Showing posts with label Selebriti. Show all posts
Showing posts with label Selebriti. Show all posts

16 January 2009

Dua Tukul, Dua Peruntungan

TUKUL yang pertama tentu saja Wiji Thukul--penyair yang raib tak tentu rimbanya sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Tak ada yang tahu nasib apa yang sebetulnya menimpanya. Santer diwartakan bahwa ia “dilenyapkan” oleh penguasa dari rejim yang lampau. Tapi kapan persisnya, bagaimana ia “dihabisi”, dan di mana jasadnya dibenamkan—andai benar semiris itu lakonnya--tak ada yang paham. Ada spekulasi ia sebetulnya masih hidup dan sengaja menyembunyikan diri, tapi kabar ini pun tak sulit dikonfirmasi.

Tukul yang satunya masih sehat afiat dan banyak ketawa. Ia memang pernah juga “raib” belum lama ini, tapi hanya sebulan saja, gara-gara kebablasan menyuruh orang makan kodok mentah. Tukul Arwana, yaitu Tukul yang kedua ini, selalu tampil necis dengan jas dan dasi plus komputer jinjing—simbol-simbol yang dianggap mewakili citra “hidup mapan” dan “terpelajar”. Aksesoris penting lain yang selalu “ditentengnya” adalah beberapa orang perempuan cantik.

Dunia Tukul yang pertama adalah dunia yang “muram, sunyi dan keras”. Sedemikian sunyi dan kerasnya hingga untuk menyiasatinya hanya tersedia satu cara, “hanya ada satu kata”, kata Tukul yang pertama, yaitu : “lawan!” Tapi perlawanan itu pun kita tahu sia-sia.

Sebaliknya hidup dalam dunia Tukul Arwana terlihat nyaman, aman, dan siapa tahu juga mudah. Sebuah dunia yang dipenuhi seloroh dan gelak tawa. Di dunia Tukul yang kedua berpikir kelewat serius seakan tabu. Daripada stres berkerut jidat, mari kita tertawa ria melupakan karut-marut kehidupan. Tak ada yang musti “dilabrak!”, tak ada yang kudu diperangi dengan tanda seru. Semua bisa didamaikan, hidup bisa diselorohka, bukan?.

Dan kalau masih ada yang nekat juga “melawan”, maka Tukul yang kedua akan buru-buru mengingatkan supaya kita “kembali ke laptop”, artinya kembali kepada hidup yang “aman” dan “nyaman”, yang ramai oleh seloroh itu.

Jadi begitulah, dua Tukul itu telah menjalani pilihan nasibnya dan menerima ganjaran yang jadi jatah masing-masing pula. Pilihan yang satu berujung pada ending yang muram dan tragis, sedang pilihan satunya lagi bergulir menjadi hidup yang nyaman dan aman. Tapi sungguhkah lakon mereka (khususnya untuk Tukul yang kedua) sudah “tamat” sepenuhnya, tentu hanya waktu yang berhak menjawabnya.

09 December 2008

Jessy Gusman Kepingin Naik Bus Kota

SUATU ketika di tahun 1980-an, Jessy Gusman—yang kala itu masih seorang artis remaja papan atas nan cantik molek—mengatakan kepada seorang wartawan bahwa ia masih menyimpan sebuah keinginan terpendam yang sampai saat itu belum sempat dikecapnya. Anda tahu apa “keinginan terpendam” yang dimaksudnya? Ini : berjejalan naik bus kota di Jakarta.

Kemiskinan dan “hidup susah” memang bisa saja terlihat eksotis dan “indah” jika kita berkesempatan mengamatinya dari jarak yang cukup jauh dan aman. Artinya jika kita berada dalam posisi hanya sebagai “penonton”--atau paling jauh sekadar “saksi”—dan bukan pelaku, atau lebih tepat “korban”, dari lelakon hidup prihatin itu.

Begitu juga dengan pengalaman berjejalan dalam bus kota. Apa nikmatnya coba naik bus kota berdesakkan begitu : gerah, panas, bau, lengket? Setiap hari saya pulang pergi ke kantor dengan bus kota, dan saya tahu betul betapa tak nyamannya kondisi angkutan umum yang satu ini. Bukan hanya tak nyaman, pun tiada aman. Saya pernah dua kali digebukin copet—gara-gara mau meniru Bruce Lee hehehe--sampai hampir terlempar dari pintunya.

Maka jika si cantik Jessy Gusman dulu pernah berangan-angan kepengin merasakan pengalaman “berdesakkan dalam bus kota”, itu tentu harus dipahami sebagai keinginan seorang kaya dan mapan yang lagi sekadar haus pengalaman yang sedikit beda. Katakanlah itu semacam ovoturisme kecil-kecilan, yang tentu saja aman dan tak beresiko sama sekali. Karena sang artis masih berada dalam zona amannya sendiri.

17 April 2008

Dewi Persik : Korban Sikap Munafik Kita

GONJANG-ganjing seputar “goyang gergaji” penyanyi dangdut Dewi Persik, yang kemudian berbuntut pada pencekalan atas penyanyi itu di wilayah Tangerang dan Bandung, adalah sebuah lagu lama. Bangsa ini dikenal munafik dalam banyak perkara—juga dalam urusan “goyang bergoyang” ini. Kita misalnya sering mengaku “anti pornografi”, tapi lihatlah berita-berita perkosaan ditampilkan dengan begitu vulgar di halaman-halaman koran, sampai hampir mirip novel stensilan, dan kita pun menyantapnya dengan lahap.

Masih ingat kasus pembunuhan seorang dara bernama Christine beberapa tahun lalu? Koran-koran dengan tangkasnya menelanjangi figur wanita yang ternyata sebelum dihabisi sudah sering “digarap” oleh pamannya sendiri itu. Mereka bahkan menjelajah sampai ke wilayah yang sangat pribadi. Misalnya saja perihal perilaku seksual Christine yang dianggap menyimpang tak ketinggalan dibahas juga. Saya masih ingat misalnya, sebuah koran besar (dan terhormat) di sini merasa perlu berkisah perihal ukuran liang dubur Christine yang dianggap “tidak lazim”—sebagai “bukti” bahwa almarhumah memang punya perilaku seksual tidak biasa.

Sedemikian rinci dan “tuntas” koran-koran membeberkan kasus ini sehingga rasanya tidak keliru kalau kita simpulkan bahwa Christine mengalami pembunuhan dua kali : pertama, dibunuh pamannya sendiri, dan kedua, dihabisi oleh media. Dan itulah sebetulnya wajah kita yang asli seaslinya dalam urusan beginian.

Dewi Persik (dulu ada Inul, dan entah siapa lagi) hanya korban dari sikap hipokrit kita. Kebetulan juga ini sudah dekat Pemilu, kebetulan juga di sana-sini lagi ada musim Pilkada, kebetulan juga ada politisi anu, atau pejabat itu, yang baru saja terpilih tapi merasa masih “utang setoran” kepada orang-orang di kampungnya; singkatnya ini memang lagi waktunya buat politisi “cari muka”, maka dicarilah korban. Dan yang apes kali ini Dewi Persik.

Tapi kalau kita mau berpikir dengan “teori dagang”, segala keributan ini sebetulnya malah berdampak bagus buat sang penyanyi. Ini sungguh promosi gratis yang luar biasa, bukan? Dulu Inul juga “dikerjain”, tapi ujung-ujungnya malah tambah “ngebor” karirnya. Maka kalau Dewi Persik hari ini dapat giliran “dikerjain”, percayalah besok dan lusa ia akan semakin “menggergaji” kita. Sampai di sini jelas sudah, “siapa mengerjai siapa” sebetulnya. Bravo “goyang gergaji”!

26 November 2007

Pertobatan dan Kisah Gito Rollies

PERTOBATAN adalah sebuah peristiwa personal, dan momennya biasanya spesial pula. Di sana boleh saja ada semacam seremoni yang menyertai : sejumlah umat yang diminta menjadi saksi, dan petinggi agama yang bertugas “mengesahkan” pertobatan itu. Tapi seremoni itu hakikatnya hanya sebuah pelengkap liturgis yang sebetulnya bukanlah esensi dari peristiwa pertobatan itu sendiri.

Hal lain yang menandai sebuah pertobatan adalah bahwa ia datang dalam kesukarelaan. Memang ada faktor eksternal yang ikut bermain. Mungkin teman dekat, pasangan hidup, atau bisa saja seorang musuh pribadi—memainkan peran awal yang menentukan. Tapi pertobatan itu sendiri kemudian lahir dengan, atau, dalam sebuah kondisi takluk yang sukarela, serta diliputi syukur. Bukanlah pertobatan namanya kalau itu berlangsung dalam situasi penuh ketakutan, dan paksaan.

Atau jika pasal “takut” mau juga disertakan, maka “takut” di sini tentulah bukan jenis takut karena adanya ancaman beringas dari massa yang mayoritas dan, karenanya jadi suka mentang-mentang.

Bangun Sugito alias Gito Rollies punya kisah menarik seputar riwayat pertobaannya. Lama sebelum ia sungguh bertobat ia mengaku suka diusik sebuah pertanyaan “remeh”. Ia, akunya, sering heran melihat orang-orang yang berangkat ke masjid. Orang-orang itu tampak damai, mungkin juga bahagia pikirnya, melangkah berombongan, atau sendiri-sendiri, dalam diam, atau dengan senda gurau. Tapi wajah mereka, wajah mereka, katanya, mengapa nian begitu damai.

Ada apa dengan mereka, apa gerangan yang mereka temukan di masjid—begitulah sang rocker bertanya-tanya, heran, barangkali takjub.Dan itulah benih awal pertobatan sejati. Perhatikan bahwa tak ada siapa pun yang menyuruh apalagi menakut-nakutinya untuk merasa heran dan takjub. Tapi jika begitu, lantas darimana muasalnya rasa heran dan takjub itu?

Maka kita sampai pada poin terpenting dalam diskusi kecil ini. Ketika seseorang bertobat, sebetulnya yang terjadi bukanlah karena dia “berhasil” menemukan Tuhan, tetapi yang benar, Tuhanlah yang berkenan menemuiya. Tapi ini memang bukan perkara yang bisa dengan gampang diterang-jelaskan. Sebab pertobatan, seperti sudah disinggung di awal sekali, adalah sebuah peristiwa yang memang sangat sekali personal, dan spesial.

Dan karenanya ia menjadi sebuah momen yang meta-bahasa, sebuah momen di mana bahasa manusia tak bisa lagi terlalu jauh ikut campur. Dan memang, sesungguhnya di sana, pada momen itu, tiada diperlukan lagi kata-kata, dan bahasa. Seperti puisi sejati ditemukan dalam diam, dalam keheningan maha luas dan dalam—begitupun ibadah yang sebenar-benarnya.

16 November 2007

Jalan Sabu Roy Marten

NARKOBA dan dunia selebritis adalah dua hal yang tak terpisahkan—itu sudah menjadi rahasia umum. Maka tak perlulah kaget kalau Roy Marten ketangkep lagi gara-gara urusan yang sama. Aktor ganteng ini berdalih bahwa ia mengkonsumsi sabu untuk menggenjot tenaganya. Dunia film menuntut kesiapan stamina yang prima, sedang ia sudah merasa reyot dan tak muda lagi.

Alasan untuk memperoleh stimulans guna menjaga performa prima itu mungkin menjadi dalih pembenar bagi banyak pengguna narkoba lainnya. Di zaman yang katanya edan ini, di mana tingkat persaingan berlangsung gila-gilaan—sehingga tingkat stres dan ketegangan hidup juga menjadi meningkat tinggi--praktik doping dengan segala bentuk dan variasinya menjadi hal yang umum dilakukan.

Saya bahkan berani taruhan bahwa pemakaian narkoba sebagai doping bukan hanya monopoli artis dan seniman—politikus, pejabat, pengusaha, dan banyak anggota masyarakat lainnya juga ikut meramaikan. Bukankah narkoba sudah lama menerjang masuk ke balik tembok sekolah? Dan lebih absurd lagi malah sudah ada juga polisi yang ketangkep tangan sedang nyabu.

Karena begitu biasanya gaya hidup bernarkoba ria di kalangan artis, maka teman-teman dan kerabat dekat yang membesuk Roy Marten tidak akan bilang “Kenapa sih lu masih make juga? Katanya udah tobat”. Bukan, bukan begitu. Teman-teman dekat Roy akan mengomelinya begini “Lu kok bego amat sih, bisa ketangkep sampe dua kali. Lihat dong gua nih”.

Tapi, betul begitu begokah Roy Marten? Kini berkembang setidaknya 2 teori lain di seputar kasusnya ini. Teori pertama mengatakan bahwa sang aktor terlibat dalam sindikat narkoba—jadi ia bukan lagi sekedar pemakai. Mungkin ia “digarap” sewaktu ngendon di bui dulu, atau malah sebelum itu ia sudah ikut main. Cukup masuk akal.

Teori kedua mengatakan bahwa Roy justru tengah “dimanfaatkan”—atau lebih persisnya sedang diajak kerja sama dengan polisi—untuk bisa masuk ke dalam jejaring sindikat narkoba yang bak hantu, ada tapi tak nyata itu. Jadi ia akan pura-pura ditangkap, dinterogasi, nantinya pura-pura diadili lantas masuk bui lagi. Ia tengah memerankan sosok pecundang—padahal sebetulnya ialah sang heronya.

Kelewat spekulatif? Berlebihan? Mengada-ada? Mungkin. Tapi namanya kan baru teori, jadi sah saja. Lagian katanya dunia ini cuma “panggung sandiwara”, jadi segala kemungkinan boleh-boleh saja, atau bisa-bisa saja terjadi.

29 June 2007

Dengan Sinetron "Membegokan" Bangsa

WACANA bahwa acara seperti sinetron di TV telah dipakai sebagai alat untuk membodohkan bangsa ini beberapa kali saya dengar dalam acara Newsdotcom di Metro TV. Pola pembodohannya cukup canggih dan terkesan “ilmiah”. Melibatkan juga antara lain lembaga rating yang secara kontinyu mengabari kita bahwa tontonan-tontonan “sampah” seperti sinetron itulah yang ternyata menjadi suguhan yang “paling dicari” penonton.

Dengan modal rekomendasi lembaga rating itulah kemudian pihak stasiun televisi menyusun program acaranya. Lha karena sinetron adalah item yang paling “recommended”, maka banjirlah televisi kita dengan suguhan sinetron kelas “sampah” itu. Kalau kita komplein soal ini pihak televisi selalu berkilah bahwa mereka hanya bekerja mengikuti “selera pasar” yang tercermin dari hasil rating itu.

Jadi pertanyaan besarnya adalah sungguh sahihkah hasil rating itu sehingga pihak stasiun televisi harus patuh menyembahnya, dan kita pun terpaksa pula percaya bahwa kualitas intelektual penonton televisi kita sebegitu parahnya? Lebih krusial lagi adalah menjawab “apa” atau “siapa” gerangan berdiri di belakang lembaga rating yang kita sembah-sembah itu. Jangan-jangan lembaga-lembaga itu memang tidak pantas dipercaya.

Sebagai wacana, kecurigaan bahwa hasil rating itu semata akal-akalan yang pada gilirannya dimanfaatkan sebagai jembatan untuk tambah menyengsarakan bangsa ini lewat kebodohan-kebodohannya layak dicermati. Tapi haruslah wacana itu didukung hasil survey yang juga valid supaya tidak jatuh menjadi gosip yang lain lagi. Belajarlah menuduh dengan cerdas.

Saya teringat pada statemen sarkastik Syumanjaya (alm) sewaktu mengomentari situasi perfilman nasional dekade 80-an yang saat itu dibanjiri film-film “sampah” semodel “Nyi Blorong cs”. Film-film seperti itu, katanya, adalah film-film bodoh, dibuat oleh orang-orang bodoh, untuk orang-orang bodoh. Jadi, film-film “sampah”, sinetron-sinetron “tolol” ternyata memang selalu punya basis dan pendukungnya dari masa ke masa.

Hanya seberapa kukuhkah keberadaan mereka sebetulnya sehingga secara signifikan sanggup membentuk panorama televisi kita menjadi seperti sekarang, itulah pertanyaan yang masih harus dicari jawabnya. Untuk tujuan itu, memang kita tidak diharuskan percaya pada lembaga rating “anu” yang selama ini banyak dipertanyakan kebenaran hasil ratingnya itu..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...