08 July 2009

Quick Count Pilpres 2009 : Rakyat Memilih "Lanjutkan!"

Hasil Quick Count atau Hitung Cepat yang dilakukan beberapa lembaga survey pada Pemilu Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009 hari ini mengabarkan hasil yang boleh dibilang sama : Pasangan Capres SBY-Boediono unggul secara menyolok di atas perolehan suara dua pesaingnya, Mega-Pro dan JK-Win.

Pasangan SBY-Boediono maraih dukungan suara sedikit di atas 60 persen (kecuali hasil dari Puskaptis). Pasangan Mega-Pro harus puas dengan perolehan suara yang berkisar di antara 25 dan 30 persen. Sedang pasangan JK-Win yang pada saat-saat akhir diprediksi akan meraupn hasil bagus ternyata justru terpuruk di posisi juru kunci, dengan hasil suara yang bahkan tidak sampai 15 persen.

Meskipun komposisi hasil Hitung Cepat ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan banyak hasil polling yang dilakukan sebelum Pilpres, bagi banyak orang hasil ini rupanya tetap terasa mengejutkan. Di dua propinsi (DKI Jakarta) dan Aceh, angkanya malah sangat fenomenal. Di Jakarta SBY-Boediono mendapat suara di atas 70 persen, sedang di Aceh, lebih spektakuler lagi angkanya : 90 persen.

Apa yang bisa dibaca dari indikasi yang tergambar pada hasil Hitung Cepat ini? Sosiolog Imam B Prasojo mengatakan bahwa rakyat Indonesia sudah sangat lelah dengan segala gonjang-ganjing dan eksperimen politik. Mereka ingin hidup yang stabil, dan tenang. Dan untuk kali ini mereka memercayakan harapan dan keinginan itu pada pasangan SBY-Boediono. Mereka ingin agar semua “dilanjutkan” saja.


Mereka ternyata tidak tertarik pada tawaran-tawaran spektakuler yang disodorkan pasangan Mega-Pro (pertumbuhan ekonomi dua digit, umpamanya), atau model pemerintahan (dan pemimpin) yang hanya “asal cepat dan baik”. Mereka ingin yang aman dan pasti. Mereka ingin yang realistis dan tidak banyak spekulasinya. Sekali lagi, mereka sudah sangat lelah, dan ingin kehidupan yang stabil dan “nyambung”.

Apakah hasil ini juga bisa dianggap bukti bahwa pemilih kita kini sudah “lebih rasional” dalam menentukan pilihan? Apa pun argumentasinya, rakyat sudah memilih, dan kalau kita masih percaya dan bersetuju bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan sendiri”, maka marilah kita belajar menghormati pilihan itu.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...