BELUM lama ini, ormas yang kerap bikin kita mengurut dada, Front Pembela Islam (FPI), berulang tahun. Ulang tahun yang keberapa, tak pentinglah itu kita urus.Yang lebih menarik buat diomongin adalah kenapa kok ormas yang tindak-tanduknya teramat menggelisahkan banyak orang itu masih bisa eksis dan sejahtera hingga saat ini?
Kalau bagi saya sendiri soalnya sudah menjadi cukup jelas dengan sendirinya. FPI masih bisa survice tentu saja karena penguasa di sini belum menginginkannya "habis". Pastilah ada kalkulasi-kalkulasi politis tertentu yang telah dilakukukan dengan "saksama" sebelum lalu sampai pada keputusan mengambangkan keberadaan ormas preman berjubah ini.
Silakan menduga-duga sendiri "kalkulasi bijak" macam apa yang menjadi dasar pembiaran ormas ini. Tentu sah saja kalau misalnya Anda menaruh kecurigaan bahwa alasan itu karena penguasa saat ini merasa "jeri" kepada kelompok mayoritas yang berada di belakang preman-preman ini. Bagaimanapun perasaan sang mayoritas janganlah sampai dicederai--meskipun terang dan jelas kerjanya FPI ya menciderai perasaan kelompok lain.
Sah-sah juga kalau Anda menduga bahwa alasan pembiaraan itu semata-mata karena alasan pencitraan belaka. Maksudnya, supaya penguasa terlihat "sangat demokratis" oleh pihak luar. Biar saja orang di dalam pada ribut dan gereja-gereja disegel, yang penting publik di luar sana bisa diyakinkan bahwa penguasa saat ini mampu menahan diri dari kemungkinan tergoda bertindak reaktif dan emosional.
Mungkin Anda masih punya dugaan lainnya seputar soal FPI ini. Tak apa, itu artinya Anda masih punya cukup akal waras di tengah situasi yang semakin gokil ini, dan itu sah juga.
Showing posts with label FPI. Show all posts
Showing posts with label FPI. Show all posts
10 September 2013
18 June 2008
Tentang Janggut, Peci, Jubah, dll
ADA kejadian lucu sewaktu tempo hari polisi meluruk ke “kandang” FPI di Tanah Abang, Jakarta. Entah karena polisinya kelewat tegang, atau ada faktor lain, mereka sempat “salah mata” dan menangkap seorang yang ternyata bukan anggota FPI. Penyebab salah tangkap itu ternyata sederhana, yaitu karena yang bersangkutan—ia mengaku hanya tukang semir sepatu—berjanggut ala anggota FPI umumnya.Memang belakangan ini, janggut—ditambah baju koko, peci putih, dan sorban—oleh sebagian kelompok seperti dijadikan “aksesori wajib” yang harus dikenakan kalau kepingin dianggap “sungguh muslim”. Mungkinkah ini hanya sebuah tren modis yang sifatnya temporer semata, memang masih harus ditunggu dan dibuktikan.
Yang berbahaya adalah kalau kemudian keberadaan aksesoris itu dijadikan juga alat untuk mengukur tingkat kesalehan seseorang. Orang lalu terpaku pada apa yang kelihatan oleh mata lahiriah. Iman diukur dari apa yang dikenakan : jubah, peci, sorban, tasbih yang ditenteng kesana-kemari (mungkin juga jidat yang ‘kapalan’ karena seringnya bersujud?) bukan dari perilaku nyata sehari-hari yang bersangkutan.
Seorang mistikus katolik dari Spanyol, Santo Yohanes Salib, dalam bukunya yang termashur, "Malam Kelam" pernah juga menyinggung soal kegandrungan pada aksesoris fisik ini. Menurut orang suci itu, aksesoris yang dikenakan itu memang bukti adanya iman pada orang yang mengenakannya, tapi mohon maaf, yang dimaksud oleh sang santo adalah iman yang masih pada tingkatan awal, atau permulaan. Jadi kalau diumpamakan murid sekolah, ia baru siswa TK atau SD.
Sebaliknya iman yang tulen, yang sudah paten teruji, tidak lagi merisaukan (atau direpotkan) tampilan yang hanya fisikal sifatnya. Sebab memang, yang penting akhirnya “isi”nya, bukan kemasannya. Awas, kemasan memang bisa menipu, tapi “isi”, tidak.
06 June 2008
Insiden Monas : Sungguhan atau Sandiwara?
JIKA diamati teliti ada ketidak-konsitenan dalam 3 tulisan saya terdahulu di halaman ini yang menyoal insiden Monas serta keberadaan FPI.Dua tulisan menyorot kemungkinan adanya rekayasa di belakang insiden Monas, tapi satu tulisan lain, yaitu “FPI ternyata Ayam Sayur” seolah terlepas dari soal “rekayasa” itu. Seakan-akan saya percaya sungguh FPI adalah trouble maker murni yang pantas dibereskan.
Jika saya renungkan kembali nyatalah keidak-konsistenan itu disebabkan karena saya pun agaknya masih meragukan adanya unsur “rekayasa” dalam insiden itu, sehingga ketika membaca warta sekitar “diserbunya” sarang FPI perasaan saya sedikit meluap tak terkontrol. Kemuakan saya yang terpendam lama kepada perilaku kelompok “preman.berjubah” yang gemar “menertibkan” ini dan itu tumpah semua.
Kini setelah memikirkannya kembali dengan lebih rileks, saya kembali yakin bahwa insiden Monas sungguh sebuah rekayasa. Tentu yang termasuk dalam rekayasa itu bukanlah adegan saling gebuknya. Betul bahwa FPI menggebuki sejumlah orang dari Aliansi, tapi pertanyaannya mengapa gebuk-menggebuk itu bisa berlangsung dengan mulus dan lancar, di siang bolong yang terang benderang, dan notabene jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari Istana?
Mengapa untuk sebuah perhelatan seakbar pada Ahad, 1 Juni 2008 itu, pengamanan dari pihak polisi begitu minim? Kabarnya hanya ada satu kompi polisi yang diterjunkan di lokasi sekitar Monas hari itu. Sedangkan di tempat insiden berlangsung hanya ada satu polisi berpakaian preman. Baru setelah sejumlaah orang babak-belur polisi berbondong-bondong datang. Mengapa begitu? Lha itulah ajaibnya insiden Monas.
Bagian selanjutnya dari sandiwara itu kita sudah pada tahu juga. Habib Rizieg Shihab petentengan datang ke Polda, bersama “pangab” LPI, Munarman, menggelar konprensi pers. Rizieg ngomong galak akan “melawan sampai titik darah penghabisan” kalau sampai FPI dibubarkan. Sementara Munarman juga main ancam akan menyerbu kantor Koran Tempo.Ini sekadar bumbu penyedap belaka.
Bahwa kemudian ternyata mereka (FPI) tidak bikin perlawanan apa-apa sewaktu polisi datang, itu juga bagian dari skenario. Order yang mereka terima dari “atas” rupanya meminta mereka “patuh”, jadi ya mereka “patuh”. Tapi supaya lalu muncul kesan seru dan dramatis diaturlah Munarman seolah-olah buron. Anton Medan yang “tidak tahu apa-apa” juga dilibatkan dalam urusan ini. Dan kalau hari ini akhirnya Munarman “terpegang” itu semua pun sudah bagian dari sandiwara.
Tentu saja kalau anda menuntut “bukti” bahwa insiden Monas adalah rekayasa, jelas mustahil. Kita tidak bakal mendapatkannya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba lebih cermat membaca yang “tersirat” di balik banjir peristiwa yang secara “tersurat” membombardir kita setiap harinya. Celakanya media massa (koran, radio, tv) juga mau atau tidak ikut terpancing bermain, sebab mereka selalu butuh suplay berita atau cerita-cerita hebat untuk bisa dijual. Tidak penting itu sungguhan atau hanya fiksi.
Jika saya renungkan kembali nyatalah keidak-konsistenan itu disebabkan karena saya pun agaknya masih meragukan adanya unsur “rekayasa” dalam insiden itu, sehingga ketika membaca warta sekitar “diserbunya” sarang FPI perasaan saya sedikit meluap tak terkontrol. Kemuakan saya yang terpendam lama kepada perilaku kelompok “preman.berjubah” yang gemar “menertibkan” ini dan itu tumpah semua.
Kini setelah memikirkannya kembali dengan lebih rileks, saya kembali yakin bahwa insiden Monas sungguh sebuah rekayasa. Tentu yang termasuk dalam rekayasa itu bukanlah adegan saling gebuknya. Betul bahwa FPI menggebuki sejumlah orang dari Aliansi, tapi pertanyaannya mengapa gebuk-menggebuk itu bisa berlangsung dengan mulus dan lancar, di siang bolong yang terang benderang, dan notabene jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari Istana?
Mengapa untuk sebuah perhelatan seakbar pada Ahad, 1 Juni 2008 itu, pengamanan dari pihak polisi begitu minim? Kabarnya hanya ada satu kompi polisi yang diterjunkan di lokasi sekitar Monas hari itu. Sedangkan di tempat insiden berlangsung hanya ada satu polisi berpakaian preman. Baru setelah sejumlaah orang babak-belur polisi berbondong-bondong datang. Mengapa begitu? Lha itulah ajaibnya insiden Monas.
Bagian selanjutnya dari sandiwara itu kita sudah pada tahu juga. Habib Rizieg Shihab petentengan datang ke Polda, bersama “pangab” LPI, Munarman, menggelar konprensi pers. Rizieg ngomong galak akan “melawan sampai titik darah penghabisan” kalau sampai FPI dibubarkan. Sementara Munarman juga main ancam akan menyerbu kantor Koran Tempo.Ini sekadar bumbu penyedap belaka.
Bahwa kemudian ternyata mereka (FPI) tidak bikin perlawanan apa-apa sewaktu polisi datang, itu juga bagian dari skenario. Order yang mereka terima dari “atas” rupanya meminta mereka “patuh”, jadi ya mereka “patuh”. Tapi supaya lalu muncul kesan seru dan dramatis diaturlah Munarman seolah-olah buron. Anton Medan yang “tidak tahu apa-apa” juga dilibatkan dalam urusan ini. Dan kalau hari ini akhirnya Munarman “terpegang” itu semua pun sudah bagian dari sandiwara.
Tentu saja kalau anda menuntut “bukti” bahwa insiden Monas adalah rekayasa, jelas mustahil. Kita tidak bakal mendapatkannya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba lebih cermat membaca yang “tersirat” di balik banjir peristiwa yang secara “tersurat” membombardir kita setiap harinya. Celakanya media massa (koran, radio, tv) juga mau atau tidak ikut terpancing bermain, sebab mereka selalu butuh suplay berita atau cerita-cerita hebat untuk bisa dijual. Tidak penting itu sungguhan atau hanya fiksi.
05 June 2008
FPI Ternyata "Ayam Sayur"
FPI ternyata hanya “ayam sayur”. Mereka menyerah begitu saja sewaktu kemarin (4 Juni 2008) polisi menyatroni “sarang” mereka di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta. Padahal sehari sebelumnya, Habib Rizieg Shihab yang memegang pucuk pimpinan di ormas “preman berjubah” itu berkoar galak “akan melawan sampai titik darah penghabisan” apabila ada anggotanya yang sampai “ditowel” polisi.Nyatanya, boro-boro melawan, malahan Munarman, “pangab”nya Laskar Pembela Islam (LPI), ngacir entah ke mana. Munarman ini sehari sebelumnya juga sempat mengancam-ancam akan menyerbu kantor Koran Tempo karena koran itu dianggap telah memfitnahnya. Ketika membaca warta itu saya muak sekali, kok enak bener ya, sedikit-sedikit main serbu, sedikit-sedikit main rusak—emang negara engkongnya …
Dengan kejadian kemarin itu semakin terbukti bahwa FPI memang hanya “ayam sayur” doang. Ketika tempo hari akan didatangi anak-anak Pagar Nusa (NU) pun mereka buru-buru ngibrit ke Polda guna minta perlindungan. Ketahuan deh beraninya cuma sama yang kecil, yang pasrah dan nggak bisa melawan.
Kalau iseng-iseng kita bandingkan dengan “anak-anak” Forum Kota (Forkot) umpamanya, yang juga “setengah preman” itu, wah kalah jauh sekali mereka. Forkot itu jelek-jelek sudah sempat “bikin sejarah” waktu 1998 lho. Lha FPI bikin apa-- selain bikin rusak kantor dan menjungkir-balikkan rezeki orang lain?
02 June 2008
FPI "Makan" Korban Lagi
KELOMPOK preman berjubah yang dikenal dengan sebutan keren FPI alias Front Pembela Islam (saya kira kata “Pembela” di situ sebaiknya diganti saja dengan “Pencemar”) kembali bikin ulah. Kali ini yang jadi korban adalah kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang tengah berkumpul di lapangan Monas, Ahad, 1 Juni 2008 (Koran Tempo, 2 Juni 2008).Sejumlah orang luka-luka serius dalam insiden memalukan itu, malah ada yang gegar otak, dan perlu dioperasi. Insiden kemarin itu menjadi menarik karena dilakukan pas pada tanggal 1 Juni, hari yang selama ini diperingati sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ini sama saja artinya FPI terang-terangan “memberaki” Pancasila, dan UUD 45 yang jelas-jelas mendukung hak setiap orang di sini untuk bebas memilih sendiri keyakinan dan agamanya. Secara implisit bisa saja tindakan anarkis itu digolongkan juga sebagai kegiatan “makar” kecil-kecilan.
Seruan menuntut adanya tindakan hukum tegas dan kalau perlu pembubaran Ormas Islam yang suka bikin sebal banyak orang itu kontan timbul bersahutan. Akankah tuntutan itu ditanggapi? Saya kok tidak yakin ya. Saya rasa seperti yang lalu-lalu, insiden barbar dan biadab ala FPI ini pun akan lewat begitu saja. Sudah bukan rahasia lagi bahwa aparat kepolisian di sini terkesan “jeri” kalau sudah bersinggungan dengan kelompok agama mayoritas ini.
Dari kelompok umat sendiri tertangkap adanya kesan mendua dalam menanggapi keberadaan FPI. Contoh paling gamblang ditunjukkan sendiri oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Seperti pernah ditulis di halaman ini juga, MUI di satu pihak sering mengeluarkan imbauan “anti kekerasan”, tapi kenyataannya tidak pernah mereka mengutuk kekerasan yang dilakukan FPI—juga kelompok umat garis keras lainnya.
Keberadaan FPI sebetulnya mirip dengan keberadaan kelompok seperti FBR (Forum Betawi Reseh eh Rempug), atau PP (Pemuda Pancasila), FKPPI dan beberapa lagi di zaman Orba dulu. Sudah jadi rahasia umum bahwa ada sejumlah “orang kuat” yang mengongkosi dan jadi deking mereka, sehingga mereka terkesan begitu leluasa bertindak apa saja, dan sebaliknya teramat susah untuk ditertibkan.
Maka kalau sekarang kembali ada tuntutan supaya “FPI bubar”, pahamilah itu bukan urusan mudah. Tapi sekiranya kelompok preman bersorban itu toh dinyatakan bubar, sama sekali tidak sulit untuk mendirikan kembali kelompok sejenis, dengan nama dan seragam berbeda, tapi dengan pola perilaku yang sama-sama saja, bukan?
01 April 2008
Islam Kok Seram Ya?
SUDAH lama saya diusik tanya ini. Terakhir, gara-gara heboh film, Fitna, rasa terusik saya makin bertambah. Kenapa Islam kok kesannya serem ya? Gampang marah, cepat main ancam, sigap main boikot, dan kalau diperlukan, tangkas juga main serbu, main rusak, diteruskan dengan main bakar ini dan itu, dan lain sebagainya. Saya datang dari latar belakang bukan muslim, jadi maaf kalau saya tak begitu paham dengan semua fenomena itu.Saya suka bertanya, apakah memang Islam sejatinya mengajar untuk cepat marah dan main hantam begitu, atau ini masalah tafsir belaka? Saya sering berusaha meyakin-yakinkan diri bahwa ini hanya soal tafsir barangkali. Saya katakan kepada diri saya, Islam yang sejati pastilah berwajah sejuk, meski bukan berarti lembek dan mandah saja diperlakukan berat sebelah. Sejauh yang pernah saya dengar dan baca, Rasulullah adalah sosok penyejuk seperti itu.
Maka saya suka pada figur damai dan moderat seperti Gus Dur, Nurcholis Majid, Emha Ainun Najib, Ulil Abshar Abdalla, dan beberapa lainnya. Adakah mereka representasi yang paling mewakili Islam? Oh pasti banyak yang tidak setuju dengan pikiran itu. Bukankah pada masanya dulu almarhum Nurcholis Majid pun dianggap “murtad” karena gagasan sekularisasinya?
Ulil Abshar Abdalla malah pernah ditafwa mati oleh sejumlah ulama Islam di sini, karena pikiran dan omongan-omongannya dianggap ngawur dan menyesatkan. Emha? Ia pun saya kira bukan tokoh yang disukai oleh banyak ulama karena pikiran-pikirannya yang cenderung “nyeni”. Lalu Gus Dur. Ah kita sudah tahu ia banyak “mengoleksi” musuh justru dari kelompok muslim, dan malah meraih simpati dari kelompok yang non muslim.
Di luar nama-nama yang dituduh “liberal” itu kita bisa menemukan barisan muslim yang lain. Sebagian dari mereka menduduki posisi-posisi penting dalam organisasi Islam yang “menentukan” di sini. Mereka, dengan atau minus sorban Arabnya, umumnya berwajah “tunggal” : mematok harga mati untuk banyak hal.
Tapi kadang saya mendapat kesan kelompok “keras” ini menampilkan wajah yang mendua. Misalnya, mereka suka mengeluarkan imbauan agar umat tidak “terpancing”, atau berapologi bahwa Islam menolak kekerasan, tapi mereka cenderung membiarkan kalau kekerasan itu kemudian sungguh terjadi. Setahu saya, MUI umpamanya, tidak pernah mengeluarkan semacam teguran (apalagi dampratan) kepada aksi-aksi anarkistis sepihak yang kerap dipamerkan oleh kelompok Front Pembela Islam.
Ini membingungkan saya. Sebetulnya mereka (MUI) setuju atau tidak pada aksi premanisme ala FPI itu? Saya, sekali lagi, tidak datang dari latar belakang muslim—meski beberapa teman karib saya adalah muslim semuslimnya—jadi maaf, apabila saya tak kunjung paham dengan fenomena ini. Adakah yang bersedia membantu menjelaskan?
27 May 2007
FPI, Korban Kampanye Jahat?
DI HALAMAN ini beberapa waktu yang lalu penulis menurunkan postingan tentang keberadaan blog Front Pembela Islam (FPI). Tulisan yang membeberkan fakta mengejutkan itu sudah menarik perhatian Muhamad Sulhanudin (Mas Udin) yang karena merasakan sekian kejanggalan di seputar blog FPI itu kemudian melakukan perburuan dan pelacakan.Hasilnya ia menemukan kesimpulan menarik dan lebih mengagetkan lagi, yaitu bahwa ternyata blog itu bukan blog resmi FPI. Malah ada kemungkinan blog itu adalah alat yang sengaja digunakan untuk lebih memojokkan (lagi) ormas berbendera Islam yang selama ini aksi-aksinya memang suka bikin sebel banyak orang itu.
Inilah antara lain hasil investigasi Mas Udin yang bisa dibaca dalam blognya :
Pengelola blog FPI sepertinya keberatan disebut telah melakukan black campaign. Pertanyannya, kalau pemilik blog FPI tersebut memang benar-benar pendukung tegaknya syariat islam, simpati dengan perjuangan FPI, kenapa dia juga menyediakan link-link ke situs yang bertentangan dengan misinya itu dan anehnya link ke blog terlarang itu justru juga dibuat oleh pengelola yang sama. Dia membuat blog FPI, tapi juga membuat blog tandingannya?
Lalu apa yang lebih tepat untuk menyebut aktivitas yang dilakukan blogger yang mengelola FPI Online, Zamanku, dan Mediacare itu jika yang bersangkutan keberatan disebut telah melakukan black compaign. blogger kurang kerjaankah, ataukah anda punya istilah yang lebih tepat?
Penasaran dan kepingin tahu liputan lengkapnya? Klik di sini ya.
16 May 2007
Mengintip Blog FPI
TADI saya menyempatkan diri keluyuran ke situsnya FPI alias Front Pembela Islam, sebuah kelompok yang pasti kita semua sudah tahu sepak dan terjangnya yang suka bikin gregetan itu. Tapi tahan dulu perasaan gregetan anda, karena ada hal-hal yang ternyata menarik buat disimak dari situs itu.
Pertama, situs FPI mengambil rupa blog, berbasis blogspot. Artinya situsnya itu situs, maaf, gratisan. Saya lantas berpikir, kalau betul FPI selama ini “ada yang mendanai”—begitulah gosip yang beredar--kenapa kok situsnya murah meriah begitu? Ini sebuah teknik pengelabuan saja? Entahlah. Hanya mereka sendiri yang bisa menjawabnya.
Kedua, layaknya sebuah blog, situs FPI didesain untuk bisa “interaktif”. Maka di sana ada shoutbox—yang isinya ternyata “puji-pujian nan merdu” ke alamat FPI--dipasang juga di sana tool Sitemeter, terdaftar pula di Technorati, dan sudah ada yang link ke sana rupanya. Dan oh ya, tool Mybloglog yang sekarang lagi populer juga ikut meramaikan halamannya..
Selain itu, mungkin yang paling bikin surprise, banner AdSense Google juga terpampang di sana. Lha, ini juga memaksa saya mesem. FPI kan katanya “anti Amerika”, tapi kok situsnya “sangat amerika” gitu lho. Kenapa nggak pake software made in Arab saja? Baiklah, saya coba menjawab sendiri keheranan ini. Mungkin sohib-sohib dari FPI akhirnya sadar juga bahwa tidak semua yang “bau bule” itu “haram” hukumnya. Ada juga ternyata yang “asyik” dan bisa “dipake” berjuang hehehe.
Jadi yang namanya berjuang “menegakkan syariat Islam” itu caranya tidak cuma ngumpulin massa lantas main sambit dan timpuk kantor orang. Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami.
Pertama, situs FPI mengambil rupa blog, berbasis blogspot. Artinya situsnya itu situs, maaf, gratisan. Saya lantas berpikir, kalau betul FPI selama ini “ada yang mendanai”—begitulah gosip yang beredar--kenapa kok situsnya murah meriah begitu? Ini sebuah teknik pengelabuan saja? Entahlah. Hanya mereka sendiri yang bisa menjawabnya.
Kedua, layaknya sebuah blog, situs FPI didesain untuk bisa “interaktif”. Maka di sana ada shoutbox—yang isinya ternyata “puji-pujian nan merdu” ke alamat FPI--dipasang juga di sana tool Sitemeter, terdaftar pula di Technorati, dan sudah ada yang link ke sana rupanya. Dan oh ya, tool Mybloglog yang sekarang lagi populer juga ikut meramaikan halamannya..
Selain itu, mungkin yang paling bikin surprise, banner AdSense Google juga terpampang di sana. Lha, ini juga memaksa saya mesem. FPI kan katanya “anti Amerika”, tapi kok situsnya “sangat amerika” gitu lho. Kenapa nggak pake software made in Arab saja? Baiklah, saya coba menjawab sendiri keheranan ini. Mungkin sohib-sohib dari FPI akhirnya sadar juga bahwa tidak semua yang “bau bule” itu “haram” hukumnya. Ada juga ternyata yang “asyik” dan bisa “dipake” berjuang hehehe.
Jadi yang namanya berjuang “menegakkan syariat Islam” itu caranya tidak cuma ngumpulin massa lantas main sambit dan timpuk kantor orang. Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)

