Showing posts with label Steve Jobs. Show all posts
Showing posts with label Steve Jobs. Show all posts

07 April 2011

"Jika Besok Anda Mati", Nasehat Steve Jobs

Jika anda tahu hari ini adalah hari terakhir hidup anda, artinya anda juga tahu bahwa besok anda dipastikan mati, apa yang akan anda lakukan hari ini? Steve Jobs, pendiri Apple Computer, punya jawaban menarik untuk pertanyaan itu. Bila ini adalah hari terakhir saya, tanya si jenius itu pada diri sendiri, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini? Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Saya pernah mendengar petuah bijak bahwa pendorong terbesar sukses seseorang ternyata bukanlah soal-soal teknis semacam “skill” atau “modal” (uang), atau bahkan “koneksi”, melainkan “rasa kepepet” orang itu. Masuk akal, seorang yang terpojok dalam situasi ekstrem yang tidak memberikannya pilihan lain kecuali “bertarung sampai tetes darah terakhir” sering malah keluar sebagai pemenang dengan hasil terbaik yang di luar segala hitungan.

Jika situasinya “aman-aman saja”, tentu saja kita akan gampang tergoda untuk tidak bertarung habis-habisan. Jalan keluarnya adalah dengan menciptakan sebuah “situasi kepepet artifisial”. Steve Jobs punya trik sendiri yang memaksanya selalu berada dalam situasi “kepepet artifisial” itu, yaitu dengan (selalu) memikirkan kematian. Ujarnya, “Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.”

Jika anda tahu anda bakal segera mati maka anda akan tahu juga bahwa segala soal remeh-temeh—seperti perasaan takut gagal atau malu, yang biasanya menjadi perangkap terbesar kebanyakan orang untuk berhasil—menjadi tidak relevan lagi. Jika anda sebentar lagi mati, maka yang tertinggal hanyalah soal-soal yang esensial. Yang terisisa kini hanyalah suara hati anda sendiri. Dan pertanyaannya tinggal, masihkah anda akan mengabaikannya, suara hati anda itu, pada hari terakhir hidup anda ini? Bagi Steve Jobs jawabannya pasti, “Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.”

Tentu saja tidak ada seorang pun yang ingin mati, kecuali ia sedikit tidak waras. Bahkan orang yang kepingin masuk surga pun—sekali lagi, kecuali ia sedikit tak waras—tidak mau buru-buru mati dulu. Masalahnya, kata Steve Jobs, kematian adalah kepastian yang terus mendekat. Kabar baiknya, kesadaran akan hal itu membantu mengingatkan bahwa waktu kita di planet kecil ini sungguh sangat terbatas.

Waktu kita terbatas, jadi jangan sia-siakan hidup ini Jangan menari mengikuti genderang yang ditabuh orang lain. Atau dalam kata-kata Steve Jobs sendiri. “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda—yang lainnya hanya nomor dua, atau malah nomor tiga.

Jika kita sepakat dengan semua uraian itu, mulai esok pagi, seperti Steve Jobs, baiklah kita melihat ke cermin dan bertanya pada diri sendiri. “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” (Sebagai kado untuk ulang tahunku).

05 April 2011

"Harta Karun di Balik Reruntuhan", Pelajaran dari Steve Jobs

Selalu ada “harta karun di balik reruntuhan”, selalu ada hikmah di balik setiap nasib buruk, begitu orang-orang bijak kerap menasehati. Masalahnya adalah tidak setiap orang beruntung sanggup menemukan “bongkahan emas” di balik reruntuhan itu, tidak setiap kita cukup dibekali ketabahan untuk mau bersabar menggali untuk akhirnya menemukan harta karun di sebalik nasib buruk kita. Seakan hanya orang-orang dengan talenta khusus saja yang berkesempatan mengalami karunia tersembunyi itu.

Steve Jobs, pendiri Apple Computer, mungkin contoh orang dengan talenta khusus itu. Di masa mudanya ia keliru mengambil mata kuliah yang ternyata kemudian tak diminatinya samasekali, padahal ia telah menguras habis seluruh tabungan orang tuanya—yang hanya pegawai rendahan—untuk bisa kuliah di jurusan yang diyakininya “tak membawa manfaat apa pun “ itu. Ia lalu memutuskan drop out begitu saja.

Ia mengenang saat itu sebagai “saat-saat paling menakutkan dalam hidupnya”. Bacalah kembali cuplikan komentarnya berikut ini: “Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna.”

Tapi belakangan ia menganggap pilihan tindakannya untuk DO itu adalah benar, sebenar-benarnya. Setelah berhenti kuliah ia jadi punya kesempatan menghadiri perkuliahan yang disukainya. Salah satu kelas yang diikutinya dengan bersgairah adalah kelas kaligrafi. Di sana ia dengan takzim belajar mengotak-atik jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains, katanya.

Tapi yang paling menarik untuk disimak adalah bahwa Steve Jobs, saat itu, sebetulnyai tidak melihat samasekali manfaat pelajaran kaligrafi bagi kehidupannya. Ia, ketika itu, hanya sekadar menurutkan hasrat dan dorongan dari dalam dirinya belaka. Tapi 10 tahun kemudian, ketia ia dan timnya mendesain komputer Macintosh yang pertama, pelajaran kaligrafi yang dulu ditekuninya itu memperlihatkan kegunaannya secara nyata: “Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik,” kata Stve Jobs.

Jadi seandainya ia dulu tak keliru memilih mata kuliah, seandainya ia lalu tak memutuskan DO—artinya memilih mengecewakan banyak orang, utamanya kedua orang tuanya—tentu ia tak akan berkesempatan kuliah kaligrafi yang di kemudian hari memberi sumbangan penting pada perkembangan Personal Computer pada masa-masa selanjutnya.

Steve Jobs akhirnya menemukan “harta karun” di balik reruntuhan nasib masa mudanya. Saya tergoda untuk menyimpulkan bahwa ia sanggup untuk sampai di sana karena ia telah memilih untuk melanjutkan sisa hidupnya—yang ketika itu tampak tak berpengharapan--dengan semacam semangat murni, atau dengan kata lain, dengan passion. Mudah-mudanan kesimpulan ini tidak terlalu ngawur.

06 May 2009

Pidato Steve Jobs (tiga-selesai)


Cerita Ketiga : Stay Hungry, Stay Foolish.

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

04 May 2009

Pidato Steve Jobs (dua)

Cerita Kedua : Cinta dan Kehilangan

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya. Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti (Bersambung).

Pidato Steve Jobs (satu)

Pengantar

Pidato Steve Jobs ini diucapkan pada acara wisuda Standord University, 12 Juni 2005. Meski sudah “lama” berlalu, pidato ini ternyata masih sering dibaca dan didengarkan orang. Di Youtube videonya bahkan sudah diakses hampir 2 juta kali. Bagi saya pidato Steve Jobs ini memang inspiratif. Karena lumayan panjang, saya memenggalnya dalam tiga kali pemuatan. Semoga bermanfaat.

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya. (Bersambung)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...