RASANYA belum lama kita masuk ke Bulan Ramadhan, berpuasa, bertarawih, bersahur, eh tahu-tahu sudah Lebaran, dan yah sekarang Lebaran juga sudah lewat. Rasanya baru kemarin dulu saya terima duit THR (yang tak pernah cukup itu), kini bersama "Sang Lebaran" yang buru-buru pamitan di ujung kalender, "Sang THR" pun sudah ikutan ludes.
Untunglah Lebaran tahun ini jatuh di pertengahan minggu, sehingga masih tersisa hari Sabtu dan Ahad, sehingga kita pun masih bisa memanjangkan libur dan tidur, masih boleh melupakan tumpukan pekerjaan di kantor. Saya sendiri mengambil cuti sampai Selasa pekan depan karena suster penjaga anak-anak baru balik dari mudik Rabu pagi.
Saya berharap bisa memanfaatkan sisa liburan ini sebaik-baiknya untuk membaca, hal yang belakangan (dua tahu terakhir ini) menjadi sulit saya lakukan karena kerepotan kerja kantor. Kerepotan itu sampai pernah begitu gilanya hingga rasanya tak ada lagi ruang tersisa di kepala saya untuk hal lain selain pekerjaan. Saya sungguh berharap "kerja rodi" semacam itu tak akan pernah datang lagi.
Saya ingin hidup yang "normal" saja, seperti jutaan pekerja lain di planet ini. Bekerja delapan jam sehari, itu cukup nggak usah pake "bonus" lembur segala-- lebay itu sebutanya. Lalu sisa waktu didedikasikan sepenuhnya untuk anak-anak dan keluarga. Dan tentu saja juga untuk dua blog saya tercinta, ehm.
10 August 2013
08 August 2013
Lebaran, Menu Setahun Sekali
LEBARAN memberi kesempatan kepada, setidaknya saya, untuk mencicipi menu makan yang sangat beda. Yaitu ketupat dengan segala lauk dan "asesori"ya. Menu yang sangat spesial, tidak akan pernah kita temukan di restoran mana pun juga, karena ketupat Lebaran itu dibuat oleh para tetangga kita sendiri.
Dari tahun ke tahun memang menunya "standar", ketupat lalu ada opor ayam, bumbu santan, dan kadang ada tambahan potongan daging rendangnya. Meskipun dari dulu menunya "dari itu ke kitu juga" saya ternyata sangat menikmatinya, tak pernah merasa bosan. Mungkin karena kesempatan saya menikmatinya hanya datang setahun sekali.
Tapi pastilash itu juga karena masakan-masakan itu telah diolah dengan sangat piawai. Ah, saya jadi tahu sekarang bahwa Ibu Haji tetangga depan rumah saya, yang penampilan sehari-harinya "biasa" saja, ternyata rendang Betawinya enak sekali. Saya pun jadi mendusin bahwa tetangga di ujung gang sana, yang cuma saya kenal begitu saja, ternyata masakan ketupat dan kuah santannya betul muantab
Nah, bolehlah pada kesempatan yang baik ini, saya menghaturkan terima kasih karena mereka telah sudi mengingat saya, menyisihkan sebagian dari panganan Lebaran untuk keluarganya guna memberi juga saya kesempatan mencicipi bersama "nikmat" lidah ini. Lebaran memang bukan hari biasa. Minal aidin wal faidzin, maaf lahir dan bathin.
Dari tahun ke tahun memang menunya "standar", ketupat lalu ada opor ayam, bumbu santan, dan kadang ada tambahan potongan daging rendangnya. Meskipun dari dulu menunya "dari itu ke kitu juga" saya ternyata sangat menikmatinya, tak pernah merasa bosan. Mungkin karena kesempatan saya menikmatinya hanya datang setahun sekali.
Tapi pastilash itu juga karena masakan-masakan itu telah diolah dengan sangat piawai. Ah, saya jadi tahu sekarang bahwa Ibu Haji tetangga depan rumah saya, yang penampilan sehari-harinya "biasa" saja, ternyata rendang Betawinya enak sekali. Saya pun jadi mendusin bahwa tetangga di ujung gang sana, yang cuma saya kenal begitu saja, ternyata masakan ketupat dan kuah santannya betul muantab
Nah, bolehlah pada kesempatan yang baik ini, saya menghaturkan terima kasih karena mereka telah sudi mengingat saya, menyisihkan sebagian dari panganan Lebaran untuk keluarganya guna memberi juga saya kesempatan mencicipi bersama "nikmat" lidah ini. Lebaran memang bukan hari biasa. Minal aidin wal faidzin, maaf lahir dan bathin.
05 August 2013
Ramadhan dan Saya
MESKI bukan muslim, bulan Ramadhan selalu bearti khusus buat saya. Mungkin sebagian karena kenangan masa kanak. Ketika itu, bulan Ramadhan--Bulan Puasa, begitu saya biasa menyebutnya kala itu--identik dengan libur panjang sekolah. Liburnya lebih panjang ketimbang libur sekolah sekarang, yang "hanya" sepuluh hari. Libur Puasa sekolah ketika itu bisa sampai sebulan atau lebih. Sebagai bocah tentu saya begitu suka cita menyambut datangnhya "Bulan Liburan" itu.
Selain itu, suasana di bulan yang satu ini--khususnya pada malam harinya--memang beda. Malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang "meriah". Pemandangan rombnongan jamaah yang berduyun-duyun mendatangi masjid guna bersholat Tarawih, entah mengapa, menyejukkan saya. Lalu panggilan untuk ber-sahur pada sepi dinihari, sungguh membuat saya merasa damai. Beberapa kawan saya di masa kanak suka bercerita bahwa selama Bulan Puasa semua setan pada dikurung sehingga, katanya, kita tidak usah takut keluyuran sendiri di malam-malam Bulan Puasa itu.
Ketika saya beranjak lebih besar, ada satu hal lagi yang teramati. Yaitu pada bulan Ramadhan sepertinya semangat orang untuk belajar (maksud saya membaca kitab-kitab agama) juga meningkat Saya tak peduli apa yang mendasari kegairahan membaca buku pada bulan Ramadhan itu, yang pokok dan positif adalah bahwa kegairahan itu sudah terjadi, Dan biasanya saya juga ikut ketularan, jadi tambah semangat membolak-balik kitan pelajaran agama yang biasanya jarang saya jenguk itu.
Jadi singkatnya, Ramadhan memang bulan yang "beda"--tak peduli saya bukan muslim--saya merasa bisa ikut menikmatinya juga. (Belakangan Ramadhan juga punya arti lain bagi saya. Yaitu bahwa bulan ini menjadi identik dengan akan keluarnya THR--tapi ini catatan dari sudut pandang yang lain lagi). Maka seperti penyair Taufiq Ismail dalam salah satu syair Ramdhannya yang dinyanyikan dengan amat syahdunya oleh Grup Musik Bimbo, saya pun suka merasa "kehilangan" setiap kali bulan nan penuh barokah ini akhirnya usai.
Bahkan ada membersit sedikit rasa gamang, bisakah saya ketemu lagi Ramadhan di tahun depan? Masih bisakah, misalnya, saya ketemu ibu saya, yang tahun ini sudah 78, pada "Bulan Puasa" berikutnya? .
Selain itu, suasana di bulan yang satu ini--khususnya pada malam harinya--memang beda. Malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang "meriah". Pemandangan rombnongan jamaah yang berduyun-duyun mendatangi masjid guna bersholat Tarawih, entah mengapa, menyejukkan saya. Lalu panggilan untuk ber-sahur pada sepi dinihari, sungguh membuat saya merasa damai. Beberapa kawan saya di masa kanak suka bercerita bahwa selama Bulan Puasa semua setan pada dikurung sehingga, katanya, kita tidak usah takut keluyuran sendiri di malam-malam Bulan Puasa itu.
Ketika saya beranjak lebih besar, ada satu hal lagi yang teramati. Yaitu pada bulan Ramadhan sepertinya semangat orang untuk belajar (maksud saya membaca kitab-kitab agama) juga meningkat Saya tak peduli apa yang mendasari kegairahan membaca buku pada bulan Ramadhan itu, yang pokok dan positif adalah bahwa kegairahan itu sudah terjadi, Dan biasanya saya juga ikut ketularan, jadi tambah semangat membolak-balik kitan pelajaran agama yang biasanya jarang saya jenguk itu.
Jadi singkatnya, Ramadhan memang bulan yang "beda"--tak peduli saya bukan muslim--saya merasa bisa ikut menikmatinya juga. (Belakangan Ramadhan juga punya arti lain bagi saya. Yaitu bahwa bulan ini menjadi identik dengan akan keluarnya THR--tapi ini catatan dari sudut pandang yang lain lagi). Maka seperti penyair Taufiq Ismail dalam salah satu syair Ramdhannya yang dinyanyikan dengan amat syahdunya oleh Grup Musik Bimbo, saya pun suka merasa "kehilangan" setiap kali bulan nan penuh barokah ini akhirnya usai.
Bahkan ada membersit sedikit rasa gamang, bisakah saya ketemu lagi Ramadhan di tahun depan? Masih bisakah, misalnya, saya ketemu ibu saya, yang tahun ini sudah 78, pada "Bulan Puasa" berikutnya? .
26 September 2011
Indonesia dalam Sebuah Angkot
Angkot adalah kendaraan umum “andalan” warga kota kebanyakan karena ongkosnya yang murah meriah, dan karena rute trayeknya yang bisa nyelusup menyuruk jauh ke pelosok perumahan dan kampung. Sekarang ini tarif angkot untuk jarak dekat (atau dalam kompleks perumahan) setahu saya dua ribu perak, sedang untuk jarak lebih jauh dari itu bervariasi, dari 2.500 sampai 4.000. Dengan ongkos segitu penumpangnya umumnya sudah pada maklum akan mendapat mutu “servis” yang serupa apa.
Tempat duduk belakang biasanya diisi 10 penumpang, dan berlaku rumus “nasional” : 6 dan 4. Artinya, untuk bangku yang lebih panjang, yang menghadap ke pintu, musti diisi enam pantat, sedang bangku satunya, yang lebih pendek, disiapkan untuk 4 penumpang. Kalau ada penumpang yang membawa anak, sopirnya akan segera bertanya curiga, “Itu anaknya bayar nggak? Kalau nggak bayar tolong dipangku ya.” Sering pula ada bangku kecil tambahan di dekat pintu. Bangku depan di sebelah sopir biasa diisi 2 penumpang,. Maka dalam kondisi “normal” sebuah angkot bisa mengangkut 13 penumpang sekali jalan.
Masalahnya, tidak selalu angkot bisa penuh termuat seperti itu. Maka ada banyak sopir yang memilih ngetem berlama-lama, menunggu “mobilnya” penuh dulu, sembari membiarkan penumpang yang sudah telanjur naik menggerutu. Saya perhatikan, biasanya para sopir yang “hobi” ngetem itu ternyata gemar juga ngebut. Agaknya untuk mereka ini berlaku aturan “ngetem selama mungkin, ngebut sekencang bisa”. Banyak yang bilang itulah ciri utama para sopir-sopir tembak.
Para “sopir tembak” itulah yang sering bikin suasana tambah tak nyaman dalam angkot. Biasanya mereka para preman yang lagi nganggur. Namanya juga preman, kelakuannya pastilah rada-rada “gokil”. Kadang ada yang membawa kendaraan dalam keadaan setengah teler, ada yang mulutnya tiap sebentar mengeluarkan bunyi-bunyian jorok, ada yang sukanya nyetel musik atau radio dengan volume gede. Maka kalau kemudian ada kabar mereka melakukan pula tindak kriminal, seperti main rampok-perkosa-bunuh penumpangnya sendiri—saya pribadi tidak kelewat kaget.
Angkot—dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, penumpang serta awaknya-- memang berada dalam zona kritis. Awak angkot hampir pasti adalah individu dari kelompok “bawah” yang hidup tergencet situasi kehidupan ekonomi yang sulit, yang boleh dikata terus-menerus berada dalam situasi “genting”. Kondisi keras di jalan raya (polisi yang gemar main tilang, kemacetan yang tak masuk akal, cuaca panas tropis), semakin menjebak mereka menjadi tambah dekat pada pilihan-pilihan untuk berlaku kriminal.
Saya tak hendak membuat telaah sosiologi yang rumit. Saya bukan ahlinya. Ini hanya hasil amatan sepintas lalu dari seorang warga kota biasa yang kebetulan terpaksa mengandalkan juga angkot dalam urusan sehari-harinya. Saya hanya hendak bilang bahwa suasana di lapis bawah masyarakat kita, suasana Indonesia lapis bawah—yang antara lain terepresentasi dengan utuh dalam sebuah angkot—sedemikian genting dan kritisnya, sehingga peluang terjadinya laku kriminal sangat sangat terbuka.
Maka saya termasuk yang menganggap aneh pendapat yang mengatakan ada hubungan antara rok (yang) mini dengan maraknya kasus perkosaan dalam angkot. Perkosaan-perampokan-pembunuhan dalam angkot kaitannya pastilah dengan kondisi kemiskinan dan pengangguran yang mengoyak-ngoyak masyarakat kita. Adapun rok mini, menurut saya, adalah sekadar “asesoris tambahan” yang sedikit banyak kehadirannya justru bisa ikut membantu membuat “adem” suasana dalam angkot. Mohon maaf, kalau banyak yang tak setuju dengan pendapat yang terakhir ini.
Tempat duduk belakang biasanya diisi 10 penumpang, dan berlaku rumus “nasional” : 6 dan 4. Artinya, untuk bangku yang lebih panjang, yang menghadap ke pintu, musti diisi enam pantat, sedang bangku satunya, yang lebih pendek, disiapkan untuk 4 penumpang. Kalau ada penumpang yang membawa anak, sopirnya akan segera bertanya curiga, “Itu anaknya bayar nggak? Kalau nggak bayar tolong dipangku ya.” Sering pula ada bangku kecil tambahan di dekat pintu. Bangku depan di sebelah sopir biasa diisi 2 penumpang,. Maka dalam kondisi “normal” sebuah angkot bisa mengangkut 13 penumpang sekali jalan.
Masalahnya, tidak selalu angkot bisa penuh termuat seperti itu. Maka ada banyak sopir yang memilih ngetem berlama-lama, menunggu “mobilnya” penuh dulu, sembari membiarkan penumpang yang sudah telanjur naik menggerutu. Saya perhatikan, biasanya para sopir yang “hobi” ngetem itu ternyata gemar juga ngebut. Agaknya untuk mereka ini berlaku aturan “ngetem selama mungkin, ngebut sekencang bisa”. Banyak yang bilang itulah ciri utama para sopir-sopir tembak.
Para “sopir tembak” itulah yang sering bikin suasana tambah tak nyaman dalam angkot. Biasanya mereka para preman yang lagi nganggur. Namanya juga preman, kelakuannya pastilah rada-rada “gokil”. Kadang ada yang membawa kendaraan dalam keadaan setengah teler, ada yang mulutnya tiap sebentar mengeluarkan bunyi-bunyian jorok, ada yang sukanya nyetel musik atau radio dengan volume gede. Maka kalau kemudian ada kabar mereka melakukan pula tindak kriminal, seperti main rampok-perkosa-bunuh penumpangnya sendiri—saya pribadi tidak kelewat kaget.
Angkot—dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, penumpang serta awaknya-- memang berada dalam zona kritis. Awak angkot hampir pasti adalah individu dari kelompok “bawah” yang hidup tergencet situasi kehidupan ekonomi yang sulit, yang boleh dikata terus-menerus berada dalam situasi “genting”. Kondisi keras di jalan raya (polisi yang gemar main tilang, kemacetan yang tak masuk akal, cuaca panas tropis), semakin menjebak mereka menjadi tambah dekat pada pilihan-pilihan untuk berlaku kriminal.
Saya tak hendak membuat telaah sosiologi yang rumit. Saya bukan ahlinya. Ini hanya hasil amatan sepintas lalu dari seorang warga kota biasa yang kebetulan terpaksa mengandalkan juga angkot dalam urusan sehari-harinya. Saya hanya hendak bilang bahwa suasana di lapis bawah masyarakat kita, suasana Indonesia lapis bawah—yang antara lain terepresentasi dengan utuh dalam sebuah angkot—sedemikian genting dan kritisnya, sehingga peluang terjadinya laku kriminal sangat sangat terbuka.
Maka saya termasuk yang menganggap aneh pendapat yang mengatakan ada hubungan antara rok (yang) mini dengan maraknya kasus perkosaan dalam angkot. Perkosaan-perampokan-pembunuhan dalam angkot kaitannya pastilah dengan kondisi kemiskinan dan pengangguran yang mengoyak-ngoyak masyarakat kita. Adapun rok mini, menurut saya, adalah sekadar “asesoris tambahan” yang sedikit banyak kehadirannya justru bisa ikut membantu membuat “adem” suasana dalam angkot. Mohon maaf, kalau banyak yang tak setuju dengan pendapat yang terakhir ini.
07 April 2011
"Jika Besok Anda Mati", Nasehat Steve Jobs
Jika anda tahu hari ini adalah hari terakhir hidup anda, artinya anda juga tahu bahwa besok anda dipastikan mati, apa yang akan anda lakukan hari ini? Steve Jobs, pendiri Apple Computer, punya jawaban menarik untuk pertanyaan itu. Bila ini adalah hari terakhir saya, tanya si jenius itu pada diri sendiri, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini? Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.Saya pernah mendengar petuah bijak bahwa pendorong terbesar sukses seseorang ternyata bukanlah soal-soal teknis semacam “skill” atau “modal” (uang), atau bahkan “koneksi”, melainkan “rasa kepepet” orang itu. Masuk akal, seorang yang terpojok dalam situasi ekstrem yang tidak memberikannya pilihan lain kecuali “bertarung sampai tetes darah terakhir” sering malah keluar sebagai pemenang dengan hasil terbaik yang di luar segala hitungan.
Jika situasinya “aman-aman saja”, tentu saja kita akan gampang tergoda untuk tidak bertarung habis-habisan. Jalan keluarnya adalah dengan menciptakan sebuah “situasi kepepet artifisial”. Steve Jobs punya trik sendiri yang memaksanya selalu berada dalam situasi “kepepet artifisial” itu, yaitu dengan (selalu) memikirkan kematian. Ujarnya, “Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.”
Jika anda tahu anda bakal segera mati maka anda akan tahu juga bahwa segala soal remeh-temeh—seperti perasaan takut gagal atau malu, yang biasanya menjadi perangkap terbesar kebanyakan orang untuk berhasil—menjadi tidak relevan lagi. Jika anda sebentar lagi mati, maka yang tertinggal hanyalah soal-soal yang esensial. Yang terisisa kini hanyalah suara hati anda sendiri. Dan pertanyaannya tinggal, masihkah anda akan mengabaikannya, suara hati anda itu, pada hari terakhir hidup anda ini? Bagi Steve Jobs jawabannya pasti, “Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.”
Tentu saja tidak ada seorang pun yang ingin mati, kecuali ia sedikit tidak waras. Bahkan orang yang kepingin masuk surga pun—sekali lagi, kecuali ia sedikit tak waras—tidak mau buru-buru mati dulu. Masalahnya, kata Steve Jobs, kematian adalah kepastian yang terus mendekat. Kabar baiknya, kesadaran akan hal itu membantu mengingatkan bahwa waktu kita di planet kecil ini sungguh sangat terbatas.
Waktu kita terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup ini Jangan menari mengikuti genderang yang ditabuh orang lain. Atau dalam kata-kata Steve Jobs sendiri. “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda—yang lainnya hanya nomor dua, atau malah nomor tiga.
Jika kita sepakat dengan semua uraian itu, mulai esok pagi, seperti Steve Jobs, baiklah kita melihat ke cermin dan bertanya pada diri sendiri. “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” (Sebagai kado untuk ulang tahunku).
Subscribe to:
Posts (Atom)



