06 February 2008

Mengultimatum Tuhan

SAYA punya teman yang mengaku lagi ngambek sama Tuhan. Ia ngambek, karena merasa permohonan doanya tidak pernah dikabulkan, padahal menurutnya permohonan doanya itu “baik”, dan tidak aneh-aneh. Karena itu ia sekarang melakukan “boikot”, dengan cara berhenti berdoa.

Lucu sekali kelakuannya itu. Karena hakikatnya dialah—atau kitalah--yang memerlukan kehadiran Tuhan, bukan sebaliknya. Jadi kalau dia ngambek berdoa, saya bayangkan Tuhan di arasyNya sana mungkin mesem-mesem geli saja melihat segala polahnya itu.

Tuhan, lewat Kitab Suci, memang menjanjikan pertolongan. Ada ayat indah dalam Perjanjian Lama yang kalau tak keliru berkata “TanganNya tidak kurang panjang untuk menolong”. Tapi “beliau” memang tidak pernah menjelaskan dengan cara bagaimana, atau bilamana, pertolongan itu akan diulurkan.

Sementara kita maunya pertolongan itu terjadi secara instan, seketika. Misalnya kalau malam ini memohon, maka besok sore, atau lusa paling telat, urusan sudah beres. Kalau itu tak terjadi kita pun merasa punya hak untuk kecewa, lantas ngambek. Itu sebabnya sebagian dari kita yang tak bisa bersabar, akhirnya berpaling meminta tolong dari sumber lain, yang bisa menjanjikan jawaban dan solusi yang “lebih jelas” dan “segera”.

Kita sering tanpa sadar memperlakukan “beliau” sebagai “pesuruh” yang mesti menuruti apa maunya kita. Padahal dalam doa Bapa Kami—sebuah rumusan doa yang sangat indah dari tradisi Nasrani—jelas disebut di sana “jadilah kehendakMu”, dan bukan sekali-kali “jadilah Kehendak-ku”.

Jadi bukan “ku”, melainkan “Mu”. Sangat jelas, tapi memang bukan ikhtiar iman yang mudah mengubah “ku” menjadi “Mu”, dengan “M” itu.

3 comments:

Anonymous said...

Betul mas Ook sekarang cara pandangnya sudah bagus GBU

ika rahutami said...

mas ga mudah lho merubah kebiasan jadi ndoro yang menyuruh Gusti....
halah Gusti kok di suruh-suruh to...

Ook Nugroho said...

ya, tapi begitulah nyatanya kita ini umumnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...