarkan. Sementara Munarman juga main ancam akan menyerbu kantor Koran Tempo.Ini sekadar bumbu penyedap belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kemudian ternyata mereka (FPI) tidak bikin perlawanan apa-apa sewaktu polisi datang, itu juga bagian dari skenario. Order yang mereka terima dari “atas” rupanya meminta mereka “patuh”, jadi ya mereka “patuh”. Tapi supaya lalu muncul kesan seru dan dramatis diaturlah Munarman seolah-olah buron. Anton Medan yang “tidak tahu apa-apa” juga dilibatkan dalam urusan ini. Dan kalau hari ini akhirnya Munarman “terpegang” itu semua pun sudah bagian dari sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kalau anda menuntut “bukti” bahwa insiden Monas adalah rekayasa, jelas mustahil. Kita tidak bakal mendapatkannya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba lebih cermat membaca yang “tersirat” di balik banjir peristiwa yang secara “tersurat” membombardir kita setiap harinya. Celakanya media massa (koran, radio, tv) juga mau atau tidak ikut terpancing bermain, sebab mereka selalu butuh suplay berita atau cerita-cerita hebat untuk bisa dijual. Tidak penting itu sungguhan atau hanya fiksi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2652300899698782955?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2652300899698782955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2652300899698782955&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2652300899698782955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2652300899698782955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/insiden-monas-sungguhan-atau-sandiwara.html' title='Insiden Monas : Sungguhan atau Sandiwara?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4368001275504982823</id><published>2008-06-05T11:25:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:07:23.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FPI'/><title type='text'>FPI Ternyata "Ayam Sayur"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SEdrZGRh69I/AAAAAAAAAb8/TeswvyPkMtY/s1600-h/habib-rizieg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208249573002308562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SEdrZGRh69I/AAAAAAAAAb8/TeswvyPkMtY/s320/habib-rizieg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; FPI ternyata hanya “ayam sayur”. Mereka menyerah begitu saja sewaktu kemarin (4 Juni 2008) polisi menyatroni “sarang” mereka di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta. Padahal sehari sebelumnya, Habib Rizieg Shihab yang memegang pucuk pimpinan di ormas “preman berjubah” itu berkoar galak “akan melawan sampai titik darah penghabisan” apabila ada anggotanya yang sampai “ditowel” polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, boro-boro melawan, malahan Munarman, “pangab”nya Laskar Pembela Islam (LPI), ngacir entah ke mana. Munarman ini sehari sebelumnya juga sempat mengancam-ancam akan menyerbu kantor &lt;a href="http://korantempo.com/"&gt;Koran Tempo &lt;/a&gt;karena koran itu dianggap telah memfitnahnya. Ketika membaca warta itu saya muak sekali, kok enak bener ya, sedikit-sedikit main serbu, sedikit-sedikit main rusak—emang negara engkongnya …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kejadian kemarin itu semakin terbukti bahwa FPI memang hanya “ayam sayur” doang. Ketika tempo hari akan didatangi anak-anak Pagar Nusa (NU) pun mereka buru-buru ngibrit ke Polda guna minta perlindungan. Ketahuan deh beraninya cuma sama yang kecil, yang pasrah dan nggak bisa melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iseng-iseng kita bandingkan dengan “anak-anak” Forum Kota (Forkot) umpamanya, yang juga “setengah preman” itu, wah kalah jauh sekali mereka. Forkot itu jelek-jelek sudah sempat “bikin sejarah” waktu 1998 lho. Lha FPI bikin apa-- selain bikin rusak kantor dan menjungkir-balikkan rezeki orang lain?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4368001275504982823?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4368001275504982823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4368001275504982823&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4368001275504982823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4368001275504982823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/fpi-ternyata-ayam-sayur.html' title='FPI Ternyata &quot;Ayam Sayur&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SEdrZGRh69I/AAAAAAAAAb8/TeswvyPkMtY/s72-c/habib-rizieg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8856341533089938420</id><published>2008-06-03T08:14:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:10:04.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalihan Isu'/><title type='text'>Dari "SMS Santet" sampai Ribut FPI di Monas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SESevFpL8oI/AAAAAAAAAbc/gQNtOF2XPgU/s1600-h/munarman.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207461600953102978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SESevFpL8oI/AAAAAAAAAbc/gQNtOF2XPgU/s320/munarman.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; MACAM-macamlah caranya penguasa “membungkam” keresahan yang diakibatkan naiknya harga BBM. Kepada lapisan paling bawah digelontorkan bantuan duit tunai. Jumlahnya biasa saja, tapi di zaman super sulit seperti ini duit itu menjadi luar biasa. Lalu kepada para mahasiswa—yang gemar bakar-bakar ban dan main bom botol—dijejalkanlah bantuan sejenis. Jumlahnya juga “kecil”, tapi di zaman susah seperti sekarang lumayanlah duit segitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Entah karena bantuan duit itu, atau karena kapok kena hajar aparat, atau ada faktor lainnya, nyatanya frekuensi aksi unjuk rasa mahasiswa di Jakarta berkurang drastis hari-hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya lain yang dilakukan penguasa, yang bagi saya sangat menggelikan, adalah membuka pintu Istana untuk dikunjungi warga pada akhir pekan. Istana yang angker dan “resmi” kini boleh didatangi rakyat seperti Kebun Binatang Ragunan bebas disatroni. Malah kalau ke Ragunan kita kudu bayar, ke Istana boleh gratis. Ini adalah kesempatan langka bagi khalayak untuk melihat koleksi “hewan” apa saja yang dipajang di sana. Konon koleksi burung beo Istana teramat lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah cara-cara “resmi” yang transparan. Tahukah anda bahwa selain lewat cara-cara “resmi” itu ada juga cara lain yang dilakukan penguasa? Ssst, yang ini memang susah dibuktikan, maklum ini adalah operasi yang dijalankan Mat Intel sendiri. Silent operation, istilah “kampung”nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat heboh “SMS santet” tempo hari? Kenapa kasus itu bisa mendadak muncul dan mendadak raib pula? Masih urusan SMS, belum lama ini juga sempat ada heboh “SMS teror” yang mengabarkan akan adanya kerusuhan di Jakarta. Sesudah ribut-ribut sebentar, mendadak soal ini hilang begitu saja. Padahal katanya pihak berwajib berjanji bakal menguber pelaku atau penyebar SMS ngawur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reda soal SMS mendadak timbul heboh Joko Suprapto dengan “Energi Biru”nya. Hampir berbarengan dengan itu muncul pula seorang Achmad Zainal yang mengaku super kaya dan berniat membagi-bagikan duitnya secara cuma-cuma. Yang paling akhir adalah insiden FPI bikin ribut di Monas. Begitulah, kejadian demi kejadian “tidak biasa” muncul seperti bergiliran. Anda pikir itu kejadian wajar dan biasa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan naif, bung. Semua itu mungkin saja sudah diatur dan dipersiapkan. Tujuannya satu : mengalihkan perhatian dari keresahan (mungkin lebih tepat kalau disebut “kemarahan”) akibat makin susahnya hidup. Hal-hal atau peristiwa sensasional yang dimunculkan itu diharapkan bisa menjadi “hiburan” dan kanalisasi dari rasa frustrasi yang menumpuk, supaya tidak sampai terjadi letupan, atau chaos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara dan bahan yang siap diblow-up, untuk kemudian dipendam lagi. Stok lama yang masih “laku” dijual saja masih bertumpuk. Misalnya kasus Munir, Tommy Soeharto, skandal BLBI, dan seabrek bahan lain. Tapi kadang memang ada momen yang secara kebetulan membantu terciptanya suasana “adem semu” itu. Contohnya adalah perhelatan sepak bola Piala Eropa (Euro 2008) yang pekan depan segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dijamin nanti selama sebulan kita semua bakal terlena dan melupakan kegeraman kita karena harga-harga yang pada naik. Dan itu juga saatnya bagi Mat Intel untuk sedikit bersantai. Mereka bisa bergadang dengan lebih tenang, seraya nyeruput kopi, dan taruhan bola?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8856341533089938420?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8856341533089938420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8856341533089938420&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8856341533089938420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8856341533089938420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/dari-sms-santet-sampai-ribut-fpi-di.html' title='Dari &quot;SMS Santet&quot; sampai Ribut FPI di Monas'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SESevFpL8oI/AAAAAAAAAbc/gQNtOF2XPgU/s72-c/munarman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7356694744455074635</id><published>2008-06-02T14:06:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:10:47.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FPI'/><title type='text'>FPI "Makan" Korban Lagi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SEOcvlpL8mI/AAAAAAAAAbM/MefJTj0Y3C8/s1600-h/aksi-fpi.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207177935543071330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SEOcvlpL8mI/AAAAAAAAAbM/MefJTj0Y3C8/s320/aksi-fpi.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; KELOMPOK preman berjubah yang dikenal dengan sebutan keren FPI alias Front Pembela Islam (saya kira kata “Pembela” di situ sebaiknya diganti saja dengan “Pencemar”) kembali bikin ulah. Kali ini yang jadi korban adalah kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang tengah berkumpul di lapangan Monas, Ahad, 1 Juni 2008 (Koran Tempo, 2 Juni 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah orang luka-luka serius dalam insiden memalukan itu, malah ada yang gegar otak, dan perlu dioperasi. Insiden kemarin itu menjadi menarik karena dilakukan pas pada tanggal 1 Juni, hari yang selama ini diperingati sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ini sama saja artinya FPI terang-terangan “memberaki” Pancasila, dan UUD 45 yang jelas-jelas mendukung hak setiap orang di sini untuk bebas memilih sendiri keyakinan dan agamanya. Secara implisit bisa saja tindakan anarkis itu digolongkan juga sebagai kegiatan “makar” kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan menuntut adanya tindakan hukum tegas dan kalau perlu pembubaran Ormas Islam yang suka bikin sebal banyak orang itu kontan timbul bersahutan. Akankah tuntutan itu ditanggapi? Saya kok tidak yakin ya. Saya rasa seperti yang lalu-lalu, insiden barbar dan biadab ala FPI ini pun akan lewat begitu saja. Sudah bukan rahasia lagi bahwa aparat kepolisian di sini terkesan “jeri” kalau sudah bersinggungan dengan kelompok agama mayoritas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kelompok umat sendiri tertangkap adanya kesan mendua dalam menanggapi keberadaan FPI. Contoh paling gamblang ditunjukkan sendiri oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Seperti pernah ditulis di halaman ini juga, MUI di satu pihak sering mengeluarkan imbauan “anti kekerasan”, tapi kenyataannya tidak pernah mereka mengutuk kekerasan yang dilakukan FPI—juga kelompok umat garis keras lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan FPI sebetulnya mirip dengan keberadaan kelompok seperti FBR (Forum Betawi Reseh eh Rempug), atau PP (Pemuda Pancasila), FKPPI dan beberapa lagi di zaman Orba dulu. Sudah jadi rahasia umum bahwa ada sejumlah “orang kuat” yang mengongkosi dan jadi deking mereka, sehingga mereka terkesan begitu leluasa bertindak apa saja, dan sebaliknya teramat susah untuk ditertibkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kalau sekarang kembali ada tuntutan supaya “FPI bubar”, pahamilah itu bukan urusan mudah. Tapi sekiranya kelompok preman bersorban itu toh dinyatakan bubar, sama sekali tidak sulit untuk mendirikan kembali kelompok sejenis, dengan nama dan seragam berbeda, tapi dengan pola perilaku yang sama-sama saja, bukan? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7356694744455074635?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7356694744455074635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7356694744455074635&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7356694744455074635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7356694744455074635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/06/fpi-anjing-peliharaan-siapa.html' title='FPI &quot;Makan&quot; Korban Lagi'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SEOcvlpL8mI/AAAAAAAAAbM/MefJTj0Y3C8/s72-c/aksi-fpi.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8391897875147264392</id><published>2008-05-27T09:24:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:12:25.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenaikan BBM'/><title type='text'>Republik yang Stres</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PENGUMUMAN kenaikan harga BBM pada zaman Orba dan sekarang punya persamaan dan perbedaan. Persamaan kekalnya adalah bahwa pengumuman itu bagi sebagian besar kita identik dengan datangnya “musibah”. Meskipun para petinggi Orba gemar menggunakan kata “penyesuaian” sebagai ganti kata “kenaikan”, kita toh tahu belaka : “penyesuaian” itu adalah “bencana”, titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu biasanya beberapa jam sebelum harga baru BBM “diresmikan” akan terjadi drama di pompa-pompa bensin. Mendadak banyak orang jadi seperti kehilangan akal warasnya, mereka rela antre berjam-jam lamanya hanya demi mengirit beberapa rupiah. Padahal kalau mereka membelinya besok, selisih harganya tidak jauh-jauh amat. Barangkali karena kita memang sudah terkondisi hidup dalam situasi yang selalu dibayangi “ketidakpastian”, orang jadi gampang dibikin panik (dan latah) oleh sedikit saja kabar perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik pada pengumuman kenaikan harga BBM jaman dulu. Sering terjadi para petinggi yang ditugaskan mengumumkan “musibah” itu menyampaikannya kepada publik sambil sibuk cengengesan. Adalah sastrawan Bur Rasuanto yang menjadi murka melihat hal ini. Ia lantas menulis dan mengomentari kelakuan “lucu” para petinggi Orba itu sebagai bukti adanya gejala “gangguan jiwa” pada yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petinggi sekarang agaknya banyak belajar dari kesalahan para seniornya. Mereka biasanya akan memasang mimik wajah “sedih”, “prihatin”, atau minimal menahan diri untuk tidak cengar-cengir saat mengumumkan kabar buruk bagi orang banyak itu. Supaya pementasan paripurna, biasanya akan ada sejumlah kata permohonan maaf dan penyesalan yang mereka ucapkan pula. Tentu semua disampaikan dengan (berpura-pura) takzim dan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga berbeda dengan dulu adalah bahwa orang sekarang bisa memprotes kenaikan itu secara terbuka--kalau dulu kan paling kita hanya berani menggerutu di belakang. Model forum protesnya pun bisa beragam : mulai dari talk show necis di layar kaca sampai aksi bakar-bakaran ban bekas plus adu lempar batu dan bom botol di jalanan atau ruang-ruang belajar. Pokoknya meriah dan seru deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sayang, segala forum protes itu akhirnya jatuh menjadi sekadar show belaka. Mereka yang terlibat di sana akhirnya ketahuan sebetulnya punya agendanya sendiri, sementara “rakyat” yang kerap mereka sebut, tertinggal entah di mana. Pun para mahasiswa kemudian terlihat hanya sok hebat dan heroik doang. Aksi-aksi mereka jatuh menjadi sekadar gerakan “premanisme jalanan”, tanpa konsep matang dan sopan santun akademik yang layak dipujikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi barangkali itu semua wajar-wajar saja. Wajar dan jamak terjadi di sebuah republik yang menurut sebuah situs berita lokal di sini konon sembilan puluh persen dari penduduknya tengah mengidap depresi alias stress pada stadium akut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8391897875147264392?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8391897875147264392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8391897875147264392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8391897875147264392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8391897875147264392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/05/republik-yang-stres.html' title='Republik yang Stres'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3439189588222066392</id><published>2008-05-12T09:19:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T16:12:56.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tragedi Mei 1998'/><title type='text'>"Tragedi Mei" Part Two?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SCfjB2enJII/AAAAAAAAAbE/nf8jJLTjMxc/s1600-h/tragedi-mei.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199373915765810306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SCfjB2enJII/AAAAAAAAAbE/nf8jJLTjMxc/s320/tragedi-mei.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; PERISTIWA kerusuhan Mei 1998—sering disebut Tragedi Mei—genap satu dasawarsa tahun ini. Bagi saya pribadi peristiwa ngeri itu seperti baru terjadi beberapa minggu yang lalu saja. Tak mudah memang melupakannya. Dan kalau kita mau sedikit melongok di beberapa kawasan ibu kota memang masih bisa kita temukan sampai hari ini beberapa “monumen” peninggalan dari horor itu : bangunan bekas toko atau perkantoran yang dibiarkan terlantar membangkai—karena pemiliknya mungkin ikut terbakar mati, sudah kabur entah ke mana, atau jadi kere dan gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusutan atas tragedi hitam itu sendiri tampaknya tidak akan membuahkan hasil. Belum pernah memang sebuah kejahatan politik dalam skala besar di negara ini berhasil diungkap tuntas ke publik. Peristiwa G 30 S saja sampai kini masih tetap teka-teki, apalagi kerusuhan Mei 1998 yang “baru kemarin sore”, note bene sebagian korbannya adalah mereka dari kelompok etnis China yang—sudah dari dulu--memang ditargetkan jadi “langganan” untuk sesekali dijadikan tumbal demi “memuaskan” rasa frustrasi sosial di lapisan bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mendapatkan kejelasan, sejumlah orang malah ada yang berani berspekulasi bahwa horor seperti Mei 1998 bukan tidak mungkin bakal terulang lagi. Tapi berdasarkah ketakutan semacam itu? Secara teoritis, selama kondisi negara masih “berantakan” seperti saat ini, dan elit politisi kita tidak kunjung juga belajar berlaku dewasa dalam perilaku politiknya, maka peluang untuk terjadinya kembali kerusuhan semacam Mei 1998 selalu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah keadaan sosial politik pra Mei 1998 dulu sedikit banyak mirip dengan situasi kita hari-hari ini? Kita lihat misalnya di mana-mana barisan orang-orang yang kehilangan pekerjaan semakin panjang, ibu-ibu pada menunggu jatah minyak tanah atau berebut beras murah di siang bolong yang terik, harga bensin sebentar lagi naik, sementara kriminalitas terus meningkat jumlah dan brutalitasnya, dan masih begitu banyak penanda lain yang sebetulnya bisa dirasakan untuk belajar memahami betapa di lapisan bawah suhu sudah begitu “panas” dan “pengap” sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya apakah “kepengapan” itu sampai juga ke ruang-ruang sejuk para politisi dan petinggi negara ini? Oh, saya sungguh tak yakin dengan itu. Jadi, timbunan kayu-kayu bakar kering untuk bahan baku meletupkan &lt;em&gt;chaos&lt;/em&gt; sudah tersedia lebih dari cukup. Tinggal siapa sekarang yang punya bensin dan menyimpan korek apinya—dan apakah ia cukup punya nyali memulai “permainan” itu kembali. Mungkin judul lakonnya nanti &lt;em&gt;Tragedi Mei Part&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Two&lt;/em&gt;, atau semacam itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya berharap, sangat berharap, ini semua hanya ketakutan berlebihan dari saya saja. Saya harap begitu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3439189588222066392?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3439189588222066392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3439189588222066392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3439189588222066392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3439189588222066392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/05/tragedi-mei-part-two.html' title='&quot;Tragedi Mei&quot; Part Two?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SCfjB2enJII/AAAAAAAAAbE/nf8jJLTjMxc/s72-c/tragedi-mei.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6726943395180287436</id><published>2008-05-09T13:38:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:13:45.114+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenaikan BBM'/><title type='text'>Rakyat Kecil Hanya Keranjang Sampah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;TADI pagi sebelum berangkat kerja saya sempat “ngintip” sebentar sebuah acara di salah satu TV swasta  Mereka sedang ngomongin BBM yang hari-hari ini tengah menjadi primadona berita. Ada seorang pemirsa di Bali yang komentarnya miris sekali. Dia bilang bahwa pemerintah sebaiknya tak usahlah berlagak “populis” dengan menyodorkan macam-macam hiburan kosong untuk membenarkan pilihan mereka menaikkan harga bensin dalam waktu dekat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menegaskan bahwa rakyat miskin di sini sudah sangat tahan banting. Kalau tidak bisa makan nasi, mereka siap beralih menyantap nasi aking. Dan kalau misalnya nasi aking juga gagal didapat, mengunyah sampah juga oke. Rakyat miskin kita, katanya, sangat sekali penuh pengertian, jadi pemerintah tidak usahlah rikuh. Prinsip hidup mereka simpel sekali : diberi ya diterima, tidak diberi ya nggak apa-apa. Itulah rakyat miskin, mirip keranjang sampah belaka.Hanya menunggu. Pasrah. Dilempar berlian diterima, dijejali kotoran ya nggak bisa menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar-komentar jujur dan pahit ini mungkin tak pernah sampai ke kuping pemerintah, atau para “siswa-siswi TK” di Senayan. Kalau pun sampai sepertinya tak akan berdampak apa-apa. Tentang ini rakyat miskin juga sudah pada tahu. Mereka juga tidak akan meminta yang tak mungkin dari petinggi-petinggi terhormat itu. Mereka sangat paham kok bahwa yang di atas itu sudah pada &lt;em&gt;budek&lt;/em&gt; semua nuraninya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6726943395180287436?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6726943395180287436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6726943395180287436&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6726943395180287436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6726943395180287436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/05/rakyat-kecil-hanya-keranjang-sampah.html' title='Rakyat Kecil Hanya Keranjang Sampah'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5834317778462815640</id><published>2008-05-06T15:49:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:14:26.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenaikan BBM'/><title type='text'>BBM Naik : Menuju "Separuh Kiamat"?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KABAR bakal segera naiknya harga BBM semakin santer. Presiden malah bilang pada level saat ini masalahnya bukan lagi “naik atau tidak”, melainkan “berapa naik”nya (Koran Tempo, 6 Mei 2008). Saya bukan ekonom, pun “buta huruf” soal ilmu ekonomi. Saya tak paham hitungan orang-orang pintar di atas sana yang menyimpulkan bahwa, dalam kondisi seperti sekarang ini, katanya, tidak menaikkan harga BBM malah akan mencemplungkan bangsa ini ke dalam jurang. Saya, sekali lagi, terlalu pandir untuk bisa memahami logika luhur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya pahami sungguh teramat sederhana, bahwa kalau BBM harganya dinaikkan maka yang lain-lainnya otomatis harganya harus naik juga—kecuali gaji saya (karena menaikkan gaji bagi majikan hukumnya sunnah, bukan wajib). Dan itulah masalahnya. Anggaran belanja yang sudah mepet selama ini harus lebih dipepetkan lagi. Menu sarapan dan makan siang kudu diatur ulang. Mungkin perlu dipikirkan pula model langkah penghematan ekstra. Misalnya, Senin dan Kamis ditetapkan sebagai hari puasa, yah minimal puasa makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual kunjungan ke warnet terpaksa dikurangi. Kalau biasanya bisa sampai 3 jam, nanti mungkin cukup maksimal 1 jam—dan cukup seminggu sekali. Satu jam itu harus bisa dimanfaatkan betul : memeriksa dan membuka email, mengecek kondisi blog sendiri, posting (naskahnya harus sudah siap, dibuat di kantor dengan cara curi-curi kesempatan, jadi tinggal copy paste). Sisa waktu baru dipakai &lt;em&gt;blog walking&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;browsing&lt;/em&gt; sekadarnya. Beruntunglah selama ini saya tak suka ber-&lt;em&gt;chatting&lt;/em&gt; ria, jadi pengurangan waktu ini tak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru kalkulasi bodoh yang saya bikin untuk saya sendiri, dan hanya untuk beberapa hal yang kebetulan saya ingat saat menulis ini. Belum sempat saya pikirkan bagaimana nanti dengan beban belanja keluarga, biaya sekolah anak-anak, dan macam-macam lagi. Lebih tak terpikirkan lagi bagaimana gerangan saudara-saudara dan teman-teman saya yang “kebetulan” anggaran hidupnya lebih payah lagi dari saya harus menyiasati semua ini. Hampir bisa dipastikan tingkat kriminalitas akan tambah melonjak. Barisan orang stres dan gila akan makin panjang. Dan bunuh diri akan semakin menjadi “pilihan menarik” bagi sejumlah orang. Sungguh, saya jadi merasa tambah pandir saja membayangkan semua kemungkinan seram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga segera terbayang di kepala saya adalah bahwa akan semakin tak pastilah nasib naskah buku puisi saya untuk bisa diterbitkan. Sejauh ini sudah 3 penerbit (salah satunya penerbit kakap) yang menolak naskah itu. Alasannya seragam dan sangat klasik : buku puisi susah lakunya. Maka ditambah dengan naiknya harga BBM (sesudah sebelumnya didahului kenaikan harga kertas) yang tentu berdampak langsung pada biaya produksi, akan samakin karamlah mimpi saya untuk bisa memiliki buku. Dalam situasi “separuh kiamat” ini tentu saja akan terasa lucu meributkan nasib sebuah naskah puisi dari seorang penulis tanggung yang kurang dikenal. Semua orang akan segera direpotkan dengan urusan mencari sekoci penyelamatnya masing-masing, bukan?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5834317778462815640?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5834317778462815640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5834317778462815640&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5834317778462815640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5834317778462815640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/05/bbm-naik-menuju-separuh-kiamat.html' title='BBM Naik : Menuju &quot;Separuh Kiamat&quot;?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3257706799023519885</id><published>2008-04-24T15:59:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:14:51.307+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Bila Blogger "Berpoligami"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;MESKIPUN ada hukum agama tertentu yang mengijinkannya, dalam prakteknya berpoligami ternyata memang merepotkan. Konon laku berpoligami itu akan oke-oke saja sepanjang pelakunya bisa berlaku adil dalam membagi perhatian dan membagi “lain-lain”nya kepada pasangan poligaminya. Tapi justru itulah sumber keruwetannya : “berbagi” dengan adil itu nonsens faktanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya hukum poligami dalam perilaku beragama juga berlaku dalam urusan ngeblog.  Artinya kita tidak pernah dilarang punya lebih dari satu blog. Mau punya seratus blog juga silakan saja. Tapi masalahnya kemudian, bagaimana lalu anda mengatur waktu dan membagi-bagi “kasih sayang” anda kepada blog-blog itu? Bisakah anda berlaku adil dan tidak berat sebelah sehingga tidak ada blog anda yang merasa “terzalimi”—sehingga lalu  merana, dan akhirnya mati kesepian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, seperti lazimnya “blogger yang normal” dan merasa “masih perkasa” saya tidak tahan juga untuk tidak “berpoligami”. Tidak puas hanya “mengawini” satu blog, sudah hampir setahun ini saya memaksakan diri hidup seiring semati dengan dua blog sekaligus. Awalnya kehidupan “poligami” saya berjalan beres-beres saja. Tapi kemudian ternyata saya mulai suka mencong dan plintat-plintut dengan salah satu blog saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa saya pungkiri ternyata saya lebih sayang kepada &lt;em&gt;&lt;a href="http://ooknugroho.blogspot.com/"&gt;blog sastra saya&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, ketimbang blog gado-gado saya yang ini. Mau bilang apa, diputar-putar ke manapun itulah faktanya. Blog sastra saya ternyata lebih sering saya “nafkahi”, minimal seminggu dua kali, malah kadang kalau lagi ngebet kami malah bisa “bercintaan” saban hari. Sementara blog gado-gado [Ruang Samping] ini hanya sesekali saja saya jamah dan belai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya masih cinta sama blog gado-gado saya ini. Masalahnya sampai saat ini saya belum punya “kendaraan” (alias komputer) sendiri. Jadi kalau mau menengokinya saya terpaksa naik “kendaraan umum” (maksudnya warnet). Itu sangat melelahkan dan tidak praktis. Sering terjadi mendadak pada tengah malam yang sepi dan dingin saya ngebet dan kepingin sekali “mengencaninya”, tapi karena ketiadaan sarana saya hanya bisa menahan “gejolak” saya itu.diam-diam, sampai akhirnya padam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya belum berpikir untuk meninggalkan apalagi menceraikannya. Seperti saya katakan di atas, sebetulnya saya masih sayang sama “dia”, hanya keadaanlah yang memaksa kami jadi jarang bisa ketemu. Lagi pula “dia” tampaknya cukup mengerti kok dengan keadaan saya yang hanya pegawai rendahan dengan gaji pas-pasan ini. Dan yang paling penting dia sama sekali tak keberatan saya “madu”. Jadi tidak ada masalah kan?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3257706799023519885?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3257706799023519885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3257706799023519885&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3257706799023519885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3257706799023519885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/04/bila-blogger-berpoligami.html' title='Bila Blogger &quot;Berpoligami&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3671465879952313022</id><published>2008-04-17T11:09:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:16:00.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selebriti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dewi Persik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pornografi'/><title type='text'>Dewi Persik : Korban Sikap Munafik Kita</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SAbOfu3UPYI/AAAAAAAAAaM/pinFBB_9cOo/s1600-h/dewi%20persik.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190062665142386050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SAbOfu3UPYI/AAAAAAAAAaM/pinFBB_9cOo/s320/dewi%2520persik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; GONJANG-ganjing seputar “goyang gergaji” penyanyi dangdut Dewi Persik, yang kemudian berbuntut pada pencekalan atas penyanyi itu di wilayah Tangerang dan Bandung, adalah sebuah lagu lama. Bangsa ini dikenal munafik dalam banyak perkara—juga dalam urusan “goyang bergoyang” ini. Kita misalnya sering mengaku “anti pornografi”, tapi lihatlah berita-berita perkosaan ditampilkan dengan begitu vulgar di halaman-halaman koran, sampai hampir mirip novel stensilan, dan kita pun menyantapnya dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat kasus pembunuhan seorang dara bernama Christine beberapa tahun lalu? Koran-koran dengan tangkasnya menelanjangi figur wanita yang ternyata sebelum dihabisi sudah sering “digarap” oleh pamannya sendiri itu. Mereka bahkan menjelajah sampai ke wilayah yang sangat pribadi. Misalnya saja perihal perilaku seksual Christine yang dianggap menyimpang tak ketinggalan dibahas juga. Saya masih ingat misalnya, sebuah koran besar (dan terhormat) di sini merasa perlu berkisah perihal ukuran liang dubur Christine yang dianggap “tidak lazim”—sebagai “bukti” bahwa almarhumah memang punya perilaku seksual tidak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian rinci dan “tuntas” koran-koran membeberkan kasus ini sehingga rasanya tidak keliru kalau kita simpulkan bahwa Christine mengalami pembunuhan dua kali : pertama, dibunuh pamannya sendiri, dan kedua, dihabisi oleh media. Dan itulah sebetulnya wajah kita yang asli seaslinya dalam urusan beginian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Persik (dulu ada Inul, dan entah siapa lagi) hanya korban dari sikap hipokrit kita. Kebetulan juga ini sudah dekat Pemilu, kebetulan juga di sana-sini lagi ada musim Pilkada, kebetulan juga ada politisi anu, atau pejabat itu, yang baru saja terpilih tapi merasa masih “utang setoran” kepada orang-orang di kampungnya; singkatnya ini memang lagi waktunya buat politisi “cari muka”, maka dicarilah korban. Dan yang apes kali ini Dewi Persik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau kita mau berpikir dengan “teori dagang”, segala keributan ini sebetulnya malah berdampak bagus buat sang penyanyi. Ini sungguh promosi gratis yang luar biasa, bukan? Dulu Inul juga “dikerjain”, tapi ujung-ujungnya malah tambah “ngebor” karirnya. Maka kalau Dewi Persik hari ini dapat giliran “dikerjain”, percayalah besok dan lusa ia akan semakin “menggergaji” kita. Sampai di sini jelas sudah, “siapa mengerjai siapa” sebetulnya. Bravo “goyang gergaji”!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3671465879952313022?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3671465879952313022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3671465879952313022&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3671465879952313022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3671465879952313022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/04/dewi-persik-korban-sikap-munafik-kita.html' title='Dewi Persik : Korban Sikap Munafik Kita'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/SAbOfu3UPYI/AAAAAAAAAaM/pinFBB_9cOo/s72-c/dewi%2520persik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-933395772386236006</id><published>2008-04-11T17:03:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:19:45.493+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Susahnya Mengajak Teman Ngeblog</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SAYA punya teman yang salah satu kesenangannya adalah membagi-bagikan cerita bernuansa relijius lewat internet. Tapi ia tak melakukannya lewat situs atau blog, melainkan dengan mengirimkannya lewat surat elektronik. Ia menganggap media surat elektronik sudah cukup ideal untuk memenuhi kesenangannya itu. Surat elektronik itu bersifat personal, jadi si penerima, kata teman saya ini, akan merasa diperlakukan juga dengan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali saya katakan bahwa “misi”nya berbagi hal-hal relijius itu akan lebih efektif kalau menggunakan media blog—dan bukan surat elektronik. Blog jangkauannya lebih luas dan jauh, bersifat massal dan tidak personal. Cerita-ceritamu yang bagus itu, kata saya, mungkin nanti akan terbaca oleh “entah siapa” yang tinggal “entah di mana” yang diam-diam jauh lebih membutuhkannya ketimbang orang atau teman yang sengaja kau kirimi ceritamu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, kata saya, bagi banyak orang mengakses halaman situs jauh lebih mudah dan menyenangkan ketimbang membuka inbox pada surat elektronik yang harus melewati beberapa tahapan—belum lagi kalau pas akses internetnya payah. Makanya ada banyak orang yang malas membuka kotak suratnya. Jadi, kata saya, bisa saja pesanmu itu akhirnya tidak dibaca oleh mereka yang sengaja kau kirimi surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakinkan juga bahwa membuat situs pribadi tidak sulit. Saya pinjami dia beberapa buku panduan membuat blog sendiri—dan saya menawarkan diri membantunya, kalau ia mengalami kesulitan. Sepertinya dia mulai tertarik, tapi sesudah sempat ngendon beberapa bulan dalam lacinya, buku-buku itu akhirnya dikembalikan, dan ia tak kunjung juga membuat blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bilang bahwa situs atau blog “relijius” sudah banyak, jadi, katanya buat apa saya musti menambah-nambahi lagi. Ia juga suka jengkel karena sering menemukan blog yang “sok relijius” dan “sok pintar”. Maka kata saya, itulah celah yang bisa kau isi : buatlah blog relijius yang tidak sok relijius dan tidak pula sok pintar—tapi yang tulus mau share hal-hal relijius untuk membuat orang jadi teduh. Ia hanya menggeleng mendengar argumen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah pula bertanya apa yang saya dapatkan dari kegiatan ngeblog. Saya katakan padanya, tak ada—selain kepuasan batin karena tulisan saya dibaca orang lain, dan (kadang-kadang) dikomentari. Ia tertawa mendengar jawaban itu, mungkin karena jawaban saya baginya terasa lucu, atau ganjil.Yang pasti ia masih belum juga membuat blog, dan masih rajin mengirimkan cerita-ceritanya lewat surat elektronik. Kadang-kadang saja saya membuka dan membacanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-933395772386236006?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/933395772386236006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=933395772386236006&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/933395772386236006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/933395772386236006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/04/susahnya-mengajak-teman-ngeblog.html' title='Susahnya Mengajak Teman Ngeblog'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1422724356336801829</id><published>2008-04-09T08:40:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:21:27.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>Ulang Tahun, Kaus Kaki, Celana Dalam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SAYA termasuk orang yang tak begitu memusingkan ritual hari ulang tahun. Ulang tahun memang hari yang spesial, tapi saya tak ingin mengindentikkan hari itu dengan hari pesta umpamanya. Bagi saya ulang tahun adalah waktu yang lebih pas dipakai untuk  merenung. Misalnya, cobalah anda bertanya sudah “berapa ton nasi yang anda telan sejak anda mbrojol di dunia ini”, atau pernakah anda menghitung “sudah berapa ribu liter air yang anda tenggak selama ini”. Atau lakukan hal-hal “gila” lain yang tidak sekedar berdimensi perut belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu masih bujangan saya punya ritual sedikit khusus untuk merayakan hari ulang tahun. Pada hari yang “spesial” itu saya pasti tak masuk kerja. Kadang ijin baik-baik, sering juga bolos begitu saja. Seharian itu saya menghabiskan waktu untuk keluyuran sendirian berkeliling Jakarta dengan bus kota. Kadang saya berhenti di sebuah terminal, mengamati dengan takzim segala kesibukan di sana. Atau saya singgah di tempat-tempat lain, yang sudah lama (atau mendadak) kepingin saya kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa “tinggi”nya saya mencoba berefleksi dengan hidup saya--dengan cara mencoba melihat hal-hal keseharian dari sudut pandang yang saya usahakan lain. Saya mencoba mengambil angle yang “tak biasa”. Singkatnya, hari itu saya kepingin bebas, berada di luar kungkungan sistem dan beban rutinitas yang saban hari “membunuh” saya. Hari ulang tahun adalah kesempatan saya merayakan “kemerdekaan”.Mencoba menjadi “bayi” kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah istri dan kedua anak saya sekarang juga agak sependapat dengan cara saya dalam memandang urusan ini. Mereka sepakat bahwa hari ulang tahun memang “harus dibedakan” dengan hari biasa, tapi membedakannya tidak musti dengan cara bikin acara “makan-makan”. Banyak cara membuat hari yang spesial itu menjadi paling tidak terasa “sedikit beda” dengan hari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ulang tahun saya kemarin dulu misalnya, anak saya membuatkan saya puisi, doa supaya sukses, bahagia, panjang umur, dan harapan supaya buku puisi saya diterima—saat ini saya memang tengah “berjuang” menawarkan naskah puisi saya ke penerbit, dan hasilnya masih tak jelas. Semua  mereka tulis dengan sungguh-sungguh dan tulus di atas kertas buku biasa, dengan pensil biasa, tapi bagi saya justru terasa begitu manis, mengharukan—dan karenanya jadi tak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada tambahannya. Daniel (6), anak saya yang kedua, membelikan saya kaus kaki--dia tahu agaknya saya seorang “pejalan”, dan karenanya butuh kaus kaki, selain juga sepatu yang kuat. Sedang Frida (8), anak pertama saya, membelikan saya sebuah celana dalam—ah dia begitu peduli pada “kemelaratan” saya rupanya, dan tak rela kalau bapaknya sampai mendapat malu karena tak bercelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, celana dalam itu agak kebesaran ukurannya. Tapi tak mengapa. Yang penting sebuah usaha membuat hari ulang tahun menjadi “beda” telah coba mereka lakukan. Meskipun dengan cara yang sangat sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1422724356336801829?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1422724356336801829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1422724356336801829&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1422724356336801829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1422724356336801829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/04/ulang-tahun-kaus-kaki-celana-dalam.html' title='Ulang Tahun, Kaus Kaki, Celana Dalam'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7286145979177434011</id><published>2008-04-06T10:50:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:59:20.728+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Silat'/><title type='text'>Tjerita Silat : Pilih OKT atau Gan KL?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R_hJgOsLoOI/AAAAAAAAAZk/MeoKMCrizSE/s1600-h/tjerita-silat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185975788965175522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R_hJgOsLoOI/AAAAAAAAAZk/MeoKMCrizSE/s320/tjerita-silat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; NAMA besar memang bisa mengecoh. Begitulah baru-baru ini saya merasa terkecoh oleh nama besar Gan KL. Anda penggila tjerita silat Cina jaman dulu (bukan yang Kho Ping Hoo lho) pasti sudah kenal nama ini. Beliaulah—bersama-sama OKT, Gan KH, SD Liong—empu penerjemah (lebih tepat penyadur) cerita silat dari “seberang” yang banyak digilai di sini pada masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, sesudah lama “koma”, tjerita silat seperti mendapat nyawa kembali. Muncul usaha untuk menerbitkan ulang sejumlah besar judul yang dulu pada zamannya menjadi barang yang banyak diburu. Selain karya-karya OKT, buku-buku Gan KL juga kebagian giliran diterbitkan ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya ada beda strategi antara penerbitan buku-buku Gan KL dan OKT. Buku-buku OKT dijajakan ulang dengan tetap mempertahankan bahasa aslinya. Semua elemen yang menempel pada buku aslinya tetap dijaga. Malahan ada yang diterbitkan masih dalam ejaan lama. Rupanya memang ada usaha untuk betul-betul menghadirkan kembali atmosfir “jaman dulu” ke situasi hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak demikian Gan KL. Kecuali gambar sampul, buku-bukunya mengalami edit ulang bahasa yang cukup radikal. Binarto Gani, sang putera Gan KL, yang merintis usaha cetak ulang itu rupanya punya kalkulasi lain. Dia agaknya berpendapat bahwa atmosfir jaman baheula tjerita silat itu pasti tidak akan cocok untuk dibaca generasi hari ini. Maka perlu ada penyesuaian suasana lewat penggunaan gaya bahasa yang diyakini klop dengan suasana sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja itu sah dan baik saja. Hanya bagi saya—yang memang asli produk jadul—buku-buku Gan KL yang “baru” jadi terasa tidak menyengat lagi. Saya membaca Pendekar-Pendekar Negeri Tayli misalnya, dan saya begitu kecewa dan akhirnya sesudah mencapai jilid 11 saya putuskan untuk berhenti membacanya. Padahal masih ada 2 jilid lagi yang sudah kadung saya beli--dan ceritanya sendiri sepertinya memang masih akan cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, ini akhirnya memang masalah selera dan rasa belaka. Saya pun tak ingin mengecilkan usaha Binarto Gani untuk membuat tjerita silat bisa diterima oleh pembaca dari generasi baru. Hanya saya jadi tahu, bahwa saya harus berpaling ke buku-buku OKT guna memuaskan dahaga saya pada buku-buku “antik” ini. Sedang Gan KL versi baru apa boleh buat agaknya memang ditakdirkan bukan untuk saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7286145979177434011?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7286145979177434011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7286145979177434011&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7286145979177434011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7286145979177434011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/04/tjerita-silat-pilih-okt-atau-gan-kl.html' title='Tjerita Silat : Pilih OKT atau Gan KL?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R_hJgOsLoOI/AAAAAAAAAZk/MeoKMCrizSE/s72-c/tjerita-silat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6795245021654344869</id><published>2008-04-01T08:22:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T16:58:48.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MUI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FPI'/><title type='text'>Islam Kok Seram Ya?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R_GO-esLoJI/AAAAAAAAAY8/BPnA5UJ6RK8/s1600-h/islam%20radikal_small.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184081850121560210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R_GO-esLoJI/AAAAAAAAAY8/BPnA5UJ6RK8/s320/islam%2520radikal_small.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; SUDAH lama saya diusik tanya ini. Terakhir, gara-gara heboh film, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fitna&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, rasa terusik saya makin bertambah. Kenapa Islam kok kesannya serem ya? Gampang marah, cepat main ancam, sigap main boikot, dan kalau diperlukan, tangkas juga main serbu, main rusak, diteruskan dengan main bakar ini dan itu, dan lain sebagainya. Saya datang dari latar belakang bukan muslim, jadi maaf kalau saya tak begitu paham dengan semua fenomena itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka bertanya, apakah memang Islam sejatinya mengajar untuk cepat marah dan main hantam begitu, atau ini masalah tafsir belaka? Saya sering berusaha meyakin-yakinkan diri bahwa ini hanya soal tafsir barangkali. Saya katakan kepada diri saya, Islam yang sejati pastilah berwajah sejuk, meski bukan berarti lembek dan mandah saja diperlakukan berat sebelah. Sejauh yang pernah saya dengar dan baca, Rasulullah adalah sosok penyejuk seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya suka pada figur damai dan moderat seperti Gus Dur, Nurcholis Majid, Emha Ainun Najib, Ulil Abshar Abdalla, dan beberapa lainnya. Adakah mereka representasi yang paling mewakili Islam? Oh pasti banyak yang tidak setuju dengan pikiran itu. Bukankah pada masanya dulu almarhum Nurcholis Majid pun dianggap “murtad” karena gagasan sekularisasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil Abshar Abdalla malah pernah ditafwa mati oleh sejumlah ulama Islam di sini, karena pikiran dan omongan-omongannya dianggap ngawur dan menyesatkan. Emha? Ia pun saya kira bukan tokoh yang disukai oleh banyak ulama karena pikiran-pikirannya yang cenderung “nyeni”. Lalu Gus Dur. Ah kita sudah tahu ia banyak “mengoleksi” musuh justru dari kelompok muslim, dan malah meraih simpati dari kelompok yang non muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar nama-nama yang dituduh “liberal” itu kita bisa menemukan barisan muslim yang lain. Sebagian dari mereka menduduki posisi-posisi penting dalam organisasi Islam yang “menentukan” di sini. Mereka, dengan atau minus sorban Arabnya, umumnya berwajah “tunggal” : mematok harga mati untuk banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kadang saya mendapat kesan kelompok “keras” ini menampilkan wajah yang mendua. Misalnya, mereka suka mengeluarkan imbauan agar umat tidak “terpancing”, atau berapologi bahwa Islam menolak kekerasan, tapi mereka cenderung membiarkan kalau kekerasan itu kemudian sungguh terjadi. Setahu saya, MUI umpamanya, tidak pernah mengeluarkan semacam teguran (apalagi dampratan) kepada aksi-aksi anarkistis sepihak yang kerap dipamerkan oleh kelompok &lt;strong&gt;Front Pembela Islam&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membingungkan saya. Sebetulnya mereka (MUI) setuju atau tidak pada aksi premanisme ala FPI itu? Saya, sekali lagi, tidak datang dari latar belakang muslim—meski beberapa teman karib saya adalah muslim semuslimnya—jadi maaf, apabila saya tak kunjung paham dengan fenomena ini. Adakah yang bersedia membantu menjelaskan?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6795245021654344869?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6795245021654344869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6795245021654344869&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6795245021654344869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6795245021654344869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/04/islam-kok-seram-ya.html' title='Islam Kok Seram Ya?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R_GO-esLoJI/AAAAAAAAAY8/BPnA5UJ6RK8/s72-c/islam%2520radikal_small.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3218857938774980983</id><published>2008-03-24T15:57:00.003+07:00</published><updated>2011-09-22T16:57:54.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Kekerasan dalam The Passion of The Christ</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R-dtbusLoHI/AAAAAAAAAYs/lxWG1C3Z-nI/s1600-h/story.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181230219470282866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R-dtbusLoHI/AAAAAAAAAYs/lxWG1C3Z-nI/s320/story.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; FILM The Passion of The Christ besutan Mel Gibson, yang berkisah perihal perjalanan sengsara Yesus Kristus ke tiang salib di bukit tandus Golgota, banyak dipuji orang antara lain karena film itu dinilai “berhasil” menghadirkan kekerasan yang dialami Sang Messias sampai pada tingkat yang menggigilkan sumsum. Tentu saja ada yang ironis di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus diyakini datang ke dunia membawa pesan damai dan kasih. Tetapi sebagaimana dicatat halaman-halaman Kitab Suci pesan itu bukan hanya ditampik, tapi Sang Pembawa Pesan itu bahkan dihinakan. Mel Gibson selaku sutradara—ia seorang katolik--mungkin merasa terpanggil untuk menghadirkan nuansa “kehinaan” itu ke dalam paparan gambar yang begitu “apa adanya”, karena ia mungkin menganggap teks-teks Kitab Suci “kurang berhasil menggambarkan” fragmen ngilu penyaliban itu sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja orang bisa berselisih pendapat perihal ini. Mengapa nian pesan damai dan kasih disampaikan justru dengan begitu banyak adegan brutal dan buas yang memualkan? Goenawan Mohamad adalah salah seorang yang mengkritik porsi adegan kekerasan dalam film itu, seraya menyebutnya sebagai sebentuk “pornografi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan pornografi adalah bahwa ia begitu peduli pada detail, pada rincian. Dalam The Passion of The Christ, rincian demi rincian kekerasan memang terasa begitu penting, atau dipentingkan, mengalahkan yang lainnya. Kecenderungan lain dari pornografi adalah bahwa ia cenderung menghamba pada apa yang diminta publik. Dalam hal ini yang bermain adalah hukum jual beli biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mel Gibson, entah sengaja atau tidak, telah bersekutu dengan pasar, dan meredusir pesan luhur Sang Messias menjadi sekadar komoditas. Tapi banyak penonton yang menangis melihat film itu, sergah anda. Jangan lupa, banyak juga penonton yang terharu melihat Al Pacino terisak-isak mengaku dosa dalam The Godfather part 3, bukan? Komoditas yang baik memang dibekali daya sihir untuk memuaskan khalayak yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja orang boleh tak sepakat dengan pikiran-pikiran pesimistik ini. Tanya saja Mel Gibson. Ia akan dengan tangkas menyanggah semua keberatan atas filmnya. Barangkali dalam bungkus bahasa teologis yang menggetarkan pula.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3218857938774980983?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3218857938774980983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3218857938774980983&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3218857938774980983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3218857938774980983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/03/kekerasan-dalam-passion-of-christ.html' title='Kekerasan dalam The Passion of The Christ'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R-dtbusLoHI/AAAAAAAAAYs/lxWG1C3Z-nI/s72-c/story.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-624256507159804749</id><published>2008-03-17T10:59:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:56:56.026+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demokrasi'/><title type='text'>Orang Buta dan Gajah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PERNAH mendengar anekdot tentang sekelompok orang buta yang bertengkar tentang rupa atau sosok seekor gajah? Dikisahkan dalam anekdot itu orang-orang buta itu kemudian dipersilakan mereka-reka sendiri sosok sang gajah dengan cara meraba-rabanya. Apa yang kemudian terjadi kita sudah bisa menduganya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang buta yang kebagian meraba ekor gajah akan mempunyai gambaran yang sungguh berbeda dengan orang buta lain yang kebagian meraba kaki, belalai, telinga, atau bagian-bagian tubuh gajah lainnya. Singkatnya mereka semua memperoleh gambaran yang jauh dari lengkap apalagi sempurna tentang gajah yang mereka ributkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebetulnya orang-orang buta seperti dalam anekdot di atas. Buku-buku sejarah  dipenuhi oleh cerita orang-orang buta yang sibuk bertengkar tentang “sang gajah”. Untungnya di antara orang-orang buta itu ada juga yang &lt;em&gt;ngeh&lt;/em&gt; bahwa mereka itu hakikatnya “buta”. Kelompok ini sadar betul bahwa karena mereka buta, mereka tidak akan pernah berhasil mendapatkan gambaran sosok si gajah secara utuh dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mereka suka saling bertukar pendapat dengan sesama orang buta lainnya untuk lebih memperkecil margin kekeliruan atau kekurang-lengkapan gambaran sang gajah yang mereka miliki. Kita menyebut mereka ini kelompok moderat. Mereka suka berpikir dan berperilaku lintas batas, dan ogah terkurung dalam sekat-sekat sempit yang hanya membikin kita semakin kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang jumlah mereka kelewat sedikit. Jauh lebih banyak gerombolan orang buta yang dalam kebutaannya malah suka petantang-petenteng, merasa paling tahu dan benar sendiri. Padahal mereka mungkin hanya pernah sempat memegang kuping sang gajah, atau malahan buntutnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-624256507159804749?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/624256507159804749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=624256507159804749&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/624256507159804749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/624256507159804749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/03/orang-buta-dan-gajah.html' title='Orang Buta dan Gajah'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8944892196138283765</id><published>2008-03-12T15:31:00.007+07:00</published><updated>2011-09-22T16:56:26.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Suci'/><title type='text'>Buku The Secret : Ajaran Sesat Tersamar?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R9eWfWGjyYI/AAAAAAAAAYk/qZmFuKM16gI/s1600-h/secret-book.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176771761938876802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R9eWfWGjyYI/AAAAAAAAAYk/qZmFuKM16gI/s320/secret-book.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; BUKU laris &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The Secret&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; membuat seorang kawan gelisah. Ia, seorang katolik yang taat, mendatangi saya dan mewanti-wanti bahwa buku itu menawarkan pandangan sesat yang sangat tersamar. Buku itu dengan cara yang cerdik, katanya, menggiring kita untuk akhirnya “menjauhi Dia”, seraya bersandar sepenuhnya pada kekuatan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah membaca buku itu, dan menurut saya itu salah satu buku paling inspiratif yang pernah saya baca. Tentang pikiran sang kawan saya tak sepenuhnya sependapat. Saya katakan buku itu bisa saja membuat pembacanya terpeleset, tapi spirit buku itu sendiri sebetulnya, menurut saya, tidak menyuruh orang menjadi sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Secret bertutur tentang adanya hukum tarik-menarik dalam semesta. Menurut hukum itu alam semesta ini dengan cara yang tak kita pahami mampu menghadirkan hal-hal yang kita pikirkan menjadi nyata. Pikiran yang positif akan menghadirkan hal-hal positif : orang-orang baik, teman-teman baik, kejadian-kejadian baik, datang seperti kita panggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebaliknya pikiran negatif bakal menghadirkan hal-hal negatif dalam hidup kita. Penuhilah benak anda dengan pikiran negatif (anda berutang banyak, tak disukai, masa depan suram, tak bahagia), bayangkanlah itu setiap hari, dengan intens, bertahun-tahun, maka, kata the Secret, percayalah hidup anda akan seperti itu : berutang di sana-sini, dibenci teman, kejadian-kejadian konyol seperti bergiliran mengeroyok anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum tarik menarik ini bekerja tanpa minta persetujuan. Ia ada, bekerja di sana, diam-diam, tanpa setahu kita, seperti hukum gravitasi, atau hukum kematian, tetap bekerja—tak peduli anda sukses atau gagal, tak penting anda setuju atau tidak. Kita, kata The Secret, adalah hasil bentukan dari hal-hal yang kita pikirkan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ternyata hidup kita hari ini tidak menyenangkan, maka menurut logika hukum tarik menarik, itu karena selama ini kita—disadari atau tidak--berpikir dengan cara salah. Dan sebaliknya, mereka yang hari ini sukses—disadari atau tidak-- selama ini telah menerapkan cara berpikir benar, atau lebih tepat, positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca The Secret secara sembrono bisa mengantar pada pemahaman keliru : hidup sepertinya mudah, dan kehilangan unsur misterinya. Kita tinggal duduk-duduk, berpikir yang “baik-baik”, maka hidup kita akan “jadi baik”. Itu adalah tafsiran paling kasar dan bodoh terhadap The Secret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan yang cermat (dan tanpa prasangka) akan membawa ke tafsiran berbeda. Misalnya, kalau kita kepingin kaya, kita tidak cukup hanya duduk melamun “menjadi kaya”. Ada serangkaian tindakan, action, yang harus dibuat. Rangkaian tindakan itu pada saatnya akan menghadirkan kejadian dan orang-orang. Dan orang-orang itu pada saatnya mungkin saja membukakan peluang yang bisa kita coba rebut untuk meraih sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Secret menjelaskan itu dengan cukup rinci. Satu hal yang berulang ditekankan adalah bahwa pada awalnya, sebelum yang lain-lainnya, adalah “pikiran”. Pikiran adalah kunci awalnya. Statemen bahwa kita akan menjadi apa yang tiap hari kita bayangkan atau pikirkan sangat jelas, mudah dipahami, dan tak perlu mengundang polemik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lantas di mana letak bahaya “sesat”nya The Secret? Menurut saya, The Secret—seperti juga feng shui—adalah tawaran untuk memahami “Dia”, dan banyak hal lain dalam hidup kita, dengan cara berbeda. Di dalam feng shui (dan The Secret) menurut saya, “Dia”, Tuhan, Allah yang kita sembah itu, tetap ada, hadir, dan terlibat dengan setiap kejadian, hanya saja tak disebut secara eksplisit dalam bahasa agama yang kita kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana “Dia” terdefinisikan dalam rumusan dan kosa kata yang lain samasekali : chi (dalam feng shui), ladang energi atau medan energi (menurut The Secret dan fisika kuantum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak kaget kalau pikiran semacam ini sulit diterima mereka yang terbiasa berpikir lurus dan tertib dalam kaidah-kaidah liturgis yang sudah mapan dan telanjur diakrabinya. Mereka ini suka berpikir bahwa segala sesuatunya memang “pasti”, dan bisa dirumus-rumuskan dengan eksplisit pula.. padahal bukankah Kitab Suci sendiri jelas-jelas menyebut “Dia” adalah “terang yang tak terhampiri”, dalam salah satu ayatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setara dengan ayat itu, ribuan tahun sebelum Kristus, kitab Tao sudah menulis bahwa “kebenaran yang bisa dirumuskan dengan kata, bukanlah kebenaran sejati”. Artinya jelas sekali, Sang Kebenaran Sejati, karena itu berada di luar jangkauan bahasa (dan akal) manusia yang cupet tapi suka sok tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Eddy. Kristiyanto, OFM, dalam pengantar bukunya “Selilit Sang Nabi”—yang mengupas perihal keberadaan bidah atau sekte-sekte yang dianggap sesat--menulis bahwa “hidup kita berada dalam &lt;em&gt;tegangan&lt;/em&gt; &lt;em&gt;sehat&lt;/em&gt; antara absolutisme dan relativisme”, karenanya “tiada seorang pun atau lembaga mana pun boleh mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemilik, pembela, dan penafsir kebenaran”. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8944892196138283765?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8944892196138283765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8944892196138283765&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8944892196138283765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8944892196138283765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/03/buku-secret-aajaran-sesat-tersamar.html' title='Buku The Secret : Ajaran Sesat Tersamar?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R9eWfWGjyYI/AAAAAAAAAYk/qZmFuKM16gI/s72-c/secret-book.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-427910174276189983</id><published>2008-02-28T09:49:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:55:20.305+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Bercintalah Setiap Hari</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SEORANG pastor di Florida sana konon merasa begitu prihatin dengan tingkat perceraian yang terus meninggi--begitulah saya baca sebuah warta singkat di &lt;strong&gt;&lt;a href="http://korantempo.com/"&gt;Koran Tempo&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, 26 Februari 2008 kemarin lusa. Namanya juga orang saleh, kalau tidak sembahyang kerjanya ya memberi nasehat. Dan inilah nasehatnya untuk “mengatasi” tingkat perceraian yang terus meninggi itu : “bercintalah setiap hari”, katanya, takzim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu mahfum apa yang dimaksud dengan “bercinta” dalam petuah bapak pastor di atas, bukan? Nasehat itu dijamin akan membuat geleng-geleng mereka yang sudah berkeluarga, atau setidaknya pernah punya pengalaman “bercinta”. Bapak pastor kita rupanya tidak bisa membayangkan bahwa “bercinta” itu hakikatnya lebih berat dari pada berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoa setiap hari rasanya banyak dari kita yang masih sanggup melakoninya, biarpun rasanya kadang bete banget. Tapi “bercinta” saban hari, siapa tahan? Ahya, sudahlah. Nasehat itu setidaknya sudah membuktikan bahwa bapak pastor kita di Florida ini betul-betul mahluk yang saleh, dan ehm, karenanya jadi “awam” sekali dalam urusan beginian.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-427910174276189983?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/427910174276189983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=427910174276189983&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/427910174276189983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/427910174276189983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/02/bercintalah-setiap-hari.html' title='Bercintalah Setiap Hari'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5131907722294591694</id><published>2008-02-22T10:10:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:53:55.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>The Story of "Seng Plaza"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KAMI menyebutnya “Seng Plaza”, lokasinya persis di pinggir sebuah jalan utama ibukota. Anda tak akan menemukan “plaza” yang satu ini dalam buku panduan wisata manapun. Seng Plaza memang hanya dikenal di kalangan yang sangat terbatas. Di tempat itulah biasanya kami melakukan ritual makan siang kami. Bergerombol atau sendirian, berguyon, sesekali berteriak melepas stres sebentar, sembari larak-lirik cuci mata sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersedia menu yang “lumayan”, tapi memang sangat “proletar” : gado-gado, sate ayam, pecel lele, aneka soto, gudeg, nasi goreng, mi goreng, dan beberapa jenis lagi. Untuk minum kalau soft drink biasa aja selalu ready. Kalau bosen, ada juga dijual aneka jus. Lumayan rasanya. Cukuplah menu-menu itu untuk digilir seminggu. Dan harganya cocok untuk kantong karyawan kecil macam kami yang serba ngepas, di zaman yang kayaknya tambah ngenes ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Seng Plaza. Oh ya, kenapa sampai disebut “Seng Plaza”, tidak lain karena tempat itu dikelilingi seng, juga beratapkan seng. Semuanya seng butut. Jauh sekali dari kesan artistik, malah sedikit kumuh, dan sebetulnya rada jorok juga. Memang sejatinya Seng Plaza hanyalah sebuah bedeng darurat. Jadi nama yang betul seharusnya “Warung Bedeng”, atau cukup disebut bedeng saja. Tapi mengikuti “selera Jakarta” kami gantilah namanya, meskipun pasti terdengar jadi ganjil di kuping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, kami tak bermaksud bergenit-genit. Saya sendiri melihat ini sebagai cara kami menertawakan nasib, sekalian menyindir kecenderungan, konon, “metropolis” di sekitar kami. Ibukota yang ngakunya modern tapi kebanjiran saban tahun.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5131907722294591694?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5131907722294591694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5131907722294591694&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5131907722294591694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5131907722294591694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/02/story-of-seng-plaza.html' title='The Story of &quot;Seng Plaza&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5010116808697500749</id><published>2008-02-20T08:13:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:53:20.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Syarat Artikel Blog</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;BEBERAPA bloger senior sering memberi nasehat bahwa untuk konsumsi blog tulisan harus memenuhi antara lain dua syarat berikut. Pertama, hindari tulisan yang berpanjang-panjang. Sebab diyakini tak akan ada orang yang mau membuang-buang banyak waktu membaca tulisan yang panjang lebar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku membaca di internet berbeda dengan kebiasaan membaca koran. Orang maunya yang ringkas, karena setiap waktu yang dipakai dalam kegiatan internet adalah uang. Makin lama waktu kita nongkrong di depan komputer, makin banyak duit atau ongkosnya. Beda dengan koran, mau dibaca berapa lama pun harga korannya ya tetap sebesar waktu koran itu dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hindari bahasa yang sok resmi, apalagi “keriting”. Untuk blog, artikel yang dianggap baik adalah yang bahasanya nyantai, renyah dan gampang dikunyah. Syarat kedua ini melengkapi syarat pertama. Jadi kalau mau dirumuskan artikel yang “cocok” untuk blog adalah artikel yang ringkas, padat, tapi enteng cara penyampaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga setuju dengan anjuran “ringkas-padat-renyah” itu. Tapi kadang tidak mudah juga menaatinya. Ada tulisan yang memang harus dibuat “agak panjang”, dan “agak tidak mudah dikunyah”nya. Dan ternyata tidak selalu tulisan yang melanggar pakem “ringkas-padat-renyah” itu dijauhi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah lihat blog &lt;a href="http://caping.wordpress.com/"&gt;&lt;strong&gt;Catatan Pinggirnya Goenawan Mohamad (GM).&lt;/strong&gt; &lt;/a&gt;Artikel-artikel dalam blog itu sangat panjang untuk ukuran artikel blog umumnya (karena asalnya memang dibuat bukan untuk blog), dan bahasanya jauh dari renyah. Tapi pengunjungnya terus saja rame. Saya kira karena tulisan panjang dan “keriting” pun bisa nikmat dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sangat tergantung dari bagaimana artikel itu diolah. GM, penulis catatan pinggir itu adalah seorang koki yang sangat piawai meramu tulisannya. Jadi kalau begitu masalahnya kembali ke rumus lama juga. Bukan masalah panjang pendek tulisannya, bukan juga apa yang ditulis, tapi “bagaimana” tulisan itu dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi? Jangan takut sesekali bereksperimen melanggar aturan “ringkas-padat-renyah” itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5010116808697500749?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5010116808697500749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5010116808697500749&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5010116808697500749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5010116808697500749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/02/syarat-artikel-blog.html' title='Syarat Artikel Blog'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2580347853054492212</id><published>2008-02-15T17:16:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T16:53:00.267+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feng Shui'/><title type='text'>Feng Shui Bukan Klenik, Percayalah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;FENG SHUI sering disalahtafsirkan. Kelompok agamis senang menyebutnya “sesat”, seraya menuduhnya ajaran setan, menduakan Tuhan, dan lain-lain. Sebaliknya mereka yang mengaku “rasional” menganggapnya sebagai omong kosong yang kagak ada logikanya. Betulkah begitu? Saya bukan pakar urusan ini, tapi perkenankanlah nimbrung bicara sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, feng shui berarti “air” dan “angin”. Sebetulnya yang dituju dengan dua kata itu adalah semesta, alam ini. Jadi feng shui adalah ilmu yang mengamati alam atau semesta ini. Dalam pandangan ilmu feng shui alam ini tidak statis. Alam ini menyimpan energi. Ia hidup. Ada daya yang terus bergerak, mengalir, sering bertubrukan, dan melahirkan berbagai fenomena alam yang sebagian bisa ditangkap indera, tapi sebagian besar lainnya gagal dideteksi, tapi bisa dirasakan efeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi (atau chi dalam istilah sononya) memiliki karakter. Ada yang sifatnya mirip kayu, logam, tanah, air, dan api. Harmoni dalam alam ini akan tercapai manakala tercapai keseimbangan antara kelima unsur itu. Sebaliknya disharmoni alam, biasanya berupa timbulnya bencana, disebabkan terjadinya gangguan pada keseimbangan kelima unsur chi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, juga memiliki komposisi energi yang sama dengan alam. Kelima varian sifat chi (air, api, dan lainnya itu) juga ada pada manusia. Ada orang yang unsur apinya dominan, dan yang lain varian tanahnya mendominasi. Ini menjelaskan mengapa manusia hadir dangan tabiat dan perilaku berbeda-beda, meski berasal dari rahim yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya juga sering disebut bahwa manusia adalah “jagat kecil”, sebagai lawan dari “jagat besar”, semesta ini. Rasa bahagia, damai, akan tercapai apabila terjadi keselarasan lima unsur chi dalam diri manusia yang bersangkutan. Stres, depresi sebaliknya adalah pertanda hilangnya atau terganggunya keselarasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, “jagat kecil” dan “jagat besar” ini ternyata bisa saling mempengaruhi. Lihat saja misalnya, kondisi cuaca (alam) yang ekstrim ikut mempengaruhi manusia, baik secara fisik maupun psikis. Cuaca hujan dan mendung misalnya cenderung membuat kita murung, selain juga berpotensi pada terjadinya gangguan fisik—sebutlah flu atau pilek. Cuaca panas membuat kita gerah dan gampang naik pitam, dan banyak contoh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, “jagat kecil”, sang manusia itu, juga bisa mempengaruhi “jagat besar”, atau semesta. Tahukah anda mengapa para motivator sering menganjurkan supaya kita berpikiran positif? Karena berpikir positif (berdoa juga contoh berpkir positif) sebetulnya adalah cara menyelaraskan kelima elemen chi dalam diri kita. Saat keselarasan itu bisa dicapai, suasana hati kita pun berada dalam mood yang prima untuk meladeni apa saja tantangan yang ada. Hidup pun sekonyong terasa berbeda, jadi lebih indah, minimal lebih ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan feng shui situasi itu adalah pertanda telah tercapainya sinergi yang baik antara kelima unsur chi dalam “jagat kecil”, si manusia, dengan kelima unsur chi dalam “jagat besar”. Ini penjelasan yang sangat logis untuk dipahami. Tak terasa samasekali ada bau klenik di sini. Dan itulah feng shui sebetulnya, secara kasar dan sangat sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2580347853054492212?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2580347853054492212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2580347853054492212&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2580347853054492212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2580347853054492212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/02/feng-shui-bukan-klenik-percayalah.html' title='Feng Shui Bukan Klenik, Percayalah'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7821463974589977636</id><published>2008-02-12T10:37:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:52:32.149+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demokrasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Perlukah Tuhan Dibela?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;GUS DUR dulu pernah menulis buku yang diberi judul “Tuhan tak Perlu Dibela”. Saya tak pernah membaca buku itu sebetulnya, hanya melihat covernya sepintas. Tapi karena penulisnya &lt;strong&gt;&lt;a href="http://gusdur.net/"&gt;Gus Dur&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, sosok yang kita kenal penuh dengan kelokan dan kejutan, dan karena beliau dikenal juga sebagai tokoh yang “moderat”, yang tak suka main mutlak-mutlakan, sepertinya kita bisa sedikit mereka-reka maksud bukunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Gus Dur hanya kepingin ngomong bahwa dalam usaha kita “membela” Tuhan, tidak usahlah kita sampai jatuh pada ekstrimitas yang hanya membuat masalahnya malah jadi tidak karuan. Sebab hakikatnya Tuhan memang tidak perlu pembelaan apa pun dari kita yang hanya debu di kakiNya ini. Dia itu Maha, tak kurang apa jua, tak butuh apa pun, maka apa toh sebetulnya yang bisa kita banggakan padaNya? Menjadi satpamNya atau centengNya? Rasanya kok tidak ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terlihat juga bahwa dalam usaha “perjuangan” kita “membela Tuhan” sebetulnya yang kita lakukan hakikatnya adalah membela ego kita sendiri. Kita merasa terganggu ketika ada orang lain atau kelompok lain mempertanyakan, atau bahkan menyerang apa yang menjadi keyakinan kita—yang sebetulnya, kalau kita berani jujur, belum tentu bener lho di mataNya. Sebab sejauh menyangkut keberadaanNya, memang tak siapa pun (ulangi, tak siapa pun) berhak mengklaim tahu dan paham tentangNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kekerdilan akal manusiawi sering membuat kita jatuh pada pemutlakan sepihak, pada penghakiman pribadi atau golongan yang semena-mena. Kita sering jadi begitu jumawa dengan keyakinan itu, dan lalu “menajiskan” kelompok lain begitu saja. Kita berang pada keyakinan pihak lain itu, karena kita merasa diusik dari kenyamanan tidur dan mimpi kita. Kita, sering tak cukup siap menerima bahwa kenyataan ternyata berjarak—dan seringkali jaraknya demikian jauh—dari yang selama ini kita impikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu menjadi menariklah melihat bagaimana heboh lukisan Last Supper yang diparodikan majalah Tempo telah diselesaikan. Di sana tak terlihat gerombolan yang marah, yang mengacung-acungkan clurit atau pedang samurai lokal seraya menyeru-nyeru namaNya, dan lalu dengan semangat “jihad” merusak kantor orang, yang artinya menjungkirkan pundi-pundi rizki orang lain. Juga tak ada juga fatwa mati untuk siapa pun. Tak ada pastor atau uskup yang merasa ditempeleng. Tak ada pemimpin redaksi yang merasa terancam nyawanya. Semuanya diselesaikan dengan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa itu agaknya paham betul, bahwa kekerasan bukan jalan keluar yang elok. Mereka pun tampaknya sadar bahwa kesalahpahaman jamak terjadi dalam keserbamajemukan. Perbedaan tafsir menjadi niscaya, tak terhindarkan. Mereka, majalah Tempo di satu pihak dan Gereja Katolik di pihak lainnya, secara tersirat agaknya juga mengakui bahwa tak satu pun di antara mereka berhak memonopoli persepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak siapa pun di antara mereka berhak merasa benar sepenuhnya, atau sebaliknya menganggap pihak lain salah sepenuhnya. Alangkah indahnya, kalau kita bisa hidup dalam adab yang demikian.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7821463974589977636?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7821463974589977636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7821463974589977636&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7821463974589977636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7821463974589977636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/02/perlukah-tuhan-dibela.html' title='Perlukah Tuhan Dibela?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5255727833019413422</id><published>2008-02-06T15:38:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:51:53.316+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Mengultimatum Tuhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SAYA punya teman yang mengaku lagi ngambek sama Tuhan. Ia ngambek, karena merasa permohonan doanya tidak pernah dikabulkan, padahal menurutnya permohonan doanya itu “baik”, dan tidak aneh-aneh. Karena itu ia sekarang melakukan “boikot”, dengan cara berhenti berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu sekali kelakuannya itu. Karena hakikatnya dialah—atau kitalah--yang memerlukan kehadiran Tuhan, bukan sebaliknya. Jadi kalau dia ngambek berdoa, saya bayangkan Tuhan di arasyNya sana mungkin mesem-mesem geli saja melihat segala polahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, lewat Kitab Suci, memang menjanjikan pertolongan. Ada ayat indah dalam Perjanjian Lama yang kalau tak keliru berkata “TanganNya tidak kurang panjang untuk menolong”. Tapi “beliau” memang tidak pernah menjelaskan dengan cara bagaimana, atau bilamana, pertolongan itu akan diulurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita maunya pertolongan itu terjadi secara instan, seketika. Misalnya kalau malam ini memohon, maka besok sore, atau lusa paling telat, urusan sudah beres. Kalau itu tak terjadi kita pun merasa punya hak untuk kecewa, lantas ngambek. Itu sebabnya  sebagian dari kita yang tak bisa bersabar, akhirnya berpaling meminta tolong dari sumber lain, yang bisa menjanjikan jawaban dan solusi yang “lebih jelas” dan “segera”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering tanpa sadar memperlakukan “beliau” sebagai “pesuruh” yang mesti menuruti apa maunya kita. Padahal dalam doa Bapa Kami—sebuah rumusan doa yang sangat indah dari tradisi Nasrani—jelas disebut di sana “jadilah kehendakMu”, dan bukan sekali-kali “jadilah Kehendak-ku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bukan “ku”, melainkan “Mu”. Sangat jelas, tapi memang bukan ikhtiar iman yang mudah mengubah “ku” menjadi “Mu”, dengan “M” itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5255727833019413422?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5255727833019413422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5255727833019413422&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5255727833019413422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5255727833019413422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/02/mengultimatum-tuhan.html' title='Mengultimatum Tuhan'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4105055271697117355</id><published>2008-01-29T16:06:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:51:15.515+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orde Baru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suharto'/><title type='text'>Pak Harto Akhirnya ,,,</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R57uY7jnFBI/AAAAAAAAAXE/jmi0HHYt96A/s1600-h/suharto.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160824335084491794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R57uY7jnFBI/AAAAAAAAAXE/jmi0HHYt96A/s320/suharto.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; PAK HARTO akhirnya jadi juga mangkat. Ramalan Mama Lauren yang mengatakan “kita akan kehilangan seorang negarawan besar yang disegani kawan dan ditakuti lawan” (Intisari, Desember 2007) ternyata akurat. Sementara omongan sejumlah paranormal lain yang bilang bahwa beliau “masih akan bertahan lama” karena diyakini memiliki sejumlah “simpanan” sakti yang akan menjaganya, ternyata ngawur. Ketahuan deh mana paranormal yang betul jago, dan mana yang “bodo”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga ngawur adalah analisis teman saya bang Asbun. Ia menaruh curiga bahwa mantan bos Orde Baru itu tidak betul-betul “gawat” keadaannya. Justru ia percaya ada semacam “muslihat” politik tingkat tinggi di belakang semua hiruk-pikuk pemberitaan geringnya “sang babe”, yang goalnya adalah mendapatkan pengampunan politik tanpa peradilan. Dan goal itu sepertinya memang tidak jauh lagi, karena koor “maaf” kepada sang tiran dari hari ke hari berkumandang semakin nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata dugaan serem itu terpatahkan. Kemarin Ahad, 27 Januari 2008, “berhala” Orde Baru yang selama lebih dari 30 tahun disembah dan ditakuti itu, akhirnya tumbang. Kabar mangkatnya pak Harto cukup mengejutkan, karena beberapa hari sebelumnya disebut-sebut kesehatan beliau cenderung terus “membaik” dan malah sudah akan dibolehkan pulang ke Cendana—bukan “pulang” ke alam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan juga, ternyata cukup banyak khalayak yang mempertontonkan simpatinya kepada beliau, antara lain dengan cara mengelu-elukan iring-iringan prosesi ke pamakamannya. Tapi aktivis Fajroel Rahman mengatakan bahwa kerumunan itu lebih banyak terdiri dari wajah anonim yang datang ke jalan lebih dengan niat kepingin nonton keramaian, ketimbang memberikan rasa hormatnya. Mungkin Fajroel Rahman benar, karena jumlah warga yang bersedia repot memasang bendera setengah tiang juga sedikit (Koran Tempo, 29 Januari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi tak punya penilaian khusus tentang pak Harto. Saya sepakat dia memang seorang yang “besar”. Maksudnya, besar jasanya, dan besar juga dosa-dosanya. Jadi, atas jasa-jasanya yang memang besar itu marilah kita mengenangnya seraya kita haturkan terima kasih untuk itu. Sedang dosa-dosanya, ya diberesin dong lewat jalur hukum yang tersedia. Dasar hukumnya kan jelas ada dan sahih : TAP MPR 1998 (nomornya lupa). Simpel kan? Gitu aja kok repot sih.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4105055271697117355?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4105055271697117355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4105055271697117355&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4105055271697117355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4105055271697117355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/01/pak-harto-akhirnya.html' title='Pak Harto Akhirnya ,,,'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R57uY7jnFBI/AAAAAAAAAXE/jmi0HHYt96A/s72-c/suharto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8188282843533236863</id><published>2008-01-25T10:06:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:50:32.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitab Suci'/><title type='text'>Pada Mulanya adalah Ayam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R5lS2LjnE8I/AAAAAAAAAWc/69Xipwakc1E/s1600-h/ayam-telur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159245938898179010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R5lS2LjnE8I/AAAAAAAAAWc/69Xipwakc1E/s320/ayam-telur.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; APAKAH anda termasuk orang yang selama ini dibingungkan dan dibikin penasaran oleh pertanyaan “mana lebih dulu, ayam atau telur”? Saya termasuk yang penasaran dengan pertanyaan itu. Tapi belum lama ini saya merasa sudah “mendapatkan” jawaban yang kiranya memadai atas pertanyaan “gawat” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang biasanya terjebak pada alur logika pertanyaan itu, dan mengandalkan juga logika untuk memecahkan pertanyaan tersebut. Hasilnya adalah kebuntuan. Itulah nasib orang-orang yang begitu percaya bahwa hidup ini semata permainan logika dan rasio belaka. Kalau tak bisa dikalkulasi secara logis lalu dianggap nonsens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, “mana lebih dulu, ayam atau telus”? Jawabnya adalah “ayam”. Ini bukan asal jawaban lho, tapi punya dasar teologis yang sahih (cailah!). Kalau tak percaya periksalah salah satu perikop dalam Kitab Kejadian Perjanjian Lama. Biarlah saya kutipkan itu secara bebas di luar kepala. Di sana jelas sekali tertulis bahwa “… pada hari kesekian Allah menciptakan hewan bla bla bla dst”.Perhatikan, tidak dikatakan di sana Allah menciptakan “telur”, tetapi “hewan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, bagi saya masalahnya clear sudah. Sangat sederhana ternyata. Tentu saja, anda para pemuja logika—yang biasanya juga sangat menganggap enteng otoritas Kitab Suci—akan menganggap ini jawaban ngawur dan asal. Terserah saja. Hak anda untuk bersikap begitu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8188282843533236863?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8188282843533236863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8188282843533236863&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8188282843533236863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8188282843533236863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/01/pada-mulanya-adalah-ayam.html' title='Pada Mulanya adalah Ayam'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R5lS2LjnE8I/AAAAAAAAAWc/69Xipwakc1E/s72-c/ayam-telur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5836105973054092256</id><published>2008-01-17T11:16:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:48:39.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orde Baru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suharto'/><title type='text'>Betulkah Suharto (Maaf) Sekarat?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R47XtQlPXhI/AAAAAAAAAWU/W6kg-pMxbXQ/s1600-h/suharto.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156295795931045394" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R47XtQlPXhI/AAAAAAAAAWU/W6kg-pMxbXQ/s320/suharto.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; TEMAN saya, bang Asbun, mengajukan pertanyaan “gila” itu kemarin sore. “Cobalah pikir”, katanya dengan gaya yang dibikin polemis, “Betul nggak sih sebetulnya Pak Harto sekarat?” Karena tahu siapa dia saya tak menanggapi, tapi saya yakin dia akan terus nyerocos. Dan betul. Dia ngomong lagi, dengan suara yang sekarang agak dipelankan, soalnya yang bisa masuk ke dalam kamar sang ‘babe’ kan hanya orang-orang tertentu saja. Sangat ketat seleksinya. Jadi? Ya, karena itu kita kan jadi nggak tahu apa yang sebetulnya terjadi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahan juga dan coba membantah. Tapi mosok dokter-dokter terhormat itu bisa-bisanya bohong? Atas pertanyaan saya itu, bang Asbun melempar senyum penuh arti sebelum menjawab. You selalu begitu. You naif you, katanya menirukan gaya bicara Meriam Belina dalam sebuah sinetron. Ini politik bung, you tahu kan dalam politik semua bisa dibuat, bisa diaturlah. Apalagi ini menyangkut urusan orang yang pernah begitu “maha kuasa” di sini. You jangan lupa you, si ‘babe’ kita ini masih punya segalanya—biarpun kelihatannya sudah bangkrut begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kata saya, tapi apa dong “goal” atau target yang mau diuber dengan sandiwara super mahal—dan riskan ini? Bang Asbun kelihatan heran dengan pertanyaan saya. Ya jelas “pengampunan” dong tujuannya. Coba kita lihat sekarang dampak psikologis yang sudah berhasil dihimpun gara-gara televisi secara maraton menayangkan kabar sekaratnya pak Harto. Simpati mengalir kayak banjir. Bahkan ada sekelompok WTS di Wonogiri ikut membuat acara doa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab apa? Sebab mereka tahu kita ini bangsa “tempe”, katanya sedikit emosional. Maksudnya kita ini suka gampang berkasihan pada sosok yang kelihatan “tidak berdaya”, dan teraniaya You tahu, mereka manfaatkan kondisi psikologis kita yang lembek itu. Hasilnya tidak kelewat mengecewakan, bukan? Bahkan orang nomor dua kita sudah buru-buru—seolah takut keduluan—kasih sinyal ke arah itu--pengampunan gratis bung, tanpa proses peradilan lagi. Apa nggak spektakuler tuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya manggut-manggur. Bener-bener gila kalau skenario teman saya ini terjadi. Tapi saya masih tetap sangsi karena merasa ada banyak “bolong” pada teorinya yang aneh itu. Begini saja, kata bang Asbun lagi, kita taruhan saja. Kita tunggu sampai dua minggu lagi, kalau betul pak Harto mangkat, berarti teori saya salah. Tapi kalau lewat dua minggu kondisi beliau begitu-begitu saja, atau malah membaik, itu artinya teori saya mungkin saja benar. Bagaimana, Bbrani nggak taruhan? Saya cepat menggeleng. Ogah ah, masak nyawa orang dibikin taruhan. Emangnya apaan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5836105973054092256?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5836105973054092256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5836105973054092256&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5836105973054092256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5836105973054092256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/01/betulkah-suharto-maaf-sekarat.html' title='Betulkah Suharto (Maaf) Sekarat?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R47XtQlPXhI/AAAAAAAAAWU/W6kg-pMxbXQ/s72-c/suharto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8846757853831476610</id><published>2008-01-15T10:59:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:48:02.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>"Judul" Itu Urusan Belakangan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;DALAM artikelnya, &lt;a href="http://blog.tempointeraktif.com/?p=202"&gt;“Bagaimana Membuat Posting yang Nendang?”, &lt;/a&gt;mas &lt;strong&gt;&lt;a href="http://kolomblog.wordpress.com/"&gt;Wicaksono&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; antara lain menulis bahwa “judul” tulisan sebaiknya sudah ditentukan dari awal, walaupun tulisannya sendiri belum final, malahan baru dimulai. Tujuannya adalah supaya pikiran kita terfokus dan tulisan kita tidak melantur kesana-kemari. Saya agak kurang sependapat dengan anjuran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya judul memang penting, tapi kepentingannya terletak pada kegunaannya sebagai pemancing perhatian pembaca. Tapi itu nanti, sesudah tulisan itu rampung.  Selama proses penulisan berlangsung, justru judul hanya nomor dua, mungkin malah nomor sebelas—gagasanlah yang lebih penting pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi gagasan awal yang memicu lahirnya sebuah tulisan mengalami perkembangan yang tak terduga selama proses penulisan. Sering juga terjadi sebuah tulisan berakhir pada ending yang tak kita duga sebelumnya. Mungkin ending yang membuat kita terkaget-kaget sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah ada orang yang bilang bahwa menulis itu juga sebuah proses “pencarian” dan “penemuan”. Tapi proses pencarian dan penemuan itu mensyaratkan keberanian. Mematok judul pada awal menulis dengan maksud supaya kita “setia” pada plot mati yang kita bikin pagi-pagi, tidak akan membawa kita pada surprise-surprise yang mengagetkan di ujung tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, lupakan dulu judul, kembalilah pada gagasan awal, tetapi biarkan ia menemukan sendiri jalannya. Jangan penjarakan gagasan anda dalam kerangkeng bernama “judul”. Tak usah cemas kalau ia lalu menyeret anda keluyuran. Kalau sudah keterlaluan anda tak pernah terlambat menyetopnya, bukan?. Jadi santai dan nikmati saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8846757853831476610?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8846757853831476610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8846757853831476610&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8846757853831476610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8846757853831476610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/01/judul-itu-urusan-belakangan.html' title='&quot;Judul&quot; Itu Urusan Belakangan'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-6957698247570472119</id><published>2008-01-10T12:15:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:47:26.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Ngeblog Itu Kerjaan "Orang Gila"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R4WqoglPXfI/AAAAAAAAAWA/bZmo0EJtizw/s1600-h/i_love_blogging.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153712961513020914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R4WqoglPXfI/AAAAAAAAAWA/bZmo0EJtizw/s320/i_love_blogging.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; NGEBLOG atau blogging mungkin tak salah disebut pekerjaan “orang gila”. Mengapa begitu? Ngeblog, jika kita berniat melakoninya dengan serius, menuntut napas panjang. Kalau diibaratkan dengan adu lari, ngeblog adalah lomba lari marathon. Blog yang baik adalah blog yang secara rutin diupdate--minimal seminggu sekalilah Tapi blog yang baik menuntut konten yang juga “bermutu”, jadi tidak asal update saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, pemilik blog dituntut terus belajar, terus pasang mata dan buka kuping, supaya selalu mendapatkan bahan tulisan yang fresh dan terjaga mutunya. Dan bahan yang “bermutu” itu baru akan jadi bernilai kalau kita juga tahu cara menyajikannya. Jadi di sini kelihaian menulis menjadi taruhan. Lagi pula kita dituntut bergerak cepat. Sebab kalau bahan bagus itu telat disajikan, dia hanya akan tinggal jadi barang basi yang tidak ditengok lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling “gila” adalah kenyataan bahwa, untuk segala kerepotan yang menjadi syarat mutlak itu ternyata tidak ada duitnya samasekali, alias kita tidak dapat apa pun. Paling-paling hanya kepuasan batinlah yang kita dapatkan dari segala jerih payah itu. Biasanya ada semacam rasa lega apabila kita berhasil mempublish sebuah artikel baru. Bolehlah  itu kita sebut semacam “orgasme” dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman serba instan, di mana setiap hal diukur dari "manfaatnya" dan duit menjadi “berhala tunggal” dan parameter satu-satunya, teranglahlah kegiatan ngeblog--bagi sebagian orang-- menjadi terlihat sebagai sesuatu yang absurd bahkan untuk sekadar dibayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada “bonus” tambahan—meskipun tidak selalu terjadi, dan mungkin tidak penting buat sebagian orang. Kegiatan ngeblog itu kadang membawa kita pada sebentuk perkawanan yang terasa menghibur juga, meskipun kita hanya bisa saling kenal nama doang—yang siapa tahu bukan pula nama beneran--satu sama lain. Selebihnya, percaya deh, tak ada apa-apa lagi yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka blog yang tahan lama dan bagus bisa dipastikan adalah blog yang sudah dengan susah-payah dirawat penuh kecintaan oleh “seorang gila”.  Dan saya hanya bisa berharap mudah-mudahan saya pun ternyata cukup “gila” untuk bisa terus melakoni kerja ngeblog saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-6957698247570472119?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/6957698247570472119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=6957698247570472119&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6957698247570472119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/6957698247570472119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/01/ngeblog-itu-kerjaan-orang-gila.html' title='Ngeblog Itu Kerjaan &quot;Orang Gila&quot;'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R4WqoglPXfI/AAAAAAAAAWA/bZmo0EJtizw/s72-c/i_love_blogging.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4607440299022359061</id><published>2008-01-07T13:29:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:43:51.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demokrasi'/><title type='text'>Segera Tamatkah "Republik Mimpi"?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R4HHqglPXdI/AAAAAAAAAVw/fHTp75CFfxM/s1600-h/jk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152618981803122130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R4HHqglPXdI/AAAAAAAAAVw/fHTp75CFfxM/s320/jk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; MENDUNG tengah bergayut di langit &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://www.republikmimpi.com/"&gt;Republik Mimpi&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Tokoh ‘wakil presiden’ Jarwo Kwat alias JK atawa Sujarwo sedang tertimpa apes : dituduh memberikan cek kosong senilai 200 juta. Polisi bahkan sudah menetapkan sang ‘wapres’ itu sebagai buronan, lantaran sudah dua kali mangkir dari panggilan. Dalam tayangan Newsdotcom semalam Effendi Ghazali mengisyaratkan kemungkinan bubarnya kelompok ‘pelucu intelek’ itu seandainya terbukti Sujarwo bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini Newsdotcom berhasil hadir bukan melulu sebagai suguhan lucu-lucuan biasa. Model parodi politik yang diusungnya membuat mereka dipandang sebagai “pahlawan moral” yang ‘bersih’. Tontonan-tontonan mereka menjadi pilihan katarsis yang cerdas dan sehat ketika kenyataan sehari-hari kita terasa begitu mokal, edan, dan tak bisa lagi diharapkan. Dengan beban citra seberat itu, maka pilihan bubar menjadi solusi terhormat yang tersedia buat mereka, seandainya betul Jarwo Kwat terbukti cacat hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan apabila kelompok ini musti tamat karena kasus “murahan” begini. Sebagai penggemar beratnya, saya kerap membayangkan bahwa mereka suatu hari nanti memang bakalan “habis”, tapi “habis” secara santun dan “heroik”. Misalnya “dibredel” penguasa, atau ditendang bos pemilik stasiun TV karena perbedaan prinsip yang tak bisa didamaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beredar juga spekulasi bahwa kelompok ini memang sudah lama “dibidik”—karena kita tahu kritik-kritik mereka tidak membuat semua orang senang. Jadi dicarilah celah untuk bisa menjegal mereka. Kebetulan Jarwo Kwat tersandung masalah, maka apa salahnya kalau dia dijadikan “korban” pertama.Yang lainnya nanti menyusul, apabila diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah betul begitu duduk soalnya, wallahualam. Di Republik Indonesia—yang bukan mimpi—sudah jamak kalau banyak hal tidak selalu menjadi jelas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4607440299022359061?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4607440299022359061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4607440299022359061&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4607440299022359061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4607440299022359061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2008/01/segera-tamatkah-republik-mimpi.html' title='Segera Tamatkah &quot;Republik Mimpi&quot;?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R4HHqglPXdI/AAAAAAAAAVw/fHTp75CFfxM/s72-c/jk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-4097356481434338908</id><published>2007-12-13T08:58:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:40:09.184+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Pastor Juga Perlu Diinjili : Surat untuk Seorang Pastor di Bekasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pastor yang terhormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menjengkelkan melihat kelakuan umat yang “sembarangan” pada perayaan misa kudus. Tetapi apakah juga tepat kalau kemudian pastor musti mengganti khotbah dengan acara marah-marah? Terus terang saya jadi merasa terganggu dengan gaya pastor dalam beberapa pekan terakhir ini. Sungguh tidak nyaman rasanya jauh-jauh datang ke gereja hanya untuk melihat pastornya mencak-mencak di altar, meskipun menurut Injil, Yesus junjungan kita juga pernah marah besar sewaktu melihat sinagoga dipakai menjadi tempat berjualan. Suatu hal yang kita tahu masih berlangsung sampai saat ini di gereja-gereja modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya pastor sebaiknya fokus saja pada umat yang memang serius mengikuti misa. Sedang untuk umat yang sibuk cengengesan, atau main SMS itu, bolehlah disindir sesekali—tapi tidak usahlah sampai “kalap” seperti pastor pertontonkan belakangan ini. Umat yang tidak serius adalah fenomena umum. Dalam bidang apa pun—agama, seni, sport, sebutlah apa saja--selalu ada dua kecenderungan itu : kecenderungan untuk “serius” dan kecenderungan untuk “main-main”. Dan biasanya kelompok yang “main-main” jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang yang mengaku “serius”. Itu juga mungkin sudah hukum alam. Umat katolik di manapun pasti juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya terka pastor akan menyergah seraya mengutip Injil perihal perumpamaan “domba yang hilang “ atau “dirham yang hilang”, bukan? Bahwa sorga akan lebih bersuka-cita kalau umat katolik yang berkelakuan “brengsek” itu bisa dipertobatkan—ketimbang repot mengurusi barisan umat “anak mami” yang tak memerlukan lagi pertobatan. Terserahlah kalau begitu. Artinya, kita berbeda pendapat, dan itu tak apa-apa juga, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal lagi, harap pastor jangan jadi tersinggung. Mutu umat sedikit banyak juga sangat tergantung pada mutu pastornya. Kita omong fair saja, ada banyak pastor yang  memang harus dibilang tidak bermutu. Mereka membawakan misa seperti tanpa penghayatan, doa syukur agung didaraskan secepat kilat, ngebut macam pesawat jet F 16 , belum lagi khotbahnya tidak menggugah samasekali. Lha, kalau pastornya saja memble bagaimana umatnya tidak memble?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya wajar dan sah saja kalau umat menuntut pastornya tampil “ekstra”. Umat itu tidak bodoh, pastor, jadi jangan pernah meremehkan mereka. Umat yang datang ke gereja mungkin sudah puyeng dan stres dengan tumpukan masalah sehari-hari. Mereka kepingin mendapatkan yang lain di gereja, mungkin sesuatu yang bisa membuat mereka tercerahkan. Sesuatu yang bisa mereka bawa sebagai bekal pulang, guna melanjutkan ziarah mereka di bumi yang kacau balau ini. Tapi kalau ternyata yang ditemuinya malah pastor-pastor yang menambah puyeng kepala mereka, siapa yang musti disalahkan dalam hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sebetulnya saya tak bermaksud menghakimi, tapi tak ada salahnya barangkali seorang pastor sekali-sekali menerima masukan semacam ini. Saya jadi ingat seloroh serius seorang pastor asal Flores yang pernah bilang bahwa “memang banyak pastor yang harus dinjili lagi”, diisi ulang lagi baterenya. Mungkin beliau benar, kan pastor juga manusia biasa saja, sama seperti umat-umat “brengsek” itu, sama dengan saya, dan kita semua. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-4097356481434338908?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/4097356481434338908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=4097356481434338908&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4097356481434338908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/4097356481434338908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/12/pastor-juga-perlu-diinjili-surat-untuk.html' title='Pastor Juga Perlu Diinjili : Surat untuk Seorang Pastor di Bekasi'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5549953907503163298</id><published>2007-12-10T14:24:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:39:19.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'>Three in One : Dihapus Sayang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PERATURAN “three in one” (3 in I) di jalan-jalan protokol Jakarta dibikin dengan niat bagus : mengurangi tingkat kemacetan di ibukota. Tapi kita sudah tahu, niatan itu gagal total. Para pemilik mobil pribadi tidaklah bodoh. Dengan gampang mereka menyiasati aturan itu dengan mencari tumpangan—kalau terpaksa pembantu pun diajak tamasya sebentar ke kantor—atau cukup memanggil para joki yang selalu stand by di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah ketahuan gagal, saya kok rasanya agak keberatan kalau misalnya aturan ini dihapuskan saja. Semua tahu peraturan “3 in 1” kini malah menjadi mata pencarian alternatif untuk sebagian penduduk Jakarta. Di tengah situasi ekonomi yang “kolaps” dengan tingkat pengangguran begitu tinggi, menjadi joki 3 in 1 adalah sebuah pilhan yang “apa salahnya” dilakukan di tengah keterjepitan hidup—daripada mandah pasrah, lantas mengemis, atau jadi pengedar narkoba, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemilik mobil pribadi juga tak dirugikan. Buat sebagian besar mereka, membayar 3 atau 5 ribu perak untuk para joki itu bukanlah soal besar—yah, mungkin seperti membuang daki saja layaknya. Sedang bagi para polisi sendiri juga rasanya tak masalah. Malahan bagi mereka, ini juga sebuah peluang untuk mendapatkan “duit kagetan” apabila kebetulan bisa memergoki mobil pribadi yang masih juga nekat tidak “ber 3 in 1”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi semua pihak senang dan dapat bagiannya. Hanya satuan Polisi Pamongpraja (PP)—yang seragamnya biru-biru itu—yang kelihatannya kurang bergembira. Ah, barangkali karena mereka tak sempat mencicipi sedikit gurihnya bisnis “3 in 1” ini. Cuma kebagian capeknya doang karena musti tiap kali main udak-udakan dengan para joki.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5549953907503163298?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5549953907503163298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5549953907503163298&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5549953907503163298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5549953907503163298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/12/three-in-one-dihapus-sayang.html' title='Three in One : Dihapus Sayang'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5137556409485303190</id><published>2007-12-07T10:43:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:37:52.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivator'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>T o m m y</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt; Seperti dikisahkan John Powell, SJ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang gondrong. Penilaian singkatku: dia seorang yang nyentrik, sangat nyentrik. Tommy ternyata betul menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-terusan mengajukan komplain. Dia juga tak bisa percaya bahwa Tuhan mencintai kita tanpa pamrih. Dia terang-terangan melecehkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" "Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh. "Oh," sahutnya. "Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil, "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu." Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kudengar Tommy lulus, dan aku bersyukur. Namun kemudian  sebuah kabar sedih : Tommy mengidap kanker, dan sudah mencapai  stadium lanjut. Sebelum aku sempat mengunjunginya, dia malah duluan menemuiku. Tubuhnya sudah kisut, dan rambut gondrongnya rontok karena  kemoterapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya kena kanker, dan hidup saya  tinggal beberapa minggu lagi”.  Lalu kataku : “Kamu mau membicarakan itu?" Tommy menyahut, "Boleh saja. Apa yang ingin pastor ketahui?" Aku bertanya lagi, "Bagaimana rasanya berumur 24, tapi kematian sudah di depan mata". Dan Tommy menjawab, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50  tapi mengira bahwa minum, rmain perempuan, dan menguber-nguber harta adalah hal paling penting dalam hidup ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh  mengejutkan saya. Lalu, pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan, "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga, tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun suatu hari,  dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu.  Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu. Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy, "Saya teringat tentang pastor dan kata-kata pastor yang lain, “Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang kita cintai bahwa kita mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit, yaitu... ayah saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya. "Yah, aku pengin omong." "Omong saja.", katanya "Yah, ini penting sekali." Korannya turun perlahan. "Ada apa?". "Yah, aku cinta ayah, aku hanya ingin ayah tahu itu."  Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. “Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru mulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya. Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.” Lalu aku menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Ia keburu meninggal. Tapi satu hal, ia sudah melangkah jauh dari iman ke visi. Ia sudah menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata  kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan banyak orang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5137556409485303190?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5137556409485303190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5137556409485303190&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5137556409485303190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5137556409485303190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/12/t-o-m-m-y.html' title='T o m m y'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-3599997457180732950</id><published>2007-11-29T12:32:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:37:18.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>Faces of Death</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KEMATIAN terasa bagaikan dongeng, tak nyata, sepertinya tak betul-betul ada. Seperti membaca kabar di halaman koran, jauh dan setempo terasa meragukan. Atau paling banter seperti ketika mendengar tetangga bicara si anu suaminya si itu meninggal kemarin sore ketabrak bis. Itulah yang saya rasakan tentang kematian sampai umur 20—sampai sesuatu kemudian mengubah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kanker ganas menggerogoti tubuh ringkih ayah saya hampir 30 tahun yang lalu, ketika dokter bahkan sudah angkat tangan, ketika tanda-tanda ke arah “keberangkatan” itu menjadi semakin jelas, tetap saja kematian tak mengusik saya. Maut hanya kabar yang saya baca di koran, atau saya tonton di televisi, atau saya dengar dari mulut tetangga sambil lalu—tapi bukan kejadian nyata di rumah saya. Memang, belum pernah ada seorang yang meninggal di rumah kami hingga saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika hari itu pun tiba, saya baru tahu apa artinya  kematian. Ketika jasad kaku dan dingin ayah saya digotong beramai ke dipan di ruang depan, saya sempat memandang wajahnya, dan pada momen itu saya teringat kalimat seorang tokoh dalam novel Yukio Mishima, Kuil Kencana. Wajah si mati adalah sebuah liang, tapi tanpa dasar—tak ada warta apa pun yang bisa kita dengar dari kedalaman tak terukur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang suka mengibaratkan kematian dengan sebuah tidur yang panjang, tapi kalau kita sempat menyaksikan dari dekat wajah kosong si mati, kita akan tahu betapa bedanya tidur dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak dan kekekalan—barangkali itulah hakikat kematian. Jarak, karena dari sejak saat itu antara saya dan si mati membentang jurang yang begitu mutlak, yang tak bisa tersebrangi dengan apa pun. Kekekalan, karena sejak saat itu si mati pun menjadi tetap, kekal, abadi, tak terhapuskan dalam kenangan orang-orang yang pernah bersamanya—tak siapa pun atau apa pun bisa mengubahnya kini. Kecuali waktu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-3599997457180732950?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/3599997457180732950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=3599997457180732950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3599997457180732950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/3599997457180732950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/faces-of-death.html' title='Faces of Death'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8762347136491551825</id><published>2007-11-26T14:12:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:36:29.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selebriti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gito Rollies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Pertobatan dan Kisah Gito Rollies</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R0p0WcOK9QI/AAAAAAAAAVo/ZvxSVay3aPA/s1600-h/gito.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137046253851047170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R0p0WcOK9QI/AAAAAAAAAVo/ZvxSVay3aPA/s320/gito.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PERTOBATAN adalah sebuah peristiwa personal, dan momennya biasanya spesial pula. Di sana boleh saja ada semacam seremoni yang menyertai : sejumlah umat yang diminta menjadi saksi, dan petinggi agama yang bertugas “mengesahkan” pertobatan itu. Tapi seremoni itu hakikatnya hanya sebuah pelengkap liturgis yang sebetulnya bukanlah esensi dari peristiwa pertobatan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menandai sebuah pertobatan adalah bahwa ia datang dalam kesukarelaan. Memang ada faktor eksternal yang ikut bermain. Mungkin teman dekat, pasangan hidup, atau bisa saja seorang musuh pribadi—memainkan peran awal yang menentukan. Tapi pertobatan itu sendiri kemudian lahir dengan, atau, dalam sebuah kondisi takluk yang sukarela, serta diliputi syukur. Bukanlah pertobatan namanya kalau itu berlangsung dalam situasi penuh ketakutan, dan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika pasal “takut” mau juga disertakan, maka “takut” di sini tentulah bukan jenis takut karena adanya ancaman beringas dari massa yang mayoritas dan, karenanya jadi suka mentang-mentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bangun Sugito&lt;/strong&gt; alias &lt;strong&gt;Gito Rollies&lt;/strong&gt; punya kisah menarik seputar riwayat pertobaannya. Lama sebelum ia sungguh bertobat ia mengaku suka diusik sebuah pertanyaan “remeh”. Ia, akunya, sering heran melihat orang-orang yang berangkat ke masjid. Orang-orang itu tampak damai, mungkin juga bahagia pikirnya, melangkah berombongan, atau sendiri-sendiri, dalam diam, atau dengan senda gurau. Tapi wajah mereka, wajah mereka, katanya, mengapa nian begitu damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan mereka, apa gerangan yang mereka temukan di masjid—begitulah sang rocker bertanya-tanya, heran, barangkali takjub.Dan itulah benih awal pertobatan sejati. Perhatikan bahwa tak ada siapa pun yang menyuruh apalagi menakut-nakutinya untuk merasa heran dan takjub. Tapi jika begitu, lantas darimana muasalnya rasa heran dan takjub itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita sampai pada poin terpenting dalam diskusi kecil ini. Ketika seseorang bertobat, sebetulnya yang terjadi bukanlah karena dia “berhasil” menemukan Tuhan, tetapi yang benar, Tuhanlah yang berkenan menemuiya. Tapi ini memang bukan perkara yang bisa dengan gampang diterang-jelaskan. Sebab pertobatan, seperti sudah disinggung di awal sekali, adalah sebuah peristiwa yang memang sangat sekali personal, dan spesial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karenanya ia menjadi sebuah momen yang meta-bahasa, sebuah momen di mana bahasa manusia tak bisa lagi terlalu jauh ikut campur. Dan memang, sesungguhnya di sana, pada momen itu, tiada diperlukan lagi kata-kata, dan bahasa. Seperti puisi sejati ditemukan dalam diam, dalam keheningan maha luas dan dalam—begitupun ibadah yang sebenar-benarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8762347136491551825?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8762347136491551825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8762347136491551825&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8762347136491551825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8762347136491551825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/pertobatan-dan-kisah-gito-rollies.html' title='Pertobatan dan Kisah Gito Rollies'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R0p0WcOK9QI/AAAAAAAAAVo/ZvxSVay3aPA/s72-c/gito.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-8944326582468301082</id><published>2007-11-23T10:49:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:36:01.172+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Ranking Blog</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;APAKAH anda peduli pada ranking blog anda, khususnya ranking versi paman &lt;strong&gt;&lt;a href="http://pagerank.net/"&gt;Google?&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; Kalau saya, jujur saja sangat peduli. Google Page Rank (PR) bagi saya adalah salah satu indikator seberapa dikenalnya blog kita. Ranking blog ini sejak dua bulan terakhir naik dari nol menjadi dua. Tentu saya pun paham, nilai 2 itu bukan apa-apa, masih “belum kelihatan”, belum mapan. Tapi bagaimanapun 2 lebih baik dari 0, dan saya cukup merasa terhibur dengan kenaikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu menasehati diri sendiri supaya terus rajin mengupdate. Meskipun pengunjung ke halaman ruang samping ini sungguh jarang,teruslah ngeblog, kata saya kepada diri sendiri. Ya, teruslah ngeblog, setidaknya demi search engine—yang diam-diam tanpa setahumu, setia menyambangi blogmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja orang boleh  berbeda pendapat soal urgensi PR blog ini. Blogger senior &lt;a href="http://gbt.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;Budi Raharjo&lt;/strong&gt; &lt;/a&gt;menulis dalam salah satu artikel di blognya begini :“I am writing this blog not to get ranks, but to contribute (something) to the readers. I know I have been busy writing my opinion (more like rants - ha ha ha) elsewhere”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itulah salah satu beda saya dan beliau. Yang satu masih blogger bau kencur, jadi masih butuh banyak support guna menambah semangat, sedang satunya sudah blogger kawakan. Sudah eksis, dan tidak perlu merasa risau lagi dengan urusan ranking blog dan pengakuan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-8944326582468301082?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/8944326582468301082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=8944326582468301082&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8944326582468301082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/8944326582468301082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/ranking-blog.html' title='Ranking Blog'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5701438618006410592</id><published>2007-11-21T16:48:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:35:43.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Megawati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Kampanye (Sangat) kepagian Megawati</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R0P_ocOK9NI/AAAAAAAAAVQ/yGmrcgvxEdM/s1600-h/megawati.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135229070367978706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R0P_ocOK9NI/AAAAAAAAAVQ/yGmrcgvxEdM/s320/megawati.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;SUNGGUH lucu manuver politik yang dilakukan mantan presiden &lt;strong&gt;Megawati&lt;/strong&gt; beberapa waktu terakhir ini. Apa yang dilakukannya jelas sebuah kampanye yang dilakukan kepagian, sangat kepagian bahkan—meskipun tentu saja ia mati-matian membantahnya. Katanya, ia tak perlu kampanye, karena namanya sudah terkenal. Mungkin maksudnya sudah terkenal sebagai presiden yang tidak berhasil. Bantahan itu saja sudah sebuah kelucuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih lucu lagi adalah apa yang dikampanyekannya. Ia misalnya menyindir para pemilih perempuan yang pada 2004 tidak memilihnya, tapi malah memilih calon presiden yang lain semata karena si calon lain ini ganteng. Katanya, laki-laki itu tidak becus mengurus harga, makanya sekarang segala macam barang pada naik harganya. Ia pun berkilah bahwa pada Pemilu 2004 itu sebetulnya ia tidak kalah, melainkan hanya kurang mendapat suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak kelucuan adalah ketika ia dengan tidak malu-malu lagi meminta supaya mereka yang pada 2004 tidak memilihnya, nanti pada 2009 mbok apa salahnya memilihnya menjadi presiden lagi. Dengan manuver terakhirnya ini Megawati hanya berhasil membuktikan bahwa ia sungguh seorang politisi yang tidak peka, yang luput membaca apa isi hati publik terhadapnya. Ia kelewat meremehkan intelegensi rakyat yang sejak 1999 sudah banyak belajar dari kebobrokan politisi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah menjadi anak &lt;strong&gt;Bung Karno&lt;/strong&gt;. Sang bapak kelewat besar, hingga bayang-bayangnya pun jadi begitu berat bagi anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5701438618006410592?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5701438618006410592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5701438618006410592&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5701438618006410592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5701438618006410592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/kampanye-sangat-kepagian-megawati.html' title='Kampanye (Sangat) kepagian Megawati'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/R0P_ocOK9NI/AAAAAAAAAVQ/yGmrcgvxEdM/s72-c/megawati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-166664852977234703</id><published>2007-11-19T14:39:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:35:11.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Pil Masa Depan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;SUASANA hati—perasaan gembira, mungkin separuh gembira, atau gembira banget, dan sebaliknya perasaan bete dengan banyak tingkatan variasinya—sudah terbukti bisa diciptakan. Itulah kiranya salah satu “sumbangan positif” obat-obatan yang kini suka disebut haram : pil koplo, ganja, kokain, sabu, dan “teman-teman”nya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang rekayasa suasana hati itu masih jauh dari sempurna. Waktu kerja obat-obat itu terbatas—hanya beberapa jam—dan yang paling berabe, obat-obatan itu punya sifat adiktif yang luar biasa merusak, yang akan membuat dosisnya menjadi terus bertambah, dan itu suatu saat bakal menyebabkan si pemakainya knock out..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tengah membayangkan, mungkin beberapa puluh atau ratus tahun lagi, manusia sudah menjadi jauh lebih pintar, dan urusan rekayasa suasana hati bukan lagi masalah yang merepotkan. Saat itu sudah tersedia bermacam-macam pil untuk bermacam suasana hati yang diinginkan—dengan tingkat efek samping yang sudah bisa ditekan menjadi nol persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ada pil senang, pil setengah senang. Ada juga pil sedih, dengan banyak variasi kesedihan, dari yang paling enteng sampai gawat. Dan manusia saat itu mengkonsumsinya seperti hari ini kita mengkonsumsi nasi dan lauknya. Jadi tidak ada lagi keberatan moral apalagi medis. Satuan tugas anti narkoba di kepolisian pun sudah dibubarkan. Dan organisasi sangar semisal FPI,  MUI, yang suka main larang itu, tidak lagi diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok profesi lain yang mungkin juga tergusur karena tak laku lagi adalah para psikolog dan psikiater. Buat apa? Toh semua urusan yang bersumber dari keruwetan pikir dan rasa sudah bisa dijinakkan. Mungkin para rohaniwan—pastor, pendeta, ustad, biksu—jangan-jangan juga tak diperlukan lagi saat itu. Orang sudah pada berhenti berdoa, kitab suci tak dibaca lagi, dan tempat-tempat ibadah sudah pula ditutup—atau beralih fungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tuhan, seperti kata sebuah sajak Carl Sandburg, akan tambah kesepian.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-166664852977234703?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/166664852977234703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=166664852977234703&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/166664852977234703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/166664852977234703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/pil-masa-depan.html' title='Pil Masa Depan'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2529545561524735095</id><published>2007-11-16T09:03:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:34:02.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selebriti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Roy Marten'/><title type='text'>Jalan Sabu Roy Marten</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Rzz6_8OK9MI/AAAAAAAAAVI/sh0pjPa2HFs/s1600-h/roy2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133253651699791042" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Rzz6_8OK9MI/AAAAAAAAAVI/sh0pjPa2HFs/s320/roy2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;NARKOBA dan dunia selebritis adalah dua hal yang tak terpisahkan—itu sudah menjadi rahasia umum. Maka tak perlulah kaget kalau &lt;strong&gt;Roy Marten&lt;/strong&gt; ketangkep lagi gara-gara urusan yang sama. Aktor ganteng ini berdalih bahwa ia mengkonsumsi sabu untuk menggenjot tenaganya. Dunia film menuntut kesiapan stamina yang prima, sedang ia sudah merasa reyot dan tak muda lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan untuk memperoleh stimulans guna menjaga performa prima itu mungkin menjadi dalih pembenar bagi banyak pengguna narkoba lainnya. Di zaman yang katanya edan ini, di mana tingkat persaingan berlangsung gila-gilaan—sehingga tingkat stres dan ketegangan hidup juga menjadi meningkat tinggi--praktik doping dengan segala bentuk dan variasinya menjadi hal yang umum dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahkan berani taruhan bahwa pemakaian narkoba sebagai doping bukan hanya monopoli artis dan seniman—politikus, pejabat, pengusaha, dan banyak anggota masyarakat lainnya juga ikut meramaikan. Bukankah narkoba sudah lama menerjang masuk ke balik tembok sekolah? Dan lebih absurd lagi malah sudah ada juga polisi yang ketangkep tangan sedang nyabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu biasanya gaya hidup bernarkoba ria di kalangan artis, maka teman-teman dan kerabat dekat yang membesuk Roy Marten tidak akan bilang “Kenapa sih lu masih make juga? Katanya udah tobat”. Bukan, bukan begitu. Teman-teman dekat Roy akan mengomelinya begini “Lu kok bego amat sih, bisa ketangkep sampe dua kali. Lihat dong gua nih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, betul begitu begokah Roy Marten? Kini berkembang setidaknya 2 teori lain di seputar kasusnya ini. Teori pertama mengatakan bahwa sang aktor terlibat dalam sindikat narkoba—jadi ia bukan lagi sekedar pemakai. Mungkin ia “digarap” sewaktu ngendon di bui dulu, atau malah sebelum itu ia sudah ikut main. Cukup masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori kedua mengatakan bahwa Roy justru tengah “dimanfaatkan”—atau lebih persisnya sedang diajak kerja sama dengan polisi—untuk bisa masuk ke dalam jejaring sindikat narkoba yang bak hantu, ada tapi tak nyata itu. Jadi ia akan pura-pura ditangkap, dinterogasi, nantinya pura-pura diadili lantas masuk bui lagi. Ia tengah memerankan sosok pecundang—padahal sebetulnya ialah sang heronya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelewat spekulatif? Berlebihan? Mengada-ada? Mungkin. Tapi namanya kan baru teori, jadi sah saja. Lagian katanya dunia ini cuma “panggung sandiwara”, jadi segala kemungkinan boleh-boleh saja, atau bisa-bisa saja terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2529545561524735095?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2529545561524735095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2529545561524735095&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2529545561524735095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2529545561524735095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/jalan-sabu-roy-marten.html' title='Jalan Sabu Roy Marten'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Rzz6_8OK9MI/AAAAAAAAAVI/sh0pjPa2HFs/s72-c/roy2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-5209116407623100429</id><published>2007-11-13T17:09:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:33:23.329+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blogging'/><title type='text'>Dicari : Blog yang Tak Biasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;DALAM artikelnya mengomentari blognya &lt;strong&gt;&lt;a href="http://mahendra-ihza-yusril.blogspot.com/"&gt;Yusril Ihza Mahendra&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;&lt;a href="http://blog.tempointeraktif.com/?p=187"&gt;Wicaksano&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; menulis antara lain supaya Yusril sebaiknya tidak memilih menulis tema-tema yang “aman”, tema-tema yang biasa-biasa saja. Sebab, kata Wicaksono pula, “ranah blog sudah terlalu sesak oleh blog yang biasa-biasa saja. Nge-blog-lah dengan cara dan gaya yang berbeda — sesuatu yang unik dan khas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca anjuran itu saya jadi teringat apa yang pernah dibilang Kiran Desai, novelis India pemenang Booker Prize. Sang novelis pernah bilang bahwa dalam menulis kita harus berani “ekstrem”.Mungkin yang dimaksudkannya dengan “ekstrem” kurang lebih sama dengan apa yang ditulis Wicaksono sebelumnya : menulis dengan gaya unik, orisinal, dan kalau mungkin belum pernah dilakukan penulis lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya pribadi setuju dengan nasehat itu. Menulis yang “unik”, yang membedakan kita dengan penulis lainnya, menjadi impian setiap penulis sejati. Juga dalam perkara ngeblog, seorang blogger sejati mengidamkan bisa menjadi blogger yang tidak biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mulai sekarang,.marilah kita dengan cara kita masing-masing mencoba mengikuti apa yang disarankan Kiran Desai dan Wicaksono. Marilah kita belajar menjadi blogger yang berani “ekstrem”, tampil seunik bisa, barangkali boleh juga sedikit “gila”. Sesekali menggali tema-tema yang “liar”, nyerempet-nyerempet tabu, lalu menuliskannya juga dengan cara yang ekstrem dan boleh juga sedikit “edan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus melakukannya bung, sekali lagi “harus”, atau kita akan ditinggalkan. (Ah sok tahu lu …).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-5209116407623100429?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/5209116407623100429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=5209116407623100429&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5209116407623100429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/5209116407623100429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/dicari-blog-yang-tak-biasa.html' title='Dicari : Blog yang Tak Biasa'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2354229729274815421</id><published>2007-11-12T10:48:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T16:33:27.566+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivator'/><title type='text'>100 Tahun Lagi ...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;INI sebuah adegan klise dari sebuah film yang sudah saya lupa judulnya : cewek pelayan restoran itu menumpahkan kuah sayuran ke pangkuan seorang tamu yang sedang asyik santap. Dengan gelagapan, sang pelayan menghiba-hiba memohon maaf. Bosnya ikut-ikutan juga menyemprotnya. Dan mungkin karena kebetulan tamu itu “orang penting”, seorang pelanggan VIP di restoran itu, ia bukan hanya menyemprot, tapi bahkan memecatnya sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah ribut-ribut reda si cewek pergi ke pojokan, meratapi nasib apesnya. Seorang konco baiknya lalu mendatanginya dan menasihatinya begini :“Tentang kejadian tadi, begini saja, coba kau pikirlah dengan tenang, 100 tahun lagi siapa masih peduli semua itu. Ok!” Nasihat itu sederhana, simpel, tapi menurut saya bagus, dan manjur. Saya pun sering mempraktikannya saat merasa kepepet. Tidak susah kok, hanya mengatakan kepada diri sendiri “100 tahun lagi siapa masih peduli dengan ini”. Tapi lakukanlah dengan takzim dan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau anda saat ini, misalnya, tengah merencanakan sebuah kehebohan, katakanlah tindak korupsi gede-gedean, atau jenis kejahatan lainnya, dan anda diusik ragu, segera katakan pada diri anda (dengan takzim tentu), “Lakukan saja, 100 tahun lagi siapa sih masih peduli soal ini”. Percayalah, bahkan tak usah menunggu 100 tahun, selewatnya 5 atau 10 tahun pun orang di sini sudah pada lupa bahwa anda pernah jadi bajingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau anda sering nongol di televisi, memakai kopiah putih dan berbaju koko. Lantas rajin pula menyambangi dan menyumbangi tempat-tempat ibadah atau orang susah, membagi-bagi nasi bungkus sembari memamerkan senyum Yudas. Bangsa ini sungguh adalah bangsa yang pemurah, penuh dengan tenggang rasa dan toleran—sering toleran untuk hal-hal yang jelas-jelas ngawur. Begitu pemurahnya sampai kadang ketelingsut menjadi, maaf. murahan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2354229729274815421?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2354229729274815421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2354229729274815421&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2354229729274815421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2354229729274815421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/100-tahun-lagi.html' title='100 Tahun Lagi ...'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1138417010878940434</id><published>2007-11-06T10:44:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:31:54.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Apakah Saya "Sesat"?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Ry_kWkVwEyI/AAAAAAAAAUw/dAPkIg6HoDA/s1600-h/tasbih.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129569576961446690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Ry_kWkVwEyI/AAAAAAAAAUw/dAPkIg6HoDA/s320/tasbih.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; SUATU kali, menjelang musim haji, saya mendatangi seorang teman. Saya tanyakan kepadanya, apakah pada musim haji ini ia punya teman atau sanak yang akan pergi haji. Kalau ada, mohon titip dibelikan tasbih, tapi betul tasbih dari Arab—jangan beli di Tanah Abang lalu diaku sebagai bukinan Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang muslim itu heran, buat apa saya yang nasrani memesan tasbih, dan kenapa pula mesti jauh-jauh memesannya ke tanah Arab. Atas keheranan itu saya hanya menjawab singkat. Saya memang menyukai benda-benda “rohani”, atau apa saja yang memiliki nuansa relijius. Tasbih, adalah salah satunya. Tapi kenapa mesti dari Arab? Ya, pasti bedalah menggenggam tasbih Arab dengan tasbih Tanah Abang, kata saya sembari nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar saya memesan tasbih itu sampai ke kuping beberapa teman lain yang nasrani seperti saya. Karena mereka tahu saya seorang nasrani yang “lumayan serius” (cailah), mereka pada heran. Kenapa lu cari tasbih segala, apa tidak cukup itu rosario—begitulah mereka bertanya, separuh complain. Seorang teman yang agak bijak bilang ini bukan soal yang perlu diributkan. Tasbih sekadar sarana, yang penting kan doanya, ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti itulah sikap saya. Meskipun saya seorang nasrani—yang insyallah “saleh”--bagi saya bukanlah tabu atau halangan untuk belajar dari khazanah relijius yang lain. Saya membaca sejumlah buku tasauf, juga Zen, sama bergairahnya dengan saya menjelajah Injil Yohanes atau Surat Ibrani, umpamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluyuran ke luar “kampung sendiri” lalu masuk ke “kampung orang lain” itu, juga dilakoni oleh banyak peziarah batin. &lt;strong&gt;Anthony de Mello&lt;/strong&gt;, seorang pastor Jesuit, misalnya, tak merasa canggung “mencuri” banyak hal dari Zen,.Hinduisme, di samping dari khazanah mistik Islam. Hasilnya? Alih-alih menjadi bingung, atau membingungkan, sang pastor malah bertumbuh menjadi sosok katolik panutan yang tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya telah punya seuntai tasbih. Bukan bikinan Arab, tapi asli buatan lokal. Saya membelinya di bis kota. Bahannya dari kayu stiki, kata penjualnya. Saya tak tahu apa itu kayu stiki, dan apa pula “kesaktiannya”. Konon tasbih Sunan Kalijaga terbikin dari bahan yang sama. Entahlah. Yang penting bagi saya tasbih itu terlihat bagus, angker, penuh wibawa, dan terasa mantap dalam genggaman. Karena itu saya membelinya—lagian harganya cuma 10 ribu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kalau malam-malam susah tidur, saya ambil tasbih itu. Seraya berbaring mulailah saya daraskan dzikir.Tentu saja dzikir menurut cara saya sendiri—dijamin tidak bakal bisa anda temukan dalam buku liturgi agama manapun. Lalu apakah yang saya lakukan ini salah, atau “sesat”, menyalahi akidah, syirik, musyrik? Ah, mana ada waktu saya mengurusi pertanyaan gawat itu. Yang begituan biar saja jadi lahannya MUI atau FPI. Saya tak berhubungan dengan mereka. Lagi pula dalam urusan dengan “beliau” setahu saya jasa “calo” tak diperlukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1138417010878940434?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1138417010878940434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1138417010878940434&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1138417010878940434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1138417010878940434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/apakah-saya-sesat.html' title='Apakah Saya &quot;Sesat&quot;?'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Ry_kWkVwEyI/AAAAAAAAAUw/dAPkIg6HoDA/s72-c/tasbih.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-445196634906229053</id><published>2007-11-01T13:51:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:31:28.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribumi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melayu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cina'/><title type='text'>Sebutan "Cina" Itu ...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Ryl4mEVwEwI/AAAAAAAAAUg/kaScjgEx-so/s1600-h/mei-1998.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127762246133355266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Ryl4mEVwEwI/AAAAAAAAAUg/kaScjgEx-so/s320/mei-1998.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; PAGI itu saya kembali terjebak macet. Dalam mikrolet, selain saya ada beberapa penumpang lain. Di sebelah kiri saya seorang ibu berjilbab, sebelahnya seorang yang kini tak saya ingat lagi. Sebelah kanan saya, seingat saya seorang dengan tongkrongan mahasiswa, dan di depan saya seorang lelaki, usia mungkin 40-an, bertampang keras dan rada sangar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrolet terhenti lama di pertigaan itu. Laki-laki bertampang sangar itu mengambil hapenya, lalu menelpon entah siapa, mengabarkan bahwa dia kejebak macet. Ia menjelaskan bahwa posisinya saat itu ada di depan “Sekolah Nusantara”, begitulah ia menyebut nama universitas &lt;strong&gt;Bina Nusantara (Binus&lt;/strong&gt;)—sebuah perguruan tinggi swasta ternama di ibu kota, yang mengkhususkan diri pada bidang teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada laki-laki 40-an sangar itu. Orang yang ditelponnya rupanya tidak bisa langsung “ngopi” apa yang disampaikannya, sehingga si sangar itu lantas merasa perlu mengeraskan suaranya di hape dan bilang begini “…ya, betul, saya masih ada di depan sekolah Cina itu!” Kaget saya mendengarnya. Saya lirik ibu berjilbab di sebelah saya ternyata tenang saja. Mungkin tak sempat mendengar, mungkin juga itu baginya bukan hal istimewa yang perlu dipusingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Binus setahu saya memang didominasi “siswa bermata sipit”, prosentasenya mungkin di atas bilangan 90. Tapi tentu saja bukan itu yang menarik perhatian saya. Omongan si lelaki sangar itulah yang membuat saya terganggu. Ia menyebut kata “cina” dengan intonasi yang mengisyaratkan adanya kebencian yang dalam kepada apa yang disebut “cina” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan rahasia lagi bahwa hubungan antara kelompok “sipit” yang minoritas di sini dengan rekannya yang mayoritas sawo matang itu tidak harmonis. Itu terjadi pada pelbagai level dan bidang kehidupan. Di permukaan kelihatannya mereka “akur”, tapi sebetulnya tidak begitu. Peristiwa Mei 1998, umpamanya, membuktikan betapa rapuhnya tali silaturahmi antar kedua kelompok ini. Tapi apa gerangan penyebab “dendam turunan” itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar sepakat bahwa itu adalah warisan politik kolonial yang dengan sengaja telah mengondisikan kedua kelompok itu dalam posisi “saling bermusuhan”. Dalam urutan “kasta” yang dibuat ketika itu, kelompok “sipit”—yang notabene adalah “tamu” di tanah Boemi Poetra--diletakkan pada level yang “lebih tinggi” dari rekannya yang “sawo matang”. Kondisi tidak seimbang inilah—menurut teori itu—yang menjadi akar penyebab timbulnya rasa benci kelompok “pri” kepada “non pri”, dan sebaliknya rasa superior dari yang “non pri” kepada yang “pri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi itukah jawabannya? Mungkin untuk sebagian, untuk konteks sejarah lokal kita, ya. Tapi mungkin ada sebab lainnya, karena kalau kita tengok di Malaysia, misalnya, yang setahu saya tidak mengalami fase “pengkastaan” seperti di sini, perseteruan antar “melayu” dan “cina” ini juga terjadi, dan dalam tingkat kegawatan yang juga besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah penyebab utamanya adalah semata karena benturan dua model kultur yang saling tak klop? Antara budaya Melayu yang “alon-alon asal ke lakon”—yang oleh pihak “non pri” lalu ditafsirkan sebagai “kemalasan”—dan budaya “si mata sipit” yang konon “hemat dan tekun”—yang celakanya kemudian ditafsirkan oleh si “pri” sebagai sebentuk “keserakahan yang ekspansif”? Entahlah, gamang saya menyentuh soal yang peka dan muskil ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-445196634906229053?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/445196634906229053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=445196634906229053&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/445196634906229053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/445196634906229053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/11/sebutan-cina-itu.html' title='Sebutan &quot;Cina&quot; Itu ...'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/Ryl4mEVwEwI/AAAAAAAAAUg/kaScjgEx-so/s72-c/mei-1998.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-2371100624540640712</id><published>2007-10-29T15:32:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:29:59.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivator'/><title type='text'>You Are What You Think</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;BAGAIMANA anda memandang hidup dan hari-hari anda? Kualitas hidup anda sangat tergantung dari  bagaimana cara anda memandang dan menilainya. Konon ada tiga jenis manusia beserta caranya menilai. Jika hidup ini kita umpamakan saja dengan sebuah kerja membikin tembok, maka 3 jenis orang itu adalah seperti berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pertama. Orang dari jenis ini melihat dan menilai dirinya tidak lebih dan tidak kurang dari seorang tukang yang sedang memasang batu di atas batu lainnya. Mungkin ia bekerja sembari menggerutu, atau mungkin juga tidak. Tapi kabar buruknya adalah ia tak kuasa melihat lebih jauh : Saya seorang tukang batu, hidup dan kerja saya adalah memasang batu. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kedua. Orang dari tipe ini paham bahwa ia seorang tukang batu. Tapi ia sanggup memandang lebih jauh. Ia akan berkata kepada dirinya : Kerja saya memang memasang batu, tapi batu-batu ini nantinya sesudah rampung saya susun akan menjelma menjadi sebentang tembok, kukuh dan gagah. Jadi, dalam kebersahajaannya, dalam ketidakberdayaannya, tipe orang yang ini masih bisa menyisakan hiburan bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu jenis ketiga. Orang dari tipe ini akan mengatakan kepada dirinya (dan mungkin juga kepada dunia) dengan penuh kebanggaan, bahwa ia bukan hanya sedang menyusun batu untuk mendirikan sebidang tembok yang keren, tapi lebih jauh lagi ia percaya bahwa ia pun sedang menyiapkan sebuah “istana” untuk anak-anak dan masa depannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, jenis ketiga ini, mungkin hanya seorang pegawai biasa yang saban pagi berangkat tergopoh-gopoh ke tempat kerjanya naik bis kota yang sumpek berjejal, sehingga belum apa-apa bajunya yang lusuh murahan sudah keringetan dan bau. Mungkin ia akan terpaksa berlari-lari—seraya mengeluh--menguber sisa waktu untuk jangan sampai telat sampai di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sepanjang hari ia akan membenamkan dirinya di antara tumpukan kertas dan angka-angka. Mungkin atasannya seorang tiran yang gemar membentaknya. Mungkin gajinya pas-pasan, anaknya masih pada kecil, dan ia terpaksa tinggal mengontrak di sebuah gang buntu, yang kalau hujan jadi lumayan becek. Tapi, siapa tahu diam-diam ia pun ternyata seorang blogger—meski hanya seorang blogger “gurem”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengatakan di akhir tulisan ini, siapa tahu, bukan tidak mungkin, ia, ternyata anda sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-2371100624540640712?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/2371100624540640712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=2371100624540640712&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2371100624540640712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/2371100624540640712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/10/you-are-what-you-think.html' title='You Are What You Think'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-7597555347351650962</id><published>2007-10-25T09:57:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:26:17.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivator'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mario Teguh'/><title type='text'>"Tukang Sihir" Itu Bernama Mario Teguh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/RyAIJ0VwEtI/AAAAAAAAAUI/iG5tZmgeJrs/s1600-h/MT.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5125105340709343954" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/RyAIJ0VwEtI/AAAAAAAAAUI/iG5tZmgeJrs/s320/MT.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; MUNGKIN tidak kelewat berlebihan kalau predikat “tukang sihir” kita lekatkan di depan nama &lt;strong&gt;&lt;a href="http://mtsuperclub.com/"&gt;Mario Teguh&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, sang motivator yang ujar-ujarnya hari-hari ini banyak ditunggu dan dicari orang. Ia sendiri dengan rendah hati lebih suka menyebut dirinya seorang sales, “hanya” seorang “penjual semangat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penjual semangat ia memang piawai. Petuah-petuahnya terasa sangat bertenaga—dan mencerahkan. Itu bisa terjadi karena ia berhasil lolos dari sergapan klise, hal yang adalah perintang terbesar dalam urusan seperti ini. Banyak dari nasehatnya sebetulnya bukan barang baru apalagi ajaib, tapi karena disampaikan dengan cara “baru” maka ia lalu berubah menjadi “sihir yang memukau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mario Teguh tidak pernah menjanjikan sulapan. Ketika suatu kali ditanya soal seberapa perlunya faktor “luck” dalam sukses seseorang, ia dengan tandas mengatakan bahwa “keberuntungan” 100 persen berada di belakang sebuah sukses. Tapi “keberuntungan” dalam kamus seorang Mario Teguh hanyalah sejumput momen yang baru betul-betul akan menjadi “luck” manakala kita setiap hari bersiaga dan setia menantikannya—dengan cara antara lain merawat dan menjaga semangat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sukses dan keberuntungan adalah buah dari ketekunan dan kerja keras, dan bukan sekali-sekali produk dari sebuah “kebetulan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang mengesan—dan mungkin juga menjadi faktor pembeda dengan motivator lainnya--adalah nyelipnya nuansa relijius dalam sesion-sesionnya. Memadukan nasehat reljius ke dalam petuah bisnis sangat sekali beresiko, tapi Mario Teguh membuktikan bahwa bisnis pun sebuah area di mana hal-hal seperti relijiusitas, iman, dan Tuhan, adalah sah untuk hadir atau dihadirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali dua kali ia mencoba meyakinkan kita bahwa setiap perbuatan baik akan mendapatkan ganjaran baik. Kalau tidak sekarang, mungkin besok, atau lusa, atau bulan depan, tahun depan, atau mungkin kelak anak-anak kitalah yang akan mencicipinya—tapi ganjaran itu suatu yang niscaya, katanya. Sebab, kata Mario Teguh pula, sistem akunting manusia bisa saja salah, tapi tidak sistem akunting Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-7597555347351650962?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/7597555347351650962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=7597555347351650962&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7597555347351650962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/7597555347351650962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/10/tukang-sihir-itu-bernama-mario-teguh.html' title='&quot;Tukang Sihir&quot; Itu Bernama Mario Teguh'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/RyAIJ0VwEtI/AAAAAAAAAUI/iG5tZmgeJrs/s72-c/MT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6562665275692596666.post-1636823036933054732</id><published>2007-10-21T12:40:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T16:25:30.231+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Silat'/><title type='text'>Berburu Cersil, Merawat Kenangan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/RxrojeFgmVI/AAAAAAAAAT4/RwYXNi5P6r4/s1600-h/cersil3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123663222156597586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/RxrojeFgmVI/AAAAAAAAAT4/RwYXNi5P6r4/s320/cersil3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; SALAH satu hobi atau kesenangan senggang saya adalah membacai dan mengoleksi buku-buku cerita silat (cersil) Cina. Bukan buku-buku &lt;strong&gt;Kho Ping Hoo&lt;/strong&gt; lho, tapi buku-buku yang merupakan saduran dari karya-karya &lt;strong&gt;Chin Yung, Liang I Shen, &lt;/strong&gt;dan&lt;strong&gt; Wang Tu Lu&lt;/strong&gt;—tiga nama yang sejauh ini masih dianggap paling representatif dari khazanah cerita silat. Di Indonesia buku-buku mereka sampai kepada pembacanya lewat tangan &lt;strong&gt;Oey Kim Tiang (OKT)&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Gan Kok Liang (Gan&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;KL&lt;/strong&gt;), dan beberapa nama lain seperti &lt;strong&gt;Gan Kok Hie (Gan&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;KH), SD Liong, Tjan ID&lt;/strong&gt;. Kecuali Tjan ID, nama-nama lainnya sudah pada pulang ke “langit barat”—alias marhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama berkenalan dengan genre “novel silat” ini sewaktu kelas 5 SD. Waktu itu ada teman meminjami Istana Pulau Esnya Kho Ping Hoo (KPH) Sampai sekarang saya menganggap buku ini adalah salah satu karya monumental KPH. Selama lebih kurang 3 tahun saya keranjingan membaca buku-buku beliau, tapi kemudian menjadi bosan sendiri karena pola ceritanya ternyata mirip satu sama lain. Buku-buku KPH menurut saya menarik dibaca pada bagian awal sampai pertengahan, tapi sesudahnya malah hilang gregetnya—karena ending yang biasanya sudah terpola, jadi bisa ketebak duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kejenuhan pada buku-buku KPH mencapai puncaknya itulah saya berkenalan dengan karya Chin Yung, Sia Tiauw Eng Hiong (Memanah Burung Rajawali). Buku ini, bersama-sama dengan Sin Tiau Hiap Lu (Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar) dan Ie Thien To Liong (Kisah Membunuh Naga) konon katanya merupakan “buku wajib” untuk seorang penggila cerita silat. Menurut saya trilogi Chin Yung ini memang luar biasa. Dibanding dengan buku-buku KPH, oh jauh sekali rentang mutunya. Konon bahkan seorang &lt;a href="http://www.gusdur.net/"&gt;&lt;strong&gt;Gus Dur&lt;/strong&gt; &lt;/a&gt;pun sempat dibuat kesengsem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya membaca dengan cara menyewa. Tidak kepikiran untuk membeli apalagi mengoleksinya—lagi pula duitnya nggak ada. Booming buku-buku silat lalu surut memasuki dekade 80-an dan kemudian buku-buku jenis ini seperti raib. Saya pun kemudian seperti melupakannya begitu saja, dan lantas tenggelam dalam jenis bacaaan lain yang kata banyak orang “lebih bermutu” dan “lebih sastrawi” pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam saya bermimpi—ini beneran lho—berkunjung ke sebuah toko buku. Di rak-rak buku toko itu saya menemukan jejeran buku-buku cerita silat yang pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu. Ternyata memang kesenangan saya pada “novel silat” tidak menjadi padam—ia lalu nongol atau memantul lewat mimpi (jadi ingat teori mimpinya Freud). Saya lalu mulai bertanya-tanya di mana bisa mendapatkan kembali buku-buku itu. Pikir saya, kali ini saya harus membeli dan mengoleksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tahu, kerinduan pada buku-buku “aneh dan langka” itu ternyata bukan hanya menimpa saya. Banyak juga yang rupanya “bermimpi” kepingin memiliki dan membaca ulang buku-buku ini. Di pihak lain ternyata juga ada sejumlah orang “gila” yang berani mempertaruhkan “segalanya” demi menerbitkan ulang buku-buku yang sudah lama terkubur itu. Saya sebut mereka ini “gila”, karena dari kalkulasi dagang proyek ini bisa dipastikan jeblok—dan nyatanya begitu—tapi mereka masih terus juga—sampai hari ini—meneruskan ide gilanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui orang-orang “gila” inilah akhirnya hasrat saya mengolekksi buku-buku silat itu kesampaian. Selain itu kadang saya sengaja “berburu” ke “liang rase”—istilah untuk menyebut tempat “rahasia” di mana masih dijual buku-buku jenis ini—guna memuaskan dahaga saya "mengembarai" lagi "dunia persilatan". Jadilah saya kolektor buku cerita silat kecil-kecilan. Kecil-kecilan, karena harga buku-buku itu ternyata masih saja terasa mahal—dibanding isi dompet seorang karyawan gurem seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lumayanlah, sejumlah judul penting dan “wajib” seperti trilogi Sia Tiauw Eng Hiongnya Chin Yung, lalu sejumlah judul dari serial Thiansannya Liang I Shen yang termashur itu, serta pantalogi Ho Keng Kun Lunnya Wang Tu Lu sudah bisa saya dapat dan kini nangkring dengan gagahnya di rak buku saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya berpikir “kegilaan” saya mengoleksi cersil ini jangan-jangan sebentuk rasa cemas tersamar. Kecemasan yang diam-diam merongrong sanubari saya melihat masa depan yang tak menentu. Mungkin dalam suasana gamang itu lantas muncul sebentuk perlawanan—atau usaha melarikan diri?—dengan cara mengawetkan rasa atau pengalaman “nikmat” yang pernah saya dapat sewaktu membaca buku-buku cersil itu di masa lampau. Mungkin, mungkin betul begitu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6562665275692596666-1636823036933054732?l=ruang-samping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruang-samping.blogspot.com/feeds/1636823036933054732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6562665275692596666&amp;postID=1636823036933054732&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1636823036933054732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6562665275692596666/posts/default/1636823036933054732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruang-samping.blogspot.com/2007/10/berburu-cersil-merawat-kenangan.html' title='Berburu Cersil, Merawat Kenangan'/><author><name>Ook Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08228895532875380507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-hj13nozFJmo/TZ1nBRpbRbI/AAAAAAAAA4E/kPS6jMvWgUM/s220/sunset1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_KY0KmN4fY/RxrojeFgmVI/AAAAAAAAAT4/RwYXNi5P6r4/s72-c/cersil3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry></feed>
