03 October 2007

Busway : Mati Gila Cara Sutiyoso

UNTUK siapakah sebetulnya jalur-jalur busway—yang hari-hari ini membikin banyak warga Jakarta menjadi “setengah gila”—dibangun? Jika itu ditanyakan kepada pejabat-pejabat nun di atas sana, maka mereka akan menjawab—mungkin seraya tak berpikir lagi—tentu, untuk “orang-orang kecil” di belantara ibu kota ini.

Tapi siapakah gerangan “orang-orang kecil” yang bercokol dalam benak mereka? Tadi pagi saya mendengar keluh-kesah seorang sopir mikrolet yang bilang bahwa “tak ada lagi yang tersisa buatnya”. Yang dia maksud, jalur busway yang seperti gurita merambah ke mana-mana itu akhirnya, cepat atau lambat, akan membunuh trayek mikrolet yang saban hari dibawanya. Busway akan menerbalikkan periuk nasinya.

Keluhan itu tentu saja mewakili suara ribuan supir mikrolet lainnya, belum termasuk suara ribuan supir dan kernet bis kota yang juga akan kena imbas sebagai akibat bakal dijadikannya bis-bis transjakarta sebagai sarana utama transportasi di ibu kota. Selaku konsumen tentu saya senang dengan tersedianya media transportasi yang murah dan praktis, tetapi sudahkah kebijakan “revolusioner” ini dikaji masak-masak?

Bukan maksud saya mau “sok pahlawan”, hanya saja saya terus-terang agak merasa heran dengan gerak laju pembuatan jakur busway yang—menurut saya—terkesan membabi-buta, dan kagak mau tahu itu. Apakah sungguh perlu semua jalan di Jakarta ini dipasangi jalur busway, sehingga ribuan, mungkin jutaan, warga dibkin “sinting” setiap harinya?

Saya teringat Daendels, gubernur jenderal kompeni yang pernah “sukses” membikin jalan tembus Anyer-Panarukan—dengan korban jiwa dan ongkos sosial yang tak terbayangkan itu. Kita hanya bisa menduga-duga, bukan tidak mungkin angan-angan itu pula yang menggelantung dalam benak Sutiyoso, orang yang paling bertanggung-jawab atas proyek busway ini—keinginan untuk dicatat dalam sejarah, meski dengan tumbal darah, dan kemelaratan-kemelaratan baru.

Maka, untuk siapakah sebetulnya jalur-jalur busway dibangun? Jika untuk “orang-orang kecil”—“orang kecil” yang mana? Atau hanya demi memuaskan hasrat megalomoniak.seorang gubernur—yang segera pensiun, dan tengah merintis jalan menuju kursi presiden? Atau semua kerepotan ini hanya demi target bisnis sejumlah cukong di belakangnya?

1 comment:

geka said...

Tulisan yang bagus sekali, saya kagum.
Maaf, khusus untuk tulisan ini saya add di postingan saya :
http://diatas40tahun.blogspot.com/2007/10/sutiyoso-bermimpi-jadi-presiden.html

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...