30 October 2008

Agama yang Menindas : Saksi Yehovah sebagai Contoh

RANI (bukan nama sebenarnya), penganut fanatik “Saksi Yehovah”-- sebuah sekte yang oleh arus utama Kristen dipandang “sesat”-- menjalin hubungan.dengan Gabriel (juga nama samaran), seorang katolik yang lumayan ngotot. Sesudah pacaran beberapa waktu, mereka pun sepakat untuk menikah. Tapi soalnya menjadi tidak mudah karena adanya perbedaan keyakinan di antara mereka.

Rani menuntut harga mati supaya pernikahan dilakukan menurut cara “Saksi”. Jika itu dijalankan maka bagi Gabriel (yang katolik) “ongkos” yang musti dibayarnya lumayan absurd. Ia memang tidak diminta untuk masuk atau pindah ke “Saksi Yehovah”, tapi ia wajib mengikuti pelajaran agama “Saksi Yehovah” selama sisa hidupnya. Absurd bukan? Tidak diminta meninggalkan iman katoliknya, tapi diharuskan seumur hidup menelan isi perut “Saksi”.

Sebetulnya urusan akan menjadi gampang kalau pernikahan dilakukan saja menurut aturan katolik. Sebab dalam urusan perkawinan, gereja katolik memberi toleransi yang sangat longgar apabila terjadi kasus kawin campur, atau beda keyakinan seperti antara Rani dan Gabriel ini. Pihak yang non-katolik tidak diharuskan sama sekali pindah ke katolik. Juga tidak ada keharusan mengikuti kursus pelajaran agama katolik segala macam, umpamanya.

Satu-satunya hal yang diminta dari pihak “non-katolik” adalah merelakan anak yang kelak lahir dari perkawinan itu untuk dibaptis secara katolik, yang dalam prakteknya bisa saja diatur fleksibel waktunya. Lagi pula, jika di belakang hari sang anak (sesudah dewasa) ternyata “tidak krasan” di katolik dan pengin pindah agama, pintu selalu terbuka baginya. Tidak ada satu pasal pun dari hukum gereja katolik yang melarang umatnya “menyebrang”.

Tapi kalau jalur katolik ini yang dipilih, maka Rani terancam “dipecat” dan bahkan “dikucilkan” dari komunitas “Saksi Yehovah”nya. Ia akan dicap “murtad”, dan kita tahu apa artinya dianggap murtad. Rani pun ngeper, tambahan lagi ia sangat menguatirkan keluarganya yang pasti akan tertimpa “aib” apabila itu terjadi. Maka perkawinan mereka pun terancam batal.

Di sini kita melihat sebuah ironi. Agama yang konon diturunkan ke dunia untuk membahagiakan umat manusia, dalam prakteknya—karena sempitnya wawasan pikir (dan kesombongan) para pemimpinnya serta umatnya sendiri--malah berbalik menjadi “sumber bencana” yang menghalangi kebahagiaan pemeluknya, seperti terbukti dari kasus Rani dan Gabriel di atas.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...