02 August 2007

Dua Zaenal, Dua Perkara

ZAENAL yang pertama adalah Zaenal Arief, pemain Persib Bandung, yang belum lama ini dicoret dari daftar pemain timnas karena ketahuan “kabur” dari kamar hotelnya. Insiden itu terjadi menjelang timnas bersiap berlaga “hidup mati” melawan Korea Selatan pada penyisihan grup Asian Cup 2007.

Pelatih Ivan Kolev marah besar karena tindakan tidak disiplin yang dipertontonkan penyerang Persib itu. Ia menolak berkompromi dalam urusan kedisplinan pemain ini. PSSI pun sudah menjatuhkan sanksi berupa larangan merumput selama 6 bulan. Tapi reaksi pun muncul. Zaenal dan Persib mengajukan banding karena menganggap sanksi itu “kelewat berat”.

Apakah PSSI akan kembali “jatuh kasihan”—seperti dicontohkan dengan baik dalam kejadian-kejadian sebelum ini—dan mengubah hukuman itu, mari kita tunggu saja kelanjutannya.

Zaenal yang kedua tentu saja Zaenal Maarif, politisi yang saat ini terlibat perseteruan dengan RI 1. Entah hitung-hitungan apa yang sebetulnya ada di kepala Maarif sehingga dia berani melakukan apa yang oleh RI 1 disebut tindakan “fitnah” dan “pencemaran nama baik” itu. Gunjingan di warung-warung pinggir jalan menyebut mungkin awalnya ada pihak tertentu yang “bersimpati” pada Maarif, lalu menawarkan bantuan amunisi untuk melawan “penganiayaan” yang dialaminya.

Tapi kemudian bantuan amunisi itu rupanya dibatalkan sepihak setelah keadaan dinilai menjadi “tidak menguntungkan”. Satu demi satu nama yang semula disebut Maarif berada di belakangnya pada berebut membantah. Malah ada yang mau balik memperkarakan Maarif, seraya menyebutnya sudah melakukan “fitnah” pula.

Kabar terakhir menyebut ada “pihak ketiga” yang mau membantu mendamaikannya dengan Sang RI 1. Jika itu benar, menarik untuk melihat bagaimana RI 1 menanggapi tawaran itu. Analisa di warung-warung menyebut SBY tentu akan berhitung masak. Jika memang ada kesempatan “main keras”—sekalian “show of force”--mengapa memilih damai? Memang siapa itu Zaenal Maarif?

29 July 2007

Apakah Tuhan Ikut Bermain Bola?

PENJAGA gawang sudah hilang posisi, gawangnya menganga terbuka, tinggal satu sontekan enteng dan akan tercipta gol. Tapi secara ajaib bola malah membentur tiang gawang dan gol pun batal. Kalau anda penggila bola momen semacam itu pasti tidak asing buat anda. Apakah yang sebetulnya terjadi? Sebuah kesialan? Sebuah mujizat? Relavankah kalau Tuhan kita bawa-bawa dalam urusan ini?

Ketika terjadi drama adu penalti antara Jepang melawan Australia dalam perempat final Asian Cup belum lama ini kamera televisi beberapa kali menyorot pelatih Australia, Graham Arnold. Apa yang kita lihat adalah bahwa sang pelatih itu sedang menunduk sembari mulutnya komat-kamit. Ah, dia boleh jadi sedang berdoa. Pada momen genting itu, Tuhan dimintai bantuanNya supaya gawang Australia tidak jebol.

Presiden SBY pun secara khusus meminta “seluruh rakyat” membantu dengan doa supaya tim nasional sepak bola kita sukses membuat sejarah dalam forum Asian Cup tahun ini. Menpora Adhyaksa Daud juga melakukan hal yang sama. Dan saya percaya bahwa banyak dari kita yang sungguh-sungguh berdoa untuk kemenangan tim nasional kemarin.

Kesimpulan apa yang bias ditarik dari paparan di atas? Mungkin setidaknya ada dua hal. Kabar baiknya adalah bahwa banyak dari kita ternyata masih percaya adanya “tangan tersembunyi” di tengah timbunan persoalan kita, dan kita pun percaya bahwa “beliau” sudi dimintai tolong. Dan kita memang tidak diharamkan malu melakukannya.

Kabar buruknya adalah bahwa pemahaman kita padaNya masih begitu naifnya. Sebagian besar kita tampaknya hanya ingat padaNya saat kepepet. Dan lebih konyol lagi, kita cenderung memperlakukannya sebagai, maaf, “pesuruh”, atau “algojo” guna pemuasan hasrat mau menang sendiri kita sendiri. Kita sering kecewa—mungkin juga mengomel—kalau merasa permohonan kita tidak terpenuhi. Kita kerap lupa bahwa Dia memang bukan “pesuruh” gajian kita.

Nanti malam, saat tim Arab Saudi berlaga melawan Irak dalam final Asian Cup 2007, marilah kita tidak mendoakan kemenangan atau kekalahan salah satu tim itu. Biarlah “sang tangan tersembunyi” bermain dengan leluasa. Kita cukup duduk dengan berdebar menunggu kesudahannya.

26 July 2007

Let's Blog Walking

BERKUNJUNG atau bersilaturahmi ke blog lain—istilah “kampung”nya Blog Walking--adalah salah satu kebiasaan yang banyak dianjurkan. Berkunjung—dengan niat tulus bertamu, atau sekedar “setor muka”—adalah bagian dari kegiatan ngeblog yang asyik, meskipun kadang bisa saja kita kecewa karena kunjungan itu tak membuahkan hasil. Misalnya, karena blog yang kita datangi sudah lama tidak diupdate, sehingga “jauh-jauh datang” kita hanya dapat suguhan “basi”.

Lewat silaturahmi ini kita pun boleh berharap akan mendapat kunjungan balik. Jadi blog walking adalah salah satu kiat yang juga bisa diandalkan untuk menambah jumlah kunjungan ke blog kita—meskipun ada sebagian blogger—biasanya blogger yang telanjur merasa sudah “hebat”--menganggap kunjungan balik ini bukan “wajib”, melainkan hanya “sunnah” saja hukumnya. Dan penafsiran seperti itu sah-sah saja.

Selain dari itu, berkunjung ke blog lain adalah juga salah satu trik yang sangat dianjurkan apabila kita sedang kehabisan ide tulisan. Sembari bertamu kita bisa diam-diam mengintip tulisan apa yang digarap di blog tetangga. Kita bisa mencoba mencari celah yang luput tidak digarap dalam tulisan itu.

Atau kita bisa mencoba mencari dan mendapatkan sudut pandang lain dari tema yang digarap teman kita itu, kemudian dengan bekal itu kita kembali ke blog kita untuk “menuntaskan” ide tulisan yang belum terselesaikan di blog tetangga kita itu. Yah, ada banyak cara sebetulnya untuk menjaga supaya sajian di blog kita tidak jadi basi. Artikel ini pun saya dapat dari hasil “setor muka” ke sebuah blog tetangga.

22 July 2007

Pilkada Jakarta dalam Ancaman Golput

PILKADA DKI sudah di depan pintu. Kalau tak ada aral luar biasa hajatan yang baru pertama kali diadakan di ibu kota itu akan digelar 8 Agustus 2007 nanti. Tapi meskipun sudah tinggal pukul gong untuk dimulai, suasana di Jakarta masih relatif adem ayem. Mungkinkah itu karena hajatan sepak bola Piala Asia—yang saat tulisan ini disusun masih berjalan—jauh lebih menarik perhatian warga?

Lepas dari urusan sepak menyepak bola itu, Pilkada DKI mungkin memang bukan dagangan yang menarik bagi sebagian besar warga Jakarta. Koran Tempo Jum’at, 20 Agustus 2007 memuat perkiraan pemilih yang akan mengambil sikap “golput” dalam Pilkada ini mencapai 65% (survey LSI).. Apa penyebab tingginya angka “golput” itu? Koran itu menyebut faktor ketidakberesan administratif—registrasi pemilih yang berantakan--sebagai penyebab utamanya.

Faktor lain adalah karena warga rupanya menganggap “betapa tidak menariknya” calon yang tersedia untuk dipilih. Survey itu menyebut juga misalnya bahwa kelompok “terpelajar” dan “kaya” tidak menganggap hajatan ini perlu apalagi penting. Tapi, sikap apatis warga mungkin sekali bukan hanya terjadi di level “pintar” dan ‘kaya”. Sangat boleh jadi perilaku apatis itu sudah merembes ke level “bawah” pula. Karena merekalah sejatinya yang selama ini paling merasakan perlakuan “diskriminatif” penguasa.

Jadi, kalau dulu Arief Budiman cs harus bersusah-payah mengampanyekan Gerakan Putih alias “golput” ini supaya mendapatkan massa pengikut yang signifikan jumlahnya, kini tanpa harus disuruh-suruh, dibujuk, apalagi dipaksa, “golput” sebagai “ gerakan”, pun sebagai “dagangan” sudah tak bisa lagi dipungkiri eksistensinya. Dan mestinya ini menjadi bahan belajar buat penguasa bahwa rakyat sudah tidak gampang lagi dikibuli. Berjayanya “golput” membuktikan betapa gawatnya tingkat kekecewaan mereka.

18 July 2007

Bagaimana Anda Marah?

ADA banyak cara atau trik untuk menilai kualitas pribadi seseorang. Misalnya kita bisa langsung menerka kualitas seseorang dari bobot pertanyaan yang diajukannya. Orang-orang dengan kualitas “A” niscaya hanya akan mengajukan pertanyaan yang mutunya “A” juga, yang biasanya membuat kita terhenyak mendengarnya. Nah, kalau Anda tidak mau diperlakukan sepele, hati-hatilah dalam mengajukan pertanyaan.

Sudah barang tentu kualitas seseorang juga bisa diukur dari cara yang bersangkutan menjawab pertanyaan. Orang-orang dengan kualifikasi “A” biasanya juga menyodorkan jawaban-jawaban yang kelas “A” juga. Semakin “sembarangan” dan “tidak nyambung” jawaban kita, semakin “sembarangan” juga orang lain akan memperlakukan kita. Jadi, bertanya dan menjawab itu bukan perkara asal mengeluarkan suara atau bunyi—seperti dengan fasih diperlihatkan banyak pejabat kita.

Kita juga bisa menakar kualitas pribadi seseorang dari caranya mengekspresikan kemarahan. Sungguh menarik menyimak bagaimana masing-masing orang melepaskan hawa amarahnya. Ada yang kalau marah jadi bungkam seribu bahasa, berhari-hari lagi. Sebaliknya ada yang kalau marah bukan cuma mulutnya yang “rame” tapi tangannya ikut membantu.marah-marah. Misalnya dengan merusak, melempar, menggampar, dan sebagainya.

Tentu saja kita tidak bisa selalu merekayasa dan mengatur ekpresi marah kita. Masing-masing kita agaknya sudah “ditakdirkan” punya gaya marahnya sendiri-sendiri. Berbahagialah bila Anda dikarunia kemampuan untuk marah dengan tetap bisa santun. Sehingga orang yang Anda marahi alih-alih ikut sewot—atau ketakutan--malah jadi takluk, menyerah tanpa syarat. Saya kepingin sekali bisa seperti itu—marah tapi bisa tetap mesem--tapi bagaimana ya cara latihannya …
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...