15 September 2013

Kata-kata Tidaklah Hampa

SEKELOMPOK pakar di Jepang pernah membikin semacam eksperimen untuk membuktikan bahwa kata-kata atau "omongan" yang keluar dari mulut kita bisa punya dampak yang luar biasa, bahwa kata-kata bukanlah "hanya" kata-kata belaka. Mereka sekali-kali tidaklah kosong atau hampa.

Eksperimennya sederhana saja: obyeknya adalah 2 (dua) gelas air putih. Gelas-gelas itu kemudian diberi label, Gelas 1 dan Gelas 2. Kedua gelas itu kemudian diperlakukan berbeda sekali. Gelas 1 diperlakukan dengan sangat "manis", diajak "ngobrol" hal-hal yang menyenangkan, dipuja-puji, singkatnya, Gelas 1 diperlakukan dengan "positif".

Gelas 2 diperlakukan sebaliknya. Ia dimaki-maki, dikata-katai dengan kasar, diajak "ngobrol" yang jelek-jelek. Singkat cerita, kalau ke dalam Gelas 1 dicurahkan energi baik, maka ke dalam Gelas 2 dicurahkan energi negatif. Kemudian kedua gelas itu dibawa ke Lab guna diteliti dengan saksama.Hasilnya? Terbukti kemudian bahwa Gelas 1 yang mendapat perlakuan "manis" mempunyai kualitas kimiwi yang lebih baik ketimbang Gelas 2 yang diperlakukan kasar dan tidak sopan.

Jadi berhati-hatilah dengan omongan yang keluar dari mulut kita. Jika air saja bisa jadi rusak, macam mana pula kejadiannya terhadap hati manusia, yang sedemikian rapuhnya? Pepatah lama "fitnah lebih kejam dari pembunuhan" bukanlah mengada-ada.Kata-kata memang bisa lebih berbisa dari senjata apa pun.

10 September 2013

Mengapa FPI Tak Mati-Mati?

BELUM lama ini, ormas yang kerap bikin kita mengurut dada, Front Pembela Islam (FPI), berulang tahun. Ulang tahun yang keberapa, tak pentinglah itu kita urus.Yang lebih menarik buat diomongin adalah kenapa  kok ormas yang tindak-tanduknya teramat menggelisahkan banyak orang itu masih bisa eksis dan sejahtera hingga saat ini?

Kalau bagi saya sendiri soalnya sudah menjadi cukup jelas dengan sendirinya. FPI masih bisa survice tentu saja karena penguasa di sini belum menginginkannya "habis". Pastilah ada kalkulasi-kalkulasi politis tertentu yang telah dilakukukan dengan "saksama" sebelum lalu sampai pada keputusan mengambangkan keberadaan ormas preman berjubah ini.

Silakan menduga-duga sendiri "kalkulasi bijak" macam apa yang menjadi dasar pembiaran ormas ini. Tentu sah saja kalau misalnya Anda menaruh kecurigaan bahwa alasan itu karena penguasa saat ini merasa "jeri" kepada kelompok mayoritas yang berada di belakang preman-preman ini. Bagaimanapun perasaan sang mayoritas janganlah sampai dicederai--meskipun terang dan jelas kerjanya FPI ya menciderai perasaan kelompok lain.

Sah-sah juga kalau Anda menduga bahwa alasan pembiaraan itu semata-mata karena alasan pencitraan belaka. Maksudnya, supaya penguasa terlihat "sangat demokratis" oleh pihak luar. Biar saja orang di dalam pada ribut dan gereja-gereja disegel, yang penting publik di luar sana bisa diyakinkan bahwa penguasa saat ini mampu menahan diri dari kemungkinan tergoda bertindak reaktif dan emosional.

Mungkin Anda masih punya dugaan lainnya seputar soal FPI ini. Tak apa, itu artinya Anda masih punya cukup akal waras di tengah situasi yang semakin gokil ini, dan itu sah juga.

07 September 2013

Calon Presiden 2014?

  1. SIAPA gerangan calon presiden RI 2014 adalah pertanyaan luar biasa penting--karena itu menyangkut nasib ratusan juta warga negara di sini--tapi saya kuatir pertanyaan itu tidak dianggap lagi "penting" karena bisa saja sebagian besar kita sudah menjadi apatis. Sudah hopeless memikirkan nasib negara ini. Saya misalnya, terus terang termasuk kelompok yang merasa hampir yakin bahwa Pemilu 2014 tidak akan membawa negara ini beranjak jauh dari problem-problem gawatnya hari ini.
  2. BAGAIMANA saya bisa optimis kalau calon-calon yang kayaknya bakal "mentas" jauh dari meyakinkan. Merekak adalah sejumlah "stok lama" yang sebagiannya kita tahu tidak bakal becus kalau disuruh mengurus negara ini, sedang sebagiannya lagi adalah nama-nama yang menyandang cacat politis pada rekam jejak masa silamnya. Bagi saya sangatlah mengerikan memberikan kepada para mantan bandit ini peluang berkuasa.
  3. SEBETULNYA saya diam-diam menaruh harapan pada satu atau dua nama "alternatif" yang sedikit jauh mempunyai performa lebih baik ketimbang "stok lama" yang sepertinya pada tidak punya cermin di rumahnya itu. Tapi aturan main yang sekarang jadi "akidah" politik di sini tidak memungkinkan calon-calon alternatif ini mentas secara independen. Mereka harus  "nebeng" parpol yang ada, dan itu artinya mereka pun jadi sandera politik yang tidak merdeka lagi.Dan kalau sudah begitu, harapan apa lagikah yang masih boleh disandangkan pada mereka?
  4. JADI ini sebuah lingkaran setan, negeri ini macam terkena kutuk saja .Jika tidak terjadi hal-hal luar biasa, Pemilu 2014 hanya akan menghasilkan sejumlah pejabat baru (dan juga para penjahat politik yang baru)--bukan para pemimpin dan pengayom yang didambakan. Ah, mungkin saya kelewat berlebihan, maaf, tapi saya tak tega membohongi diri saya sendiri. Sekali lagi, maaf.

28 August 2013

Kiat Bahagia, Hiduplah Lebih Slow ... ...

KIAT bagaimana caranya supaya bisa lebih "bahagia" ternyata "gampang" saja, yaitu coba hidup lebih pelan, lebih slow, jangan kelewat grasa-grusu. Cobalah sebagai langkah awal, kata penganjur kiat ini, belajar melakukan segala sesuatunya lebih lambat 5 (lima) menit dari waktu yang biasanya kita jalani. Jadi misalnya sarapan pagi 5 menit lebih lama, berangkat ke kantor 5 menit lebih lambat dari biasa, lalu browsing di internet (sebelum mulai kerja) 5 menit lebih lama juga ...

Mungkin terdengar rada konyol nasehat itu, tapi coba perhatikan fakta bahwa ketika sedang liburan kita biasa melakukan hampir segala sesuatu dengan tempo lebih lambat dari biasa, dan nyatanya kita jadi merasa jauh lebih nyaman, bukan? Bukankah sudah lama ditengarai bahwa gaya hidup modern yang selalu terbirit-birit macam lomba itu menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit, dan pada gilirannya menyebabkan ketidakbahagiaan. 

Sebuah temuan mengejutkan (seharusnya tidak lagi mengejutkan) belum lama ini menyebutkan bahwa penduduk Singapura ternyata tergolong penduduk yang "tidak bahagia" di dunia. Mengherankan (seharusnya juga tidak perlu diherani) bahwa ternyata kemakmuran fisik; keserbacukupan materi di negeri mungil nan tajir itu tidak otomatis mengantar pada kebahagiaan. Bahkan kita mungkin menjadi sah untuk bertanya, apakah bukan tidak mungkin kemakmuran fisik itu yang jadi penyebab ketidakbahagiaan di sana?

Temuan itu selanjutnya menyodorkan fakta bahwa penduduk di sejumlah negara Amerika Latin (yang lebih "miskin" ketimbang Singapura) ternyata malah terglolong "bahagia" dengan hidupnya. Mengapa bisa begitu?  Mungkin perbedaan gaya hidup di Singapura dan Amerika Latin itulah penyebabnya. Di Singapura hidup begitu bergegas sehingga orang di sana dipaksa menjalani segala sesuatunya mungkin lebih cepat 5 menit dari biasanya. Sementara di Amerika Latin irama hidup berjalan lebih pelan, dan orang di sana masih bisa melakukan segala sesuatunya 5 menit lebih lambat ...

Mungkin menarik menambahkan satu catatan lagi, yaitu bahwa Singapura adalah contoh negara sekuler di mana hal-hal spiritual makin dianggap sebagai "tidak relevan" lagi. Hal sebaliknya terjadi di negara-negara Amerika Latin. Jadi bolehkah kita pun sedikit bergurau: penduduk Singapura memetik banyak kekayaan duniawi tapi pada saat yang sama mereka dipaksa mencicipi juga pahitnya bebuah sekulerisme?

19 August 2013

Teka-teki Blog yang Hilang

BLOG saya, [Rak Puisi], pernah sekonyong-konyong hilang begitu saja. Kejadiannya sudah hampir dua tahun yang lalu, kalau tak salah ingat. Kalau kita coba mengaksesnya kala itu akan muncul pesan "Blog Ini Sudah Dihapus". Heran bin bingung saya ketika itu--juga sedih dan marah. Bagaimana tidak, blog yang sudah susah payah dirrawat dan diupdate 5 (lima) tahun lebih tiba-tiba saja kok raib. Saya langsung menduga itu kerjaan "hacker". 

Anehnya, akun Gmail saya pun tidak bisa diakses. Lebih aneh lagi blog [Ruang Samping] ini tetap bisa tampil, hanya saya nggak bisa login karena ia menggunakan akun Gmail yang sama dengan [Rak.Puisi].


Saya sempat mengumumkan peristiwa "kematian misterius" blog saya itu di situs jejaring sosial. Beberapa orang secara spontan pada turut menyatakan belasungkawa, sehingga membuat saya sedikit "terhibur" karenanya. Sesudahnya saya merasa akan berhenti ngeblog samasekali, karena kalau harus menulis dari awal lagi rasanya malas sekali.

Tapi kemudian terjadi lagi hal yang lebih aneh. Sesudah lewat beberapa bulan, ketika saya sudah mulai belajar melupakan "nasib malang" saya itu, eh blog yang hilang itu tahu-tahu bisa diakses kembali sewaktu saya secara iseng mencoba memanggilnya. Saya periksa ternyata keadaannya tak kurang suatu apa, masih sama persis seperti sebelum ia "hilang". Dan akun Gmail saya yang macet mendadak bisa diakses juga.

Begitulah, dengan terheran-heran saya lalu mengumumkan kembalinhya blog itu. Sampai hari ini saya tetap tak paham gerangan apa yang sebetulnya terjadi dengan blog puisi saya itu. Saya menduga-duga apakah ini kerjaan Google--selaku pemilik Blogspot? Mungkin  ada "perilaku" blog saya yang dianggap "melanggar akidah", maka blog itu kena cekal. Kemudian agaknya terbukti bahwa saya tak bikin dosa apa pun, maka ia dibebaskan kembali. Hanyai apakah betul duduk soalnyha demikian? Wallahuallam.

Sedihnya, mungkin saja ada yang kemudian mengira saya sengaja membikin kehebohan itu guna menarik perhatian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...