05 April 2011

"Harta Karun di Balik Reruntuhan", Pelajaran dari Steve Jobs

Selalu ada “harta karun di balik reruntuhan”, selalu ada hikmah di balik setiap nasib buruk, begitu orang-orang bijak kerap menasehati. Masalahnya adalah tidak setiap orang beruntung sanggup menemukan “bongkahan emas” di balik reruntuhan itu, tidak setiap kita cukup dibekali ketabahan untuk mau bersabar menggali untuk akhirnya menemukan harta karun di sebalik nasib buruk kita. Seakan hanya orang-orang dengan talenta khusus saja yang berkesempatan mengalami karunia tersembunyi itu.

Steve Jobs, pendiri Apple Computer, mungkin contoh orang dengan talenta khusus itu. Di masa mudanya ia keliru mengambil mata kuliah yang ternyata kemudian tak diminatinya samasekali, padahal ia telah menguras habis seluruh tabungan orang tuanya—yang hanya pegawai rendahan—untuk bisa kuliah di jurusan yang diyakininya “tak membawa manfaat apa pun “ itu. Ia lalu memutuskan drop out begitu saja.

Ia mengenang saat itu sebagai “saat-saat paling menakutkan dalam hidupnya”. Bacalah kembali cuplikan komentarnya berikut ini: “Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna.”

Tapi belakangan ia menganggap pilihan tindakannya untuk DO itu adalah benar, sebenar-benarnya. Setelah berhenti kuliah ia jadi punya kesempatan menghadiri perkuliahan yang disukainya. Salah satu kelas yang diikutinya dengan bersgairah adalah kelas kaligrafi. Di sana ia dengan takzim belajar mengotak-atik jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains, katanya.

Tapi yang paling menarik untuk disimak adalah bahwa Steve Jobs, saat itu, sebetulnyai tidak melihat samasekali manfaat pelajaran kaligrafi bagi kehidupannya. Ia, ketika itu, hanya sekadar menurutkan hasrat dan dorongan dari dalam dirinya belaka. Tapi 10 tahun kemudian, ketia ia dan timnya mendesain komputer Macintosh yang pertama, pelajaran kaligrafi yang dulu ditekuninya itu memperlihatkan kegunaannya secara nyata: “Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik,” kata Stve Jobs.

Jadi seandainya ia dulu tak keliru memilih mata kuliah, seandainya ia lalu tak memutuskan DO—artinya memilih mengecewakan banyak orang, utamanya kedua orang tuanya—tentu ia tak akan berkesempatan kuliah kaligrafi yang di kemudian hari memberi sumbangan penting pada perkembangan Personal Computer pada masa-masa selanjutnya.

Steve Jobs akhirnya menemukan “harta karun” di balik reruntuhan nasib masa mudanya. Saya tergoda untuk menyimpulkan bahwa ia sanggup untuk sampai di sana karena ia telah memilih untuk melanjutkan sisa hidupnya—yang ketika itu tampak tak berpengharapan--dengan semacam semangat murni, atau dengan kata lain, dengan passion. Mudah-mudanan kesimpulan ini tidak terlalu ngawur.

16 March 2011

Rumah Nomor 51

Sampai usia menjelang 51 (sebentar lagi), saya masih menempati sebuah rumah tinggal sederhana di sebuah gang buntu di Jakarta. Meski buntu, kondisi gangnya bersih dan tertata baik. Luas tanah kami hanya 44 M2, bangunan rumah terdiri dari dua lantai. Ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, dan sebuah ruang yang bolehlah mungkin disebut “ruang keluarga”. Sementara ruang tamu, ruang makan dan dapur menempel menjadi satu, artinya tanpa penyekat, sehingga begitu kita masuk lewat pintu utama (yang merupakan satu-satunya pintu keluar masuk) “seluruh” rumah kami sudah bisa langsung terlihat.

Rumah kami memang tak besar, tapi bagi saya cukup nyaman ditempati. Agak sempit ya, tapi kami mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan itu, dan sejauh ini semuanya berjalan baik.Anak-anak bersama suster tidur di kamar bawah. Mereka menggelar kasur di lantai, dan tidur saling bersisian dibatasi sebuah guling. Suster kami menggelar kasur lain di sebelahnya. Istri saya lebih sering gabung dengan mereka, menggelar kasur satu lagi di sisi yang masih tersisa. Jika orang luar melihat memang situasinya mirip dalam kamp pengungsian, tapi dengan pendingin yang masih berfungsi baik, segala kesumpekan itu tak terasa lagi. Mereka bisa tidur nyenyak, setahu saya, setiap malamnya.

Saya menempati kamar atas, yang lebih luas, tapi tak ada pendingin (sebetulnya ada, tapi tidak dipasang lantaran listriknya tak kuat), sehingga udaranya jadi jauh lebih “hangat” dibanding kamar tidur di bawah. Untuk mengatasinya cukup kami pasang kipas angin manual. Kalau masih kurang “adem” kadang saya tidur di lantai. Tak apa. Saya melakukannya biasa saja, tak ada konflik apa pun. Tidur di lantai pun enak, masih bisa mimpi. Hanya saya perhatikan, kalau saya tidur mengambil posisi dekat pintu, suka diganggu mimpi tidak enak. Mungkin karena saya sudah mengganggu “akses” keluar masuk para hantu ke dalam kamar itu.

Di kamar atas juga ada televisi warna 17 inch bikinan Cina, DVD player buatan Jepang (yang remotenya sekarang macet, dan untuk DVD tertentu tidak bisa keluar suara). Rak buku juga ada dekat kamar, dan kalau mau internetan saya lakukan pula di kamar atas, “nongkrong” di ranjang setelah sebelumnya saya alasi semacam meja kecil. Jadi bagi saya kamar atas memang jauh lebih pas untuk saya tempati. Lebih cocok untuk seorang “penulis besar” (ehm) seperti saya. Dan memang banyak juga “karya besar” saya yang ditulis di kamar atas ini. Kamar ini, tak pelak lagi, adalah semacam “bengkel” kerja saya.

Istri saya lebih memilih tidur di bawah karena kecuali kamar atas lebih “hangat” udaranya, juga karena saya biasa tidur larut malam. Artinya, saya akan tetap menyalakan lampu kamar sebelum saya memutuskan tidur, sehingga tentu saja ia merasa tak nyaman. Ia, seperti kebanyakan orang, lebih suka tidur dalam kamar yang digelapkan lampunya.

Tetangga kiri kami adalah pasangan keluarga muda Cina Bangka. Suaminya, biasa dipanggil A Yung, umur 30-an, punya usaha bengkel motor dan ia ini memiliki tampang dan potongan badan mirip sekali Luis Suares, itu pesepakbola sohor asal Uruguay yang waktu Piala Dunia kemarin bikin geger karena menepis bola di bawah gawang ketika Uruguay ketemu Ghana. Anak saya yang nomor dua, entah mengapa kagum luar biasa pada tindakan “heroik” Luis Suares ini. Ia menganggap aksi Suares itu luar biasa hebat dan kreatif. Percuma saja saya ngotot “memarahi”nya seraya menjelaskan bahwa tindakan “barbar” pemain Uruguay itu menyalahi aturan sepakbola normal.

Tetangga belakang kami terdiri dari beberapa keluarga Betawi asli yang masih saling berhubungan darah. Karena begitu dekatnya jarak rumah kami, kami bisa dengan leluasa menguping segala omongan mereka. Tentu sebaliknya juga, mereka suka asyik menguping segala “keributan” di rumah kami. Sedang tetangga depan kami adalah seorang haji kaya yang memiliki sejumlah rumah kontrakan di sebelah rumahnya. Katanya dulu ia pegawai kantor kecamatan urusan tanah. Maksud saya, kalau betul ia pernah bekerja di bagian yang berurusan dengan “tanah” wajar kalau kemudian dia jadi kaya. Dia juga orang Betawi asli. Orang di situ memanggilnya Haji Mathali.

Tetangga sebelah kanan, belum lagi kami kenal. Mereka adalah pendatang baru, membeli rumah di sebelah kanan kami belum lama ini. Sebetulnya kami mengincar juga rumah itu sewaktu tempo hari ditawarkan, tapi apa daya uang tak ada. Maka terbanglah rumah itu ke pemilik baru yang bukan kami. Rumah yang tadinya “mau rubuh” itu sekarang sudah didandani. Lumayan keren, tapi entah mengapa pemiliknya belum juga menempatinya. Baru Ahad kemarin saya lihat ada sedikit “kesibukan” di rumah itu. Barangkali ini kali betul kami akan segera memiliki tetangga baru, sejumlah “orang asing” yang menempati rumah yang tadinya saya impikan akan menjadi “bagian” dari kehidupan kami.

08 December 2010

Chris John, Tak Akan Lama Lagi?

Sepertinya karir juara dunia tinju Chris John sudah tak akan lama lagi. Menonton laga paling akhirnya melawan jago Argentina (yang jauh dari istimewa) Fernando David Saucedo pekan yang lalu kita hanya bisa geleng kepala. Sebelum laga berlangsung pelatih Chris John, Craig Christian, gembar-gembor bahwa Chris John kali ini bakal memperlihatkan tampilan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini Chris katanya akan mempertontonkan “penampilan terbaik”nya.

Di atas ring kita memang melihat penampilan yang “berbeda” dari Chris John: sang juara tampil dengan gaya serabutan, emosional, serta miskin teknik, tidak seperti gayanya yang selama ini dikenal, disiplin, hati-hati dan penuh perhitungan—meskipun (sayangnya) ia tak punya “pukulan maut”. Apa yang dipertontonkannya kemarin dulu itu sangat tidak layak untuk seorang juara dunia. Untunglah (sekali lagi kita musti bilang ia memang beruntung) lawannya lebih tidak istimewa lagi. Saya bahkan ingin mengatakan bahwa Fernando David Sausedo adalah lawan “terbodoh” yang pernah dihadapi Chris John selama ini.

Tapi bak kata pepatah usang “lolos dari mulut singa lantas kecebur ke mulut buaya”, Chris John kali ini agaknya bakal sulit bernasib “mujur” lagi. Pasalnya promotor kondang Bob Arum sudah bikin rencana akan mempertemukannya melawan juara dunia kelas bulu versi IBF, Yuriorkis Gamboa, petinju sangar asal Kuba berjulukan “badai dari Guantanamao”. Pertarungan mereka diplot paling telat akan berlangsung April tahun depan (Koran Tempo, 8 Desember 2010).

Pemenang dari pertarungan ini bakal dihadapkan pada Juan Manuel Lopes asal Puerto Riko, juara dunia kelas yang sama versi WBO. Mempertemukan Gamboa dan Manuel Lopes adalah mimpi lama Bob Arum. Mungkin ia sempat “agak melupakannya” karena belakangan ini repot mengurusi anak emasnya, Manny “Pacman” Pacquiao. Sesudah “impian terbesarnya” mempertemukan sang Pacman melawan Mayweather Jr tampaknya kandas, barulah ia melirik kembali Gamboa.

Malanglah Chris John, karena ia bagai pelanduk terjepit di antara dua gajah. Di atas kertas sulit kita membayangkan Chris John ini kali akan kembali “lolos”. Gamboa adalah artis ring dengan kemampuan dan performa luar biasa yang sepertinya sedang dalam perjalanan menjadi “legenda baru” di dunia tinju. Sementara Chris John dengan segala kelemahannya adalah juara dunia yang telah melewati masa emasnya.

Maka Chris John oleh Arum hanya dipakai sebagai alat untuk lebih melariskan dagangan besarnya, yaitu duel idaman Gamboa versus Lopes. Tapi, marilah kita sama berharap bahwa sesuatu akan terjadi, sesuatu yang sangat di luar perhitungan kalkulasi akal waras siapa pun, karena, bagaimanapun ini tinju bung, di mana kepalan, kita tahu, tak bermata.

15 November 2010

"Superman" itu Bernama Manny Pacquiao

Meski dengan persiapan yang tidak maksimal—karena perhatian dan waktunya tersedot oleh kesibukan di panggung politik—Manny Pacman Pacquiao membuktikan bahwa ia memang bukan sembarang juara. Di Cowboys Stadium, Arlington Texas, kemarin ia sukses mempecundangi lawannya, jawara tinju asal Meksiko dengan nama tidak sembarangan pula, Antonio Margarito. Dengan delapan gelar yang sudah dimenanginya itu, kini bahkan sebutan “superman” pun rasanya tidak kelewat berlebihan untuk disandangkan pada namanya.

Betul, karena keharusan menambah berat badan, tenaga jotosan Pacquiao masih belum memadai untuk bisa menjatuhkan Margarito yang bertubuh jauh lebih tinggi itu. Tapi kecepatan pukulan petinju kebanggaan Filipina itu tidaklah berkurang. Dengan leluasa ia “menyiksa” lawannya, menghajarnya bolak-balik hingga wajah Margarito kehilangan bentuk aslinya.

Pacquiao membuktikan bahwa tubuh pendek Asia samasekali tidak menjadi halangan untuk membuat prestasi luar biasa di ring tinju. Selain kecepatan tangannya, footworknya juga bagus. Beberapa kali Maragarito berhasil mengurungnya, dan sepertinya bakal berhasil “menelan” lawannya, tapi setiap kali juga dengan cerdik sang Pacman lolos dari kurungan berbahaya itu.

Seusai laga sensasional kemarin, orang kembali membincangkan kemungkinan mempertemukan Pacquiao dengan Flyod Mayweather Jr, pemegang juara di 5 gelar berbeda, yang belum pernah kalah. Apakah mungkin “super laga” mereka bakal terlaksana? Faktanya sejauh ini Mayweather terus menghindar dari Manny. Bob Arum sampai meledaknya “pengecut”, tapi Mayweather sepertinya “pura-pura” tak mendengar ejekan itu. (Aih, mungkin betul ia “jeri” pada si Filipino, dan lebih suka memilih menggebuki istrinya sendiri).

Manny Pacquiao sendiri sebetulnya punya pilihan bijak lain.Dengan prestasi monumentalnya saat ini, ia memang tak perlu lagi membuktikan apa pun. Inilah waktu terbaiknya untuk mundur secara terhormat dari ring tinju. Jika pilihan ini yang diambilnya maka namanya bakal kekal melegenda. Tapi banyak orang agaknya masih terus penasaran dan mengharapkan terjadinya super laga melawan Floyd Mayweather itu. Pun pacquiao sendiri sepertinya juga masih memendam hasrat itu.

Mungkin, Manny memang sebaiknya mundur, kecuali ia bisa mendapatkan Mayweather.

12 November 2010

Maaf, Blog Tak Akan Mati

Blog tak akan mati, setidaknya tidak akan secepat ini. Situs jejaring sosial, sebutlah Facebook atau Twitter, boleh saja semakin banyak mengumpulkan peminat dan penggilanya, tapi blog tak akan gampang-gampang ditaklukkan.

Mengapa Facebook bisa begitu digemari? Karena ia menawari penggunanya kemudahan. Kemudahan mengaksesnya, tapi terutama adalah kemudahan mengumpulkan jaringan teman yang lalu pada akhirnya membentuk komunitasnya.

Jalan dan proses yang super instan ini tidak tersedia pada blog. Ketika seseorang membuat blog ia memerlukan jauh lebih banyak kerja keras (dan waktu) sebelum bisa membentuk jaringan komunitasnya. Masalahnya, tidak semua blog (atau blogger) cukup punya stamina untuk sampai ke sana

Seorang blogger dituntut untuk bisa disiplin mengisi blognya, dengan artikel fresh dan dalam jumlah memadai (dua atau tiga artikel seminggu, paling tidak), atau ia akan ditinggalkan pembacanya. Tapi menulis 2 atau 3 artikel baru dalam sepekan jelaslah pekerjaan yang jauh lebih berkeringat (dan “berdarah”) ketimbang hanya melemparkan celutukan ngasal seperti kita terbiasa melakukannya di Twitter.

Sejauh ini kita belum lagi menyenggol masalah seputar “bagaimana memanfaatkan jasa gratis mesin pencari” (SEO), karena sebuah blog—sebagus apa pun isinya, setenar apa pun penulisnya—tidak bisa serta merta ngetop, dan dikenali. Kita perlu tahu juga cara dan trik bagaimana “mengakali” mesin pencari, supaya blog kita tidak perlu kelewat lama ada dalam posisi “anonim”.

Singkatnya, sebuah blog memerlukan jauh lebih banyak daya sebelum bisa eksis di jagat maya.

Facebook dan Twitter hadir pada waktu yang pas, yakni ketika orang mulai merasakan kejenuhan karena kehadiran blog yang begitu bejibun. Tawaran instan yang dijajakannya serta merta menarik hati mereka yang merasa tak begitu nyaman dengan pilihan sunyi dan melelahkan yang disyaratkan kepada seorang blogger.

Ada baiknya juga kehadiran situs jejaring sosial ini. Kemunculannya telah menciptakan seleksi alamiah besar-besaran di ranah blog: para blogger yang hanya ngeblog dengan setengah hati, dengan segera berguguran, dan beralih ke Facebook atau Twitter.

Mereka yang pada akhirnya tetap setia ngeblog adalah mereka yang memang mencintai blog, atau pekerjaan menulis itu sendiri. Mereka tak begitu hirau meskipun tak ada teman yang heboh bermomentar. Mereka akan tetap menulis dengan passion, ada atau tidak ada orang yang menyoraki.

Maka blog memang tidak akan mati. Tapi ia kini hanya menjadi milik “segelintir” mereka yang “lebih serius”. Sedang mereka yang hanya kepingin sekedar “numpang pipis” atau “buang ingus” akan dengan sendirinya berkerumun di sekitar situs jejaring sosial yang riuh rendah itu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...