09 December 2008

Jessy Gusman Kepingin Naik Bus Kota

SUATU ketika di tahun 1980-an, Jessy Gusman—yang kala itu masih seorang artis remaja papan atas nan cantik molek—mengatakan kepada seorang wartawan bahwa ia masih menyimpan sebuah keinginan terpendam yang sampai saat itu belum sempat dikecapnya. Anda tahu apa “keinginan terpendam” yang dimaksudnya? Ini : berjejalan naik bus kota di Jakarta.

Kemiskinan dan “hidup susah” memang bisa saja terlihat eksotis dan “indah” jika kita berkesempatan mengamatinya dari jarak yang cukup jauh dan aman. Artinya jika kita berada dalam posisi hanya sebagai “penonton”--atau paling jauh sekadar “saksi”—dan bukan pelaku, atau lebih tepat “korban”, dari lelakon hidup prihatin itu.

Begitu juga dengan pengalaman berjejalan dalam bus kota. Apa nikmatnya coba naik bus kota berdesakkan begitu : gerah, panas, bau, lengket? Setiap hari saya pulang pergi ke kantor dengan bus kota, dan saya tahu betul betapa tak nyamannya kondisi angkutan umum yang satu ini. Bukan hanya tak nyaman, pun tiada aman. Saya pernah dua kali digebukin copet—gara-gara mau meniru Bruce Lee hehehe--sampai hampir terlempar dari pintunya.

Maka jika si cantik Jessy Gusman dulu pernah berangan-angan kepengin merasakan pengalaman “berdesakkan dalam bus kota”, itu tentu harus dipahami sebagai keinginan seorang kaya dan mapan yang lagi sekadar haus pengalaman yang sedikit beda. Katakanlah itu semacam ovoturisme kecil-kecilan, yang tentu saja aman dan tak beresiko sama sekali. Karena sang artis masih berada dalam zona amannya sendiri.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...