04 May 2009

Pidato Steve Jobs (satu)

Pengantar

Pidato Steve Jobs ini diucapkan pada acara wisuda Standord University, 12 Juni 2005. Meski sudah “lama” berlalu, pidato ini ternyata masih sering dibaca dan didengarkan orang. Di Youtube videonya bahkan sudah diakses hampir 2 juta kali. Bagi saya pidato Steve Jobs ini memang inspiratif. Karena lumayan panjang, saya memenggalnya dalam tiga kali pemuatan. Semoga bermanfaat.

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya. (Bersambung)

10 February 2009

"Kejahatan" Google

MUNGKIN tidak adil apabila ini hanya ditimpakan pada Google sendirian. Kalau mau fair ini adalah “dosa” dan “kejahatan” semua search engine. Tapi karena fakta di lapangan saat ini membuktikan bahwa 60 persen perselancar di dunia maya memang “berkerumun” di Google, cukup layak kiranya untuk memberi judul artikel ini dengan membawa nama search engine besar itu.

Google dalam kerjanya sebagai mesin pencari menerapkan aturan mainnya sendiri. Seperti apa persisnya aturan itu hanya pihak Google yang paham. Mereka menyeleksi dengan ketat kapan sebuah situs, misalnya, sudah boleh nongol (atau belum) tatkala seseorang mengetikkan kata kunci tertentu di kotak carinya. Sebuah situs yang masih bayi, seberapa pun keren (dan penting isiya), tidak akan gampang-gampang mejeng di Google.

Situs-situs itu harus melewati dulu “masa pembinaan”. Tapi model “pembinaan”nya seperti apa, dan berapa lama “pembinaan” itu berlangsung—sekali lagi—hanya Google sendiri yang tahu. Bukan tidak mungkin, sebuah situs dinyatakan “tidak lulus” dalam masa pembinaan itu. Dan atas dasar alasan apa Google “membunuh” sebuah situs juga hanya mereka sendiri yang tahu.

Susahnya menembus gerbang seleksi Google itu kemudian memunculkan peluang bisnis baru. Sejumlah orang yang mengklaim “mengerti” apa yang diinginkan sang mesin pencari, telah mengembang-biakkan dagangan laris yang disebut Search Engine Optimazation atawa sering disingkat SEO. Namanya juga dagangan, tentu saja untuk bisa memetik ilmu SEO itu ada bayarannya, dan sering tidak murah juga. Sedang yang dijajakan gratis di internet (atau buku-buku) asal tahu saja cuma “kulit-kulit”nya doang.

Dengan mempraktekkan jurus-jurus SEO yang canggih sebuah situs diyakini akan lebih cepat muncul di jagat maya. Kenyataan ini sekali lagi membuktikan bahwa memang “money (not content) is the king”. Sebaliknya situs-situs yang tidak patuh pada aturan SEO yang benar, meskipun sebetulnya membawa muatan pesan penting dan bernilai, harus sabar menanti berbulan-bulan, sebelum akhirnya hadir di jagat maya—itu pun kalau hoki dinyatakan “lulus”. (Situs gratis ini, umpamanya, telah dibuat dengan tidak mematuhi aturan SEO yang benar—maka page ranknya susah sekali naik).

Ironisnya lagi, pada saat situs itu sudah boleh tampil, mungkin urgensi muatannya sudah ketinggalan zaman dan menjadi tidak penting lagi. Begitulah, karena uang semua yang “tak patuh” pada aturan SEO harus mengalah. Dan itulah yang saya maksudkan ketika saya menyebut “kejahatan” dan “dosa” Google. Ada andil Google pada terbentuknya iklim kompetisi yang tidak fair itu—disengaja atau tidak.

23 January 2009

Organda Tantang Pemerintah

HARI-HARI ini sedang terjadi semacam “perang kecil” antara Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) versus Pemerintah, dalam hal ini Menteri Perhubungan. Tentu saja itu dalam kaitan dengan urusan ongkos transportasi angkutan dalam kota (yang luar kota sepertinya sudah bisa didamaikan). Pemicu awalnya adalah turunnya harga bensin beberapa waktu yang lalu menjadi kembali ke harga 4.500 per liter.

Kosumen (diwakili YLKI) dan didukung Pemerintah (Menteri Keuangan & Perhubungan) menuntut supaya pihak Organda bersikap adil dengan menurunkan juga tarif angkutan kota dengan jumlah yang signifikan. Jumlah yang dituntut adalah sebesar 500 rupiah. Ini adalah jumlah yang diyakini akan memberi stimulus bagi kemampuan belanja khalayak. Namun Organda rupanya berat mengabulkan tuntutan itu. Untuk berkelit lalu mereka menunculkan formula turun 200 maksimum 300 rupiah.

Mereka paham sekali apabila formula ajaib ini disetujui, dalam prakteknya nanti penurunan itu akan sulit diterapkan. Formula itu akan memudahkan para sopir dan kondektur berdalih “tidak ada uang kecil untuk kembalian", sehingga akhirnya penumpang akan dipaksa “mengalah” dan ujung-ujungnya menjadi terbiasa tetap membayar dengan kondisi tarif yang saat ini berlaku.

Banyak alasan diajukan pihak Organda. Misalnya mereka selalu menyebut mahalnya harga onderdil (yang tidak ikut turun) sebagai alasan utama keberatan mereka. Menurut mereka harga bensin juga hanya menyumbang “kecil” saja dalam hitung-hitungan cost. Jadi, dalam logika orang-orang “pandai” di Organda, turunnya harga bensin sampai 1.500 rupiah (25%) belum lama ini rupanya “tidak berarti banyak”.

Perseteruan itu kini memasuki babak baru setelah DPRD ternyata juga setuju pada tuntutan turun 500 rupiah. Kalau Fauzi Bowo selalu pimpinan kota (DKI) juga mengamini putusan DPRD (dan Foke sudah memberi sinyal ke arah itu) praktis Organda akan menjadi sendirian dan terpojok—dan secara logika hukum ketatanegraan mustinya mereka buru-buru “bertobat” dan mengaku kalah.

Tapi alih-alih mengaku keok, Organda justru berbalik mengancam akan memobilisasi pemogokan angkutan kota apabila penurunan tarif dengan jumlah 500 rupiah itu disetujui gubernur (Koran Tempo, 23 Januari 2009). Ini aneh, padahal para sopir angkotnya saja sudah bersedia menurunkan ongkos, dan bahkan mereka bilang penurunan itu masih menutup uang setoran, seperti dilansir Detik.com di sini.

Bagi saya sangat menarik menanti hasil akhir dari “perang kecil” ini. Jika berhadapan dengan “semut nakal” macam Organda saja sampai kalah gertak, bagaimana kita lalu musti menilai kewibawaan pemerintah ini?

16 January 2009

Dua Tukul, Dua Peruntungan

TUKUL yang pertama tentu saja Wiji Thukul--penyair yang raib tak tentu rimbanya sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Tak ada yang tahu nasib apa yang sebetulnya menimpanya. Santer diwartakan bahwa ia “dilenyapkan” oleh penguasa dari rejim yang lampau. Tapi kapan persisnya, bagaimana ia “dihabisi”, dan di mana jasadnya dibenamkan—andai benar semiris itu lakonnya--tak ada yang paham. Ada spekulasi ia sebetulnya masih hidup dan sengaja menyembunyikan diri, tapi kabar ini pun tak sulit dikonfirmasi.

Tukul yang satunya masih sehat afiat dan banyak ketawa. Ia memang pernah juga “raib” belum lama ini, tapi hanya sebulan saja, gara-gara kebablasan menyuruh orang makan kodok mentah. Tukul Arwana, yaitu Tukul yang kedua ini, selalu tampil necis dengan jas dan dasi plus komputer jinjing—simbol-simbol yang dianggap mewakili citra “hidup mapan” dan “terpelajar”. Aksesoris penting lain yang selalu “ditentengnya” adalah beberapa orang perempuan cantik.

Dunia Tukul yang pertama adalah dunia yang “muram, sunyi dan keras”. Sedemikian sunyi dan kerasnya hingga untuk menyiasatinya hanya tersedia satu cara, “hanya ada satu kata”, kata Tukul yang pertama, yaitu : “lawan!” Tapi perlawanan itu pun kita tahu sia-sia.

Sebaliknya hidup dalam dunia Tukul Arwana terlihat nyaman, aman, dan siapa tahu juga mudah. Sebuah dunia yang dipenuhi seloroh dan gelak tawa. Di dunia Tukul yang kedua berpikir kelewat serius seakan tabu. Daripada stres berkerut jidat, mari kita tertawa ria melupakan karut-marut kehidupan. Tak ada yang musti “dilabrak!”, tak ada yang kudu diperangi dengan tanda seru. Semua bisa didamaikan, hidup bisa diselorohka, bukan?.

Dan kalau masih ada yang nekat juga “melawan”, maka Tukul yang kedua akan buru-buru mengingatkan supaya kita “kembali ke laptop”, artinya kembali kepada hidup yang “aman” dan “nyaman”, yang ramai oleh seloroh itu.

Jadi begitulah, dua Tukul itu telah menjalani pilihan nasibnya dan menerima ganjaran yang jadi jatah masing-masing pula. Pilihan yang satu berujung pada ending yang muram dan tragis, sedang pilihan satunya lagi bergulir menjadi hidup yang nyaman dan aman. Tapi sungguhkah lakon mereka (khususnya untuk Tukul yang kedua) sudah “tamat” sepenuhnya, tentu hanya waktu yang berhak menjawabnya.

01 January 2009

Petuah Tahun Baru, Mungkin

SEORANG lelaki pada suatu hari menemukan sebutir telur burung rajawali dan dia meletakkan telur itu bersama dengan telur-telur ayam di sarang seekor induk ayam peliharaan yang sedang mengeram. Telur itu menetas bersama telur ayam yang lain, dan anak burung itu tumbuh bersama anak anak ayam diasuh oleh induk ayam itu.

Selama hidupnya burung rajawali itu bertingkah laku sama seperti ayam, dan mengangap dirinya ayam peliharaan. Dia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Dia berkotek dan berkokok. Dia akan mengepakkan sayapnya dan terbang beberapa meter di udara.

Tahun berlalu dan burung rajawali itu menjadi tua. Suatu hari dia melihat seekor burung yang sangat gagah terbang di angkasa yang tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan jarang sekali menggerakkan sayapnya itu.

Rajawali tua itu terpesona memandang ke atas “Siapakah itu?”, tanyanya.

“Itu adalah burung rajawali, raja dari segala burung,” kata ayam yang ada di dekatnya. “ Dia penghuni langit, dan kita penghuni bumi, kita adalah ayam.” Demikianlah rajawali itu hidup terus dan mati sebagai seekor ayam, karena begitulah anggapannya tentang dirinya.

(Dipetik dari buku “Awareness” Antony de Mello, Gramedia Pustaka Utama, 2003).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...