Showing posts with label Motivator. Show all posts
Showing posts with label Motivator. Show all posts

07 December 2007

T o m m y

Seperti dikisahkan John Powell, SJ

14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang gondrong. Penilaian singkatku: dia seorang yang nyentrik, sangat nyentrik. Tommy ternyata betul menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-terusan mengajukan komplain. Dia juga tak bisa percaya bahwa Tuhan mencintai kita tanpa pamrih. Dia terang-terangan melecehkan hal itu.

Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" "Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh. "Oh," sahutnya. "Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil, "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu." Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.

Kemudian kudengar Tommy lulus, dan aku bersyukur. Namun kemudian sebuah kabar sedih : Tommy mengidap kanker, dan sudah mencapai stadium lanjut. Sebelum aku sempat mengunjunginya, dia malah duluan menemuiku. Tubuhnya sudah kisut, dan rambut gondrongnya rontok karena kemoterapi.

Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya kena kanker, dan hidup saya tinggal beberapa minggu lagi”. Lalu kataku : “Kamu mau membicarakan itu?" Tommy menyahut, "Boleh saja. Apa yang ingin pastor ketahui?" Aku bertanya lagi, "Bagaimana rasanya berumur 24, tapi kematian sudah di depan mata". Dan Tommy menjawab, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tapi mengira bahwa minum, rmain perempuan, dan menguber-nguber harta adalah hal paling penting dalam hidup ini."

Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan, "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga, tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu. Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy, "Saya teringat tentang pastor dan kata-kata pastor yang lain, “Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang kita cintai bahwa kita mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit, yaitu... ayah saya."

Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya. "Yah, aku pengin omong." "Omong saja.", katanya "Yah, ini penting sekali." Korannya turun perlahan. "Ada apa?". "Yah, aku cinta ayah, aku hanya ingin ayah tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. “Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."

"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru mulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya. Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."

"Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.” Lalu aku menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"

Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Ia keburu meninggal. Tapi satu hal, ia sudah melangkah jauh dari iman ke visi. Ia sudah menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan banyak orang.

12 November 2007

100 Tahun Lagi ...

INI sebuah adegan klise dari sebuah film yang sudah saya lupa judulnya : cewek pelayan restoran itu menumpahkan kuah sayuran ke pangkuan seorang tamu yang sedang asyik santap. Dengan gelagapan, sang pelayan menghiba-hiba memohon maaf. Bosnya ikut-ikutan juga menyemprotnya. Dan mungkin karena kebetulan tamu itu “orang penting”, seorang pelanggan VIP di restoran itu, ia bukan hanya menyemprot, tapi bahkan memecatnya sekalian.

Sesudah ribut-ribut reda si cewek pergi ke pojokan, meratapi nasib apesnya. Seorang konco baiknya lalu mendatanginya dan menasihatinya begini :“Tentang kejadian tadi, begini saja, coba kau pikirlah dengan tenang, 100 tahun lagi siapa masih peduli semua itu. Ok!” Nasihat itu sederhana, simpel, tapi menurut saya bagus, dan manjur. Saya pun sering mempraktikannya saat merasa kepepet. Tidak susah kok, hanya mengatakan kepada diri sendiri “100 tahun lagi siapa masih peduli dengan ini”. Tapi lakukanlah dengan takzim dan sungguh-sungguh.

Jadi kalau anda saat ini, misalnya, tengah merencanakan sebuah kehebohan, katakanlah tindak korupsi gede-gedean, atau jenis kejahatan lainnya, dan anda diusik ragu, segera katakan pada diri anda (dengan takzim tentu), “Lakukan saja, 100 tahun lagi siapa sih masih peduli soal ini”. Percayalah, bahkan tak usah menunggu 100 tahun, selewatnya 5 atau 10 tahun pun orang di sini sudah pada lupa bahwa anda pernah jadi bajingan.

Apalagi kalau anda sering nongol di televisi, memakai kopiah putih dan berbaju koko. Lantas rajin pula menyambangi dan menyumbangi tempat-tempat ibadah atau orang susah, membagi-bagi nasi bungkus sembari memamerkan senyum Yudas. Bangsa ini sungguh adalah bangsa yang pemurah, penuh dengan tenggang rasa dan toleran—sering toleran untuk hal-hal yang jelas-jelas ngawur. Begitu pemurahnya sampai kadang ketelingsut menjadi, maaf. murahan.

29 October 2007

You Are What You Think

BAGAIMANA anda memandang hidup dan hari-hari anda? Kualitas hidup anda sangat tergantung dari bagaimana cara anda memandang dan menilainya. Konon ada tiga jenis manusia beserta caranya menilai. Jika hidup ini kita umpamakan saja dengan sebuah kerja membikin tembok, maka 3 jenis orang itu adalah seperti berikut.

Jenis pertama. Orang dari jenis ini melihat dan menilai dirinya tidak lebih dan tidak kurang dari seorang tukang yang sedang memasang batu di atas batu lainnya. Mungkin ia bekerja sembari menggerutu, atau mungkin juga tidak. Tapi kabar buruknya adalah ia tak kuasa melihat lebih jauh : Saya seorang tukang batu, hidup dan kerja saya adalah memasang batu. Titik.

Jenis kedua. Orang dari tipe ini paham bahwa ia seorang tukang batu. Tapi ia sanggup memandang lebih jauh. Ia akan berkata kepada dirinya : Kerja saya memang memasang batu, tapi batu-batu ini nantinya sesudah rampung saya susun akan menjelma menjadi sebentang tembok, kukuh dan gagah. Jadi, dalam kebersahajaannya, dalam ketidakberdayaannya, tipe orang yang ini masih bisa menyisakan hiburan bagi dirinya.

Lalu jenis ketiga. Orang dari tipe ini akan mengatakan kepada dirinya (dan mungkin juga kepada dunia) dengan penuh kebanggaan, bahwa ia bukan hanya sedang menyusun batu untuk mendirikan sebidang tembok yang keren, tapi lebih jauh lagi ia percaya bahwa ia pun sedang menyiapkan sebuah “istana” untuk anak-anak dan masa depannya kelak.

Ia, jenis ketiga ini, mungkin hanya seorang pegawai biasa yang saban pagi berangkat tergopoh-gopoh ke tempat kerjanya naik bis kota yang sumpek berjejal, sehingga belum apa-apa bajunya yang lusuh murahan sudah keringetan dan bau. Mungkin ia akan terpaksa berlari-lari—seraya mengeluh--menguber sisa waktu untuk jangan sampai telat sampai di kantor.

Lalu sepanjang hari ia akan membenamkan dirinya di antara tumpukan kertas dan angka-angka. Mungkin atasannya seorang tiran yang gemar membentaknya. Mungkin gajinya pas-pasan, anaknya masih pada kecil, dan ia terpaksa tinggal mengontrak di sebuah gang buntu, yang kalau hujan jadi lumayan becek. Tapi, siapa tahu diam-diam ia pun ternyata seorang blogger—meski hanya seorang blogger “gurem”.

Saya ingin mengatakan di akhir tulisan ini, siapa tahu, bukan tidak mungkin, ia, ternyata anda sendiri.

25 October 2007

"Tukang Sihir" Itu Bernama Mario Teguh

MUNGKIN tidak kelewat berlebihan kalau predikat “tukang sihir” kita lekatkan di depan nama Mario Teguh, sang motivator yang ujar-ujarnya hari-hari ini banyak ditunggu dan dicari orang. Ia sendiri dengan rendah hati lebih suka menyebut dirinya seorang sales, “hanya” seorang “penjual semangat”.

Sebagai penjual semangat ia memang piawai. Petuah-petuahnya terasa sangat bertenaga—dan mencerahkan. Itu bisa terjadi karena ia berhasil lolos dari sergapan klise, hal yang adalah perintang terbesar dalam urusan seperti ini. Banyak dari nasehatnya sebetulnya bukan barang baru apalagi ajaib, tapi karena disampaikan dengan cara “baru” maka ia lalu berubah menjadi “sihir yang memukau”.

Namun Mario Teguh tidak pernah menjanjikan sulapan. Ketika suatu kali ditanya soal seberapa perlunya faktor “luck” dalam sukses seseorang, ia dengan tandas mengatakan bahwa “keberuntungan” 100 persen berada di belakang sebuah sukses. Tapi “keberuntungan” dalam kamus seorang Mario Teguh hanyalah sejumput momen yang baru betul-betul akan menjadi “luck” manakala kita setiap hari bersiaga dan setia menantikannya—dengan cara antara lain merawat dan menjaga semangat kita.

Dengan kata lain, sukses dan keberuntungan adalah buah dari ketekunan dan kerja keras, dan bukan sekali-sekali produk dari sebuah “kebetulan”.

Hal lain yang mengesan—dan mungkin juga menjadi faktor pembeda dengan motivator lainnya--adalah nyelipnya nuansa relijius dalam sesion-sesionnya. Memadukan nasehat reljius ke dalam petuah bisnis sangat sekali beresiko, tapi Mario Teguh membuktikan bahwa bisnis pun sebuah area di mana hal-hal seperti relijiusitas, iman, dan Tuhan, adalah sah untuk hadir atau dihadirkan.

Bukan sekali dua kali ia mencoba meyakinkan kita bahwa setiap perbuatan baik akan mendapatkan ganjaran baik. Kalau tidak sekarang, mungkin besok, atau lusa, atau bulan depan, tahun depan, atau mungkin kelak anak-anak kitalah yang akan mencicipinya—tapi ganjaran itu suatu yang niscaya, katanya. Sebab, kata Mario Teguh pula, sistem akunting manusia bisa saja salah, tapi tidak sistem akunting Tuhan.

10 September 2007

Kalah dan Menang

JIKA hidup kita hanya berisikan hal-hal buruk, kekalahan demi kekalahan,maka pastilah sudah lama kita tamat, atau paling tidak, hidup dengan mental yang ringsek. Untunglah hidup setiap kita tidak seperti itu. Tapi jika hidup kita selalu berlangsung aman dan beres, pastilah sudah lama kita pun menjadi orang-orang dengan mental lembek. Dan mungkin, kita pun tak tahu lagi apa arti sebenarnya dari “kalah” dan “menang”.

Untunglah hidup memang tidak teranyam dengan komposisi tunggal begitu. Kekalahan dan kemenangan datang bergantian. Tidak bergiliran memang, sering tanpa pola yang bisa dijelaskan, tapi keduanya selalu hadir, selalu ada, dan saling melengkapi yang satunya.

Kita baru paham bagaimana sakitnya “kekalahan”, kalau sebelumnya sempat mencicipi “kemenangan”. Sebaliknya, manisnya “kemenangan” hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah sungguh-sungguh jatuh nyungsep ke dalam “kekalahan”. Kita musti lapar dulu baru bisa merasakan kenyang, begitulah memang aturan main dari sononya.

Itulah Yin Yang, keseimbangan yang mengatur jalannya ini jagat. Tidak ada yang lebih “baik” atau lebih “buruk”, karena keduanya dibutuhkan. Jika salah satunya ditiadakan, hidup akan menjadi roda yang kehilangan porosnya, sehingga perputarannya akan terganggu. Jadi, jangan sesali kekalahan anda, dan sebaliknya, jangan lupa daratan kalau sedang dapat giliran “menang”.

Orang-orang beriman percaya Tuhan menguji kita baik dalam susah maupun senang, Pada saat susah, saat terpuruk kalah, kita diuji untuk tabah. Pada saat berada di puncak kemenangan, kita diuji untuk tidak serakah. Ah, saya sama sekali tak bermaksud menggurui. Artikel ini hanya akal-akalan karena terus terang saya sedang bingung mesti menulis apa lagi, sementara blog ini sudah saatnya diupdate. Maaf.

02 September 2007

Hidup Bukan Kursus Mengetik

BANYAK orang rupanya punya anggapan bahwa hidup hanya berisi hal-hal teknis. Semua hal bisa dipelajari dan ditularkan—seperti ketrampilan mengetik. Lalu banyak orang juga percaya bahwa tujuan hidup adalah “sukses”. Dan ukuran “sukses” dilihat dari seberapa tebal dompet anda, atau seberapa kemilau jabatan anda, atau seberapa hebatnya kekuasaan anda, atau bisa juga dari seberapa ngetopnya anda.

Maka banyak orang lalu merasa “belum sukses” kalau belum kaya, atau belum punya jabatan, atau belum terkenal. Malah banyak orang lantas merasa hidupnya “kurang beres”, merasa ada yang “keliru” dengan cara hidupnya. Orang-orang inilah yang kemudian menjadi pelahap buku-buku Dale Carnegie, dan banyak lagi nama yang dengan tidak bosan-bosannya mencoba meyakinkan kita bahwa hidup memang seperti sebuah kursus mengetik. Bahwa semua hal bisa dipelajari, dan semua orang bisa “sukses”.

Saya termasuk orang yang tidak gampang percaya dengan segala nasehat Carnegian yang begitu banyak mengepung kita. Setahun yang lalu nama Robert T Kiyosaki mendadak jadi magnet yang membetot-betot dari segala jurusan. Buku-bukunya diburu dan dipelototi karena diyakini memuat resep ajaib yang bisa mengantar kita “sukses”. Saya termasuk yang waktu itu ikut mengudak-udak bukunya.

Ketika membaca buku-bukunya terus terang—seperti jutaan pembaca lainnya—saya merasa tersihir oleh petuah-petuahnya. Harus saya akui bahwa ia memberikan semacam “pencerahan”, menyodorkan hal-hal yang selama ini luput dari amatan kita. Saya pun dengan bersemangat menenteng-nenteng buku itu—dengan semacam perasaan “bangga” yang aneh. Tapi sesudah semua ritual itu saya lakukan ternyata nasib saya tak jadi berubah. Apa yang salah?

Saya rasa sebab paling utama adalah karena hidup memang bukan semacam “kursus mengetik”. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada cukup banyak orang yang berhasil mengubah hidupnya antara lain karena petuah-petuah Carnegian itu. Tapi sebagian besar lainnya tidak punya kemampuan, atau keberanian, atau kesempatan mempraktekkan jurus-jurus how to be success itu.

Sebagian besar orang—mungkin termasuk saya—adalah dari jenis pengagum merek atau label. Mereka ini sebetulnya tahu “obat” yang mereka butuhkan untuk sembuh. Tapi mereka, mungkin, tak punya keberanian menelan “obat” itu, karena memang rasanya luar biasa pahit. Jadi mereka ini hanya mengelus-ngelus merek “obat” itu, seraya mungkin, memamerkannya kepada siapa saja, tanpa pernah samasekali meminumnya.

Mario Teguh sering ditanya “bagaimana caranya supaya tidak takut?”. Dan ia menjawab dengan kalemnya, “ya jangan takut”. Sesederhana itukah? Tidak, menurut saya. Sebab ada jarak yang luar biasa lebar antara mengatakan “jangan takut” dan mempraktekkan “jangan takut” itu. Karena hidup memang, sekali lagi, bukan semacam kursus mengetik. Jadi mesti bagaimana?

Yang mesti kita lakukan adalah menemukan habitat yang memang cocok untuk kita. Masukilah habitat itu, hiduplah kau di situ, berbahagilah kau di sana. Jangan pernah memaksakan rumus “sukses” orang lain untuk hidup anda. Anda itu lain, unik, jadi temukan rumus “sukses” anda sendiri. Ini adalah nasehat yang pernah diberikan almarhum MAW Brouwer. Apakah petuahnya ini terasa aneh dan ketinggalan zaman? Anda yang berhak menjawabnya.

18 July 2007

Bagaimana Anda Marah?

ADA banyak cara atau trik untuk menilai kualitas pribadi seseorang. Misalnya kita bisa langsung menerka kualitas seseorang dari bobot pertanyaan yang diajukannya. Orang-orang dengan kualitas “A” niscaya hanya akan mengajukan pertanyaan yang mutunya “A” juga, yang biasanya membuat kita terhenyak mendengarnya. Nah, kalau Anda tidak mau diperlakukan sepele, hati-hatilah dalam mengajukan pertanyaan.

Sudah barang tentu kualitas seseorang juga bisa diukur dari cara yang bersangkutan menjawab pertanyaan. Orang-orang dengan kualifikasi “A” biasanya juga menyodorkan jawaban-jawaban yang kelas “A” juga. Semakin “sembarangan” dan “tidak nyambung” jawaban kita, semakin “sembarangan” juga orang lain akan memperlakukan kita. Jadi, bertanya dan menjawab itu bukan perkara asal mengeluarkan suara atau bunyi—seperti dengan fasih diperlihatkan banyak pejabat kita.

Kita juga bisa menakar kualitas pribadi seseorang dari caranya mengekspresikan kemarahan. Sungguh menarik menyimak bagaimana masing-masing orang melepaskan hawa amarahnya. Ada yang kalau marah jadi bungkam seribu bahasa, berhari-hari lagi. Sebaliknya ada yang kalau marah bukan cuma mulutnya yang “rame” tapi tangannya ikut membantu.marah-marah. Misalnya dengan merusak, melempar, menggampar, dan sebagainya.

Tentu saja kita tidak bisa selalu merekayasa dan mengatur ekpresi marah kita. Masing-masing kita agaknya sudah “ditakdirkan” punya gaya marahnya sendiri-sendiri. Berbahagialah bila Anda dikarunia kemampuan untuk marah dengan tetap bisa santun. Sehingga orang yang Anda marahi alih-alih ikut sewot—atau ketakutan--malah jadi takluk, menyerah tanpa syarat. Saya kepingin sekali bisa seperti itu—marah tapi bisa tetap mesem--tapi bagaimana ya cara latihannya …

15 May 2007

Mental "Kepepet", Tips Mario Teguh

EMBRIO tulisan ini bersumber dari acara Business Art with Mario Teguh yang ditayangkan Jakarta Own Channel. Ketika itu ada tanya jawab singkat antara pak Mario dengan seorang pemirsa. Saya mencoba mengembangkan tanya jawab itu, memberinya bumbu, menuanginya ‘saos’ dan ‘sambal’ sesuai selera saya tanpa membuang pesan intinya. Mario Teguh, kalau anda belum tahu, adalah seorang konsultan bisnis andal yang petuah-petuahnya sungguh sedap dikunyah. Seperti layaknya motivator hebat lainnya, keistimewaan Mario Teguh adalah kemampuannya menyugesti kita sehingga hidup yang sebetulnya “sukar dan edan” ini menjadi terasa lebih “mudah” dan jinak. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

TAHUKAH anda kenapa begitu banyak orang gagal dalam usahanya untuk bisa sukses sewaktu merintis usaha? Jawabnya karena mereka biasanya tidak betul-betul dalam kondisi “terdesak”. Modal utama untuk sukses bukanlah uang, bukan ide jenius, bukan juga skill, pun bukan koneksi. Itu semua memang penting, tapi bukan yang nomor satu. Modal utama dalam berusaha adalah adanya “perasaan terdesak”. Mental “kepepet” inilah yang akan menggebuk seseorang untuk sungguh-sungguh “fight” dalam merealisir usahanya.

Dalam kondisi ketika dihadapkan pada pilihan “hidup” atau “mati” itulah talenta terbaik seseorang biasanya menerobos keluar. Sastrawan Pramudya Ananta Toer melahirkan karya-karya monumentalnya sewaktu ia berada di sebuah penjara, di pulau Buru sana. Sementara itu Chairil Anwar menelorkan puisi-puisinya dalam situasi hidup yang bokek dan sakit-sakitan.

Bayangkanlah sekarang suatu kondisi ektrem lain. Misalnya mendadak hari ini anda dipecat dari pekerjaan anda yang nyaman dan bergaji besar. Pastilah kalau anda masih manusia normal, pada awalnya anda sempoyongan berat. Tapi sesudah itu anda dihadapkan pada pilihan sederhana : menyerah kalah begitu saja atau mulai mencoba bangun mencari jalan keluar dari mimpi buruk itu. Ada banyak cerita sukses orang-orang yang berhasil keluar dari situasi chaos itu. Sukses itu mungkin malah tidak akan pernah mereka raih kalau saja mereka tetap berada dalam zona nyaman pekerjaan lama mereka.

Kenapa kelompok etnis Cina di negeri ini umumnya bisa “sukses” adalah juga karena kondisi “terdesak” itu, di samping karena etos “kerja keras” yang selama ribuan tahun terus dipompakan para ruh leluhur. Mereka dibuat terpojok secara politis puluhan mungkin bahkan selama ratusan tahun, sehingga hanya tersedia sedikit pilihan bagi mereka—menjadi juara badminton atau juragan tekstil, umpamanya. Karena kesempatan sukses hanya tersedia pada lahan yang begitu terbatas, tidak ada pilihan buat mereka kecuali bertarung habis-habisan di lahan yang “disisakan” buat mereka itu.

Tapi bagaimana kalau kita sebenar-benarnya memang tidak sedang “terdesak”, tapi menginginkan sebuah terobosan berarti dalam hidup kita? Apa tips Mario Teguh :untuk kasus seperti ini? Gampang, ciptakanlah situasi “kepepet” artifisial, yang sanggup memaksa anda terpaksa berkelahi sungguhan, meskipun sebetulnya tidak ada ‘musuh’ di dekat anda.

08 May 2007

Hidup Bukan Teater

SEBUAH pementasan teater yang berhasil adalah sebuah suguhan pementasan yang bisa memuaskan seluruh penontonnya. Dan membikin puas seluruh penonton adalah sebuah kerja luar biasa berat. Dalam konteks sebuah tontonan teater maka di sana paling tidak terlibat sejumlah aktor, penata panggung, pengatur cahaya, penata kostum, pengatur musik..Diperlukan juga sebuah naskah yang hebat, dan tentu kehadiran seorang sutradara jagoan yang siap mewujudkan naskah itu di atas panggung.

Dan tentu saja sebelum itu ada latihan keras yang mungkin menguras waktu berbulan-bulan. Mungkin ada banyak kepentingan lain yang karenanya buat sementara musti dipinggirkan dulu. Pendeknya, ada komitmen teguh yang musti tetap dijaga, dan itu semua demi suksesnya pementasan di panggung. Lebih tepatnya demi menjamin “kepuasan” penonton yang sudah repot-repot datang dan membeli karcis, yang mungkin juga mahal harganya.

Maka kalau kita selalu merasa dirisaukan dengan pertanyaan bagaimana menyenangkan orang lain—seraya mengorbankan perasaan kita sendiri--barangkali kita sudah terjebak dalam pola laku rombongan teater itu. Kita selalu takut apa yang kita bikin tidak menyenangkan si A. Kita selalu bertanya kalau saya bikin ini apakah si B tidak akan menertawakan saya, apakah juga si C kiranya berkenan, dan begitu seterusnya.

Tapi jika anda sudah kadung memilih “jalan teater” itu sebagai sesuatu yang mau anda imani, perkenankanlah saya ucapkan selamat menghibur sebanyak mungkin “penonton” dalam hidup anda. Semoga anda sukses dan bahagia dengan peran “mulia” itu. Mudah-mudahan stamina anda juga cukup memadai untuk melayani maunya penonton yang berbagai-bagai dan biasanya terus berganti-ganti itu.

Soalnya memilih “jalan teater” untuk hidup anda itu artinya merelakan orang lain—diakui atau tidak--mengatur hidup anda. Atau, dalam kalimat yang lebih bombastis, anda sudah membiarkan diri anda menjadi, maaf, budak, atau separuh budak, tergantung seberapa besar komitmen teater yang anda imani. Dan menjadi “budak” itu capek deh …
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...