Showing posts with label Ryan Psikopat. Show all posts
Showing posts with label Ryan Psikopat. Show all posts

23 October 2008

Ryan Mau Jadi Presiden

Ryan mau jadi presiden. Dia tak malu-malu lagi sekarang. Setiap hari wajahnya nongol di televisi. Menebar senyum dan janji. Memamerkan taringnya. Dia bilang, dia membawa amanat bumi dan langit. Dia bilang merasa terpanggil melihat barisan orang susah bertambah panjang saja di republik yang ganjil ini. Dia berjanji bakal membereskan semua itu. Sepertinya dia teramat yakin dengan performanya. Dia muncul setiap hari di ruang tamu kita..Mengemis perhatian. Tak bosan mengulang-ulang janji sorganya. Mungkin ada juga yang kesengsem. Ibu-ibu yang suka nonton sinetron sepertinya bakal suka dengan tampang klimisnya. Dan rambut licinnya. Mungkin sudah banyak yang lupa Ryan dulu pernah membakar sebuah negeri seperti membakar sampah. Dan menembaki demonstran bagaikan bocah memencet semut.

06 August 2008

Kisah "Ryan", yang "Ngantor" di Toilet

IBU KOTA Jakarta, yang kata sebuah ungkapan usang “lebih kejam dari ibu tiri” menyimpan banyak cerita menarik dan kadang bahkan ajaib bin aneh. Salah satu cerita itu adalah perihal seorang lelaki, yang namanya sebut saja, Ryan. Pria bernama Ryan ini bukan gay, tapi “profesi”nya memang berhubungan dengan kelompok gay. Jam dinas Ryan tak tentu, fleksibel, tergantung suasana hati, dan yang juga menarik ia selalu “ngantor” di toilet-toilet mal.

Ryan, yang adalah “tulen lelaki” ini, punya tongkrongan macho, tinggi besar, dengan rambut yang kerap dipotong model cepak. Ia tak bisa dibilang ganteng memang, tapi lumayanlah. Nah, Ryan ini rajin nongkrong di mal mencari mangsanya yang adalah para gay. Ia punya “radar” yang canggih hingga segera bisa tahu kalau ketemu “lawan”. Kalau sudah begitu ia akan mulai beraksi, misalnya, dengan mengajak “lawan”nya itu bermain mata.

Kalau pancingannya berhasil, Ryan akan menggiring lawannya ke “kantor”nya yang di berada di toilet itu. Ia melanjutkan pancingannya lebih provokatif lagi, sehingga gay korbannya akan menjadi tambah berani mendekatinya. Misalnya, ia akan berpura-pura kencing, seraya membiarkan anunya terlihat oleh si korban, sehingga sang gay menjadi tambah blingsatan : mengintip “anu”nya Ryan, atau melakukan tindakan nekat lainnya.

Nah, pada momen “kritis” itulah Ryan sang tokoh kita mulai beraksi. Mendadak saja ia berubah galak kepada gay lawannya, menunduhnya telah berbuat cabul kepadanya, seraya mengancamnya akan melaporkannya kepada pihak berwajib. Dan ujung-ujungnya ia akan memeras korbannya. Lha, korbannya, yang sering ternyata berdompet tebal dan punya jabatan penting, mati kutunya. Dari pada urusan jadi heboh, dan orang pada tahu dia gay, mendingan mandah saja diperas.

Begitulah Ryan menjalankan “profesi”nya. Tapi tidak selalu ia bernasib mujur. Pernah ia mendapat korban yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan polisi. Habis ia dihajar berdarah-darah ketika itu. Kapok? Oh tidak, namanya juga “profesi”, ia terus setia melakoninya. Hanya untuk amannya, supaya tidak gampang dikenali, ia sering terpaksa berpindah-pindah “kantor”. Kabarnya paling akhir ini ia “ngantor” di sebuah mal di daerah Senen.

29 July 2008

Ryan dan Amrozi

ANTARA Amrozi, teroris bom Bali, dan Ryan, waria tersangka pembunuhan berantai itu, ternyata ada kemiripan. Keduanya keluaran pesantren, keduanya dikenal sebagai seorang muslim yang tekun beribadah. Ryan malah pernah jadi guru mengaji. Diceritakan bahwa ia pun seorang penyayang tanaman dan ikan yang takzim. Kabarnya ia suka mengajak “ngobrol” ikan-ikannya.

Tapi persamaan paling penting tentu saja bahwa keduanya pembunuh, dan tidak merasa bersalah melakukan hal itu. Tapi kalau Ryan, sejauh ini tampak tampil cuek dan dingin, Amrozi malah sering kelihatan cengengesan. Mungkin dia bangga sudah berhasil membantai nyawa ratusan orang yang tidak tahu apa dosanya sampai harus bernasib apes begitu.

Apabila ada perbedaan di antara mereka, maka itu hanyalah soal persepsi belaka. Kalau Ryan mungkin membunuh karena desakan kebutuhan perut, adalah Amrozi membantai korbannya dengan alasan “luhur” dan “mulia”, yakni “memerangi” kemaksiatan. Bahwa ternyata banyak di antara korbannya “orang baik-baik”, biarlah nanti Amrozi sendiri yang membereskan soal itu

Perbedaan lain antara mereka adalah soal cap atau label yang dipasangkan pada keduanya. Kalau untuk “monster” sejenis Ryan kita tak ragu menyebutnya “jagal”, maka untuk Amrozi agaknya ada sedikit “kebingungan”. Bagi sebagian orang, khususnya orang Bali, Amrozi jelas penjahat besar, tapi tidak demikian untuk kelompok lainnya. Kita tahu, ada yang malah menganggap Amrozi itu “pahlawan”, “martir” yang layak dikenang dan ditangisi kalau nanti ia jadi juga dieksekusi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...