17 June 2009

Menghitung Peluang Mas Bowo

Jika pertanyaan seputar “peluang Mas Bowo dalam Pilpres” ini diajukan setengah tahun yang lalu, kita akan dengan gampang menjawabnya. Peluangnya bahkan mungkin terhitung yang paling “kecil” dibanding calon-calon presiden lainnya ketika itu. Tapi hanya dalam hitungan bulan saja, Mas Bowo membuat situasinya jadi berubah.

Mas Bowo membuktikan bahwa ia cukup pintar “berjualan”. Iklan-iklan politiknya sejauh ini dianggap yang paling “menjual”. Dibandingkan dengan iklan pesaingnya, iklan-iklan Mas Bowo memang beda : tampak “cerdas” dan “menggoda”. Selain jualan citra lewat iklan, ia pun sukses menggalang konsolidasi ke dalam.

Ia, misalnya kita tahu, sudah lama berkiprah di organisasi-organisasi “grass root” seperti himpunan tani, nelayan, pedagang tradisional dan sejenisnya. Artinya Mas Bowo punya jaringan luas (dan mungkin solid) juga ke lapis bawah. Singkat kata, ia telah berhasil meyakinkan lawan-lawannya bahwa ia calon yang kudu diperhitungkan serius. Dan hasil kerja kerasnya memang langsung teruji dalam Pemilu legislatif yang lalu : barang jualannya nerobos masuk “Top 10 Sales”.

Hanya saja ia mesti mengoreksi ambisinya (sementara ?) menjadi hanya “orang kedua” saja, sebab hasil kongko politiknya dengan Mbak M mentoknya ya di situ. Mbak M sendiri tadinya sudah dianggap calon “pasti kalah” (begitulah hasil jajak pendapat sejauh ini), tapi “perkawinan politik”nya dengan Mas Bowo (yang “smart” dan ide-idenya “menggugah” itu), menjadikan situasinya berubah. Mas Bowo berhasil mendongkrak nilai jual Mbak M.

Jika ada hal yang dianggap bisa menjegal laju keduanya, maka itu adalah urusan lama yang selama ini menjerat Mas Bowo--itulah urusan pelanggaran HAM, termasuk di dalamnya juga desas-desus yang menyangkutkannya dengan Tragedi Mei 1998, yang sampai kini masih penuh asap dan kalibut.

Saya tanyakan hal ini kepada seorang kawan. Kata kawan saya, soal masa lalu Mas Bowo (yang konon “kelam” ) itu hanya diketahui terbatas oleh masyarakat perkotaan, mungkin malah hanya oleh sebagian penduduk Jakarta saja.. Mayoritas pemilih lain sepertinya tak tahu, atau kalau pun tahu kayaknya tak begitu ambil pusing dengan masalah ini. Jangan lupa juga, kata sang kawan, orang Indonesia punya bakat hebat dalam urusan melupakan (dan memaafkan) dosa-dosa masa lampau.

Tapi ada satu hal yang harus juga dimasukkan sebagai variabel jika kita mau menghitung lebih cermat peluang Mas Bowo. Jika bagi sebagian pemilih performa Mas Bowo dianggap sangat “menjanjikan”, maka bagi pemilih yang lain mungkin saja gaya “kampanye galak” yang ditampilkannya membuat mereka “ngeri” untuk memilihnya.

Kelompok pemilih “konservatif” ini akan cenderung merapatkan barisan dan malahan mendekat kepada calon lain yang penampilannya lebih “ramah”. (Apalagi Mbak M, pasangannya, dan ini variabel penting lain yang tidak bisa dilewatkan, bukankah dulu sudah pernah “dicoba”, tanya mereka, tapi hasilnya tidak bagus?).

Jadi, seberapa besarkah sebetulnya peluang Mas Bowo (dan Mbak M)? Silakan anda kalkulasi sendiri.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...