12 March 2008

Buku The Secret : Ajaran Sesat Tersamar?

BUKU laris The Secret membuat seorang kawan gelisah. Ia, seorang katolik yang taat, mendatangi saya dan mewanti-wanti bahwa buku itu menawarkan pandangan sesat yang sangat tersamar. Buku itu dengan cara yang cerdik, katanya, menggiring kita untuk akhirnya “menjauhi Dia”, seraya bersandar sepenuhnya pada kekuatan sendiri.

Saya sudah membaca buku itu, dan menurut saya itu salah satu buku paling inspiratif yang pernah saya baca. Tentang pikiran sang kawan saya tak sepenuhnya sependapat. Saya katakan buku itu bisa saja membuat pembacanya terpeleset, tapi spirit buku itu sendiri sebetulnya, menurut saya, tidak menyuruh orang menjadi sesat.

The Secret bertutur tentang adanya hukum tarik-menarik dalam semesta. Menurut hukum itu alam semesta ini dengan cara yang tak kita pahami mampu menghadirkan hal-hal yang kita pikirkan menjadi nyata. Pikiran yang positif akan menghadirkan hal-hal positif : orang-orang baik, teman-teman baik, kejadian-kejadian baik, datang seperti kita panggil.

Dan sebaliknya pikiran negatif bakal menghadirkan hal-hal negatif dalam hidup kita. Penuhilah benak anda dengan pikiran negatif (anda berutang banyak, tak disukai, masa depan suram, tak bahagia), bayangkanlah itu setiap hari, dengan intens, bertahun-tahun, maka, kata the Secret, percayalah hidup anda akan seperti itu : berutang di sana-sini, dibenci teman, kejadian-kejadian konyol seperti bergiliran mengeroyok anda.

Hukum tarik menarik ini bekerja tanpa minta persetujuan. Ia ada, bekerja di sana, diam-diam, tanpa setahu kita, seperti hukum gravitasi, atau hukum kematian, tetap bekerja—tak peduli anda sukses atau gagal, tak penting anda setuju atau tidak. Kita, kata The Secret, adalah hasil bentukan dari hal-hal yang kita pikirkan setiap hari.

Kalau ternyata hidup kita hari ini tidak menyenangkan, maka menurut logika hukum tarik menarik, itu karena selama ini kita—disadari atau tidak--berpikir dengan cara salah. Dan sebaliknya, mereka yang hari ini sukses—disadari atau tidak-- selama ini telah menerapkan cara berpikir benar, atau lebih tepat, positif.

Membaca The Secret secara sembrono bisa mengantar pada pemahaman keliru : hidup sepertinya mudah, dan kehilangan unsur misterinya. Kita tinggal duduk-duduk, berpikir yang “baik-baik”, maka hidup kita akan “jadi baik”. Itu adalah tafsiran paling kasar dan bodoh terhadap The Secret.

Pembacaan yang cermat (dan tanpa prasangka) akan membawa ke tafsiran berbeda. Misalnya, kalau kita kepingin kaya, kita tidak cukup hanya duduk melamun “menjadi kaya”. Ada serangkaian tindakan, action, yang harus dibuat. Rangkaian tindakan itu pada saatnya akan menghadirkan kejadian dan orang-orang. Dan orang-orang itu pada saatnya mungkin saja membukakan peluang yang bisa kita coba rebut untuk meraih sukses.

The Secret menjelaskan itu dengan cukup rinci. Satu hal yang berulang ditekankan adalah bahwa pada awalnya, sebelum yang lain-lainnya, adalah “pikiran”. Pikiran adalah kunci awalnya. Statemen bahwa kita akan menjadi apa yang tiap hari kita bayangkan atau pikirkan sangat jelas, mudah dipahami, dan tak perlu mengundang polemik.

Lantas di mana letak bahaya “sesat”nya The Secret? Menurut saya, The Secret—seperti juga feng shui—adalah tawaran untuk memahami “Dia”, dan banyak hal lain dalam hidup kita, dengan cara berbeda. Di dalam feng shui (dan The Secret) menurut saya, “Dia”, Tuhan, Allah yang kita sembah itu, tetap ada, hadir, dan terlibat dengan setiap kejadian, hanya saja tak disebut secara eksplisit dalam bahasa agama yang kita kenal.

Di sana “Dia” terdefinisikan dalam rumusan dan kosa kata yang lain samasekali : chi (dalam feng shui), ladang energi atau medan energi (menurut The Secret dan fisika kuantum).

Saya tak kaget kalau pikiran semacam ini sulit diterima mereka yang terbiasa berpikir lurus dan tertib dalam kaidah-kaidah liturgis yang sudah mapan dan telanjur diakrabinya. Mereka ini suka berpikir bahwa segala sesuatunya memang “pasti”, dan bisa dirumus-rumuskan dengan eksplisit pula.. padahal bukankah Kitab Suci sendiri jelas-jelas menyebut “Dia” adalah “terang yang tak terhampiri”, dalam salah satu ayatnya?

Setara dengan ayat itu, ribuan tahun sebelum Kristus, kitab Tao sudah menulis bahwa “kebenaran yang bisa dirumuskan dengan kata, bukanlah kebenaran sejati”. Artinya jelas sekali, Sang Kebenaran Sejati, karena itu berada di luar jangkauan bahasa (dan akal) manusia yang cupet tapi suka sok tahu.

Pastor Eddy. Kristiyanto, OFM, dalam pengantar bukunya “Selilit Sang Nabi”—yang mengupas perihal keberadaan bidah atau sekte-sekte yang dianggap sesat--menulis bahwa “hidup kita berada dalam tegangan sehat antara absolutisme dan relativisme”, karenanya “tiada seorang pun atau lembaga mana pun boleh mengklaim dirinya sebagai satu-satunya pemilik, pembela, dan penafsir kebenaran”.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...